
"Semuanya sudah siap?"
"Sudah, akad nikah dimulai sekitar setengah jam lagi."
"Pengantin pria akan datang sekitar sepuluh menit lagi."
"Pastikan semuanya berjalan tanpa hambatan
"
"Oke."
"Konsumsi siap?"
"Sudah semuanya, Pak. Jajaran tamu yang hadir juga sudah ada sesuai dalam list."
Manager perusahaan WO itu mengangguk puas melihat kinerja para pegawainya. Suasana tempat berlangsungnya akad nikah sudah dipadati para tamu undangan yang hadir dengan dress code berwarna putih.
Pengantin pria sedang dalam perjalanan dan sebentar lagi akan sampai. Hal ini tentu menjadi momen mendebarkan bagi kedua calon mempelai.
"Kamu cantik," puji Anna, menatap putrinya yang sudah selesai dirias. Gadis itu tersenyum, jauh dalam hatinya, ia menangis. Sejak kemarin, ia tidak dapat nenghubungi Agyan, dan hari ini pun Agyan masih tidak dapat dihubungi, sementara sebentar lagi, statusnya akan berganti menjadi seorang istri. Istri dari seorang Braga Mallhotra.
"Mi, Freya boleh telpon Agyan sebentar?" tanya Freya dengan penuh harap. Anna terdiam, kemudian mengangguk dan menyerahkan ponsel Freya. Freya menerimanya, menatap nomor ponsel Agyan dengan perasaan hampa.
Setelah ini, cerita antara dirinya dengan Agyan hanya akan menjadi cerita usai yang akan terus Freya kenang. Agyan, akan menjadi cerita terindah dalam hidupnya.
"Gimana?" tanya Anna yang memperhatikan Freya sedari tadi. "Nggak diangkat, Mi." Freya menyahut dengan lesu, Anna hanya mengusap bahunya, menenangkan Freya untuk dapat kuat jika ia dan Agyan memang tidak dapat bersama.
Tak lama, Warry muncul dan tersenyum. Menghampiri putrinya yang tengah duduk dengan cantiknya.
"Calon suami kamu sudah siap."
Freya hanya mampu mengangguk. Kenyataan di depannya membawa ia sadar jika Bragalah orang yang setelah ini akan selalu berada di sisinya, bukan Agyan.
"Setelah ini, kamu akan menjadi seorang istri, apa kamu siap menjalani semuanya dengan orang yang kamu cintai?"
"Freya nggak cinta sama Braga, Pi."
"Freya udah bilang Freya nggak mau nikah kalo bukan sama Agyan. Kenapa Papi nggak ngerti?!"
"Karena Papi kasihan dengan calon cucu Papi!"
"Lebih kasihan lagi kalau dia tau ayah yang ia kenal bukan ayah kandungnya!" sinis Freya dengan suara menggebu.
Warry terlihat menghela nafas. Ia mengusap bahu putrinya dengan senyum hangat. "Papi akan lakukan apapun asal kamu bahagia, Sayang."
Freya tak menyahut, ia hanya diam. Berbicara dengan dirinya sendiri. Jika Warry memang melakukan semua hal demi untuk membuatnya bahagia. Lalu, mengapa Warry tidak mau menikahkannya dengan Agyan?
Warry mencium kening putrinya, cukup lama. Kemudian melepasnya dan berlalu dari sana. Anna dengan Cherry yang dipilih mertuanya untuk menjadi brides Freya lantas mendekat dan menggandeng gadis itu untuk ke ruang akad.
"Ayo, Sayang."
Cherry memberikan senyum terbaiknya, menggandeng Freya dan menggenggam tangan gadis itu untuk menguatkan.
Dengan langkah perlahan, Freya menuju ruang akad. Mengikrarkan janji di depan Tuhan dan banyak orang untuk sehidup semati dengan Braga. Hatinya menolak dan berontak. Tapi langkah kakinya dikendalikan oleh takdir yang harus di jalaninya.
Genangan air dari pelupuk matanya perlahan menetes. Dengan senyum yang tampak di paksakan dari bibirnya kala para tamu undangan menatapnya dengan takjub.
Agyan, aku menikah dengan dia pilihan orangtuaku. Dan aku mencintai kamu yang tidak di berikan meski hanya meminta sebuah restu.
Apapun yang terjadi, aku tetap mencintai kamu.
Mungkin ini bukan jalan terbaik. Siapa yang tau, satu kali melangkah mungkin akan masuk ke dalam jurang. Tapi begitulah kehidupan, tidak ada yang bisa memprediksikan apa yang akan terjadi di masa depan. Saat ini, biar jalan terus terbentang, menuntun manusia sampai pada tujuan.
Biar hanya takdir yang tau, kapan mereka bisa bersama. Mungkin tidak sekarang, tapi di kehidupan selanjutnya.
Sang MC menyambut kedatangan pengantin wanita dan memberitahukan akan segera dimulainya akad nikah. Bersamaan dengan Freya yang mengangkat pandangannya. Mengedarkan penglihatan pada seluruh tamu undangan, dan tatapan matanya berhenti pada meja akad yang sudah di dekor dengan sedemikiamln indah.
Perpaduan warna putih dengan hijau yang terlihat menyejukan. Tapi justru air mata Freya semakin deras begitu langkahnya semakin dekat pada meja akad.
Ia menoleh pada Anna. Dengan mata yang berkaca-kaca. Anna mengangguk, menggenggam tangan Freya dengan kuat. Calon pengantin pria tampak tersenyum tipis. Dari wajahnya, terpancar kebahagiaan yang luas biasa, seolah tak akan bisa jika di ungkapkan dengan kata-kata.
Sejarah cinta diantara keduanya akan tertulis dengan indah. Agyan meyakini itu semua, karena cintanya dengan Freya, bukanlah cinta biasa.
"Jangan nangis." bisik Agyan setelah Freya duduk di sampingnya, Freya tersenyum. Membiarkan berbagai pertanyaan bersarang di kepalanya.
Mengabaikan pikirannya yang terus menerka apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini. Namun, yang lebih penting untuk saat ini adalah pernikahannya dengan Agyan.
Dengan Agyan, bukan Braga.
"Bagaimana, kedua mempelai sudah siap?" penghulu dengan senyum tipis itu bertanya kepada Agyan dan Freya selaku kedua mempelai. Agyan dan Freya sama-sama menoleh dan mengangguk dalam waktu bersamaan.
Mengangguk tanpa beban, karena sesungguhnya keduanya ingin segera mengikrarkan janji sucinya di hadapan Tuhan dengan segera mungkin.
Para hadirin sudah tidak sabar menantikan akad nikah antara Freya dengan seorang pria yang namanya tidak tertera dalam kartu undangan.
Ketika mobil keluarga Agyan memasuki pelatarqn gedung dan mendapat sambutan dari pihak keluarga mempelai wanita dan WO. Para tamu undangan cukup merasa dikejutkan oleh kedatangan Agyan.
__ADS_1
Mereka mulai berkasak-kusuk mempertanyakan kejanggalan yang sedang terjadi. Tapi, detik selanjutnya keadaan sudah aman terkendali.
*
*
Braga menghela nafas, ia turun dari mobil dan berjalan ke teras rumah Vanesh yang hari ini tidak datang untuk menghadiri pesta pernikahan. Mengangkat tangannya perlahan dan mengetuk pintu. Sesekali membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
Braga kembali mengetuk pintu saat tak ada sahutan dari arah dalam. Sementara di dalam rumahnya, Vanesh tengah duduk di ruang televisi, menonton disney sambil menikmati camilan dalam toples kaca.
Sejujurnya, ia tidak menikmati apa yang sekarang dilakukannya, tapi setidaknya dengan ini, hatinya tidak terlalu terbebani. Meski di dalam kepalanya, adegan akad nikah dan malam pertama antara Braga dan Freya dengan nakalnya bersang dalam kepala sehatnya.
Beberapa kali Vanesh berdecak kesal pada orang yang mengetuk pintu rumahnya. Sementara saat ini, di rumah hanya ada ia sendiri. Dengan sedikit ogah-ogahan, Vanesh beranjak sambil mengikat rambutnya.
Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Kak Braga." lirihnya begitu pintu terbuka.
Ia hanya mematung menatap pria yang bersarang di kepalanya, dan saat ini ada di hadapannya. Dengan pakaian rapih dan tampang yang tampan.
"Kenapa Kak Braga di sini, bukannya—" Vanesh mengutarakan apa yang terlintas di benaknya melihat Braga saat ini ada di rumahnya.
Jangan katakan jika Braga kabur saat acara baru saja akan dimulai. Atau bagaimana?
Braga menghela nafas. Menatap Vanesh di hadapaannya. "Aku juga sayang sama kamu." ungkapnya dalam satu kali tarikan nafas.
"Tunggu, maksud kamu?"
"Kita ke acara nikahan Agyan sama Freya sekarang!"
"Aku masih belum ngerti!"
"Bukannya yang nikah harusnya kamu sama Kak Freya, kenapa jadi sama Kak Gyan?" gadis itu menolak untuk segera percaya atau menerima kenyataan yang baru saja didapatinya.
"Kamu nggak perlu ngerti, kamuncukup ikut sama aku sekarang."
"Tapi—"
"Aku buru-buru ke sini jemput kamu dan kamu mau nolak?" Braga terlihat kesal. Vanesh menatapnya. Ia justru malah tertawa melihat raut menggemaskan Braga.
Apa yang dikatakan Braga memang benar, ia tidak perlu mengerti sekarang. Yang paling penting, Braga tidak menikah dengan Freya.
Dan apa yang dikatakannya tadi? Braga mengungkapkan perasaannya atau bagaimana?
Baiklah, tanyakan itu nanti. Yang paling penting sekarang, berangkat untuk menghadiri akad nikah Freya dengan Agyan.
*
*
Seruan sah terdengar meriah dan syahdu setelahnya. Freya merasa seperti mendapat kehidupan baru, seperti mendapat lemparan kebahagiaan dari atas langit tanpa ia duga sebelumnya.
Ia menoleh pada Agyan setelah penghulu selesai membacakan do'a. Menyalami Agyan, mencium punggung tangan pria yang telah sah menjadi suaminya itu dengan perlahan.
Bolehkah Freya serakah dan berharap banyak saat ini?
Ingin menikmati hidup selamanya dengan Agyan. Dengan orang yang mati-matin dan jatuh bangun memperjuangkannya sampai bisa menghalalkannya.
Berharap, pria itu tidak berpaling darinya meski Freya sudah sangat membebaninya. Membuatnya hanya berjuang sendirian dalam kesulitan.
Agyan mengecup kening Freya, inginnya berlama-lama, tapi ia merasa itu tidak akan lebih baik untuk saat ini.
"Gyan." Agyan menoleh setelah membenarkan jasnya. Ia tersenyum pada wanita yang telah sah menjadi istrinya.
"Ada apa?"
"Makasih,"
Agyan menggenggam tangan Freya, mengecupnya sekali. "Aku yang makasih," sahutnya.
Freya tidak akan bertanya bagaimana bisa Agyan yang pada akhirnya menikah dengannya. Biar Agyan yang bercerita dengan sendirinya nanti.
Karena jauh dalam hatinya, Freya memang yakin Agyan tidak akan membiarkannya lepas begitu saja dan menikah dengan Braga.
*
*
Freya baru saja selesai berganti gaun untuk resepsi saat Warry masuk ke ruang gantinya. Freya spontan tersenyum dan bangkit.
"Papi, makasih." ia memeluk Warry. Warry hanya tersenyum dan balas memeluk putrinya.
"Semoga kamu bahagia, Sayang."
"Sekali saja Agyan menyakiti kamu. Bilang sama Papi, dia udah janji bakal bahagian kamu."
Freya mengangguk dalam pelukan Warry. Warry hanya mengusap punggung Freya. Ia menghela nafas di sela pelukan mereka. Ada perasaan tidak rela untuk melepas putrinya. Tapi ia tau, Freya hanya akan bahagia dengan Agyan. Dan Warry harus membiarkannya.
Berharap Agyan tidak akan sedikit pun melukai Freya.
__ADS_1
"Semoga kalian bahagia, yah." ungkap Grrycia saat memberi ucapan selamat pada Agyan dan Freya. Dua orang yang sedang diselimuti kebahagiaan itu hanya tersenyum dan mengangguk.
Grrycia tersenyum dengan mata berkaca-kaca, ia menangkup satu sisi wajah Agyan dan mencium kening putranya tersebut.
"Kamu sudah dewasa, jadi suami yang baik, yah, Gyan." pesannya singkat, dan mengandung makna mendalam pada kalimatnya. Agyan mengangguk patuh, bahkan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi sebaik-baiknya suami bagi Freya.
"Freya, jadi istri yang baik, yah, buat, Gyan."
"Iya, Mi."
"Agyan susah bangun pagi kalo hari libur, Agyan suka sarapan nasi goreng, kamu inget, yah."
"Iya, Mi. Freya inget semuanya tentang Agyan."
Grrycia tersenyum senang, mencium kening Freya dan berlalu lebih dulu. Setelahnya Andreas yang memberi ucapan selamat pada Agyan dan Freya. Disusul oleh Anna dan Warry serta anggota keluarga yang lain.
Meski ada perasaan marah pada Agyan, tapi sama seperti Warry. Anna hanya ingin yang terbaik untuk putrinya. Berharap Agyan tidak akan pernah mengecewakan Freya.
Rasa bahagia jelas terpancar dari wajah Agyan maupun Freya. Bagaimana tidak, undangan sudah disebar, gedung dan semuanya sudah dipersiapkan untuk Braga dan Freya.
Tapi pada akhirnya. Agyan yang menikah dengannya. Duduk dihadapan penghulu mengucapkam ijab dan bersanding dengannya di pelaminan. Bagi Freya, ini seperti sebuah mimpi.
"Aku belum percaya kalo aku nikahnya sama kamu." ungkap Freya.
Agyan hanya tersenyum, jujur ia pun merasakan hal yang sama dengan Freya. Semuanya seperti tidak nyata baginya setelah kemarin ia hampir mati dengan apa yang terjadi.
Tapi hari ini. Agyan merasa dunianya baru saja akan dimulai. Mengarungi kehidupan bersama dengan orang yang dicintainya siap ia lakukan.
Agyan dan Freya bangkit dari duduk saat kawan-kawannya naik ke atas pelaminan untuk memberi ucapan selamat.
Brandon, Morgan, Gavin, Braga, Vanesh, Cherry, Gisna, Gladis, disusul oleh Rayn dan Vina. Mereka sudah memberikan senyum tercerahnya melihat Agyan dan Freya yang berhasil duduk diatas pelaminan setelah sekian lama hanya bisa bertahan.
"Selamat, Agyan, Freya. Semoga menjadi keluarga bahagia, yah." ungkapan Vina bagai mewakili semuanya.
"Setelah ini gak akan berantakin kamar lagi, 'kan, Gyan?" sindir Morgan yang membuat sebagian dari mereka justru tertawa.
"Ada Freya yang beresin!" Brandon menyahut tak kalah usil.
"Woy, sekarang, 'kan gak bakal ngamuk-ngamuk lagi."
Guyonan Morgan dan Brandon hanya disambut tawa oleh kawan-kawannya. Mencairkan suasana dari ketegangan yang berlangsung selama empat tahun dalam hubungan Agyan dan Freya karena hambatan restu orangtuanya.
"Loe kapan nyusul?" tanya Agyan pada Brandon, matanya mengerling ke arah Gisna yang sejak tadi tampak kalem dan hanya sesekali saja tertawa saat lawakan receh dari Brandon berhasil mengocok perutnya.
Brandon akhirnya menoleh pada Gisna yang tersipu malu karena ucapan Agyan. "Gampang, lah, ntar juga loe dapet undangan."
"Buruan, tapi." Morgan ikut-ikutan menggoda.
"Loe juga kapan nyusul?" Brandon justru menyudutkan pria itu, Morgan tertawa dan menggandeng Gladis.
"Kamu berapa bulan lagi lulus SMA?"
"Mmm, tiga bulan."
"Tiga bulan lagi gue nyebar undangan!" sahutnya dengan yakin dan mendapat pukulan dari gadis itu. Dan dengan jail, Morgan justru beralih pada Braga.
"Loe kapan nyusul Ga?"
Ragu-ragu Braga menoleh pada Vanesh yang baru saja mendapat pengakuan cinta darinya.
"Gampalnglah, jangan buru-buru. Yang penting nyusul." sahutnya dengan santai, Rayn mengacungkan jempolnya pada calon adik iparnya itu. Ahh, anggap saja calon adik ipar.
Sementara Vanesh tampak tersipu mendengar jawaban Braga. Secepat itu? Atau Braga baru menyadari jika memang hanya Vanesh wanita yang tepat untuk menyempurnakan hidupnya. Satu kata saja. Bahagia, adalah yang Vanesh sedang rasakan.
Ia sangat bahagia. rasanya, perasaannya jauh lebih bahagia daripada pasangan pengantin di hadapannya saat ini.
"Gyan. Kamu sudah menjadi suami sekarang. kurangin main-mainnya. Ada istri dan calon anak yang harus kamu nafkahi." sahut Rayn dengan dewasanya mengganti aksen panggilan diantara mereka, ia serius dan tentu saja Agyan pun serius menanggapinya. Ia mengangguk dan berterimakasih pada kakak sepupunya tersebut.
Setelah mengambil beberapa gambar. Morgan dengan yang lainnya berlalu untuk menikmati hidangan. Vanesh dengan Braga adalah yang terakhir memberikan ucapan selamat.
"Ga, thanks, yah." sahut Agyan ketika Braga menyalami dan memeluknya sebagai ucapan selamat.
Braga melihat Freya sekilas. Kemudian mengangguk penuh arti.
"Gue tau, Freya cuma bahagia sama loe."
Agyan tersenyum dan mengangguk setelah menoleh sekilas pada Freya.
"Selamet, yah, Frey. Kamu udah sama-sama, sama Agyan. Semoga kalian selalu bahagia." Braga berkata dengan tulus, dan Freya hanya mengangguk dengan sorot mata penuh terimakasih.
Selanjutnya, Vanesh yang memberi ucapan selamat dan memeluk Freya. Mengungkapkan maaf karena kemarin sudah mengajaknya berdebat.
Agyan memperhatikan raut wajah bahagia Freya yang mengamati seluruh sudut ruangan di mana orang-orang masih menikmati pesta. Perjuangan Agyan tidaklah sia-sia, karena sekarang Freya sudah menjadi miliknya, hanya miliknya.
Jauh dari mereka, Warry dan Andreas memperhatikan putra-putrinya. Perasaan tidak rela itu ada, tapi untuk kebahagiaan mereka. Keduanya menyisihkan rasa egois dihati masing-masing karena cerita di masa lalu.
Rasa benci itu tidak akan usai. Tapi keduanya sudah berbesar hati memberikan restunya untuk Agyan dan Freya.
TBC
Hayo, gimana, puas nggak?
__ADS_1
Aku sama sekali nggak rombak alur cerita. Ini bener-bener udah terencana. So, kemarin cuma ngaduk-ngaduk perasaan kalian aja meski aku tau banyak dari kalian yang kecewa:") Maaf, ya:")
Nanti ada kilas baliknya kenapa bisa sampe Agyan yang nikahin Freya":)