Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Semua sudah terjadi


__ADS_3

"Brengs*k,,, munaf*k,,,"Syahdan langsung melayangkan pukulan ke arah wajah Devid. Devid yang belum siap terkejut dan tak bisa menghindar.


Semua yang hadir berteriak histeris menyaksikannya. Anita berusaha melindungi anaknya, dia menarik Devid untuk menghindar. Yang lain ada yang memegangi Syahdan yang masih emosi. Sementara tangis Airin makin pecah menyaksikan semua.


"Sahabat macam apa kau, munaf*k,,, tega kau melakukan semua ini." Cecar amarah Syahdan, dia berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan orang orang yang menahannya.


"Kau salah paham Syahdan, ini tidak seperti yang kau fikirkan." Ujar Devid.


"Salah faham apa haaahhh,,, Iya aku salah, salah menilai persahabatanmu. Sahabat apa yang menusuk dari belakang." Syahdan masih saja emosi.


"Syahdan cukup, apa apa an kamu ini. Sampai hati kamu merusak hari bahagia sahabat kamu sendiri. Sahabat macam apa kamu" Anita pun marah melihat perlakuan Syahdan.


"Sahabat macam apa ? Pertanyaan itu pantasnya tante berikan pada anak tante. Bukan aku." Ujar Syahdan.


"Lepaskan aku.. Lepaaasss,,, " Syahdan berusah untuk melepaskan dirnya dai cengkraman orang orang. Dia maih belum puas untuk menghajar Devid.


"Bawa dia keluar. Pastikan dia meninggalkan rumah ini." Anita menyuruh orang orang itu untuk membawa Syahdan pergi.


Devid terdiam, dia tak tau harus bagaimana sekarang. Kenapa semua jadi begini. Semua meang salahnya. Andai saja dari kemaren kemaren dia lebih mengenal wanita yang dijodohkan Bundanya. Pasti dia bisa lebih awal mencegah semua ini terjadi. Pasti antara dia dan Syahdan tidak akan salah paham begini.


Tiba tiba saja Airin jatuh ke lantai, pingsan. Dia sedari tadi tak mampu berkata kata. Airin bemar benar shock. Apalagi saat melihat Syahdan diseret keluar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Airin sudah sadarkan diri, dia menatap sekitarnya. Ibunya duduk disampingnya. Dewi menangis sambil membelai rambutnya. Anita juga ada disisinya, dikamarnya.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar nak."Ucap Airin.


"Gimana mas Syahdan bu" Airin malah menanyakan Syahdan. Anita yang mendengar pertanyaan Airin agak kecewa. Kenapa Syahdan yang pertama kali ditanyakan Airin, bukan Devid suaminya.

__ADS_1


"Dia sudah pergi nak. Suami kamu baik baik saja. Saat ini dia sedang menunggumu diluar." Dewi melihat perubahan wajah Anita yang kecewa.


Diluar, sudah mulai sepi. Tamu undangan sudah pada pulang. Devid terdiam duduk disofa. Dia masih shock dengan apa yang terjadi. Sama sekali tak pernah terbayangkan kalau akan begini kejadiannya.


"Nak Devid, Bapak ingin bicara. Boleh." Rahmata Ayah Airin datang menghampiri.


"Iya pak, tentu saja boleh." Devid membantu Ayah Airin duduk.


"Sebelumnya Bapak minta maaf atas kejadian ini."Ujar Rahmat.


"Tidak pak, tidak ada yang perlu dimaafkan. Saya lah sebenarnya yang salah. Jikadari awal perjodohan ini saya tau nama wanita yang dijodohkan dengan saya. Pastilah semua ini tak akan terjadi." Ujar Devid penuh penyesalan.


"Apa maksud kamu.." Ternyata Anita Bundanya sudah berdiri lama disana dan mendengar semuanya.Anita keluar dari kamar Airin, juga Dewi dan Airin.


"Ya Bund, maafkan Devid. Karena sibuk dengan pekerjaan, Devid jadi lengah. Bahkan sampai hari H nya pun Devid tidak tau nama wanita yang Bunda pilihkan untuk Devid."


"Andai saja dari awal Devid tau Airin lah wanitanya. Pasti sudah Devid tolak dan Syahdan tidak akan membenci Devid. " Devid menundukkan wajahnya. Dia masih terbayang wajah Syahdan yang penuh kebencian padanya.


"Airin adalah wanita yang dicintai Syahdan Bund. " Akhirnya Devid pun mengatakannya. Dan itu cukup membuat Anita shock. Dia terkejut, sementara Airin kembali lagi menangis.


"Semua bukan murni kesalahan nak Devid. Kalau pun dari Awal Ibu tau kalau kalian bersahabat. Mungkin Ibu akan mempertimbangkan kembali menerima Lamaran ini." Dewi pun merasa bersalah.


"Sudah sudah.. Tiada guna saling merasa bersalah. Semua suda terjadi.." Ujar Rahmat. Meskipun dia juga bingung dengan situasi sekarang.


"Jadi sekarang baiknya bagaimana.. Apakah pernikahan ini akan dibatalkan." Ucap Anita menghela nafas berat. Dia tertunduk sedih, dia paham persahabatan Devid dan Syahdan yang sudah terjalin lama. Tapi juga dia baru saja merasa bahagia karena memiliki menantu.


Devid menarik nafas panjang, sejujurnya dia juga bingung. Ijab Qobul baru saja terjadi beberapa am yang lalu. Apakah semudah itu untuk menjatuhkan Talak. Tapi jika pernikahan ini dilanjutkan maka persahabatannya dengan Syahdan akan berakhir.


"Apakah kalian mengira pernikahan adalah suatu permainan. Jadi dengan sesuka hati bisa dimulai dan diakhiri. Apakah kalian tidak memperdulikan perasaanku. Selama ini aku diam dengan perjodohan ini. Meskipun sejujurnya aku belum siap dengan pernikahan ini, tapi sekarang malah kalian berniat untuk mengakhirinya. Padahal baru beberapa jam yang lalu Akad nikah terjadi." Airin pun akhirnya bersuara. Meskipun dengan linangan airmata.

__ADS_1


"Dan apakah semudah itu dirimu menjatuhkan kata TALAK.." Ujar Airin sambil menatap tajam kearah Devid. Kemudian diapun berdiri masuk ke kamarnya.


Dia memang belum siap menerima pernikahan ini. Bukan karena hatinya yang masih terpaut pada Syahdan. Tapi lebih karena luka masa lalunya. Tapi dia tidak suka kalau menjadikan Suatu pernikahan sebagai permainan. Pernikahan ini suci, saklar. Apalagi tidak ada yang mempedulikan perasaannya. Apakah dia wanita yang tak berarti. Sehingga dengan mudah mereka mengucapkan Akad nikah kemudian tidak lama menjatuhkan TALAK.


Semua terdiam setelah Airin bersuara. Airin benar, pernikahan ini suci, tidak pantas dijadikan lelucon.


"Bolehkah saya bicara berdua dengan Airin.. Ayah, Ibu.." Ujar Devid sambil memandang Dewi dan Rahmat bergantian.


"Masuklah, walau bagaimanapun. Airin sudah Sah sebagai istrimu nak." Jawab Rahmat. Dan Devidpun melangkah menuju kamar Airin.


"Tok..tok..tokk.." Devid mengetuk pintu kamar.


"Assalamu'alaikum, maaf Airin. Saya boleh masuk." Ucap Devid kemudian. Tak terdengar jawaban dari dalam.


Tak lama Airin membukakan pintu. dan mempersilahkan Devid masuk. Meskipun masih merasa canggung, tapi Airin tak dapat menolak. Karena status mereka yang sudah Sah dimata agama dan hukum.


Devid pun masuk, tak berbeda dengan Airin. Devid pun merasa sungkan untu masuk ke kamar Airin. Meskipun status mereka kini sebagai suami istri yang sah, tapi mereka belum pernah berbincang meskipun sekedar ngobrol biasa.


Devid merasa takjub dengan suasana kamar Airin. Sederhana tapi sangat rapi. Semua tertata rapi. Terlihat Syfa tertidur pulas di ranjang. untuk pertama kalinya Devid bertemu dan memandang Syfa dari dekat. Bayi itu sangat cantik.


"bolehkah kita bicara." ujar Devid,


"Ya, silahkan.." Jawab Airin. Dia merasa dada nya berdebar kencang. Airin mempersilahkan Devid duduk di kursi yang ada dikamarnya. Sementara Airin duduk dipinggir ranjang.


"Mmmmm,, sebelumnya aku minta maaf. Jika kamu merasa bera menerima pernikahan ini. Jujur, andai saja dari awal aku megetahui kalau kamulah wanita yang dipilih Bunda. Pasti aku akan menolak." Ujar Devid.


"Saya rasa itu semua tidak penting untuk dibahas sekarang. Semua sudah terjadi." Ucap Airin.


"Tapi aku merasa sangat bersalah dengan Syahdan. Karena,, "

__ADS_1


"Lalu apakah Dokter ingin menjatuhkan Talak kepada saya sekarang ?" Airin memotong perkataan Devid.


__ADS_2