
Ethan terus berlari. Keluar dari gedung acara, matanya mengedar ke berbagai arah dengan napas berantakan. Ia yakin jika apa yang dilihatnya adalah Zoya, Ethan merasa demikian. Pria itu berkacak pinggang dengan trophy yang masih berada di tangannya, sejenak membenarkan deruan napasnya yang membuatnya kelelahan.
Begitu menyadari jika apa yang dicarinya sudah hilang dari matanya, Ethan mendesah pasrah. Mungkinkah ia berhalusinasi karena sudah lama merindukan wanita itu?
Satu sudut bibir pria itu tertarik ke atas, ia mengasihani dirinya sendiri yang terus menerus dihantui bayang-bayang Zoya.
Apa mungkin Ethan harus benar-benar melupakan wanita itu?
Dengan cepat Ethan menggelengkan kepala, rasanya tidak bisa. Tidak akan bisa, andai ia melupakan Zoya, maka tidak akan ada lagi wanita lain yang masuk dalam kehidupannya. Tidak akan ada yang bisa karena Ethan tidak akan membukakan pintu masuk.
Pria itu menghela napas sebelum kemudian berbalik untuk kembali ke tempat acara. Namun ketika tubuhnya tepat menghadap sebuah patung air mancur, pria itu sesaat membatu ketika matanya menangkap sosok yang selama ini terus menerus ia cari.
Seorang wanita dengan jeans hitam dan hoodie oversize berwarna hitam tengah tersenyum padanya dengan mata memerah. Ia menatap Ethan penuh kerinduan, sedangkan pria di hadapannya masih berdiri mematung. Masih meyakinkan diri jika wanita di hadapannya itu bukanlah fatamorgana.
"Ethan." wanita itu hanya mampu memanggil nama Ethan dengan suara lirih yang dipenuhi kerinduan yang mendalam.
Ethan merasakan jika waktu berhenti untuk beberapa saat, mendapati Zoya berada di hadapannya seperti mimpi. Hingga ketika Ethan yakin jika Zoya di depan matanya adalah nyata, Ethan berlari menghampiri wanita itu dan memeluk tubuh Zoya dengan erat.
Mata pria itu terpejam merasakan kerinduannya menyesap kian dalam saat Zoya berada dalam dekapannya.
Zoya hanya pasrah dalam dekapan pria itu. Ia bahkan tak bisa membalas pelukan Ethan karena Ethan memeluk seluruh tubuh mungilnya dalam balutan hoodie oversize.
"Saya yakin kamu akan kembali, Zoya." sahut Ethan tanpa melepas pelukannya, Zoya hanya tersenyum dalam dekapan Ethan.
"Tapi kenapa lama sekali? Saya nyaris putus asa." sambungnya dengan kerinduan yang terdengar begitu mendalam. Ethan tak mengharapkan jawaban, karena tidak ada yang lebih baik dari kembalinya wanita itu dalam dekapannya.
Awak media yang mengejar langkah Ethan keluar dari tempat acara segera mengambil potret ptia itu yang tengah memeluk seseorang. Beberapa orang yang juga keluar dari lokasi acara tampak bertanya-tanya mengenai siapa orang dalam pelukan Ethan–beberapa di antaranya adalah Agyan, Freya, Rachel, Randy, Selin, Edrin juga beberapa dari staf AE RCH dan para fans Zoya.
Mereka jelas saja bertanya-tanya dan belum mengerti dengan situasi yang terjadi, berikut juga para awak media. Mereka bertanya-tanya, saling berbisik "Pacar Pak Ethan?"
"Dia sudah menyerah mencari Zoya?"
"Dia sudah melupakan Zoya?"
"Sekarang sudah menemukan pengganti Zoya?"
"Siapa wanita itu?"
"Itu Zoya!" semua mata tertuju pada salah seorang awak media yang berseru mengatakan jika orang dalam pelukan Ethan adalah Zoya. Kemudian, dua orang yamg mendengar keributan itu mengurai pelukan sehingga tampaklah wajah Zoya dapat dilihat semua orang.
Tidak ada yang tidak terkejut di sana, semua orang tampak terkejut melihat kehadiran wanita itu yang tiba-tiba. Kilatan blitz kian menerpa Zoya, Freya tampak menutup mulutnya di tempat dengan tatapan tak percaya jika Zoya benar-benar ada, menantu kesayangannya. Zoya benar-benar kembali?
Para awak media segera mendekat pada Zoya. Ada ribuan pertaanyaan yang perlu diajukan pada wanita itu.
"Zoya apa, kabar?"
Ethan dengan segera menggandeng Zoya, tak memberi jarak sedikitpun di antara mereka.
"Baik." Zoya menyahut singkat dengan senyuman terlebih saat Ethan memasangkan hoodie ke kepalanya.
"Bagaimana perasaan kamu setelah kembali memenangkan nominasi pemeran utama wanita terbaik?" tanya salah seorang wartawan.
Zoya menoleh pada trophy penghargaan di tangan Ethan. "Senang, saya sangat senang."
"Bisa beri tanggapan yang lebih panjang lagi Zoya?"
__ADS_1
Zoya lagi-lagi menoleh pada suaminya. "Suami saya sudah menyampaikan semua yang ingin saya katakan." sahutnya. Zoya sempat menyipitkan mata melihat kamera yang menyala dan mengarah padanya, rasanya ia cukup asing kembali ke dunianya sendiri.
"Jagat tanah air begitu gempar setelah kamu menghilang. Film yang kamu bintangi sukses besar, bahkan menjadi tranding topik terpanas selama sepekan. Saat itu terjadi, apa kamu tahu?"
Zoya menganggukan kepalanya. "Berikan tanggapan kamu Zoya!"
"Saya sangat bangga, itu semua terjadi karena kerja keras semua pemain dan staf, terutama produser dan sutradara kami."
"Selama itu terjadi, kamu berada di mana Zoya?"
Randy memberikan kode pada Ethan agar segera pergi. Membuat Ethan yang menggandeng wanita itu membawanya menjauh dari awak media begitu dirasa wawancara singkat untuk Zoya sudah cukup.
"Selama ini kamu menghilang dan berada di mana Zoya?"
"Kamu bersembunyi di luar negri?"
"Zoya, bisa kita wawancara sebentar?"
"Zoya,"
"Zoya, banyak pertanyaan yang harus kamu jawab!"
***
"Kamu tahu, selama ini Bunda sangat merasa bersalah dan sangat merindukan kamu?" sahut Freya beberapa waktu kemudian ketika mereka sudah berada di rumah Ethan. Mata wanita itu tampak berair saat mengatakannya. Ia menangkup wajah Zoya dengan tatapan tak menyangka wanita itu ada di hadapannya.
"Maafin Zoya, yah, Bunda."
Freya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Selin dengan Randy yang juga ada di sana tersenyum bahagia. Sepertinya, setelah ini Randy tidak perlu lagi menghadapi drama yang seringkali Ethan ciptakan setiap merindukan Zoya.
"Keponakan ku cantik sekali." Zoya tampak gemas pada bayi perempuan Selin yang tampak begitu cantik.
"Iya dong Tante," Selin menyahut dengan tatapan lembut pada Zoya. Sama seperti Ethan, Selin pun sangat merindukan wanita itu.
Zoya hanya tersenyum ketika melihat mata Selin yang tampak berkaca-kaca. "Kamu jahat sama Mbak! Kamu selama ini kemana? Nggak ngasih kabar sama sekali, bikin Mbak kepikiran."
"Mbak takut kamu nggak bisa ngurus diri kamu sendiri." ungkapnya mengutarakan isi hati. Zoya hanya tersenyum dan memeluk Selin, jari tangannya terulur untuk menghapus jejak air mata di wajah Selin.
"Jangan nangis dong, kan sekarang udah punya anak." ledek Zoya yang membuat Selin tertawa dengan krystal bening di matanya.
"Aku boleh gendong?" tanya Zoya kemudian. Selin segera mengangguk, menyerahkan bayinya yang baru berumur lima bulan pada Zoya. Zoya dengan senang hati menggendong bayi mungil tersebut, bayi yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui ponsel saat sesekali Selin mempostingnya di sosial media.
Wanita itu menoleh saat Ethan berdiri di belakangnya dan menaruh dagu dipundaknya, sedangkan tangannya terulur mengusap pipi gembul putri Selin dan Randy.
"Zoya." Selin memanggil wanita itu dan menunjukan layar ponselnya, Zoya melihatnya. Sebuah direct message, yang masuk ke akun instagramnya.
Hello Zoya, sebelumnya, selamat karena film kita meraih kesuksesan besar. Mm, i know pengakuan ini sangat memalukan, tapi aku tidak bisa lari dari masalah. Aku harus bertanggung jawab.
Aku mengakui apa yang aku lakukan adalah salah, itulah kenapa aku berada di Bandara sekarang untuk menjalani hukuman dari Mommy dengan kembali ke Amerika, aku tidak tahu kapan akan ke Indonesia lagi sebelum ada panggilan dari Mommy. But, its okay. No problem.
Zoya, aku berharap kamu mau berbesar hati memaafkan aku. Aku tidak bisa menjalani kehidupanku dengan baik di Amerika nanti kalau kamu belum memaafkanku.
Zoya, dimanapun kamu berada, semoga kamu selalu dilimpahkan dengan kebahagiaan.
__ADS_1
Alexa yang siang itu tengah menikmati segelas cofeenya diwaktu sore menoleh saat seorang pria duduk di sampingnya tanpa permisi.
"Bagaimana, penawaranku buat kembali ke Indo." tanyanya to the point.
Alexa hanya mendesah, selama tiga bulan ia kembali ke Amerika dan sebulan sekali atau bahkan dua kali dalam sebulan, Edrin seringkal mendatanginya dan mengajaknya pulang ke Indonesia.
"Masa hukumanku belum selesai, aku nggak bisa terbang ke Indo sebelum ada panggilan dari Mommy."
"Menikah denganku dan kamu terbebas dari hukuman Mommy, bagaimana?"
Zoya tertawa setelah mendengar cerita Selin usai membaca sederet kalimat permintaan maaf dari Alexa. "Terus gimana? Mereka nikah?"
"Kalau nikah pasti heboh."
"Berarti nggak?"
"Alexa masih jual mahal, padahal Mbak yakin dia juga ada perasaan sama Edrin."
"Waw, berarti Edrin terjebak friendzone?"
Selin mengangguk-anggukan kepala. Zoya hanya tersenyum, mengabaikan hal itu dan matanya kembali mengarah pada wajah mungil bayi Selin. Sedangkan tangan Ethan masih betah mengelus pipi bayi itu.
Ketika tangan Zoya ikut mengelus pipi sang bayi, Ethan justru menyentuh tangannya dan menggenggamnya. Zoya hanya tersenyum, lantas ia menoleh.
"Kalau Naina, bagaimana?" tanyanya.
***
"Memang kamu nggak kangen sama aku?" Rival bertanya dengan wajah yang terus condong ke arah Naina. Membuat wanita yang baru saja selesai memompa asi itu menghindar dari suaminya.
"Mas, aku harus ngasih nen anak kita." Naina berusaha menghindar. "Iya, tapi aku juga butuh kamu."
"Selama seminggu aku di luar negri kita nggak pernah komunikasi kalau bukan aku yang hubungin kamu duluan." pria itu menggerutu.
"Itu karena aku repot ngurus anak kamu." Naina tak ingin disalahkan. Selama suaminya berada di luar negri, Naina memang tak pernah berinisiatif sekalipun untuk menghubungi Rival lebih dulu. Ia tidak sepenuhnya sibuk karena Vina sering datang mengunjunginya dan membantunya merawat sang baby.
Tetapi karena ia masih sama seperti saat belum menikah dengan pria itu, Naina masih sering merasa malu dan canggung pada suaminya sendiri.
Rival justru tersenyum mendengar jawaban istrinya. "Di bawah ada Rafa," sahut pria itu kemudian.
"Iya, kan dia habis jemput kamu di Bandara. Lupa?"
"Bukan itu, maksud aku, Sayang."
Naina mengerutkan kening, terlebih saat Rival meraih pingganynya dan mendaratkan kecupan sensual di pipinya. "Mas–"
"Nggak papa Sayang, baby kita diurus Rafa sebentar."
"Mas Rival, ini anaknya ngadat." Rafa berteriak dari lantai bawah, disusul suara tangisan bayi yang menggema memenuhi setiap sudut rumah Rival.
"Tuh, 'kan." Naina mendorong tubuh suaminya dan membuat Rival mendesah kecewa saat istrinya lebih memilih menuruni anak tangga untuk menemui anak mereka daripada memenuhi keinginan hasratnya.
TBC
Follow ig-ku eva_yuliaaan_04
__ADS_1