Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
BAB 7


__ADS_3

"Duduklah!" perintah Andika di saat melihat Shinta yang datang.


"Dari mana saja kau? Seharian penuh pergi. Apa kau lupa jika sekarang sudah memiliki suami?" Bahkan pria itu tidak memberikan celah untuk Shinta bernafas, dan terus mengintrogasinya habis-habisan.


"Berhentilah berbicara, dan dengarkan aku dulu!" pinta wanita itu. Dan setelah melihat Andika diam, barulah ia melanjutkan kembali perkataannya.


"Aku hanya jalan-jalan karena sangat bosan berada di rumah."


"Jalan-jalan sampai hampir larut seperti ini? Apakah itu pantas bagi seorang wanita yang sudah memiliki suami. Bahkan kau pun sama sekali tidak meminta izin di saat sedang memakai mobil ku." cela Andika.


"Apakah itu semua harus?"


"Menurutmu?" balas Andika sangat cepat.


"Ck, baiklah aku minta maaf kali ini." Akhirnya Shinta pun mengalah, dan langsung bangkit lalu berjalan menuju ke arah suaminya, tanpa aba-aba dirinya langsung duduk tepat di atas pangkuan Andika. Mengabaikan begitu saja tatapan tajam yang di berikan oleh pria itu.


"Aku memang bersalah, pergi sampai sore dan tidak meminta izin dari mu. Lain kali aku akan berpamitan dan meminta izin kepadamu jika hendak pergi keluar." ucapnya lagi sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Andika.


Dengan sesekali melirik ke arah Rosi yang terlihat begitu sangat kesal. Dirinya hanya bisa tersenyum senang, karena rencananya untuk membuat wanita itu cemburu berhasil juga. Dan memang sengaja ingin memanas-manasi Rosi dengan bersikap mesra kepada suaminya.


"Wanita jal*ng ini berani-beraninya!" batin Rosi sembari menggigit erat jas hitam milik Andika yang saat ini sedang di pegangnya.


Setelah Andika pulang ke kantor, pria itu langsung datang ke rumahnya dan mengajaknya untuk menginap di kediaman milik Andika. Namun setelah baru saja sampai, tiba-tiba saja Shinta malah sudah pulang, dan sangat mengganggu waktu kebersamaan mereka yang tadinya baru saja hendak di mulai.


"Apa kau tidak berniat pergi dari sini, dan ingin menyaksikan adegan kami berdua? Kalau tidak keberatan baiklah!" Shinta pun hendak langsung mencium bibir Andika setelah itu.


"Tunggu-tunggu!" Namun bergegas Rosi mencegahnya. Dengan terpaksa wanita itu pun bangkit, dan memandang sejenak ke arah tunangannya. "Aku masuk ke dalam!" pamitnya kepada Andika, dengan melayangkan tatapan mata tidak senang dan juga tajam ke arag Shinta secara bersamaan.


"Dasar menyebalkan!" gumam wanita itu...Hingga akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan mereka.


Sementara Andika, dirinya mengabaikan kemarahan dari Rosi. Dan hanya terpokus kepada wajah istrinya yang saat ini memiliki jarak sangat dekat dengannya.


"Berhentilah mencari masalah di luaran sana." ucap Andika. Membuat Shinta spontan langsung menautkan alisnya.


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Sudahlah, apa perlu ku ajari menyetir dengan benar? Supaya kau tidak menyusahkan para pejalan kaki yang hendak menyebrang." sindir pria itu secara sengaja.


"Ck, kau ini." gerutu Shinta. "Dari mana kau tau tentang kejadian itu?" tanya nya lagi merasa sangat heran.


"Memangnya apa yang tidak ku ketahui tentang dirimu?"


"Ah sudahlah! Berbicara dengan mu tidak ada gunanya. Bukannya menjawab, tapi malah menyuruhku untuk berfikir." Setelah itu Shinta pun langsung berdiri, dan pergi meninggalkan Andika sendirian.


...----------------...


Keesokan paginya.


Shinta berjalan memasuki sebuah gang yang terletak di pinggir kota. Tempat di mana mereka mengadakan janjian untuk bertemu dengan kedua sahabatnya.


Ramainya orang yang berlalu lalang di pasar tersebut. Terus saja memperhatikannya. Penampilannya yang begitu mencolok dengan menggunakan jas berwarna merah, serta lipstik menyala. Membuat Shinta menjadi pusat perhatian mereka semua.


Para pria yang melihat di buat begitu terpesona akan kecantikannya. Tanpa mereka ketahui jika wanita yang cantik itu adalah mantan pembunuh bayaran yang begitu sangat sadis dulunya. Sudah banyak korban yang lenyap dan mati di tangan mulusnya itu.


"Kalian sudah lama menunggu?" tanya Shinta ketika baru sampai di sebuah cafe dan ikut berabung bersama Samudra dan juga Helen.


"Itu karna kau terlalu sibuk sampai tidak punya waktu untuk bertemu denganku."


"Iyaa, maaf!" balasnya enteng.


Shinta pun langsung memanggil pelayan cafe dan memesan segelas kopi hitam.


"Oh, ya bagaimana dengan suamimu? Apa dia sudah mulai menunjukan sebuah rasa_" Samudra sengaja menggantung ucapannya, untuk menunggu jawaban dari Shinta.


"Belum! Bahkan dia membawa wanita lain ke rumah kami,"


"What?" spontan Samudra dan juga Helen begitu terkejut atas pengakuan dari Shinta.


Wanita itu langsung mengulas senyuman. Dan menerima secangkir kopi yang di bawakan oleh pelayan. "Terima kasih!" ucapnya. Pelayan itu pun membalasnya dengan senyuman.


"Ck, aku tau dirimu! Mana mungkin kau akan membiarkan wanita itu merusaknya bukan? Pasti ada suatu hal yang kau lakukan kepadanya." kata Helen, karena wanita itu tahu betul bagaimana sikap dari sahabatnya itu.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Helen, membuat Shinta langsung flasback pada kejadian tadi malam. Di mana ia yang mengerjai habis-habisan Rosi, hingga mengurungnya di kamar mandi yang begitu sangat gelap. Sudah layaknya seorang pisikopat yang tertawa ketika melihat mangsanya menderita.


Benar-benar membuat Rosi sampai ketakutan, dan memilih untuk pulang sendiri. Padahal posisinya pada saat itu Andika sedang keluar sebentar untuk membeli makanan. Dan Shinta memanfaatkan situasinya dengan sangat sempurna.


"Lupakanlah! Ceritanya sangat panjang, dan tidak akan mungkin menceritakan semuanya pada kalian. Bukannya hari ini kita akan bersenang-senang, jadi untuk apa membahas orang yang tidak penting sama sekali?"


Samudra dan Helen langsung saling pandang, dan sangat setuju dengan ucapan dari Shinta.


"Semoga saja kau tidak khilaf dan melakukan yang merugikan dirimu sendiri nantinya." ujar Helen memberi nasihat.


"Tidak akan, karena aku sudah membuang sifat pembunuhku sejauh mungkin. Dan tidak akan pernah menunjukannya di depan Andika secara langsung." jawab Shinta yakin.


"Kenapa kau begitu sangat yakin jika suamimu itu tidak mengetahui tentang identitasmu yang sebenarnya? Bisa saja dia mengikutimu. Dan mencari tau tentang pekerjaanmu secara lengkap." ucap Samudra dengan menyipitkan kedua bola matanya. Menelisik lebih lanjut ekspresi wajah wanita itu.


Namun Shinta tidak memberikan respon apapun lewat ekspresinya. Melainkan hanya bersikap biasa saja. Dan membalas ucapan Samudra dengan begitu santainya.


"Yang mengetahui tentang identas asliku adalah kalian berdua. Bahkan sampai sekarang untuk menerima panggilan, aku masih tidak pernah menunjukan wajah asliku pada siapapun. Mereka yang pernah menyewa jasa ku, hanya mengenal namaku sebagai nama samaran, dan tidak tau siapa aku yang sebenarnya. Jadi jika ada orang lain yang mengetahuinya, kalian berdualah yang patut untuk di curigai." balas Shinta dengan penuh penekanan.


"Aw!" jerit Samudra merasa kesakitan akibat kakinya terinjak oleh heels yang di gunakan Helen. Wanita berponi dan berwajah datar yang sedang duduk tepat di sampingnya. Sepertinya wanita itu memang sengaja ingin menyakitinya.


Membuat pandangan Shinta langsung tertuju, dan terus memperhatian kedua manusia itu sembari sesekali meminum kopinya. Terlihat wajah Samudra yang begitu masam, dan menunjukan sebuah kekesalan kepada wanitanya.


Ya, Helen dan juga Samudra adalah sepasang suami istri yang sudah sejak lama menikah, dan hidup dengan sangat sederhana. Samudra adalah salah satu karyawan yang bekerja di Perusahan Utama milik Andika. Jadi jangan heran, kenapa Shinta bisa mengenal Andika, dan di saat Samudra mengetahui bahwa sahabatnya itu telah jatuh cinta kepada Bossnya. Pria itu pun langsung membantu Shinta untuk mendapatkan Andika, dan rencana penjebakan di hotel Morgana kala itu, juga merupakan Samudra sendirilah yang menjadi dalang dan pencetus idenya.


Shinta langsung berfikir keras tentang omongan Samudra, yang mengatakan bahwa kemungkinan besar jika Andika akan mencari tau tentangnya. Seketika teringat pada kejadian di mana kala itu suaminya yang mengetahui kejadian pada saat dirinya sedang berada di lampu merah.


"Apa mungkin yang di katakan Samudra itu benar? Jika Andika akan mengikuti ku. Jika tidak, tapi bagaimana mungkin pria itu bisa mengetahui tentang kejadian yang terjadi semalam? Tapi jika memang iya, dan Andika mengetahui segalanya. Lalu kenapa dia tidak marah di saat tau bahwa ayahku adalah seorang pembunuh bayaran. Jika seandainya dia mengikuti ku semalam, sangat tidak mungkin Andika tidak mengetahui aku pergi ke kantor polisi. Pasti dia akan mencari tahu setelahnya." ucap Shinta di dalam hati. Benar-benar sebuah konpirasi yang begitu membingungkan, dan sangat sulit untuk di tebak.


"Baiklah, sekarang aku akan pergi." Shinta melihat sesaat ke arah jam tangannya, dan langsung berdiri setelah itu. "Sampai jumpa!" pamitnya kepada mereka.


"Iya," balas Helen dengan tersenyum, dan melambaikan tangannya.


Sekarang adalah waktunya ia untuk menemui sang suami di kantor. Dan berniat ingin mengajak Andika makan siang bersama di luar.


Namun sialnya, Shinta harus kembali di sajikan dengan sebuah pemandangan yang begitu membuat amarahnya kembali terpancing, setelah tadi malam dengan susah payahnya ia berusaha menyingkirkan wanita sialan itu. Namun kini berani-beraninya Rosi kembali lagi, dan bahkan dengan tidak tahu malunya wanita itu mencium bibir suaminya dengan penuh gairah.

__ADS_1


Susana di ruangan itu benar-benar panas. Dan jiwa nya saat ini sudah terbakar hebat, ketika menyaksikan adegan yang begitu sangat menjijikan tepat di depan matanya secara langsung. Suami sahnya tengah bercumbu mesra dengan wanita lain, meskipun ia tau bahwa Rosi adalah tunangan Andika. Tetap saja ia tidak terima akan hal itu.


__ADS_2