Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Cemburu Jarak Jauh


__ADS_3



*


*


Freya berjalan dengan langkah santai, ia baru saja akan memasuki sebuah restoran jepang saat sebuah suara memanggilnya. Ia menghentikan langkah, memicingkan mata begitu melihat Vina berdiri di belakangnya.


"Vina?"


"Freya." ia berhambur memeluk Freya, Freya membalas pelukannya. Untuk waktu yang lama mereka membiarkan detik jarum jam terus berdenting sambil menikmati pelukan.


Setelah menikah dengan Rayn. Vina memang jarang bergaul dengan mereka. Rayn tidak membatasi apapun kegiatan Vina, hanya saja Vina merasa jika lebih baik ia berada di rumah menunggu kepulangan suaminya dari kantor.


"Loe apa kabar?" Vina mengusap-usap lengan Freya. Gadis itu hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya, seolah menunjukan apa adanya keadaan dirinya saat ini.


"Kita ngobrolnya di dalem, yah." ajak Vina yang langsung mendapat anggukan dari Freya. Keduanya masuk ke dalam restoran dan memilih tempat duduk yang strategis.


Memesan makan dan minum sambil melanjutkan obrolan. Terakhir mereka bertemu adalah saat hari pernikahan Vina, itu pun hanya sebentar karena Freya buru-buru pulang.


"Gimana kuliah loe?"


"Ya, gitu. Kuliah gak enak!" sahut logis Freya, membayangkan bagaimana kesehariannya menghabiskan waktu yang membosankan di kampus.


"Gak enak karna nggak ada Agyan!" celetuk Vina yang mendapat anggukan kepala dari Freya. Tak lama, pesanan mereka datang dan keduanya mulai melahap hidangan, menjeda sebentar obrolan.


"Rumah tangga enak, ya?" tanya Freya disela-sela makan. Vina diam sebentar, mengangkat bahu seolah tidak mengerti bagaimana harus menjelaskannya.


Hidup berdua dalam ikatan suci dengan orang asing memang bukanlah hal yang mudah untuk dijalani meski saling mencintai. Pada kenyataannya, selalu ada perbedaan pendapat, selalu ada kesalahpahaman, dan selalu ada hal kecil yang mengundang perdebatan.


Itulah mengapa harus ada yang mau mengalah untuk mempertahankan ikatan suci tersebut. Vina dengan Rayn pun sama, mereka akan sering ribut jika saja Rayn tidak banyak mengalah padanya yang memang memiliki sifat kekanak-kanakan.


"Bumbu dalam rumah tangga itu macem-macem Frey."


"Sering ribut nggak?"


"Kadang, sih. Tapi Rayn yang sering ngalah!" Vina nyengir diakhir kalimatnya.


"Loe, sih keras kepala!" cibir Freya.


"Ya gimana, udah sifat bawaan!"


Keduanya tertawa, menikmati waktu yang terus saja berjalan tanpa terasa. "Nikah, tuh, bukan kaya pacaran yang bisa ngomong bubar dengan seenaknya. Ribut dikit wajar, namanya juga hati manusia, 'kan nggak ada yang sama." tutur Vinaa dengan pembawaan sifat dewasanya.


Freya hanya mengangguk-anggukan kepala. Apa ia dengan Agyan akan mengalami hal yang sama? Tinggal dalam satu atap dengan ikatan suci pernikahan? Apa mereka akan sampai pada tahap tersebut?


"Komunikasi loe sama Agyan masih lancar?"


"Sejauh ini masih!"


Vina yang sedang menyeruput minuman memicingkan mata pada Freya yang mengaduk-aduk minumannya.


"Sejauh ini maksud loe?"

__ADS_1


Freya tak menyahut. "Loe nggak yakin kalo kalian bakalan terus komunikasi?" tanya Vina lagi.


"Gue cuma khawatir aja, kalo nanti Agyan bener-bener sibuk dan lupa ngabarin gue!" Freya tersenyum samar. Jujur ia menghawatirkan hal ini. Ia takut Agyan sibuk dengan dunianya di sana dan melupakan Freya dengan perlahan.


Bagaimana jika Agyan jatuh hati pada para gadis di sana?


Bagaimana jika Agyan bersikap baik pada gadis misterius di sana kemudian gadis itu menyukainya dan mereka berselingkuh di belakang Freya?


Bagaimana jika Agyan menemukan orang yang lebih baik dari dirinya dan kemudian berpaling dari Freya?


Agyan sering mengiriminya foto jika dia sedang dalam kegiatan kampus, dan Freya sering melihat para wanita di sekeliling Agyan. Bagaimana jika salah satu diantara mereka adalah pacar gelap Agyan?


Freya membenci pikiran ini, tapi selalu hal itu yang ada dalam kepalanya. Terutama jika Agyan tidak membalas pesan darinya.


"Hubungan jarak jauh emang ribet, Frey. Satu-satunya senjata buat kuat bertahan, ya emang harus saling percaya."


Freya terus saja terngiang ucapan Vina saat mereka bertemu di restoran. Sekarang, ia sedang berada di kamarnya, malam sudah larut, tapi chat darinya belum mendapat balasan dari Agyan.


Pemuda itu juga belum ada menelponnya. Membuat Freya cemas dan berasumsi macam-macam padanya.


Bahkan sampai larut malam, Freya sama sekali tidak mendapat kabar apapun dari Agyan.


*


*


Cambridge, Massachusetts, A.S


Agyan&Kevin



Lalu lalang orang-orang dan keramaian kantin yang megah dan besar, dengan desain modern klasik itu seperti tidak mampu mengalihkan fokus Agyan.


"Sialan!" umpatnya. Nafasnya tampak memburu tidak beraturan setelah melihat hasil pemotretan sang pacar dengan seorang pria dalam sampul majalah ternama.


Agyan bangkit dari sana, tak memperdulikan beberapa gadis yang menyapanya saat ia berlalu melewati mereka. Dua bulan lebih berada di negara ini membuatnya mulai terbiasa mendapat sapaan manis dari para gadis yang menyukai pria Indonesia. Terlebih, ia memiliki visual dengan pesona yang menakjubkan. Tapi Agyan tau batasan, ia memiliki Freya di sana dan tidak mungkin menghianati gadis itu.


"Gyan, where are you going?" tanya Kevin, pria blasteran Indo-Korea yang duduk satu jurusan dengannya bertanya saat Agyan melewati gedung fakultas mereka.


"Balik ke apartement, nggak ada kelas lagi, 'kan?" tanya Agyan dengan acuh. Pria yang sedang menggandeng dua wanita itu mengangkat bahu. Heran melihat sikap Agyan.


Dengan perasaan kesal, Agyan berjalan ke arah gerbang. Jujur, ia sedikit kesulitan menghafal semua tempat yang berada di kampusnya ini. Semuanya terlalu luas dan membuatnya bingung.


Sejauh ini, Agyan hanya mengingat letak gedung fakultasnya, kantin, gerbang masuk dan perpustakaan. Selebihnya, ia sering bertanya pada pacar ketiga Steven yang seorang senior di jurusannya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Agyan meraih ponsel yang sempat ia charger sepulang dari kampus tadi. Ia menelpon Freya tanpa memikirkan perbedaan waktu antara tempatnya dengan Freya sekarang, dan ia akan mengganggu jam tidur gadis itu.


Setelah tiga kali menghubungkan, ia baru mendapat respon dari sana. "By."


"Kok tumben telponnya jam segini?"


Spontan Agyan mengecek jam di ponselnya. Ia berdecak, pukul dua sore. Artinya di tempat Freya sekarang pukul satu dini hari. Mengingat perbedaan waktu Jakarta yang 11 jam lebih cepat dari tempat Agyan.


"Kamu jelasin soal pemotretan majalah terbaru kamu!" Agyan sudah terlanjur terbakar api cemburu dan harus segera mendengar klarifikasi dari Freya.

__ADS_1


"Kamu liat?" pertanyaan polos gadis itu hampir saja membuat Agyan mengumpat kasar.


"Liatlah!"


"Siapa yang kirim?"


"Ya pokoknya ada, kamu nggak harus tau!" kekeuh Agyan tanpa mau tersudutkan.


"Aku nggak suka diawas-awasin, yah Gyan!"


"Terserah!"


"Kok kamu malah marah-marah?"


"Aku kesel, By!"


"Kamu nggak ngerasain jadi aku, gimana rasanya cemburu jarak jauh!"


"Cowok mana, sih, yang rela ceweknya digandeng-gandeng cowok lain, mesra-mesraan, tatap-tatapan sama cowok lain. Maksudnya apa coba?!"


"Inget, yah. Kamu, tuh, tunangan aku!"


Agyan menegaskan kata tunangan dalam kalimatnya, ia terlihat frustrasi. Berbicara seolah hanya dirinya yang menjalin hubungan jarak jauh. Padahal posisi Freya pun sama dengannya.


"Yang, denger, ya. Bukan cuma kamu aja yang ngejalanin hubungan, aku juga!"


"Lagian, ini kebutuhan perusahaan majalah. Dirly juga cuma pengganti partnerku aja kok!"


"Ohh, namanya Dirly!" Agyan tersenyum sinis.


"Kamu kok berlebihan gini, sih. Aku aja nggak pernah marah kamu sering sama cewek-cewek bule di sana!"


"Aku ngerjain tugas, Freya!"


"Aku juga kerja, Agyan!"


Dua orang keras kepala sedang mempertahankan keegoisannya. Baiklah tampaknya perang dunia ke-tiga akan segera dimulai.


"Yaudah, berhenti jadi model!"


"Enggak bisa!"


"Terserah!"


Nafas Agyan menggebu, Freya di ujung sana juga hanya terdiam. Agyan tau ia sudah kasar, tapi sungguh, jarak jauh antara dirinya dengan Freya membuat perasaannya sensitif terhadap sedikit saja perubahan sikap gadis itu.


Terlebih begitu ia melihat hasil pemotretan Freya dengan seorang pria yang berpose mesra. Pria mana yang akan terima?


"Kamu tau arti terserah nggak, sih, Gyan?" Agyan mendengar suara lirih gadis itu.


"Artinya kamu udah nggak perduli sama aku!"


Agyan menghela nafas. "Maaf kalo aku kasar. Maaf udah ganggu waktu tidur kamu!"


Agyan memutus sambungan telpon secara sepihak. Sementara di sana, Freya menumpahkan air matanya.

__ADS_1


Mereka baru menjalani masa-masa sulit ini selama dua bulan. Nyatanya rasa percaya diantara keduanya sedikit demi sedikit mulai terkikis.


TBC


__ADS_2