
Sesuai apa yang Agyan sampaikan jika akan digelar pengajian dan juga santunan untuk anak yatim memperingati hari kematian Tomy. Acara santunan untuk anak yatim akan digelar pukul empat sore, hingga begitu waktu menunjukan pukul tiga, Ethan dengan Zoya sudah bersiap untuk berangkat menuju rumah nenek Shanty.
"Udah rapi belum?" tanya Zoya, berputar di depan Ethan saat keduanya sudah berada di teras rumah, siap untuk berangkat. Ethan menahan bahu wanita itu.
"Nanti jatuh, Sayang."
"Enggak, aku sengaja pake d'orsay flats karena aku tau kamu bakal komplain kalau aku pakai heels!" sahut wanita itu seraya menunjukan alas kakinya. Ethan tersenyum, mengusap puncak kepala sang istri, Naina yang melihat itu hanya tersenyum.
"Mbak Zoya," panggilnya yang membuat wanita itu menoleh, kemudian melangkah menghampiri Naina yang sudah berdiri di samping mobil. Ethan mengikuti istrinya.
"Hmm?" Zoya mengerutkan kening pada Naina, gestur bertanya alasan gadis itu memanggilnya. Gadis yang tengah memegang sebuah kain panjang berwarna putih itu hanya tersenyum, kemudian menyampirkan benda panjang itu di pundak Zoya.
"Kerudung." ucap Naina, jiwanya sebagai asisten wanita itu begitu memperhatikan penampilan Zoya. Zoya tersenyum, "Terimakasih, Naina." Naina mengangguk, ia lebih dulu masuk ke dalam mobil saat Ethan kembali menghampiri Zoya. Pria dengan warna koko senada dengan long dress brukat model blero berwarna putih yang dikenakan Zoya itu tersenyum menatap sang istri. Menaikan kerudung panjang Zoya untuk menutupi kepala sang istri.
"Cantik." pujinya.
"Istri siapa dulu, dong?"
"Saya!"
Zoya tertawa, setelahnya Ethan membukakan pintu mobil untuk Zoya dan ia pun masuk, duduk di samping pria itu yang berada di kursi kendali.
Sepanjang perjalanan, ketiganya banyak mengobrol mengenai banyak hal. Terutama mengenai kehidupan Naina di perkampungan, di mana gadis itu tinggal di daerah yang begitu asri dan menenangkan. Yang hanya dengan mendengar ceritanya, membuat Zoya ingin sekali berkunjung ke kampung halaman gadis itu.
"Nanti kapan - kapan kita ke sana." sahut Ethan dengan senyum lembut. Tentu saja membuat wanita itu berbinar penuh harap mendengar yang dikatakan suaminya. "Beneran?"
Ethan menganggukkan kepala.
"Tapi kalau dedek bayinya udah lahir. Jalannya jelek Mbak, bahaya." Naina bersuara di belakang sana, Zoya menoleh dengan raut kecewa terutama setelah Ethan menganggukam kepala. Setuju dengan apa yang dikatakan gadis di belakang mereka.
Mobil tiba di rumah nenek Shanty tak lama setelahnya. Zoya menghlea napas, ternyata mengobrol sepanjang perjalanan membuat perjalanan - nya tidak terasa, tiba - tiba sudah sampai saja, padahal Zoya merasa baru beberapa menit yang lalu mobil melaju. Mungkin karena keasikan mengobrol.
Freya yang sudah berada di teras dengan beberapa orang wanita melambaikan tangan padanya. Zoya segera menggandeng Ethan begitu pria itu menghampirinya. "Keluarga kamu banyak banget," sahutnya begitu matanya menangkap kumpulan para lelaki dan juga wanita di beberapa tempat.
"Sebagian keluarga, sebagiannya lagi tamu." beritahunya, singkat. "Ayo," ajaknya kemudian.
"Malu."
"Ada saya." Zoya menatap pria itu pasrah, kemudian berjalan berdampingan dengan suaminya. Naina mengekor di belakang. Freya segera menggandeng menantunya begitu ia dengan Ethan tiba di teras, membuat rangkulan Ethan di bahunya terlepas. Ia akhirnya pergi menyusul kumpulan para lelaki yang sedang menjamu tamu dari kalangan kawan akrab Tomy yang masih hidup dan tetap menjaga tali silaturahmi hingga sekarang dengan keluarga Zeinn. Sedangkan yang lain, kebanyakan dari mereka adalah partner bisnis keluarga.
"Ini istrinya Ethan, yah?" tanya seorang wanita, dengan senyum manis seraya menyentuh dagu Zoya, wanita itu hanya tersenyum ramah menanggapinya.
"Iya, Tante, Zoya. Istrinya Ethan." Freya yang menyahut.
"Sering liat di tv." selorohnya yang membuat beberapa orang di sana tertawa, begitu juga Grrycia yang ada di sana. Di sampingnya adalah seorang wanita, tengah menyuapi putri kecilnya makan.
"Davika, makannya habisin dulu." sahutnya, memanggil sang putri yang berjalan ke sana kemari bahkan sesekali berlari.
"Kalau yang ini?" tanya wanita itu lagi. Zoya spontan menoleh ke belakangnya di mana Naina berada di sana dan tampak canggung.
"Naina, Tante." jawab Zoya memperkenalkan gadis itu.
"Adik?" tanyanya. Zoya mengangguk seraya tersenyum, membuat Naina menatapnya penuh heran, perasaannya menghangat. Padahal ia hanya seorang pembantu untuk wanita itu. Tapi dengan mudah Zoya menyatakan jika dirinya adalah seorang adik.
"Nah, Zoya, ini Tante Wulan namanya. Kakak iparnya Papi Andreas." Freya memperkenalkan wanita yang sejak tadi terus bertanya itu. Zoya mengangguk - anggukan kepala mengiyakan.
"Nah, kalau yang ini Tante Vina," Freya beralih pada wanita yang dengan sabar menyuapi anaknya makan itu, Vina menautkan alis sekilas pada Freya. Tampak keberatan dipanggil tante oleh wanita itu, membuat Zoya yang melihatnya tersenyum.
"Menantu Tante Wulan. Istrinya saudara sepupu Ethan, Mas Rayn." sambung Freya tanpa mengidahkan protesan Vina.
"Aduh, Zoya pasti pusing inget - ingetnya, yah, ribet." "Kita ketemu, cuma pas nikahan aja. Abis itu nggak pernah ketemu lagi." sahut Wulan sambil menepuk bahu wanita itu. Di sana, Zoya hanya mampu tersenyum, Freya lanjut memperkenalkannya pada beberapa wanita di sana yang dari mereka adalah adik dari Vina, istri dari saudara sepupu Freya dan masih ada beberapa lagi. Mereka menyambut Zoya dengan hangat.
__ADS_1
Sepertinya keluarga Ethan terbentuk dengan circle pertemanan orang tuanya, atau bahkan mulai dari Papi Andreas dan Grrycia. Mereka terlalu banyak dan membuat Zoya sulit mengingatnya, belum lagi dari kalangan para lelaki.
Sedangkan Ethan yang bergabung dengan para lelaki itu berdiri di samping ayahnya. Rayn dengan Rival, Rafa, dan juga Andreas tampak sedang mengatur barisan anak - anak yatim untuk mengambil bingkisan yang sudah disediakan sebagai bentuk santunan bagi mereka.
"Acara pengajian jam berapa, Yah?" tanyanya pada Agyan. Karena ia belum mengetahui hal tersebut.
"Jam tujuh malam nanti. Kenapa?" tanya Agyan pada sang putra.
"Nanti selipkan do'a untuk Zoya. Istri Ethan hamil." beritahunya dengan suara pelan. Agyan mengerutkan kening, menatap putranya dalam - dalam.
"Gol juga." selorohnya yang ditanggapi decakan oleh pria tampan itu. Agyan tertawa, setelahnya, Agyan menggandeng Ethan penuh bangga.
"Selamat, yah. Nanti Ayah sampaikan," sahutnya memenuhi permintaan pria itu. Ethan mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
**
Sementara di sisi lain, Naina tidak tau hal apa yang harus ia lakukan di sana saat semua orang tampak sibuk. Bergabung dengan Zoya ia merasa canggung, derajatnya berbeda dan ia tidak bisa berbaur seenaknya. Maka yang ia lakukan hanya bersandar pada salah satu pilar dan menatap lalu lalang orang - orang yang tampak sibuk dengan tugasnya. Sampai matanya tertuju pada seorang pria yang terasa familiar baginya. Tengah mengatur barisan anak - anak.
Naina mengerutkan kening guna meyakinkan diri jika orang yang berada beberapa meter di hadapannya saat ini adalah orang yang malam itu menyelamatkannya dari Kevin. Gadis itu mengerjap gugup saat pandangan keduanya bertemu, di mana Naina melihat begitu jelas wajah pria itu. Termasuk luka lebam yang belum sepenuhnya sembuh di ujung bibir dan pelipisnya. Luka yang pria itu dapat saat menolongnya.
Tapi beberapa detik selanjutnya Naina mengalihkan pandangan dengan cepat begitu pria itu memutus tatapan mereka bertepatan dengan seorang wanita yang menghampiri pria tersebut. Naina memilih pergi sebelum ia kembali tertangkap basah sudah menatap pria itu.
"Mau langsung dibagiin?" Rival mengalihkan perhatian pada wanita yang baru saja tiba di sampingnya. Ia mengangguk.
"Mau balik lagi ke Swiss kapan, Mas?" tanya wanita itu lagi.
"Enggak tau, Papa nyuruh gabung di perusahaan."
"Ditahan, terus didesek nikah, yah?" wanita itu bertanya dengan tawa meledek.
"Hmm, termasuk juga." jawab Rival setelah beberapa detik mempertimbangkannya.
"Kalau nyari yang artis, Mas nggak perlu nyari jauh." pria itu menatap Arasy intens, wanita itu segera mendaratkan kepalan tangannya di dada Rival. Membuat pria itu meringis dan memegangi dadanya
"Awas aja macem - macem!" ancamnya.
"Kita sepupu jauh, bisa nikah." ujarnya dengan mudah.
"Iya, tapi sayangnya aku ogah." tolak Arasy mentah - mentah, Rival hanya tersenyum. Sekilas matanya mengarah pada posisi gadis yang sejak tadi menatapnya, namun ternyata gadis itu sudah tidak ada di sana.
"Enak aja!" decak Arasy mengutuki pria itu. Bagaimana mungkin ia berpaling pada pria lain sedangkan hatinya milik seorang pria yang sudah neninggalkan lencana berharga untuknya selama kurang lebih dua puluh tahun. Pria yang entah keberadaannya ada di mana, atau mungkin sudah berkeluarga?
Tidak seperti dirinya yang masih bertahan dengan perasaannya untuk pria itu sejak lama. Sangat lama.
Arasy tersenyum menyambut kakak iparnya yang ikut bergabung untuk membagikan bingkisan pada anak - anak yatim. "Hay," sapanya menyenggol bahu wanita itu, Zoya tersenyum menanggapinya. Ia meminta izin pada Freya untuk bergabung dengan Arasy membagikan bingkisan bagi para anak yatim. Mama mertuanya itu mengizinkan. Wanita itu sempat mengangguk sopan pada Rayn yang ada di sana sebelum ikut membagi - bagikan bingkisan.
Ethan yang melihat sang istri bergabung dengan Rival dan Arasy lantas juga ikut bergabung. Berdiri di samping wanita itu.
"Kamu lihat Naina?" tanya Zoya pada pria itu. Ethan menggelengkan kepala.
"Tadi aku udah larang jauh - jauh dari aku. Tapi kayaknya jenuh, deh, dia dengerin ocehan ibu - ibu." sahutnya, tersenyum kikuk pada Ethan. Pria itu mengusap puncak kepala sang istri. "Kamu juga jenuh, yah?" Ethan hapal bagaimana istrinya. Wanita itu mengangguk samar.
Keduanya lanjut memberi bingkisan pada anak - anak. Zoya melihat sendiri bagaimana sifat lembut Ethan terhadap anak - anak tersebut, bagaimana pria itu selalu menyempatkan tersenyum dan mengusap puncak kepala mereka. Arasy yang melihat wanita itu memperhatikan suaminya tersenyum begitu tatapan Zoya beralih padanya.
"Kalau udah pegel, istirahat aja." sahutnya pada Zoya saat melihat wanita itu tampak tidak nyaman dengan posisi berdirinya. "Aku baru aja gabung, nggak pegel kok," dustanya, padahal ia sudah merasa jika kakinya kram. Ethan yang mendengar hal itu menoleh pada sang istri.
"Tunggu, yah." pintanya. Zoya hanya diam melihat kepergian sang suami, sampai kemudiaan pria itu kembali dengan membawa sebuah kursi plastik.
"Duduk!" suruhnya, memegang pundak wanita itu dan mendudukannya. Tidak sampai di situ, Ethan bahkan menekuk satu lututnya, dan melepas d'orsay flats yang Zoya kenakan. Kemudian sedikit memijat betis istrinya.
"Pegel, yah?" tanyanya. Wanita itu menggelengkan kepala dengan ekspresi meringis karena beberapa orang mengarahkan tatapannya pada ia dan Ethan.
__ADS_1
Begitu juga Rival yang melihat hal itu dan langsung mendapat semprotan dari Arasy. "Makannya, nyari istri!" cibirnya, Rival hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. Melanjutkan kegiatannya membagikan bingkisan pada beberapa anak - anak yang masih mengantri.
"Kalau gitu kita masuk aja." ajak Ethan, wanita itu mengangguk, hendak beranjak dari duduknya.
"Mau digendong?" tawar Ethan, ia mendapat pukulan dari istrinya di lengan.
"Malu, ih."
"Kamu apa - apa malu, kan sama suami sendiri." sahut Ethan, menggenggam tangan wanita itu dan berjalan menuju ke dalam rumah. Melewati orang - orang yang tersenyum menatap keduanya.
"Tuh, 'kan pada ngeliatin." gerutunya begitu tiba di dalam rumah, tapi suara wanita itu menciut begitu mendapati jika di dalam ternyata banyak orang. Karena sekumpulan wanita yang awalnya berada di teras kini ada di sana dan tengah menyiapkan tempat untuk acara inti, pengajian. Termasuk juga ada Naina, Zoya tersenyum pada Naina. Senang gadis itu bisa berbaur.
"Mana, nih, istri Ethan?" Zoya melihat seorang perempuan tua yang duduk di kursi roda yang didorong oleh Wulan menghampiri ia dan Ethan. Freya dengan Grrycia yang lebih dulu berjalan ke arah Zoya, Freya menggandeng wanita itu.
"Ini, Nek, istri Ethan. Zoya." sahut Freya pada perempuan renta itu. Nenek Shanty tampak mengangguk dengan senyuman.
"Makin cantik, yah."
"Agyan bilang sedang hamil. Benar?" tanyanya yang membuat orang - orang di sana tiba - tiba saja heboh, Freya tersenyum pada Zoya. Mengusap - usap bahu Zoya penuh kasih sayang. Sontak saja keduanya kebanjiran ucapan selamat dari orang - orang.
Nenek Shanty menyentuh perut rata Zoya dan mengusapnya. "Sehat - sehat, yah. Mamanya jaga diri baik - baik." pesannya, Zoya mengangguk, ia merendahkan tubuhnya agar Nenek Shanty dapat dengan mudah menggapai keningnya. Memberi kecupan penuh kasih sayang untuknya.
"Terimakasih Nenek." ucap Ethan. Nenek Shanty mengangguk dengan senyum hangat. Perasaan Zoya ikut menghangat dengan mata yang memanas. Ia dikelilingi oleh orang - orang yang menerima dan menyayanginya. Ethan membawanya pada sebuah keluarga yang sempurna. Ia perlu bersyukur untuk hal itu, ia sangat merasa senang dan beruntung.
"Kalau mau istirahat, kamu pakai kamar dia lantai atas yang paling ujung. Tadi Bunda udah suruh orang beresin kamarnya buat kalian nginep malam ini." pesan Freya. Ethan dan Zoya mengangguk, lantas berjalan ke lantai atas dengan Zoya yang terus menunduk. Hingga ketika tiba di kamar, air mata wanita itu jatuh.
Tentu saja membuat Ethan heran sekaligus khawatir dengan keadaan sang istri.
"Sayang, ada apa?" tanyanya begitu mendudukan wanita itu di tepi tempat tidur.
"Zoy," Ethan menyeka air mata wanita itu.
"Kamu kenapa?" tanyanya sekali lagi saat air mata istrinya jatuh kian deras.
"Aku udah lama banget nggak ngerasain suasana kaya gini, Than. Aku bahkan udah lupa kapan aku ngerasa punya keluarga."
"Tapi kamu bawa aku ke sini, kamu ngebuat aku ngerasa kalau aku ini menantu paling sempurna di keluarga kamu. Aku diterima dengan baik di sini,"
"Kamu tau, Ethan. Kamu udah kasih aku kehidupan yang luar biasa." ungkap wanita itu. Ethan tersenyum.
"Kalau kamu bahagia, seharusnya kamu senyum Zoya, bukan ngeluarin air mata."
"Air mata aku ini mewakilkan kebahagiaan Ethan!" sahutnya setengah emosi. Kemudian menyeka air matanya, Ethan juga menghapus air mata yang mengakan sungai di pipi sang istri, yang akhirnya membuat Zoya menghentikan aktivitasnya. Membiarkan pria itu mengusap air matanya, tapi hanya sebentar karena pada akhirnya pria itu hanya mengusap - usap pipinya dengan tatapan lekat pada Zoya.
Pelan tapi pasti ia meraih dagu Zoya dan menyatukan bibir mereka, kemudian melepasnya, kemudian menyatukannya lagi. Zoya memundurkan wajahnya dan membuat bibir mereka terlepas saat pria itu membuka kancing koko yang dikenakannya.
"Kenapa?" tanya Ethan dengan kerutan di dahinya.
"Kamu bisa - bisanya, lagi ada acara juga." cibir Zoya.
"Bentar lagi acara pengajiannya dimulai." sambungnya. Ethan tertawa dengan tangan yang kembali mengancingkan pakaiannya.
"Kamu, sih, ciumannya bertenaga gitu, kaya yang kepengen." Ethan ikut - ikutan mencibir.
Dahi Zoya berkerut, menatap sang suami tak percaya.
"Nggak salah, tuh, ngomong gitu? Kebalik banget." kesalnya dengan wajah cemberut. Ethan tertawa, ia bangkit dari duduknya dan mengusap puncak kepala sang istri.
"Kamu istirahat saja dulu, saya turun ke bawah." ucapnya. Zoya mengangguk, kemudian melambaikan tangan dan membiarkan suaminya pergi.
TBC
__ADS_1