Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Definisi Sakit


__ADS_3

Naina meraih ponselnya yang berdering saat ia tengah menyiapkan makan malam. Gadis itu mengerutkan kening begitu melihat layar ponsel dan mendapati nomor baru yang menghubunginya. Cukup lama Naina terdiam hingga kemudian ia menggeser ikon hijau dan perlahan menempelkan ponsel ke telinganya.


"Hallo," sapanya setengah ragu, tapi orang di ujung sana tak kunjung berbicara.


"Hallo," sapa Naina lagi, sekilas ia melihat layar ponsel untuk memastikan jika panggilan masih terhubung.


"Hallo, ini siapa?"


"Ini orang iseng, yah?"


"Kalau begitu biar saya matikan–"


"Ini saya Naina."


Naina mematung saat penelponnya berbicara. Ia hapal suara sang penelpon. Ia baru sadar jika dirinya menyerahkan nomor ponsel miliknya ketika pria itu memintanya saat mereka menonton film di gedung bioskop.


"Mas Rival," Naina berucap lirih. Terdengar Rival di ujung sana mendesah. "Hay Naina, iya ini saya. Saya menunggu kabar keputusan dari kamu, saya tidak sabar. Jadi saya yang menghubungi kamu lebih dulu." sahut pria itu, Naina hanya diam.


"Saya juga ingin mendengar suara kamu." sambungnya.


"Apa saya mengganggu?"


Naina masih hanya terdiam.


"Kalau mengganggu, saya minta maaf."


"Enggak papa, Mas." Naina menyahut cepat.


"Saya di depan, boleh tolong bukakan pintu?"


"Maaf jika merepotkan."


"Hah?"


Naina dengan raut herannya melangkah menuju pintu masuk begitu mendengar apa yang Rival katakan jika pria itu tengah berada di luar rumah. Naina akan memastikan sendiri.


"Iya. Saya ada di depan rumah Ethan." sahut pria itu lagi. Naina membuka gorden begitu ia tiba. Dan ternyata benar saja jika Rival ada di luar.


Naina segera menutup gorden dengan cepat saat pandangan Rival tampak mengarah padanya. Bersamaan dengan itu, Naina mendengar Rival terkekeh geli menertawakannya.


"Bukakan saya pintu, Naina." sahutnya, pria itu benar-benar melihat Naina tadi. Naina diam sesaat, apa yang terjadi di bioskop berhari-hari yang lalu kembali terjadi lagi. Dada Naina tiba tiba saja berdebar tanpa bisa ia kendalikan. Terlebih aksen Rival yang kembali menggunakan kata 'saya' membuatanya kian tak karuan.


"Naina," suara pria itu kembali terdengar di balik telepon. Naina segera membukakan pintu dengan pandangan tertunduk, lantas mengangkat wajahnya ketika pintu sudah terbuka lebar. Ia dapat melihat Rival berdiri di hadapannya dengan senyum tipis. Dalam waktu bersamaan, keduanya sama-sama menurunkan ponsel dari telinga masing-masing.


"Apa saya mengganggu kamu?" tanya pria itu. Naina menggeleng pelan. "Silakan masuk." Naina menyingkir dari pintu masuk, pria itu melangkahkan kaki memasuki rumah, Naina mengekor di belakangnya dalam keadaan canggung.


Setelah apa yang Rival katakan padanya di gedung bioskop tempo hari, Naina tidak pernah merasa tenang. Terlebih, saat pria itu menyuruh agar Naina menghubunginya jika Naina sudah mengambil keputusan untuk bertemu keluarga Rival.


Naina tidak bisa, sampai detik ini pun ia tidak tahu apa jawabannya. Dan jika kedatangan Rival adalah untuk meminta kepastian darinya, maka Naina masih belum dapat memberikan jawaban apa-apa.


"Zoya dan Ethan kemana?" tanya Rival saat mendapati keadaan rumah yang sepi.


"Mbak Zoya sama Pak Ethan?"


Bersamaan dengan itu, pintu rumah yang terbuka lebar membuat keduanya menoleh dimana Ethan dengan Zoya muncul dari sana.


Siang tadi, saat Naina permisi ke toilet, ia justru meminta Randy untuk mengantarkannya pulang. Begitu dalam perjalanan, Naina mengirimkan pesan pada Zoya jika ia tidak enak badan dan memutuskan untuk pulang duluan.


Zoya tentu saja khawatir dan meminta Randy untuk mengantarkan Naina ke Rumah Sakit. Namun Naina menolak, jelas saja. Karena ia sehat wal'afiat, itu hanya alasan karena sebenarnya ia ingin meninggalkan ruangan Ethan. Ia ingin meninggalkan Zoya berdua bersama Ethan.


Sementara Zoya dan Ethan yang ditinggalkan menikmati waktu berduanya. Ethan mengajak wanita itu berkencan dan berjalan-jalan begitu pekerjaannya usai. Kemudian pulang larut malam setelah dari pantai.


"Mas Rival." Zoya sedikit tercengang atas kehadiran pria itu, meski sebenarnya ia tak perlu terlalu terkejut karena sudah melihat mobil pria itu di pelataran rumah.


"Hay Zoya, Ethan. Kalian baru pulang?"


***


Beberapa saat kemudian, keempat orang itu sudah duduk di meja makan dengan hidangan makan malam yang sudah Naina siapkan. Tak ada yang membuka pembicaraan, semuanya sama sama saling terdiam dan memulai makan.

__ADS_1


Tak ada suara apapun kecuali hanya sendok dan garpu yang berdenting di atas piring.


Dulu, suasana saat ada Rival tak pernah secanggung ini, namun saat sekarang ada yang harus dirahasiakan, baik Ethan maupun Zoya merasa awkward dengan kehadiran pria itu.


Ethan memerhatikan Rival yang sesekali mengalihkan tatapannya pada Naina. Hal itu cukup mengganggu penglihatannya. Andai Rival melakukan sebuah usaha mendekati Naina. Artinya Ethan tak bisa membiarkan hal itu untuk terus terjadi.


Seandainya pria itu benar menyukai Naina dan mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Maka semuanya akan menjadi kian runyam.


Ethan menghela napas. Pada kenyataannya pria itu terlambat, karena tanpa Ethan tahu, Rival memang sudah mengungkapkan perasaannya pada Naina bahkan tengah menunggu jawaban gadis itu.


"Gimana perusahaan, Mas?" tanya Zoya, membuka percakapan pada waktu makana malam saat itu karena dirasa atmosfer gelap di sekitar mereka tak bisa terus dibiarkan jika semua hanya saling terdiam.


Rival menatap wanita itu seraya menahan gerakan tangannya yang memegang sendok. "Baik, Zeinn Group berhasil mempertahankan performa perusahaan di generasi sekarang." sahut pria itu yang kemudian menyuapkan makan ke mulutnya.


Zoya mengangguku-anggukan kepala. Lantas bertanya lagi dan Rival menjawab dengan detail seperti sebelumnya, hingga kemudian Ethan ikut menimbrung dan menciptakan obrolan panjang malam itu di meja makan.


Perlahan, suasana yang semula beku berubah cair. Setidaknya, mereka tidak seperti orang yang seolah menaruh kebencian.


Usai makan malam, Ethan dengan Rival duduk di teras depan sembari menikmati kopi yang Naina buatkan. Sementara para wanita duduk di ruang utama dan tengah menonton tv sembari menikmati camilan.


"Oh iya, kamu udah mendingan Na?" tanya Zoya mengingat jika siang tadi gadis itu tidak enak badan dan pulang duluan dari gedung agensi.


"Euu, udah Mbak. Udah enakan sekarang,"


Zoya mengangguk-angguakan kepala, menutup buku yang tengah ia baca lantas menatap Naina. "Kalau Pak Arfat udah nemuin pengganti Yara Narasatya, kemungkinan tiga hari lagi tim bakalan syuting di luar kota."


"Saya ikut Mbak Zoya?"


"Kamu di rumah aja, ngurusin Ethan."


"Tapi kan saya asisten Mbak Zoya." heran gadis itu.


"Nggak papa, saya bisa urus diri saya sendiri. Saya juga bisa minta bantuan Mbak Selin atau kru. Kalau kamu ikut, nanti Ethan nggak ada yang ngurus "


"Dia juga nggak bisa seenaknya ikut sama saya ke luar kota karena pekerjaannya lagi banyak. Agensi lagi ngerekrut aktris baru, jadi Ethan sibuk." panjang lebar Zoya setelah ia mempertimbangkan kondisi antara dirinya dan sang suami.


"Dua atau tiga minggu, mungkin juga satu bulan. Kita nanti liat kondisi. Karena kalau memungkinkan, setelah dari kota satu, kita bakal langsung ke kota dua biar nggak bolak-balik Jakarta." sahut panjang lebar wanita itu mengingat jika Arfat menyampaikan hal tersebut pada seluruh anggota tim dua hari sebelum kasus Yara Narastya menggegerkan publik.


Naina hanya mengangguk-anggukan kepala, sekalipun rasanya kepergian Zoya akan sangat lama.


"Selama saya di sana, kamu boleh sentuh pakaian Ethan, kamu boleh ngurusin pakaian dia." sambung Zoya dengan senyum mengembang, sekalipun sendu tak bisa ia sembunyikan dari sorot matanya. Mata wanita cantik itu terlalu jujur dan mudah dibaca.


Zoya meraih tangan Naina, menggenggam tangan gadis itu. "Kamu harus manfaatin waktu sama Ethan sebaik-baiknya saat nanti saya nggak ada."


"Saya ingin kamu segera mengandung anak Ethan. Saya ingin kita semua segera terbebas, Naina."


****


Dalam menit ke sepuluh saat dua cangkir kopi yang sama-sama sisa setengah sudah mulai dingin. Belum ada yang bersuara di antara kedua orang itu meski hanya basa-basi tidak perlu, atau bahkan sekedar sepatah kata.


Ethan diam entah apa yang ada dalam kepalanya. Sama halnya dengan Rival yang juga memilih diam, ia sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan pada Ethan jika dirinya akan mengenalkan Naina kepada keluarganya sebagai calon istri. Tentunya, sebagai majikan Naina sekaligus saudaranya, pria itu harus tahu mengenai hal tersebut.


"Oma Shanty apa kabar? Aku sudah lama tidak berkunjung." basa-basi Ethan yang memutuskan untuk lebih dulu membuka percakapan. Rival sempat menyesap kopinya sebelum menyahut.


"Baik, Oma Shanty sehat." pria itu menaruh cangkir kopinya ke atas meja. "Oh, yah, kamu sudah tahu?" tanyanya kemudian. Ethan menoleh. Kemudian mengerutkan kening dan menggelengkan kepala.


"Bulan depan bakalan diadain sertijab di hotel kita." sahut pria itu. Hotel yang Rival maksud adalah hotel milik keluarga Zeinn yang sudah berdiri sejak Zeinn Andreas duduk di bangku perguruan tinggi.


Ethan mengangguk-anggukan kepala. Ia juga sempat mendengar kabar tersebut dari Dharma saat berkunjung ke perusahaan Andreas minggu lalu.


Setelahnya, suasana kembali hening. Dua orang itu sama-sama kehilangan topik pembicaraan. Sampai didetik ke tiga puluh, mata keduanya saling bertemu, yang akhirnya membuat keduanya tidak bisa menghindar untuk tak bersuara.


"Kamu masih berusaha mendekati Naina?" tanya Ethan. Pertanyaan yang membuat pria itu mengutuki dirinya sendiri. Kenapa juga ia harus membahas Naina?


Rival diam sebelum menjawab, pria itu lebih dulu mengangguk. "Hmm, aku berencana mengenalkan Naina ke keluargaku. Papa sudah mendesakku untuk menikah."


"Bagaimana menurut kamu. Dulu kamu dan Zoya mendukungku untuk mendekati Nain–"


"Tidak! Tidak boleh!" cegah Ethan, spontan dan membuat Rival terkejut karena pria itu berteriak, Ethan sendiri juga tampak terkejut atas apa yang dilakukannya.

__ADS_1


Rival mengerutkan kening menatap pria itu.


"Makdud kamu?"


"Enggak, maksudku–euu, maksudku." Ethan terbata bata dan membuat Rival keheranan di tempatnya. Ethan berdehem guna meredakan gugup pada dirinya. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan sesaat mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


***


Rival pamit pulang ketika Zoya sudah pergi ke kamar ketika waktu sudah larut malam, besok pagi wanita itu harus datang pagi-pagi ke lokasi syuting untuk mengejar scene yang kemarin ditunda karena insiden Yara Narasatya.


Sementara Naina merapikan meja teras sembari mengambil dua cangkir kopi bekas dua pria itu. Ethan hanya duduk pada kursi teras saat Naina mengambil cangkir kopi. Keadaan hening yang kerap kali terjadi membuat rasa canggung Naina tak bisa dihindari.


Gadis itu buru-buru mengambil cangkir kopi agar dapat segera meninggalkan Ethan, ia tak suka terjebak dengan pria itu dalam keheningan. Tetapi ternyata gerakan cepatnya justru membuat salah satu cangkir di tangannya terjatuh dan pecah saat cangkir menghantam lantai dengan keras.


Naina berdesis, buru-buru berjongkok untuk memunguti pecahan gelas, namun tangan Ethan lebih cepat meraih tangannya. Menahan tangan Naina dan membuat wanita itu mengalihkan perhatian pada sang suami. Suami yang tak bisa ia klaim sebagai suami.


Naina hanya diam saat mata pria itu mengarah tak biasa padanya. "Rival meminta kamu untuk bertemu dengan orang tuanya?" pertanyaan yang pria itu lontarkan adalah hal tidak terduga. Naina sempat menunduk, kemudian mengangkat kembali padangannya dan menganggukan kepala dengan pandangan mengarah pada Ethan.


"Apa jawaban kamu?" tanya pria itu seraya melepaskan tangan Naina dari cekalannya dan mulai memunguti pecahan gelas yang berserakan, tak membiarkan Naina yang melakukannya. Tak lama, pria itu kembali menatap Naina. Menunggu jawaban gadis itu.


"Saya belum ambil keputusan."


"Kamu mempertimbangkannya?"


Naina mengangguk, spontan membuat Ethan berdecih. "Bagaimana mungkin seorang wanita bersuami mempertimbangkan tawaran kencan dari orang lain?"


"Mas Ethan ngerendahin aku?" tanya Naina, gadis itu merasa tersinggung atas apa yang Ethan katakan. Naina merasa kian terhina saat pria itu tak menjawabnya seolah membenarkan pertanyaan Naina. Dengan kesal, gadis itu ikut memunguti pecahan gelas, matanya seketika berkaca-kaca dengan perih di dadanya, krystal bening yang memenuhi pelupuk matanya membuat pandangannya kabur hingga tak sengaja melukai tangannya.


"Naina." Ethan dengan cepat meraih tangan gadis itu ketika melihat darah segar mengucur dari salah satu jari tangan Naina, tetapi Naina tampak tak kesakitan sama sekali. Karena luka di jari tangannya tak sebanding dengan luka di hatinya.


Ia membuang pandangannya dari Ethan, tak ingin melihat pria itu, namun saat Ethan membantunya untuk bangkit, Naina tak menolak, ia ikut bergerak saat membawanya memasuki rumah dan duduk pada salah satu sofa di ruang utama.


Tanpa berkata apapun, Ethan berlalu meninggalkan dan kembali lagi dengan kotak P3K di tangannya. Pria itu dengan telaten mengobati luka di jari tangan Naina. Sementara Naina masih hanya membuang pandangannya dari Ethan.


Hal itu membuat Ethan menatap Naina iba, ia mengingat apa yang kerap kali Randy katakan mengenai gadis itu. Terutama siang tadi setelah pria itu mengantarkan Naina pulang.


"Than, aku ngomong gini sebagai teman. Aku tau nggak mudah buat kamu ngalihin perhatian dari Zoya ke gadis lain. Tapi biar bagaimanapun, Naina istri kamu. Seandainya kamu nggak bisa kasih dia cinta dan kasih sayang sebagaimana yang kamu kasih ke Zoya, seenggaknya kamu harus bisa jaga perasaan dia."


"Dia istri kamu, dia pasti cemburu kalau liat kamu mesra-mesraan sama Zoya."


"Aku tahu pernikahan kalian cuma sekedar kesepakatan. Hanya sekedar hitam di atas putih. Tapi selama pernikahan itu, kamu harus perlakuin Naina dengan baik. Manfaatin waktu yang kalian punya dengan saling menghargai dan mengasihi."


"Naina mungkin nggak bisa bilang, tapi aku cukup yakin kalau sebenarnya dia juga mau kamu memperlakukan dia dengan baik sebagaimana sikap kamu terhadap Zoya."


Randy mengakhiri nasihatnga seraya menepuk bahu Ethan dengan senyuman, saat itu Ethan tak mengatakan apapun. Ia hanya tak ingin menambah masalah, jika dia memperlakukan Naina sama dengan sebagaimana ia memperlakukan Zoya, Ethan takut Naina justru salah paham.


Tetapi bagaimanapun, Ethan mengerti apa yang Randy katakan. Pria itu benar, Naina adalah istrinya, Ethan harus menjaga perasaan gadis itu. Tapi di lain sisi, Ethan selalu berpikir jika Naina tak mungkin cemburu. Mengingat jika gadis itu tak mungkin jatuh cinta padanya dan Naina tahu dengan sangat baik bagaimana ia sangat mencintai Zoya.


Ethan tersadar dari lamunannya saat mendengar isakan Naina. Ia hanya menggenggam tangan gadis itu yang sudah selesai diobatinya.


"Saya antarkan kamu ke kamar." sahut pria itu yang kemudian bangkit dari duduknya. Tetapi Naina hanya duduk diam di posisinya.


Ethan mendesah, meraih tubuh Naina dan mengangkat gadis itu, membuat Naina terkejut tentu saja atas tindakan pria itu.


"Mas Ethan," Naina memukulibdada pria itu meminta untuk diturunkan, namun Ethan tak bergeming. Terus melangkahkan kakinya hingga tiba di kamar gadis itu dan membaringkan tubuh Naina di atas tempat tidur.


Setelahnya, gadis itu hanya mematung dan tak berontak lagi, bahkan air mata yang semula mengalir deras membanjiri pipi mulusnya mendadak kering bak kemarau. Sedangkan Ethan hanya berdiri di samping ranjangnya dengan raut tidak terbaca.


Tak lama setelahnya, pria itu mendesah. Kemudian duduk di samping Naina dan menyelimuti gadis itu. "Sudah larut, tidurlah." sahutnya, Naina yang masih mematung hanya diam. Tapi perlahan, matanya terpejam. Ketika perlahan pula ia masuk dalam dunia mimpi, sebuah benda lembut mendarat di keningnya dengan hangat. Senyum gadis itu terukir di bawah alam sadarnya.


Ethan merapatkan selimut gadis itu, mematikan lampu dan keluar dari kamar. Ketika kakinya melangkah keluar, ia melihat istri tercintanya sudah berdiri di sana menatapnya. Dari yang dapat Ethan simpulkan, tampaknya Zoya sudah cukup lama berdiri dan melihat semuanya. Semuanya.


Melihat apa yang dilakukannya pada Naina.


TBC


Para pembaca Bukan Cinta Biasa benar.


Jika Ethan, Zoya dan Naina adalah definisi sempurna dari tersakiti dan menyakiti.

__ADS_1


__ADS_2