
Deburan ombak seketika menyapa begitu mereka tiba di pantai. Ethan dengan Zoya tampak sudah menyentuh air laut, sedangkan Naina dengan Rival yang baru saja tiba hanya berdiri menatap pantai yang sontak menyejukan mata.
Setelah percakapannya dengan Rival tadi, Naina tidak menyahut apapun lagi, ia tidak memiliki kalimat yang tepat untuk membalas perkataan pria itu.
"Kita cari tempat teduh, kaki kamu harus diperiksa lebih dulu." sahut Rival, Naina hanya mampu menganggukan kepala dan pasrah saat Rival membawanya untuk duduk di bawah sebuah pohon yang tumbuh tepi pantai.
Rival mendudukan Naina dengan hati-hati pada hamparan rumput hijau. "Bagian mana yang sakit?" tanya Rival sambil mengamati kaki mungil itu. "Bagian ini?" Rival menyentuh dengan pelan pergelangan kaki Naina. Naina menganggukan kepalanya.
"Kamu tahan, yah." sahut Rival, tangannya memijit bagian kaki Naina yang sakit. Terlihat sangat berhati-hati, tdak kalah hati-hati dari saat meletakan Naina tadi. Naina sempat meringis, membuat gerakan memijat Rival kian melembut.
"Sakit?" pria itu bertanya dengan tatapan tidak tega. Naina menganggukan kepala. "Sedikit."
"Tahan yah, ini akan lebih sakit." Naina mengangkat pandangan, di mana tatapannya dengan Rival bertemu. Pria itu mengerjap manis, perlahan Naina nengangguk. Akan lebih baik, jika Rival bisa menanganinya, tidak mungkin jika Rival harus menggendongnya lagi untuk pulang andai kaki Naina masih tidak kuat dibawa berjalan.
"Mas Rival bisa?" tanya Naina, setidaknya ia harus memastikan jika Rival tidak akan membuat cedera kakinya kian parah.
"Sedikit,"
"Tapi Mas–"
Naina memejamkan mata kuat-kuat, menggigit bibirnya tak kalah kuat saat Rival tanpa permisi lagi melakukan gerakan tidak terduga pada kakinya. Rival mengukir senyum melihat gadis itu yang masih memejamkan mata setelah Rival usai menanganinya.
"Sudah." ujarnya begitu Naina membuka matanya perlahan. Ia mengernyitkan dahi saat tidak lagi merasakan sakit pada kakinya yang terkilir. Terlebih Rival melakukannya dalam tempo waktu yang begitu cepat.
"Sepertinya udah nggak sakit." sahutnya, lantas segera berdiri bersamaan dengan langkah Ethan dengan Naina yang berjalan ke arahnya dan Rival.
"Kakinya udah nggak papa?" tanya Zoya saat melihat Naina menghentak-hentakan kakinya.
"Sembuh Mbak," Naina menyahut singkat. Zoya tersenyum melihatnya, lantas dua wanita cantik itu berjalan menuju deburan ombak yang menampar pantai, meninggalkan dua pria tampan itu di sana. Rival mendaratkan dirinya di atas rumput, ia mendesah dan melihat dua objek menyenangkan di hadapan mereka sementara Ethan masih berdiri di sana dengan tatapan yang masih memaku mengamati sang istri.
Hingga setelah beberapa saat, begitu memastikan jika Zoya aman dan ombak tidak terlalu tinggi, Ethan lantas mengalihkan tatapannya kepada Rival. Kepada pria yang dengan ajaib bisa tiba-tiba berada di sana.
"Apa alasan kamu datang kemari?" Ethan to the point.
"Cuma jalan-jalan." Ethan menajamkan tatapannya mendengar jawaban singkat Rival terutama dengan raut menyebalkan pria itu.
"Kamu tidak mungkin tiba-tiba saja datang ke sini tanpa alasan dan tujuan yang jelas. Jujur saja!" Ethan mendesak.
"Aku tidak akan mengganggu bulan madu kamu dengan Zoya. Santai saja."
"Jujur saja Rival."
Ethan terus mendesak, tapi Rival seolah tidak perduli. Ia menulikan telinganya dan berlaga menjadi orang bodoh dengan matanya yang memindai salah satu objek di bibir pantai. Melihat bagaimana Naina dengan Zoya bermain air di bawah terik matahari.
"Naina?" untuk kali ini ketika Ethan buka suara Rival menoleh, menatap Ethan kemudian mengangkat kedua bahunya dengan acuh tak acuh.
"Aku sudah bilang aku cuman mau liburan," Rival menegaskan, berharap Ethan akan berhenti mendesaknya.
__ADS_1
"Kamu pikir aku tidak mengetahuinya? Skretarisku yang mengatakannya, dia bilang kamu memaksa untuk tahu tempat di mana aku dengan Zoya menikari liburan. Kamu tidak benar-benar ingin bertemu dengan aku bukan?" panjang lebar Ethan. Mengapa mendadak ia jadi cerewet sekali?
"Mungkin." Rival masih acuh tak acuh.
"Artinya ada hal lain."
"Mungkin juga." ia masih menyahut dengan santai, tak ingin ambil pusing dengan pertanyaan ataupun tuduhan Ethan.
Bagaimana mungkin ia dapat menjawab pertanyaan Ethan sedangkan dirinyapun tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.
Bukankah sampai sekarang ini masih bertanya-tanya alasan mendasar apa yang membuatnya datang kemari? Berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh sambil menggendong Naina untuk sampai ke sebuah pantai yang tampak terlihat biasa di matanya.
"Baiklah." pada akhirnya Ethan memilih menyerah, kemudian melipat tangannya di dada dan kembali menatap Zoya.
Mengabaikan Rival yang mengukir senyumnya melihat Naina. Sebagai seorang pria yang sama kerasnya dengan Rival, hanya dengan mendengar jawaban tidak masuk akal pria itu sepertinya ia sudah mengerti alasan apa yang membuat Rival datang kemari sekalipun pria itu tidak mengatakannya secara gamblang.
Depertinya keinginan Zoya untuk menjodohkan Naina dengan Rival akan mudah terwujud, jalan terbuka lebar. Melihat Rival memiliki ketertarikan sendiri kepada Naina.
Tetapi, apa Naina tertarik juga kepada Rival?
Ethan menggelengkan kepalanya tak ingin terlalu jauh berpikir dan ambil pusing dengan hal tersebut, toh itu bukan urusannya. Biar saja menjadi urusan Rival.
**
Pantai di perkampungan Naina memang sama seperti pantai-pantai biasanya hanya saja, tempat itu cenderung lebih bersih dan juga damai dari riuh suara orang-orang seperti tempat rekreasi pada umumnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore ketika Zoya masih enggan pulang dari sana. Bukankah mereka berjanji untuk menikmati sunset? Maka ia tidak akan pulang sebelum ia menyaksikan hal tersebut.
Zoya yang semulanya memeluk tubuhnya sendiri sambil menikmati keindahan pantai dengan angin sore yang sesekali menerpa tubuh menoleh begitu Ethan menaruh dagu di pundaknya, dan melingkarkan tangan di atas perut Zoya. Zoya hanya mengusap pipi mulus pria itu.
"Jadi besok kita udah pulang?" tanhanya bagai tidak rela jika harus meninggalkan kampung halaman Naina. Ia ingin berlama-lama.
"Jika ingin lebih lama lagi maka bisa. Kapan kamu ingin pulang?" Ethan berkata dengan entengnya.
"Terus kerjaan kamu gimans? Syuting aku gimana?" kali ini Zoya membalikan tubuhnya berhadapan dengan pria itu ,Ethan meraih tangan Zoya kemudian berbicara. "Kita tinggalkan saja."
Zoya tersenyum, memukul pelan dada pria itu kemudian kembali berbalik ke pantai. Membuat Ethan kembali menaruh dagunya pada salah satu pundak wanita itu. Lama keduanya saling terdiam hingga Zoya memusatkan tatapannya kepada Rival dengan Naina yang sedang duduk di atas hamparan pasir
"Mas Rival bilang alasan dia kesini untuk apa?" Zoya akhirnya bertanya pada sang suami.
"Dia bilang cuma berjalan-jalan." Ehan menyahut singkat sesuai dengan apa yang Rival katakan saat ia bertanya mengenai hal tersebut.
"Dia jujur ?" Zoya bertanya lagi. Ethan tersenyum. "Saya tidak yakin, sepertinya ada alasan lain. Tetapi dia tidak bilang."
"Naina?" tanya Zoya lagi, kali ini Ethan semakin mempererat pelukannya.
"Apapun itu, kalau memang benar maka terserah mereka. Jangan mengurusi mereka."
__ADS_1
"Mereka sudah dewasa untuk memilih sendiri pendamping hidupnya."
"Oke, oke." Zoya mengangguk mengiyakan perintah sang suam. Sekalipun hal itu tidak ingin ia lakukan, Zoya ingin ikut campur, ia harus ikut andil dalam hubungan Naina dengan Rival andai dua orang itu memiliki ketertarikan yang sama.
**
Matahari sudah kembali ke peraduannya dengan perlahan, tampak cantik dan elegan. Seketika, jingga menghiasi cakrawala, menyejukkan mata dan menciptakan keromantisan di antara Etan dengan Zoya yang terasa.
"Tan," Zoya memanggil.
"Sayang, panggil saya sayang." sahut pria itu, membuat Zoya tertawa hingga kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil berkata. "Iya Sayang, iya."
"Ada apa?" akhirnya Ethan bertanya.
"Tiba-tiba aku kepikiran ..,"
Ethan masih mendengarkan. "Kalau seandainya aku tanya ukuran cinta kamu ke aku berapa, kira-kira berapa?" Zoya bertanya dengan random, berhasil membuat Ethan menggelengkan kepala. Namun begitu ia tetap berpikir untuk menyiapkan jawaban untuk istrinya.
"Seandainya ada alat ukur cinta, maka cinta saya ke kamu tidak terhingga Zoya."
"Kenapa kamu cinta sama aku?"
"Kenapa kamu bertanya setelah lama kita bersama?" Ethan justru balik bertanya dengan raut heran.
"Karena aku merasa aneh, kamu bisa mendapatkan yang lebih dari aku berkali-kali lipat tapi justru kamu lebih memilih aku yang udah beberapa kali gagal."
Ethan menggelengkan kepala. "Kamu tidak pernah gagal untuk saya Zoya. Kamu tidak pernah gagal dalam hal apapun."
Zoya tersenyum, mengerti jika Ethan tidak ingin membahasnya. Beberapa waktu berselang setelahnya matahari benar-benar tenggelam ke peraduannya, tenggelam dengan meninggalkan semburat jingga yang menghiasai cakrawalam. Membuat keromantisan diantara Ethan dengan Zoya kian tercipta seolah tidak akan pernah ada habisnya.
Zoya memejamkan mata. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Ethan, Zoya tak kunjung menyahut, sedangkan Ethan bersabar memperhatikannya hingga perlahan mata wanita itu terbuka. Bibirnya mengukir sebuah senyum yang begitu indah.
Ethan sadar senyum Zoya selalu indah di matanya. Namun kali ini berbeda.
"Aku berdoa untuk Arial sama Aruna. Aku bilang. kalau aku sama kamu baik-baik aja di sini." jelas wanita itu setelah memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Ethan.
"Aku bilang ke mereka kita kuat. Mereka juga lagi bahagia di surga, 'kan?"
Ethan tersenyum, mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi wanita itu. Lama, seolah dia sedang mengalirkan cinta dan kekuatannya untuk Zoya melalui ciuman itu.
Ethan mengangguk-anggukan kepala atas pertanyaan Zoya. "Namanya Arial? Aruna?" tanya Ethan yang kemudian menarik tubuh Zoya dalam dekapannya, menenggelamkan kepala sang istri pada dadanya. Dalam dekapannya, Zoya mengangguk.
"Iya. Arial dan Aruna."
Zoya sangat ikhlas telah kehilangan mereka. Namun untuk beberapa waktu, ia kerap kali merasa rindu. Rindu pada sosok malaikat, yang bahkan sekalipun tidak pernah ia lihat bagaimana wujudnya.
TBC
__ADS_1