
"Nanti, kita maternity shoot, okey. Pokoknya kamu harus mau." sahut Zoya saat itu, lantas duduk di samping Ethan yang sedang menonton televisi. Ethan menoleh, menggandeng bahu wanita itu dan tersenyum.
"Iya Sayang, iya." apa pun keinginan Zoya, Ethan akan memenuhinya selama ia bisa dan permintaan wanitanya tidak di luar nalar manusia normal seperti dirinya.
"Enaknya pake adat apa, yah?" wanita itu tampak berpikir.
"Mm, Bali?" tawar Ethan asal bicara.
"Aku nggak ada keturunan Bali."
"Hmm, saya juga."
"Isshh. Ethan,"
Pria itu hanya tertawa saat melihat istrinya yang mulai merajuk. Zoya adalah definisi sempurna dari sensitif. Wanita itu sangat sensitif. Kaya pantat bayi.
"Nanti pas abis lahiran juga aku mau adain newborn photoshooot pokoknya nggak mau tau, harus. Harus!" saat itu Zoya tengah bersiap membuka sisa kado dari para fansnya dihari ke - empat. Ethan yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri berjalan menghampiri sang istri dan ikut duduk di atas tempat tidur.
"Iya. Kamu tinggal bilang aja sama saya mau apa. Apa pun bakalan saya lakuin buat kamu sama calon anak saya."
Apa yang Ethan katakan dengan begitu tulus dari hati terdalamnya membuat senyum manis di bibir wanita itu terukir. Berterima kasih? Tidak, wanita itu tidak mengatakannya. Karena pada akhirnya dia melakukan sesuatu hal yang manis. Sarat akan makna dan jauh lebih berharga dari ucapan terima kasih.
"Cantik nggak?" tanya Zoya saat membuka salah satu kado yang isinya adalah sebuah stelam bayi yang begitu lucu.
"Memang anaknya cewek?" tanya pria itu mendapati warna pakaian tersebut adalah merah muda.
"Kalau cowok juga nggak apa apa, lucu. Bayi bisa pake warna apa aja, Hubby." Zoya menyahut sembari melipat stelan tersebut dan menyimpannya pada tumpukan pakaian bayi yang lain.
"Yaudah. Iya, cantik banget." Ethan hanya akan mengatakan sesuatu yang membuat sang istri senang dan bahagia. Karena begitulah cara pria tersebut memberikan cinta untuk orang terkasihnya.
Senyum Zoya adalah hal yang begitu terekam jelas di kepala Ethan. Namun sayang, senyum itu berganti dengan raut kesakitan yang membuat hatinya begitu pilu mengingat apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.
Ethan hanya terdiam menunggu wanita itu siuman di ruang rawatnya setelah wanita itu melakukan operasi pengangkatan salah satu ovarium. Dokter mengatakan pada Ethan hal tersebut harus dilakukan karena wanita itu mengalami benturan hebat, Ethan hanya mampu mengangguk pasrah. Apa pun akan dilakukannya demi keselamatan sang istri meski ia sadar, dengan begitu, kecil kemungkinan bagi Zoya untuk bisa hamil.
Kenyataan pahit tersebut memang menyakitkan. Terutama bagi Zoya ketika wanita itu siuman nanti. Di mana ia mendapati fakta, jika dirinya mengalami keguguran dan juga kehilangan salah satu ovariumnya.
Arasy memandang sang kakak iba. Sejak lebih dari empat jam pria itu tak mau berbicara. Tidak mau beranjak dan juga tak membiarkan siapa pun mengajaknya berbicara. Ia hanya diam dengan tatapan kosong yang membuat Freya begitu khawatir melihatnya.
"Enggak papa, Sayang. Ethan sedang terpukul, dia hanya butuh waktu untuk sendiri sekarang." begitulah kalimat yang Agyan keluarkan untuk membuat sang istri tenang. Sedangkan Arasy juga tak bisa berbuat apa - apa.
Freya menatap putranya pilu, ia pun sama terlukanya dengan Ethan. Dirinya begitu terkejut saat melihat televisi yang menayangkan berita kecelakaan yang menimpa menantu kesayangannya. Bahkan Freya tak kuasa melihat bagaimana insiden kecelakaan yang terekam cctv itu terjadi.
Wanita itu terus menatap putranya. Betapa Ethan kacau, ia sudah kehilangan calon anaknya untuk yamg kedua kali di saat luka lamanya belum lama pulih atas insiden yang menimpa Zoya berbulan lalu dan menyebabkan dua orang itu kehilangan calon anak mereka. Dan sekarang, mereka kembali pada posisi yang sama.
__ADS_1
Randy dan Selin yang berada di sana juga hanya diam. Keduanya sama - sama meninggalkan acara pernikahan begitu mendengar kabar Zoya kecelakaan. Di mana hal itu terjadi di hari pernikahan mereka, rasanya begitu sulit saat di masa depan ia harus merayakan hari pernikahannya di samping insiden pahit yang menimpa orang tersayangnya.
Tak lama, Rival yang tiba di sana membuat Ethan menengadahkan pandangan. Ethan melepas tangan Zoya yang sejak tadi digenggamnya, ia sangat menunggu kedatangan Rival dengan membawa kabar baik.
"Kita bicara di luar!" sahut Rival bagai intruksi yang membuat Ethan beranjak dari posisi duduknya untuk memenuhi perintah pria itu. "Bunda, Ethan titip Zoya." sahutnya pada Freya sebelum pergi, Freya sesegera mungkin menganggukan kepala, mengusap bahu putranya dan membiarkan Ethan berlalu keluar.
"Than," panggilan Arasy berhasil menahan langkah kaki pria itu di depan pintu. Arasy berjalan menghampiri Ethan.
"Jangan ambil tindakan macem - macem. Apalagi bahayain nyawa kamu sendiri,"
"Aku tau apa yang harus aku lakuin." sahut pria itu, tatapan matanya penuh sorot emosional yang tak bisa Ethan kendalikan. Seolah tidak ada harapan di sana baginya untuk menggantungkan asa kecuali balas dendam. Pada siapa pun yang dengan sengaja melulai istri tercintanya.
"Jangn lama - lama. Jangan sampe pas Zoya bangun kamu nggak ada." Arasy sedang serius saat ini. Ia tidak mungkin bermain - main dalam kondisi saudara kembarnya yang sedang berduka. Ia mendaratkan tepukan untuk menguatkan pria itu di dada.
"Hati - hati." pesannya. Ethan mengangguk, membuka pintu lantas beranjak. Arasy berkata seperti itu bukan tanpa alasan, karena ia tau Rival yang mengurus kasus kecelakaan Zoya yang bagi Ethan begitu janggal. Rival tengah mencari tahu siapa dalang di balik kasus kecelakaan yang menimpa Zoya.
**
Baru beberapa langkah keluar dari ruang rawat Zoya, Ethan berpapasan dengan Naina. Rupanya gadis itu sudah sadar dari pingsannya.
"Pak Ethan," tegur gadis itu. Matanya sudah berkaca - kaca. Naina berharap apa yang menimpanya dengan Zoya hanyalah mimpi, namun begitu ia bangun dari tidurnya justru ia berada di atas brankar rumah sakit dengan nyeri pada bagian kepala karena benturan. Dan ia sadar jika apa yang ia dan Zoya alami bukanlah mimpi, hal itu nyata terjadi.
"Maafkan saya Pak Ethan, saya yang salah." tiba - tiba saja gadis itu bersimpuh di kaki Ethan dan membuat pria itu terkejut. Terutama saat tatapan beberapa orang yang berada di sana menatap ke arah mereka.
Ethan sudah melihat rekaman cctv saat kecelakan itu terjadi. Memang benar adamya, andai Zoya tidak menolong Naina, maka wanita itu tidak akan kenapa - napa. Tapi Ethan tau Zoya tak akan membiarkannya. Ia tidak akan tinggal diam melihat seseorang berada dalam bahaya. Jika saja Ethan ada di posisi istrinya saat itu, ia pun pasti akan melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan orang terdekatnya, sekali pun itu bukan Naina.
"Naina, jangan bersikap seperti ini. Jangan biarkan orang - orang berpikir jika saya ini jahat." sahutnya, memaksa gadis itu agar bangkit dari posisi bersimpuhnya.
"Pak, saya merasa sangat bersalah."
"Yang kamu lakukan bisa membuat keadaan menjadi lebih baik?"
"Tidak, 'kan?"
Gadis itu hanya diam dengan pandangan yang menunduk ke bawah. Sungguh, ia merasa sangat bersalah. Meski dirinya tak dapat menolak, jika ini adalah takdir Tuhan yang memang seharusnya terjadi.
"Berhenti bertingkah kekanakan. Jangan menyalahkan dirimu sendiri!" sahut pria itu yang kemudian berlalu. Naina hanya terisak, terus menundukan pandangannya.
Rival yang sejam tadi berada di sana hanya diam menyaksikan semuanya. Matanya sempat beradu pandang dengan gadus itu, namun Naina dengan cepat segera memutusnya dan membuat Rival berlalu menyusul Ethan, meninggalkan gadis itu sendirian.
**
"Lewat sini, di depan banyak wartawan." sahut Rival, mengarahkan Ethan pada jalur aman agar ptia itu tidak di hadang wartawan yang akan menanyakan kondisi Zoya. Beberapa bodyguard yang Ethan sewa berjaga di depan pintu Rumah Sakit. Selain tidak ingin menemui mereka, Ethan juga tau jika kehadiran para wartawan itu akan mengganggu para pasien lain.
__ADS_1
Begitu tiba di parkiran, Ethan merapatkan jas yang ia kenakan untuk menutupi noda darah di kemejanya. Lantas ia menatap Rival yang tampak tegang. "Ada apa. Murni kecelakaan?" dahi pria itu berkerut. Dia akan menghajar Rival jika pria itu berani berbohong. "Aku yakin sopir mobil boks dalam keadaan sadar total."
"Tapi enggak dengan otaknya, Than!"
"Maksud kamu?"
"Kevin ada di balik semua ini." sahut Rival yang spontan membuat tangan Ethan terkepal sempurna dengan gigi gemelutuk.
"Di mana dia sekarang?"
"Jangan gegabah, Than!"
Ethan tak perduli dan tak mau mendengarkan. Ia berjalan menuju mobilnya dan melepas jas yang ia kenakan, melemparnya ke kursi belakang. Deruan napasnya begitu menggebu, Rival buru - buru masuk dan duduk di kursi samping kemudi. Ia tidak mungkin membiarkam Ethan sendiri sedangkan pria itu dalam keadaan dikendalikan oleh emosi.
"Di mana dia sekarang?" tanya Ethan sekali lagi.
"Ribut gak akan nyelesein masalah, Than!" cegah Rival, berusaha menahan pria itu. Ia hapal Ethan, pria itu pandai menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Tidak seperti Ethan yang dilihatnya sekarang.
"Aku tanya di mana dia sekarang!" kalimat Ethan yang penuh penekanan dengan mata memerah dan menghunuskan tatapan tajam membuat Rival akhirnya memberitahukan di mana keberadaan Kevin yang sebelumnya sudah ia lacak. Ia tau Ethan tidak bisa dicegah.
**
Seorang pria tampan dalam cahaya remang - remang mengembuskan asap rokoknya ke udara, membuat ruangan yang penuh hingar bingar itu penuh dengan asap roko. Sesekali ia tersenyum bahkan mendaratkan kecupan di pipi dua orang wanita sewaan di kiri kanan yang sudah ia bayar mahal untuk menemaninya.
Kevin harus merasa kecewa saat orang suruhannya gagal mencelakai atau bahkan membunuh Naina. Justru Zeinn Zoya Hardiswara yang menjadi korban dan Kevin cukup yakin jika ia akan berada dalam masalah besar.
Itulah sebabnya ia berada di tempat ini sekarang. Tempat di mana surga dan neraka dunia ada di dalamnya. Entah untuk menghilangkan penat, atau sebagai perpisahan baginya karena sebentar lagi ia harus mengucapkan selamat tinggal pada kemewahan.
Beberapa kawannya yang ia traktir juga tampak sedang bersenang - senang dengan wanita pilihan masing - masing.
Ketika pintu private room service VVIP yang dibooking - nya tiba - tiba terbuka oleh tendangan seseorang, Kevin tau ia sudah perlahan masuk pada jurang kematiannya.
Terutama saat mata seorang Zeinn Ethan menyala bagai api yang siap melalapnya. Bahkan gerakan pria itu lebih cepat dari cahaya saat tiba - tiba sudah membuatnya terjermbab ke belakang dengan kepala membentur dinding dan hidung yang rerasa begitu sakit, darah segar keluar dari sana, sepertinya hidungnya patah, atau setidaknya bengkok.
Ethan menatap pria yang menggelengkan kepala menghilangkan pusing itu dengan tatapan tanpa ampun. Ia membuat beberapa wanita di sana berteriak karena perbuatannya, sedangkan para lelaki yang tak lain adalah kawan Kevin hanya terdiam tak mengerti.
Satu hal yang pasti, Ethan tak akan bisa dihentikan.
Sekali pun, pria tampan itu belum pernah menginjakan kakinya di sebuah club malam seumur hidupnya. Namun hari ini, ia benar - benar harus berbaur dengan hingar bingar yang memuakan itu.
Ethan tau apa yang ia lalukan tidak akan menyelesaikan masalah, tapi justru akan membuat masalah kian besar. Persetan dengan hal itu, ia tak perduli. Kevin sudah menghancurkan kebahagiaaanya. Dan pria itu harus mendapat balasan yang setimpal. Begitulah Ethan yang lain di dalam dirinya berbicara.
TBC
__ADS_1