Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Fashion Show


__ADS_3

Agyan dengan Freya sudah dengan pakaian rapihnya untuk menghadiri acara peragaaan busana. "Kamu yakin nggak bakal kenapa-napa?" tanya Agyan saat Freya merapihkan dasinya. Freya tersenyum. "Aku nggak papa, kamu tenang aja."


"Gimana aku bisa tenang, sih, By. Kamu jalan di chatwalk, pake sepatu hak tinggi, dan kamu—"


"Aku bisa jaga diri baik-baik." potong Freya dengan cepat.


Freya mengusap dada Agyan dengan senyum tulus di wajahnya. "Kamu tenang, yah. Nggak perlu khawatirin apapun."


"Sebentar lagi mobil kiriman Mbak Tari jemput," ia berlalu lebih dulu keluar dari kamar mereka. Agyan hanya menatapnya dan menggelengkan kepala. Kemudian menyusul Freya yang sudah berlalu meninggalkannya.


Tak lama setelah keduanya keluar dan mengunci pintu rumah. Sebuah mobil berwarna hitam muncul, orang dari pintu kemudi berjalan ke arah mereka dan memberitahukan jika ia adalah utusan Tari Amaliya.


"Kamu udah izin ke Gavin buat nggak masuk kerja?" tanya Freya saat keduanya sudah berada di dalam mobil, mobil perlahan melaju.


"Ini hari libur, dan Gavin juga pergi ke acara ini. Cherry diundang." Agyan menyahut seperlunya. Satu minggu ini, ia memang sudah bekerja di tempat Gavin. Tepatnya di sirkuit mobil. Tempat pertama kali ia bertemu dengan Freya. Istrinya.


Perjalanan ditempuh sekitar satu jam sampai mobil berhenti di sebuah gedung besar di mana di salah satu lantai tersebut adalah tempat dilangsungkannya acara.


"Inget, jangan ngobrol sama cowok lain, siapapun itu. Aku nggak suka," sahut Agyan saat Freya merangkul lengannya ketika mereka turun dari mobil. Dengan begitu enteng, Freya hanya mengangguk.


"Kamu cukup liatin aku,"


"Aku harus liat kamera, Gyan."


Agyan menoleh dengan raut kesal. Freya hanya mengusap lengan Agyan sampai keduanya memasuki lift. Terdiam cukup lama selama menuju tempat tujuan. Ketika Freya melepas rangkulannya di lengan Agyan, buru-buru pria itu menahan tangan Freya.


"Aku serius buat yang tadi!" ia memperingatkan.


Freya mengernyit, sampai kemudian ia tersadar dengan apa yang sebelumnya mereka bahas. Dan Freya merasa jika Agyan sedikit berlebihan.


"Kamu jangan posesif gini, deh. Aku nggak mau ribut."


Agyan menatap gadis itu dengan memicing. Mendekatkan wajahnya pada Freya, tepat saat bibir Agyan akan mendarat di bibirnya. Freya justru memalingkan wajah. Agyan perlahan menjauhkan wajahnya. "Nggak usah rusak dandanan aku!" tolaknya dengan ketus. Ayolah, perasaannya sedang sangat sensitif, dan Agyan selalu memancing emosinya.


Di tambah, pria itu tidak pernah melihat tempat dan mengerti situasi.


"Maksudnya?"


"Aku udah rapih dan—"


Freya hanya meringis saat Agyan justru menyandarkannya ke dinding lift dengan gerakan tiba-tiba. Tangan kanan pria itu tepat berada di samping kepala Freya, sedangkan tangan satunya lagi menahan pinggang Freya.


Seketika Frrya merasa jika lift berjalan dengan sangat lambat dan membuatnya terjebak. Berhadapan dengan pesona luar biasa suami tampannya memang sudah biasa bagi Freya.


Tapi bukan ini yang Freya harapkan. Freya tidak ingin Agyan mengacaukan semuanya jika pria itu memulai.


"Kamu tadi bilang apa?" tanya Agyan. Sengaja memojokan Freya. Freya menatap netra hitam itu dengan perasaan serba salah. Apakah Agyan marah?


"Hmm?"


Freya hanya diam sampai kemudian ia bersuara dengan pelan. "Jangan di sini,"


"Jadi maunya di mana?" Freya berdecak. Agyan keterlaluan bukan?


"Awas, ah!" ia mendorong dada Agyan agar menjauh meski sia-sia dilakukannya. Agyan justru semakin mendekat dan menghimpit Freya di antara dinding lift dan tubuh Agyan sendiri.


"Gyan!" Freya berkata pelan. Agyan sama sekali tak menghiraukan.

__ADS_1


"Yang."


"Agyan."


"Yang!"


Freya hanya mendesah dengan kedua tangan yang masih menahan dada Agyan.


Sepertinya hari ini keberuntungan sedang berpihak pada Freya. Karena tak lama setelahnya, pintu lift terbuka dan mereka tepat berada di lantai lima, tempat berlangsungnya acara.


Freya tersenyum dengan penuh kemenangan. Sedangkan Agyan juga tampak biasa saja seolah tidak keberatan. Sementara hatinya tertawa, ternyata seasik ini mengisengi istrinya.


Agyan menyusul langkah Freya, menarik tangan gadis itu untuk kembali menggandeng lengannya.


"Freya,"


Freya dan Agyan menghentikan langkah, menoleh pada orang yang memanggil Freya. Di adalah Tari, Tari Amaliya. Seorang menejer artis dan model dari BS Entertaiment. Agensi yang saat ini sedang berkembang di industri hiburan.


"Mbak Tari."


Tari menghampiri Freya dengan senyumannya. Menyalami gadis itu, dengan antusias memperhatikan penampilan Freya.


"Cantiknya." pujinya sambil menyentuh lengan gadis itu.


"Mbak bisa aja."


Tari hanya tersenyum mendengar tanggapan Freya. Tidak ada yang salah dengan ucapannya, Adzana Freya Maheswarry adalah seorang bintang sejak dirinya memasuki dunia modelling. Tapi sayang, sejak dulu ia tidak pernah memiliki minat untuk melebarkan sayapnya ke dunia akting.


Padalah banyak pihak perusahaan dan produser yang tertarik padanya. Tapi seperti yang sering dikatakan rekannya, mantan menejer Freya—Nadin. Anak itu keras kepala dan tidak bisa dipaksa. Sekali tidak, maka akan tetap tidak.


"Tari."


"Agyan, suami Freya."


Tari terlihat sedikit terkejut mendengarnya. Ia tidak tau jika Freya sudah menikah.


"Iya, Mbak. Freya udah nikah," Freya menjawab keheranan pada wajah Tari.


"Oh." Tari hanya mampu mengangguk-anggukan kepalanya. Hanya saja ia takjub dengan ketampanan Agyan.


"Yasudah, ayo. Freya, kamu ikut saya." sahut Mbak Tari, ia berjalan ke arah sebuah ruangan yang dijadikan studio make'up. Freya berdiri di hadapan Agyan.


"Aku ikut Mbak Tari, yah." pamitnya.


"Yang nanti dandanin kamu cewek apa cowok?" pertanyaan tak terduga itu meluncur begitu saja dari bibir Agyan.


Orang yang mengadakan acara peragaan busana ini adalah seorang desainer pria asal Indonesia pemilik brand ternama. Ia juga menggandeng seorang desainer terkenal dari negara tetangga.


Seingat Freya saat ia pernah beberapa kali menghadiri acara resmi seperti ini, ia selalu mendapat pria sebagai periasnya. Tapi tidak tau dengan kali ini.


"Aku di studio make'up nggak sendiri, Yang."


Agyan memutar bola matanya malas. Freya memegang kedua tangan Agyan. "Cuma sebentar, yah." bujuknya. Meski tau Agyan tidak benar-benar mencegah kepergiannya.


"Yah,"


"Ayah,"

__ADS_1


Agyan menatap gadis itu, memicingkan matanya pada Freya yang tengah tersenyum. Ketika melihat raut wajah bingung dan terkejut Agyan, Freya tertawa. "Ayah, dari anak aku." godanya sambil menangkup kedua sisi wajah Agyan


Agyan tersenyum, kemudian mendesah dan mengusap puncak kepala Freya. "Yaudah, sana. Aku langsung ke tempat acara."


Freya mengangguk, kemudian berlalu dengan dua langkah mundur sambil melambaikan tangan, berbalik memunggungi Agyan dan berjalan ke mana Tari tadi pergi.


Agyan hanya menatapnya dengan senyuman. Setelah menikah, ia banyak melihat perubahan pada Freya. Gadis itu menjadi lebih manja, lebih pengertian, dan sedikit banyak sudah menurunkan egonya.


*


*


"Mbak kira kamu nggak bakal mau dateng." sahut Tari sambil membantu Freya merapihkan busana yang dipakainya.


Freya hanya tersenyum, awalnya ia memang tidak akan datang. Beruntung Agyan memahaminya dan memberinya izin, bahkan menemaminya dalam acara ini.


"Suami kamu ganteng," sahutnya tiba-tiba. Freya menoleh, untuk sesaat ia hanya terdiam sampai kemudian memilih untuk tersenyum.


Agyan memang tampan, sangat. Seperti Agyan tidak ingin kecantikan Freya dilihat oleh banyak orang. Freya pun merasakan hal yang sama. Tidak ingin ketampanan Agyan dinikmati orang-orang. Meski Freya tau bukan hal tersebut yang dimaksud oleh Tari.


*


*


Sangat kebetulan, ketika Agyan memilih untuk langsung ke tempat acara di sebuah auditorium besar, ia justru bertemu dengan Cherry dan Gavin yang juga mendapat tempat duduk di barisan depan.


Agyan tidak perlu merasa sendiri karena ada orang yang dikenalinya dari kebanyakan orang yang berada di sana. Cherry sendiri diundang sebagai tamu karena beberapa waktu lalu pernah mengiklankan sebuah produk di BS Entertanment sebagai model pemula. Dan ia menggandeng Gavin selaku suaminya untuk datang dan menemaminya.


"Freya lagi di make'up?" tanya Cherry, Agyan mengangguk.


"Gak perlu cemas gitu kali, Gyan. Acaranya cuma bentaran, Freya nggak bakal kenapa-napa." Gavin menepuk bahu Agyan. Agyan hanya tersenyum, ia percaya Freya bisa melakukannya dengan baik.


Acara resmi dibuka oleh seorang MC saat beberapa model sudah berada di tempat, dengan paras cantik dan busana menawan yang mereka kenakan.


Ada Freya salah satunya, charmingly ia mengenakan busana gaya kasual yang terlihat mencolok dan menampilkan kesan santai namun berkelas.


Freya memberikan senyum terbaiknya saat berjalan di chatwalk dengan profesional, jiwa model di dalam dirinya sedang bergelora saat ini. Gadis itu sempat menatap intens pada Agyan yang menatapnya penuh kagum.


"Freya cantik banget," Cherry berdecak takjub. Agyan hanya mengangguk samar. Sampai ia merasakan jika seseorang duduk di kursi kosong di sampingnya.


Agyan menoleh, orang yang duduk di sampingnya adalah Tari. Dengan segelas koktail di tangannya, matanya menatap Freya di sana.


"Seandainya Freya mau bergabung dengan perusahaan kami dan kembali menjadi model." kalimat itu ditujukan pada Agyan yang sudah kembali memusatkan perhatiannya pada Freya. Tapi, mendengar Tari bersuara, Agyan menoleh, ia mendengar jelas apa yang tadi dikatakan wanita itu.


"Saya tidak memberi izin,"


"Kenapa?"


"Kami sudah menyepakati ini jauh sebelum menikah." Agyan menyahut acuh. Sedangkan Tari hanya menatapnya, Agyan sudah kembali fokus pada Freya.


Memperhatikan Agyan dan mencari celah mistake pada tampang menawan yang dimiliki pria itu. Tapi sayang, ia tidak dapat menemukan. Agyan, terlalu sempurna.


TBC


Tari bukan pelakor, yah. Jan dihujat😅


Tinggalkan cinta kalian untuk BCB dengan Like dan Koment. Kalo likenya banyak, mal aku up lagi, wk😂

__ADS_1


__ADS_2