Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Sambutan Hangat


__ADS_3

"Sayang, semuanya nggak sama dengan apa yang kamu pikirin."


"Emangnya apa yang aku pikirian?"


"Kamu pikir aku nyangkanya gimana?" Ethan memejamkan matanya sesaat, sepertinya ia sudah salah berbicara.


Setelah mendapatkan dua kunci untuk dua kamar, ia dengan Zoya lantas segera menuju kamarnya dengan perasaan tidak enak karena Zoya yang sudah mengetahui jika ia dengan Naina pernah menginap semalam di tempat tersebut. Tapi Ethan dengan gadis itu tidak melakukan hal apapun. Bahkan Ethan tidak tidur di kamar yang mereka sewa, semalaman ia terjaga karena memikirkan bagaimana perasaan Zoya saat itu.


"Sayang, maaf saya tidak cerita waktu itu. Saya benar-benar minta maaf," ucap Ethan penuh sesal, Zoya hanya terdiam. Duduk di tepi tempat tidur dengan alas sederhana.


Suara gemuruh hujan di luar sana masih terjadi. Hujan turun masih sederas tadi, jujur Zoya merasa kecewa saat tahu dari ibu penjaga loker jika Ethan dan Naina pernah bermalam di tempat tersebut. Tapi Zoya tidak berpikir macam-macam bahkan ketika mereka berada pada kamar yang sama.


Zoya yakin Ethan tidak mungkin menghianatinya, terlebih ibu loker tadi sudah bilang jika saat itu hanya tersedia satu kamar yang artinya Ethan dengan Naina terjebak. Bukan sengaja untuk tinggal satu kamar. Zoya percaya pada suaminya, Zoya percaya kepada asisten rumah tangganya.


Hanya saja Zoya merasa kecewa karena Ethan tidak menceritakan kejadian tersebut. Alasan apa yang mendasari Ethan untuk berbohong kepadanya? Untuk tidak jujur?


Alasan apa yang membuat Ethan tidak mengatakan hal yang seharusnya Zoya ketahui? Tanpa sadar air mata Zoya menetes, kenapa sesakit itu ketika ia tau Ethan berbohong kepadanya?


Dari sekian banyak kejujuran yang suaminya lakukan, hanya dengan satu kebohongan itu ia merasa telah dikhianati oleh pria itu. Mungkin Zoya egois, tetapi hal tersebut membuat perasaannya tidak tenang.


Zoya kian terisak ketika tangan Etan mendarat di bahunya, membuat Zoya segera menyeka air matanya dengan punggung tangan saat krystal bening itu terjun deras, tentu saja hal itu membuat Ethan merasa terganggu. Dia tidak pernah suka melihat istrinya menangis, terutama saat dirinyalah yang membuat air mata wanita itu keluar membasahi pipi mulusnya. Ethan tidak suka.


"Sayang," Ethan meraih Zoya dalam pelukannya yang berhasil membuat isakan wanita itu kian keras. Ethan salah dan ia belajar dari kesalahan tersebut. Untuk hari ini dan ke depan bahkan untuk hal sekecil apapun ia tidak akan pernah berbohong dan merahasiakannya dari Zoya. Ethan bertekad untuk hal itu, tapi beberapa detik berikutnya, ia memejamkan matanya sekilas.


Ia lupa jika dirinya sudah berbohong mengenai hal besar tentang wanita itu.


Ethan tidak tahu apa yang akan terjadi ketika nanti Zoya mengetahui fakta jika ia hanya memiliki satu rahim di dalam tubuhnya.


"Maafkan saya, Sayang. Saya menyesal, saya berjanji nanti saya akan bercerita apapun ke kamu."

__ADS_1


"Saya tidak akan merahasiakan hal sekecil apapun dari kamu" bisik Ethan dengan pelan di telinga Zoya, Zoya tak menyahut. Hanya terus terisak tetapi tangannya kian erat melingkari tubuh Ethan, membalas pelukan hangat pria itu.


Mungkin sudah seharusnya Zoya tidak banyak menuntut pada suaminya. Terserah, ia cukup menaruh rasa percaya pada Ethan.


Sementara di kamar lain, tepat di samping kamar yang Ethan dan Zoya tempati, Naina hanya berdiam diri dengan tatapan yang jatuh pada kakinya. Andai Zoya marah padanya, apakah yang harus ia lakukan?


**


Setelah sekitar lebih dari tiga jam menunggu hujan reda, ketiganya kembali melanjutkan perjalanan, Zoya bahkan sempat tertidur di penginapan yang mereka sewa karena cuaca yang memang mendukung untuk bergulung kembali dengan selimut.


Naina yang mulanya merasa tidak enak kepada Zoya menjadi tenang ketika wanita itu bersikap seperti biasanya, meski tak bisa dipungkiri jika hati kecilnya tetap merasa malu kepada Zoya sekalipun ia dengan Ethan tidak melakukan hal apapun.


Karena, nyatanya dengan merahasiakan hal tersebut membuat kejadian yang dialaminya dengan Etan seolah hal besar yang tidak boleh diketahui oleh Zoya yang notabenenya berstatus sebagai istri Ethan.


Setelah kurang lebih menempuh perjalanan selama satu jam dari penginapan, tiba lah mereka di kampung halaman Naina. Tanah basah yang sudah disinggahi hujan membuat jalanan berbatu itu sedikit licin, hiruk-pikuk kehidupan di perkampungan dapat segera Zoya rasakan ketika mobil yang mereka tumpangi melewati sebuah perkebunan buah naga, dimana beberapa warga setempat tampaknya sedang memetik buah tersebut. Zoya kembali mengingat apa yang sebelumnya Naina sampaikan. Beberapa detik berikutnya, ia bertanya.


"Kebun buah naga ini milik tetangga kamu?" tanyanga, menoleh ke bangku belakang di mana Naina berada di sana, karena ia memutuskan untuk duduk di samping Ethan. Naina mengangguk antusias saat melihat binar mata Zoya yang penuh kebahagiaan.


Hal tersebut juga dilakukan oleh Naina, di mana ia membuka kaca mobil, tentu saja hal itu membuat beberapa warga yang notabenenya adalah tetangganya menatap takjub padanya juga sedikit merasa terkejut.


Para penduduk kampung itu melambaikan tangan penuh senyuman saat melihat kehadiran Naina yang kabarnya memang sudah beberapa bulan menetap di Jakarta.


"Naina, pulang kampung?" tanya salah seorang ibu dengan raut ramah, Naina menganggukan kepalanya dengan sopan, kehadiran mereka benar-benar disambut oleh senyum ramah dari penduduk kampung, suasana yang sangat membuat perasaan Zoya menjadi tenang.


"Rumah kamu masih jauh?" Naina tersadar begitu Ethan bertanya, ia menoleh kepada majikannya tersebut. "Sebentar lagi Pak. Lurus, terus belok kanan." sahutnya, Ethan mengangguk, terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Naina sama sekali tidak memberitahukan kepada Bibi nya di kampung jika ia akan pulang untuk menemani majikannya berlibur, sehingga begitu mobil terparkir di pelataran rumah beralaskan rumput hijau itu, Bibi Naina tampak terkejut mendapati keponakannya yang turun dari mobil, adegan dramatis terjadi ketika dengan mata berkaca-kaca sang Bibi merentangkan tangannya dan Naina melangkah untuk memeluk Bibinya tersebut. Meleburkan rasa rindu yang beberapa bulan tertahan.


Pemandangan yang membuat Zoya tersentuh melihatnya, sementara ia sendiri berada dalam gandengan Ethan. Tangan Zoya mengelus dada pria itu.

__ADS_1


Baru menginjakkan kaki di sana tapi rasanya Zoya sudah sangat betah sekali. Ia jadi ingin berlama-lama di sana hingga akhirnya ia bertanya kepada suaminya.


"Kita liburan berapa hari di sini?"


"Hmm, tiga hari." Zoya mengerucutkan bibir, bagai tidak puas atas jawaban suaminya. Tiga hari rasanya terlalu singkat, terlalu sebentar untuk Zoya yang ingin berlama-lama dengan suasana perkampungan yang damai.


Beberapa tetangga Naina juga mendekat, selain karena melihat mobil mewah memasuki kampung halaman mereka, daya tarik utamanya adalah Zoya. Rasanya mereka begitu familiar melihat wanita itu. Zoya juga mendengar bisik-bisik di antara mereka.


"Itu Zoya Hardiswara bukan? Artis yang adu akting sama Edrin Nicolas."


Ethan yang juga mendengar hal itu, yang mulanya tersenyum melunturkan senyumnya begitu nama Edrin melintasi Indra pendengarannya. Zoya yang menyaksikan hal itu hanya tersenyum.


"Kenapa tidak bilang kalau mau pulang? Nanti, 'kan biar Bibi rapikan kamarnya."


"Biar enggak mendadak seperti ini." si Bibi baru berbuka suara. Naina hanya menggeleng sambil menggandeng bibinya tersebut belakangan dikabarkan bahwa Bibi Naina sudah sehat, dengan keadaannya itu pulalah yang membuat Naina tenang bekerja dengan Zoya.


"Ini majikan yang artis itu?" kemudian si Bibi berbisik di telinga Naina, dengan senyuman Naina mengangguk. Si Bibi menatap Zoya penuh kagum, tak pernah terbayang di benak si Bibi didatangi seorang artis bahkan artis tersebut akan menginap di rumahnya, sepertinya para tetangganya akan iri kepadanya nanti.


"Halo Bibi, apa kabar? Bibi sehat?" Zoya menyapa dengan ramah, si Bibi hanya mematung sambil menganggukan kepala, bagai terpana dengan pesona Zoya. Hal yang membuat Ethan lagi-lagi tersenyum, sesuatu hal yang berhubungan dengan Zoya, apapun itu baginya semua terasa ajaib dan menyejukkan.


"Artis terkenal itu, yah, Bi?" salah satu tetangga kampung bertanya guna meyakinkan mereka jika mereka tidak salah, faktanya wanita yang sekarang berada di hadapan mereka jauh lebih cantik daripada yang mereka lihat di TV.


"Iya. Ini Zoya Hardiswara. Aktris cantik yang terkenal, istri saya." Ethan yang bersuara, membuat para warga kampung berdecak kagum, terutama mereka juga mengenal siapa suami dari Zoya Hardiswara, seorang produser pemilik perusahaan agency yang dulu pernah menghebohkan jagat media mengenai klarifikasinya yang mengatakan jika ia memiliki hubungan dengan Zoya setelah foto mereka memasuki sebuah kamar hotel tersebar di jagat dunia maya.


"Wah di kampung kita ada artis ya?" salah seorang anak buka suara, sontak membuat kehebohan karena mereka berteriak.


"Ada artis!"


"Di rumah si Bibi ada artis!"

__ADS_1


Hal yang membuat Zoya tertawa lepas, sederhana ternyata menyaksikan kebahagiaan orang hanya dengan melihat dirinya berada di sana.


TBC


__ADS_2