Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Honeymoon Sudah Selesai


__ADS_3

Kurang baik apa coba, jam segini udah up. Hmmm😅


Happy reading💖


**


"Pengantin baru." decak Selin saat Zoya berdiri menunggu Ethan di samping mobil ketika mereka akan pulang. Wanita itu tersipu malu dengan senyum merekah.


"Kelihatan banget yah, Mbak?" tanya Zoya seraya menangkup kedua sisi wajah yang terasa memanas, Selin mengangguk dengan cengiran.


"Itu apa?" dagu wanita itu mengarah pada leher Zoya di mana sebuah hickey nampak di sana. Padahal Zoya sudah berusaha menutupinya dengan foundation dan rambut yng sengaja ia gerai.


Zoya memegang lehernya, memejamkan mata sekilas dengan pipi yang kian memanas sampai Ethan muncul di antara mereka. Di belakanagnya menyusul Randy yang membawa beberapa barang.


"Ada apa?" tanya Ethan ketika melihat wajah istrinya yang memerah, Zoya dengan cepat menggeleng. Refleks memegang lehernya saat Randy tersenyum simpul seraya berjalan ke arah belakang mobil untuk menyimpan beberapa koper ke bagasi mobil.


"Masuk duluan yu." ajak Zoya pada suaminya dan segera masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang. Ethan mengernyit heran, namun begitu ia menurut dan tiba - tiba peka dengan apa yang tengah terjadi.


Ethan melihat wanita itu tengah bercermin pada sebuah kotak yang dibawanya. Mengeluarkan poundation dan mengoleskannya pada leher, namun sebelum itu Ethan sudah lebih dulu menahan tangannya.


"Kenapa?" tanya Ethan.


"Hmm?"


"Kenapa mau ditutupin?"


"Malu lah!"


"Malu ke siapa?"


"Mbak Selin liat, Randy juga!" kesalnya yang membuat Ethan justru tersenyum.


"Kalau mereka udah liat kenapa mesti ditutupin?" tanyanya. Kali ini Zoya terdiam, matanya mengerjap hingga Ethan merapikan rambutnya ke belakang.


"Udah, nggak udah ditutupin. Biar saja,"


"Saya senang melihatnya." pria itu tergelak, bahkan saat sebuah pukulan mendarat di bahunya. Ia tertawa melihat ekspresi Zoya yang tampak kesal. wanita itu lanjut memakai poundation dan Ethan memilih untuk membiarkannya saja. Sampai kaca jendela di sampingnya diketuk dari luar, wajah Randy muncul dengan ekspresi iseng yang sudah dapat Ethan tebak maksudnya.


"Gimana? Jadi pulang atau mau masuk ke vila lagi?"


Mata Zoya memicing mendengar hal itu, ia lantas melipat tangan di dada saat Randy menatapnya dengan tatapan jahil.


**


Beberapa waktu kemudian mobil sudah melaju menuju bandar udara di mana mereka akan kembali ke Jakarta. Selin dengan Randy duduk di depan, Zoya dan Ethan duduk di bangku belakang dengan kepala Zoya yang bersandar di bahu Ethan.


"Bunda semalam telpon." Ethan buka suara dengan tangan yang memain mainkan jemari lentik Zoya. Wanita itu mengingat jika semalam Freya memang menghubungi Ethan.


"Bunda bilang apa?"


"Dia kirim asisten rumah tangga ke rumah."


"Hmm?"


"Bunda bilang tidak tega kalau kamu harus beresin rumah sendiri."


"Kan ada kamu."

__ADS_1


"Tapi saya tetep nggak bisa bantu tiap waktu."


Zoya hanya mengangguk - anggukan kepala. Kalau Freya sudah bertindak maka ia tidak bisa menolak.


"Kamu setuju?" tanya Ethan saat wanita itu tak berkata apa - apa lagi.


"Nggak papa, aku setuju aja. Emang kamu nggak setuju?" tanya Zoya, kali ini ia menegakan duduknya dan menatap Ethan yang masih menggenggam tangannya. Mengabaikan jika di dalam mobil itu bukan hanya ada mereka berdua.


"Enggak."


"Kenapa nggak setuju?"


"Saya tidak suka ada orang lain di rumah kita."


"Katanya pengen cepet - cepet punya anak, tapi tugas rumah dikerjain sendiri. Mana fokus!" Randy yang sejak tadi memang mendengar obrolan dua orang di belakang itu lantas menyambar. Kemudian menoleh ke belakang dengan Selin dan melihat reaksi yang diberikan Ethan


"Anak beda lagi." Ethan menyahut cuek, Zoya tersenyum melihatnya. Sementara Ethan mencium punggung tangannya dan menarik kepala Zoya agar kembali berbaring di bahunya.


Sisa perjalanan hanya keduanya nikmati dengan saling terdiam. Keempatnya tiba di Jakarta setelah menempuh perjalann sekitar satu jam jalur udara. Mobil yang Randy kemudikan berhenti di depan rumah Ethan.


Pria itu membantu menurunkan beberapa barang milik Ethan dengan Zoya. Sedangkan dua wanita itu tampak mengobrol di teras.


"Mbak Selin nginep aja," Zoya membujuk sang manajer agar menginap di rumahnya. Setidaknya akan ada yang memasakan makan malam untuknya dan Ethan nanti. Zoya menggelengkan kepala menepis ide jahil di pikirannya.


"Mbak pulang aja. Lagian kan suami kamu udah bilang dia gak suka ada orang lain di rumahnya." ekor mata Zoya menangkap Ethan yang tengah mengeluarkan beberapa barang dari bagasi mobil.


"Kan Mbak bukan orang lain. Lagian Ethan juga pasti kasih izin, yah."


"Enggak, Zoy. Kamu istirahat sama Ethan, nanti Mbak masak di rumah terus dianterin ke sini. Jadi kamu gak perlu repot masak atau delivery." sahut Selin penuh pengertian, membuat senyum wanita di hadapannya mengembang. Ia merentangkan tangan dan memeluk Selin dengan penuh rasa sayang.


Selin tersenyum, membalas pelukan Zoya tak kalah erat, hingga begitu Ethan sudah di antara mereka Selin segera mengurai pelukan. Ia tau Ethan selalu berpikir jika Zoya adalah milik pria itu, tidak ada lagi kebebasan bagi Selin untuk bersama dengan Zoya. Kecuali saat Ethan tidak ada di antara keduanya.


"Kalau begitu Mbak pulang, yah." pamit Selin, Zoya hanya mengangguk dan tersenyum cerah seraya melambaikan tangan pada wanita itu.


Begitu mobil yang Randy kemudikan melaju meninggalkan pelataran rumah, Zoya menatap suaminya. "Bisa nggak, sih kalo biasa aja? Gak usah bertindak seolah olah aku tuh, cuma milik kamu aja!?"


"Nggak bisa!" Ethan berlalu ke arah pintu masuk dan memutar kunci yang ia keluarkan dari balik saku jaket, membuka pintu dan segera masuk, mengabaikan Zoya yang menekuk wajah atas apa yang tadi suaminya katakan.


Zoya menyusul suaminya ke dalam rumah, tubuhnya lelah dan sangat butuh istirahat. Tapi begitu masuk ke dalam kamar, ia tak mendapati suaminya di sana. Membuatnya mematung sampai kemudian memilih untuk keluar dari kamar begitu melempar sling bagnya ke atas tempat tidur.


Langkah kaki wanita itu membawamya menuju ruang kerja Ethan, dan benar saja jika pria itu ada di sana. Duduk pada sofa dengan tangan terlentang dan mata yang terpejam. Zoya hanya menatapnya, barangkali pria itu lelah sehingga Zoya memutuskan untuk membiarkannya.


"Zoya," baru ia akan berbalik badan, suara Ethan membuatmya kembali memusatkan tatapan pada sang suami yang perlahan membuka matanya


"Kemarilah!" mata pria itu terbuka sempurna. Ia menyuruh Zoya untuk duduk di sampingnya. Wanita itu melangkah dan memenuhi perintah Ethan. Duduk di samping suaminya.


"Ada apa?" tanya Zoya, Ethan tak menyahut. Hanya menatap wajah Zoya berlama - lama. Membuat wanita itu tidak nyaman sekaligus salah tingkah.


"Ada apa, sih?" kesal Zoya pada akhirnya, Ethan tersenyum dan menggelengkan kepala. Detik berikutnya ia mengganti posisi dan membaringkan tubuh dengan kepalanya berada di pangkuan Zoya.


Tanpa berkata - kata ia memejamkan mata, membuat Zoya akhirnya hanya bisa mengelus kepala pria itu.


Zoya tidak tau berapa lama Ethan tertidur, atau lebih tepatnya berapa lama ia juga ikut tertidur. Karena begitu bangun, ia sudah berada di dalam kamar. Gemericik air dari kamar mandi membuatnya beranjak dari posisi. Tak lama pintu berwarna putih itu terbuka. Ethan muncul dengan handuk putih yang melingkar di pinggangnya.


"Sudah bangun?" tanya pria itu melihat sang istri yang tengah menatapnya.


"Kok kita di sini?" Zoya bertanya dengan raut heran.

__ADS_1


"Kamu ketiduran, saya nggak mungkin biarin kamu tidur sambil duduk."


"Kan di sana ada matras."


"Tidur kamu nggak akan nyenyak."


"Kan ada kamu."


Spontan Ethan mematung. Ia yang sedang mengambil pakaian lantas menoleh pada sang istri. Kemudian menggeleng pelan saat wanita itu menekuk wajahnya.


"Tadi ada orang yang nganterin makanan dari manejer kamu."


"Aku tidur berapa lama?" wanita itu merasa kian heran.


"Tiga jam."


Zoya menepuk kening. Mungkin karena tubuhnya sangat lelah sehingga ia lelap tertidur, padahal yang paling butuh beristirahah adalah Ethan.


Ethan yang sudah berganti pakaian hanya tersenyum menatap istrinya. Ia berlalu keluar, membiarkan Zoya agar mandi lebih dahulu sebelum makan malam.


Bersamaan dengan Zoya yang menuruni anak tangga seusai merapikan diri, suara bel yang ditekan dari luar membuat dua orang itu menoleh ke arah pintu.


"Siapa?" tanya Zoya pada sang suami yang tengah menata makanan. Ethan menoleh ke arah pintu, ia menggelengkan kepala lantas berjalan ke arah sana, Zoya mengekor di belakang dengan tangan yang menggelayut manja di lengan Ethan.


"Kamu ada janji ketemu seseorang?" tanya Zoya, sang suami tetap konsisten menggelengkan kepala. Sampai begitu pintu terbuka, dua orang itu mengernyit heran melihat orang yang berdiri di sana.


Seorang wanita yang sedikit lebih muda dari Zoya berdiri dengan wajah lelah, di tangannya tampak sebuah tas yang dapat Zoya tebak apa isinya.


"Benar ini kediaman Pak Ethan dan Ibu Zoya?" tanya wanita itu dengan nada lembut. Zoya sempat menatap Ethan sebentar, kemudian mengangguk kaku.


"Maaf sebelumnya karena saya datang terlambat, saya sempat tersesat karena pertama kali datang ke Ibu Kota."


"Saya orang yang diminta Ibu Freya untuk menjadi asisten rumah tangga di sini membantu Ibu Zoya." jelasnya yang membuat Ethan dan Zoya mengangguk mengerti alasan kedatangan wanita asing itu.


Tapi Ethan merasa keberatan, sebab Freya mengatakan jika calon asisten rumah tangga di rumahnya adalah wanita tua. Tapi melihat kedatangan wanita muda ini, Ethan tampak harus menanyakannya.


"Siapa nama kamu?" tanya Zoya, kali ini wanita tersebut tampak santai. Ia bahkan melepas rangkulan tangannya dari Ethan.


"Naina." ucapnya dengan cepat.


"Nama saya Naina." ia mengulangi.


"Nama kamu bagus."


Naina mengangguk sopan menanggapi pujian Zoya. "Kalau begitu silakan masuk." Zoya membuka pintu lebar - lebar.


"Sebentar!"


Baru Naina akan melangkah, suara Ethan lebih dulu menginterupsinya. Ia menatap Ethan segan.


"Kenapa Than?" sampai Naina mendengar nyonya rumahnya bertanya pada pria itu.


"Bunda saya bilang calon asisten rumah tangga yang dikirim seorang wanita tua. Bukan gadis muda seperti kamu." Ethan menilik wanita di hadapannya. Pakaian sederhana ala gadis desa pada umummya.


Wajah Naina tampak gelisah, tapi kemudian ia tersenyum. "Maaf sebelumnya Pak. Seharusnya memang Bibi saya yang datang kemari. Tapi sakit beliau kambuh sehingga saya yang menggantikan." sahutnya secara rinci. Zoya menatap Ethan dengan raut heran yang tak kalah dari Naina, suaminya tampak berbeda saat melihat wanita itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2