Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
BONUS UP


__ADS_3

Arthur Rizan Baswara. Sebut saja dia pemilik kehidupan maha sempurna. Ia memiliki segalanya, bahkan para wanita dari segala kalangan akan dengan mudah jatuh dalam pelukannya. Namun, hal itu tidak berlaku bagi seorang Jilbrasta Moza Gyrafaru. Primadona di sebuah kelab malam terkenal. Siapa sangka, jika ternyata wanita misterius itu hanyalah seorang karyawan biasa yang bekerja di perusahaan keluarga Baswara. Ketika Arthur menyatakan jatuh hati pada Moza bahkan ikut menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang Presdir dengan memproklamirkan cintanya di hadapan semua karyawan perusahaan, nyatanya pesona yang Arthur miliki tetap tak mampu meluluhkan perasaan Moza.


***


**


Seorang wanita dengan seragam SMA memasuki sebuah kamar hotel dengan random di mana pintu itu dapat terbuka dengan mudah, suasana sangat gelap di dalam kamar tersebut. Seolah tak berpenghuni, tetapi gadis itu mampu mencium sebuah aroma maskulin yang menyeruak ke indera penciumannya, tak banyak memikirkan hal lain karena rasa lelahnya setelah berlari tak tentu arah, gadis tersebut lantas mendudukan dirinya pada kasur berseprai putih yang sedikit berantakan itu. Dalam cahaya temaram, wajahnya tampak begitu lusuh dengan rambut berantakan dan seragam sekolah yang sudah tak beraturan.


Dia adalah Moza, Jilbrasta Moza Gyrafaru. Gadis berusia 18 tahun yang baru saja merayakan hari kelulusannya dan mendapatkan jackpot besar karena begitu ia tiba di rumah, ibu tirinya dengan senang hati memberikan pengumuman jika ia telah dijual kepada seorang pengusaha batu bara beristri dua, kabar buruknya lagi seandainya Moza menolak untuk menjadi seorang istri ke-3, maka ia akan dijual kepada seorang pemilik kelab malam terkenal. Di mana nanti, di sana ia akan menjadi mainan para pria berhidung belang.


Moza mengacak rambutnya frustrasi, tidak tahu apa yang harus dilakukannya, faktanya dia yang termasuk pada golongan keluarga dengan ekonomi sulit memang benar-benar menderita hidup di kota metropolitan, ia tersiksa dan rasanya ingin mengakhiri saja hidupnya.


Moza mendesah, sekali lagi mengacak rambutnya dengan kesal, membuat rambut hitam legam itu menjadi kian berantakan, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ia merasa sudah begitu putus asa menjalani hidupnya setelah sang ayah meninggal tanpa meninggalkan sedikitpun harta warisan karena dipakai untuk membayar semua hutang-hutangnya di sebuah kasino.


Moza benar-benar merasa seperti dimasukkan ke dalam neraka. Tinggal dengan seorang ibu tiri yang benar-benar gila akan harta.


Sementara di sisi lain, seorang pria dengan setelan rapinya melangkahkan kaki menuju sebuah kamar hotel yang sempat ia tinggalkan setelah bersenang-senang dengan mainannya, ia harus segera beristirahat malam ini untuk menghindari beberapa wanita yang mengajaknya bermain–lagi.


Malam yang Arthur pikir akan menjadi malam terindah karena mampu menghabiskan waktu sendirian nyatanya menjadi malapetaka ketika ia masuk ke dalam kamar hotelnya dan melihat seorang wanita berada di sana. Tidak, bahkan dia tampak masih ..., gadis. Dilihat dari seragam sekolah yang dikenakannya. Sebuah benda dalam cahaya temaram tampak bersinar di leher gadis itu.


"Where are you doing?" tanya Arthur yang tampaknya membuat gadis itu juga terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar, tapi itu adalah haknya karena Arthur pemilik kamar hotel tersebut. Gadis Itu tampak panik saat Arthur melangkah mendekat, karena faktanya gadis tersebut mengambil langkah mundur dengan cepat.


"Maafkan saya Tuan, saya hanya sementara di sini. Tolong jangan usir saya, saya benar-benar tidak memiliki tempat untuk pergi. Saya mohon hanya malam ini, saya bisa tidur di manapun. Di lantai pun tidak masalah." oceh Moza, mengiba.


"Sedikitpun saya tidak memiliki niat jahat. Tapi saya tidak bisa keluar. Saya mohon, ada orang yang sedang mengejar saya, saya. Saya adalah korban." sambungnya terbata-bata.


"Apa kamu pikir kamu dapat menipuku dengan mudah?" Arthur menaikan sebelas alisnya.


"Aku tahu jenis apa wanita sepertimu." tuduh Arthur dengan tatapan mengintimidasi.


"Tidak seperti itu Tuan. Demi Tuhan, dengarkan saya, saya korban di sini. Saya hanya mencari tempat perlindungan. Saya tidak ingin pergi keluar dan ditemukan oleh mereka." gadis itu sangat mengiba dan memohon, membuat Arthur tidak tega. Ia menatap gadis itu lekat-lekat dalam kegelapan, tapi ia tidak bisa memercayai gadis itu begitu saja. Ayolah, di zaman sekarang dunia benar-benar kekurangan orang jujur.


Arthur lantas mendekat pada stop kontak dan menekannya, membuat ruang kamar itu menjadi terang benderang, spontan membuat gadis di hadapannya memejamkan mata karena silau. Saat melihat penampilan gadis itu begitu lusuh berantakan dan tampak memprihatinkan, didukung dengan mata sembabnya yang sepertinya dipakai menangis habis-habisan, Arthur merasa ..., kian iba. Tapi Arthur tidak ingin tertipu begitu saja.


Lama Arthur memerhatikan gadis di hadapannya dan membuat gadis Itu tampak risih karena diperhatikan. Terlihat dia terus menundukkan kepala dan enggan untuk melakukan eye contact dengan Arthur.


"Tatap mataku jika kamu benar-benar tidak berbohong!" perintah Arthur yang membuat Moza perlahan mengangkat wajahnya, untuk pertama kalinya ia melihat iris mata pria di hadapannya yang tidak ia ketahui latar belakangnya. Tapi melihat dari penampilannya, Moza cukup tahu jika pria yang saat ini sedang ia mintai tolong bukanlah seorang pria sembarangan, terlihat dari setelan pakaian yang dikenakannya. Tampak mahal dan elegan, sepertinya pria itu berasal dari kalangan atas yang mungkin bisa saja menindasnya.


"Kamu benar-benar tidak berbohong?" tanya Arthur untuk memastikan. Moza menganggukan kepalanya. "Baiklah, kalau begitu kamu boleh tidur di sini denganku."


"Tapi dengan satu syarat." Jari telunjuk Arthur terangkat. "Mandi dan bersihkan dirimu!" perintahnya, tampak enggan membiarkan Moza yang kotor meniduri tempat tidurnya.

__ADS_1


"Aku akan menyiapkan pakaian untukmu."


Moza meremas pinggiran rok yang ia kenakan, ia merasa ragu. Tidak mungkin dirinya dengan begitu saja mempercayai seorang pria yang baru saja ditemuinya, yang kemudian bersikap baik kepadanya. Tidak mungkin tanpa imbalan bukan? Di zaman sekarang tidak ada yang gratis, setidaknya hal itu yang berada dalam pikiran Moza.


Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali tinggal untuk semalam di kamar hotel milik Arthur demi menghindari kejaran ibu tirinya.


Kemudian, dengan segumpal keraguan di dalam dirinya, Moza tetap mengikuti apa yang diperintahkan, ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri dan berpikir jika ia akan berlama-lama di sana, menunggu agar pria itu tertidur dan tidak akan mengganggunya.


Sedangkan Arthur yang ditinggalkan mengangkat satu sudut bibirnya ke atas. Lantas merogoh ponsel yang berada pada saku celananya. "Kirimkan aku satu set gaun tidur untuk wanita. Harus seksi seperti biasa." setelahnya ia memutus sambungan telepon begitu saja.


Ayolah, gadis itu salah sudah mempercayainya begitu saja. Arthur bukanlah pria baik. Arthur bukan pria yang akan tidur dengan pulas tanpa melakukan apapun terhadap mangsanya yang begitu dekat dengannya.


Pada akhirnya harapan Moza untuk berlama-lama di kamar mandi benar-benar pupus begitu justru pria itu memintanya untuk cepat-cepat keluar.


Lagi-lagi, mau tidak mau Moza hanya bisa menurutinya. Karena tempat yang sedang ia tempati bukanlah miliknya. Ia benar-benar ada dalam kuasa pria itu.


Dengan menahan malu yang luar biasa, Moza keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk pendek yang membungkus tubuhnya. Hal yang pertama ia lihat adalah tatapan nakal dari pria itu, sepertinya ia sudah salah mempercayai seseorang.


"Pakai ini!" Arthur menyerahkan sebuah paper bag yang langsung diterima oleh Moza.


"Terimakasih," sahutnya karena rupanya pria itu benar-benar melakukan apa yang dikatakannya, setidaknya dia bukan tipikal orang yang senang ingkar janji.


"Apa ini?" Moza bertanya kepada dirinya sendiri begitu ia mengeluarkan isi paper bag tersebut. Sebuah baju tidur dengan belahan dada yang terbuka, rupanya ia sudah terlalu cepat menyimpulkan kebaikan yang dimiliki pria misterius itu.


**


Moza tidak tahu apa yang harus dilakukan sedangkan matanya tak kunjung diserang kantuk, karena khawatir yang terlalu berlebihan kepada dirinya sendiri. Takut jika pria itu melakukan hal macam-macam padanya ketika ia lelap dalam tidurnya.


Takut jika esok hari. Ia ditemukan oleh ibu tirinya, jika hal itu terjadi maka tamat sudah riwayat hidupnya.


Moza menghela napas saat pintu terbuka, Arthur yang semula sudah pamit pergi kembali masuk. Moza tanpa sadar meremas selimut yang dikenakannya begitu pria itu berbaring di sampingnya tanpa sedikitpun rasa canggung.


Waktu sudah kian larut. Tapi Arthur tampak tidak mampu terlelap, berkali-kali ia mengubah posisinya. Membuat Moza yang juga masih tejaga merasa kian tidak nyaman.


Sementara tangan Moza menggenggam kalung berliontin bintang miliknya. Tubuhnya bak mayat, kaku dan tak melakukan pergerakan apa pun.


"Apa kamu sudah tidur?"


Moza menoleh saat Arthur bertanya. Mata pria itu tampak memerah dengan rambut berantakannya. "Belum." sahut Moza, singkat.


"Tuan tidak bisa tidur?"

__ADS_1


"Tidak bisa. Aku tidak bisa tidur jika tidak kelelahan." Moza memerhatikan pria itu tanpa berkomentar apa pun.


"Siapa namamu?"


"Moza,"


"Kamu sudah memiliki pacar?"


"Kenapa Tuan bertanya seperti itu?" Moza balik bertanya dengan nada tidak suka.


Arthur memiringkan tubuhnya menghadap Moza. Ia menatap Moza lekat-lekat. Mata gadis itu tampak sayu dan membuat Arthur nyaman melihatnya.


"Saya tidak bisa tidur. Apa kamu bisa membantu saya?"


Moza menatap Arthur untuk beberapa saat. Meyakinkan diri jika pria itu sungguh-sungguh tidak bisa tidur. Selang beberapa saat berlalu, Moza menganggukan kepala.


"Kamu tidak akan menyesal?"


"Apa yang harus saya sesali?"


Ada sesal di hati Moza mengiyakan permintaan pria itu. Sedangkan ia cukup peka pada apa yang dimaksud pria di hadapannya.


Moza tidak tahu hidupnya setelah ini akan dibawa kemana. Sedangkan jika ia menyerahkan hal berharga miliknya pada Arthur, artinya ia tak memiliki apa pun lagi untuk dipertahankan. Lantas untuk apa ia lari begitu jauh jika pada akhirnya tetap menjatuhkan harga dirinya?


"Kamu yakin?" Arthur bertanya sekali lagi.


Moza lebih dulu tersenyum sebelum kemudian menjawab. "Apa saya sudah salah memercayai seseorang? Sepertinya pertolongan ini tidak gratis bukan?" Moza tersenyum hambar setelahnya. Arthur balas tersenyum, ia mengangguk, kemudian menyahut. "Apa pun itu, semoga setelah ini kita tidak bertemu lagi."


Moza mengangguk. Ia memejamkan mata dengan stetes air yang keluar dari sana begitu bibir pria asing di hadapannya mendarat di bibirnya.


TBC


Holla info dulu guys, jadi ini cerita kedua aku di Apk kuning N-o-v-e-l-m-e kalian ada yang punya aplikasi N-o-v-e-l-m-e nggak sih? Boleh minta tolong nggak buat subscribe sama review ceritanya? Eh kalau nggak, baca aja sih, soalnya seru banget sumpah pokoknya gak akan nyesel, and mumpung belum dikunci juga.


Judulnya Sorry Tuan Presdir


Mohon doa dan dukungannya ya guys.


Dan tenang aja BCB season 2 masih akan terus berlanjut, insya Allah nanti malam up lagi ya ...,


Semangat!

__ADS_1


__ADS_2