Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
EXTRA PART (4)


__ADS_3

Grrycia dengan Andreas tengah berdiri di samping mobilnya. Lalu lalang para orangtua bersama dengan anaknya tampak ramai karena saat ini adalah jam pulang sekolah. Keduanya tampak bersemangat menjemput kedua cucunya.


Tak lama setelah itu, dari arah gerbang muncul dua orang yang sudah mereka tunggu-tunggu. Grrycia segera melambaikan tangannya pada Ethan dan Arasy.


"Sore nanti aku akan ada pemotretan, jadi kerjakan PR-ku, yah." pinta Arasy saat keduanya keluar dari kelas.


"Tidak usah jadi selebritis kalau kamu tidak mampu mengerjakan kewajibanmu!" sindir Ethan. Arasy hanya menoleh dan mendelik, begitulah sang Kakak. Tapi meski begitu, Ethan akan selalu mengerjakan apa yang Arasy pinta. Ia tidak bisa menolak apapun keinginan adik kembarnya.


"Kamu harus senang, semua teman-temanmu menjadi fansku karena aku cantik."


"Cantik bukan prestasi, Arasy."


"Tapi yang pertama kali dilihat itu fisik, Ethan!"


Ethan mendesah, sepertinya percuma saja berbicara dengan Arasy.


Gadis kecil itu mempercepat langkahnya saat seseorang melambaikan tangan, Ethan mengikuti. Arasy segera memeluk Grrycia yang menyambut kedatangannya. "Kalian datang untuk menjemput?" tanyanya setelah kedatangan Ethan yang menyalami Andreas dan Grrycia.


Kedua orang itu mengangguk, membuat Arasy menyerukan yes, sambil mengepalkan tangannya ke udara. "Let's go!" Arasy bersorak gembira. Baru ia akan menaiki mobil, kedatangan Rival membuat semuanya urung beranjak.


Rival menyapa Grrycia dan Anderas, setelah berbasa-basi, akhirnya ia juga ikut bergabung dan kelimanya akan pergi jalan-jalan.


"Kita akan ke mana?" tanya Andreas begitu menyalakan mesin mobil.


"Taman hiburan!" Arasy segera menyahut.


"Membeli es krim dan bersenang-senang." sambungnya. Ethan dan Rival hanya saling bertukar pandang, ide Arasy memang tidak buruk. Sehingga mereka akan memilih untuk setuju saja.


"Tapi kamu ada pemotretan, Arasy." Ethan mengingatkan.


"Hanya sebentar. Ini pertama kalinya kita akan bersenang-senang. Benar, 'kan Mami Grryc, Papi Andre?"


Memangnya Grrycia dan Andreas bisa apa lagi selain mengangguk?


Lima orang itu duduk pada bangku dekat stand es krim setelah mencoba beberapa wahana permainan. Arasy tampak sangat bahagia lebih dari biasanya. Ia terus mengoceh dan sesekali mengganggu Ethan dan Rival yang sangat menghindari gangguannya.


Andreas dan Grrycia yang melihatnya hanya tersenyum. Senang melihat cucu mereka tumbuh dengan baik dan bahagia.


"Oh, yah, Rival bagaimana kabar Mama kamu, sehat?" tanya Grrycia, begitu mengingat Vina yang saat ini sedang hamil anak kedua.

__ADS_1


"Mm, Mama baik."


"Dedek bayinya juga sehat." sahutnya yang ditanggapi senyuman oleh Grrycia. Sedangkan Arasy mengerutkan kening setelah mencerna apa yang sudah Rival bicarakan.


"Kak Rival punya dedek bayi?" tanyanya. Rival mengangguk, kemudian menyahut. "Yah, masih di dalam perut."


Arasy mengangguk, diam-diam ia merenung. Entahlah apa maksudnya. Ia menatap komedi putar di hadapannya dengan sesekali memakan es krim.


**


"Maaf, Pak Agyan. Tapi tidak bisa," tolak Arfat dengan halus. Setengah tidak enak pada atasannya tersebut.


Ia sangat merasa terkejut saat tiba-tiba saja Agyan datang ke ruangannya dan mengatakan jika ia ingin menjadi pemeran utama dalam film yang dibintangi Freya, menggantikan lawan main istrinya.


Atfat sungguh tidak habis fikir. Seolah Agyan tidak mengerti dengan dunia perfileman. "Ini baru trailernya saja, kan. Belum ada yang tau siapa pemeran prianya, 'kan?" Agyan bersikukuh, Freya hanya diam. Percuma saja berdebat, atau memberitahu Agyan.


Arfat tersenyum melihat tingkah sang atasan yang amat kentara jika tidak ingin istrinya berdekatan dengan pria lain. "Pak Agyan lupa, sebelum melakukan syuting, kita sudah membuat banner terlebih dahulu. Media juga sudah memberi pengumuman jika lawan main Zeinn Freya adalah Rainer Anderson." ungkapnya dengan sangat sabar meski melihat kilatan kekesalan di mata Agyan.


Agyan berdecak. Sejujurnya, Reiner Anderson adalah aktor terkenal yang sudah memiliki pacar setelah satu tahun gagal membina rumah tangga dengan istrinya yang seorang model.


Pada dasarnya, Reiner juga memiliki pasangan. Tapi tetap saja, wajah tampannya yang ramah mampu menyihir wanita manapun untuk menyukainya. Agyan tidak ingin Freya juga suka pada Reiner. Meski bukan suka dalam artian menuju kata cinta, Agyan tetap tidak terima.


"Bagaimana kalau begini saja, setiap ada adegan kontak fisik, saya yang menggantikan Reiner?" usul Agyan tetap tidak putus asa. Ayolah, Freya miliknya, tidak ada yang boleh menyentuhnya selain Agyan sendiri.


"Pak Arfat, setiap adegan kontak fisik antara Freya dengan Reiner, saya yang akan menggantikan?" Agyan kembali mengutarakan usulnya dengan jelas.


*


*


Agyan menghempaskan tubuhnya pada sofa di ruang utama rumahnya. Tak lama Freya muncul dan duduk di sampingnya. Membantu Agyan melepas jas yang dikenakannya. Pria itu masih terlihat sangat kesal setelah gagal membujuk Arfat.


Bahkan sepanjang perjalanan, ia mendiamkan Freya. Tidak berbicara sepatah kata pun. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, jari tangan Freya merapihkan rambut depan Agyan.


"Kenapa harus marah, sih? Pas aku syuting, 'kan kamu bisa liat, lagian kita di lokasi syuting juga banyakan."


"Bukannya pas awal-awal kamu juga setuju."


"Itu sebelum aku baca naskah, By."

__ADS_1


"Kamu tau, gak, sih, gimana nyebelinnya semua isi naskah antara kamu sama Reiner itu?"


Freya tersenyum. Sikap macam apa yang sedang ditunjukan ayah dari dua anak ini? Agyan justru semakin menjadi pencemburu dan posesif.


"Karena ceritanya, 'kan aku sama Reiner pasangan suami istri. Reiner itu suami aku."


"Suami kamu, tuh, aku Freya!" tegas Agyan yang membuat Freya menggeleng tidak mengerti dengan tingkah suaminya.


"Iya, Sayang, iya." Freya memilih untuk mengalah.


Agyan mengusap rambut Freya. "Good girl." ungkapnya yang membuat Freya hanya berdecih, sementara Agyan tertawa. Setelahnya, keduanya kompak menoleh pada Arasy dan Ethan yang muncul dari arah pintu.


Ethan berjalan santai, di tangannya adalah tas Arasy. Sedangkan Arasy setengah berlari menghampiri Agyan dan Freya. Ia langung berhambur memeluk Freya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Freya, ia mengusap peluh dari kening Arasy. Ethan duduk di samping Agyan, Agyan mengambil tas Arasy di tangan Ethan. "Kemana dulu sama Mami Papi?" Agyan bertanya pada putranya.


"Kita main di taman hiburan."


Agyan mengangguk, mengusap rambut Ethan yang sedikit berantakan, tapi Ethan menolak dan merapihkannya sendiri. Agyan hanya tersenyum melihatnya.


"Ayah, Bunda." panggilan Arasy membuat tiga orang di sana memusatkan perhatiannya pada Arasy.


"Ada apa?" tanya Agyan sambil mengangkat dagu gadis kecil itu.


"Kak Rival sebentar lagi akan punya dedek bayi." ungkapnya yang membuat Freya dan Agyan hanya saling pandang.


"Lalu?"


"Arasy juga ingin punya dedek bayi."


"Kamu masih kecil, Sayang."


"Dedek bayi dari perut Bunda." pernyataan Arasy sontak membuat Freya menoleh pada Agyan yang diam membeku.


"Yah, Bunda."


Freya tak menyahut, sedangkan Agyan diam-diam tersenyum. Ia berdehem dan berbicara pelan pada Freya


"Sayang, kayaknya aku bener-bener harus persiapin bulan madu kita."

__ADS_1


Oh, memang Freya harus bagaimana saat sepertinya putri mereka berada dipihak Agyan?


Yang nunggu up Maybe Mine. Sabar, yah. Aku udah up sejak kemaren, pagi pagi. Tapi belum lulus review dari NT:"(


__ADS_2