
"Freyaaaaaa—"
Freya menggeleng melihat Desty di layar ponselnya, berteriak memanggil namanya dengan bahagia. Ia tampak berada di sebuah pantai dengan nuansa keindahan yang membuat semua orang akan tergoda untuk mendatanginya.
"Sumpah, Frey. Di sini indah banget!" sahutnya, berputar memperlihatkan apa yang ada disekitarnya pada Freya. Freya hanya tersenyum sambil mengatur seorang tata rias agar tidak terlalu berlebihan mendandaninya. Hari ini, ia ada pemotretan, dan Freya tidak tau siapa yang akan menjadi partnernya. Ia mendengar dari Mbak Nadien, jika partnernya adalah seorang cowok.
"Mas Herdynya di mana?" tanya Freya saat tidak melihat Desty dengan suaminya.
Dua minggu setelah acara pernikahan mereka. Freya yang sudah mengatur semuanya memberangkatkan Desty dan Herdy untuk berbulan madu. Biaya terbang, dan hotel sudah Freya sediakan dengan fasilitas mewah. Kecuali makan, Mas Herdy menolaknya dengan baik-baik.
"Suami gue lagi ngambil minum,"
"Thanks banget, yah. Frey, kesampean juga gue ke Lombok, gratis pula!" ia tertawa diujung kalimatnya. Sementara Freya hanya tersenyum.
"Yaudah, loe nikmatin aja liburannya. Pulang bawa testpack garis dua buat gue."
"Siap."
Setelah berbasi-basi lagi, keduanya mengakhiri sambungan vidio call. Freya menatap layar ponselnya, ia bahagia melihat Desty dengan mudah melepas Brandon tanpa membebani pikirannya.
Rasanya akan sulit jika Freya yang ada di posisi gadis itu.
"Mbak Frey, pacarnya nyariin, nih!" Freya menoleh ke asal suara saat seorang asisten desainer yang mengurus pakaiannya menegur.
"Pacar?" heran Freya dengan dahi terlipat, bagaimana mungkin Agyan berada di sini?
Tak lama, seorang pria masuk dengan senyum tipisnya. Freya juga ikut tersenyum. "Katanya mobil loe mogok, gue ke sini jemput, kebetulan tadi baru dari rumah bokap loe." panjang lebar Braga yang sudah ada di hadapannya. Freya mengerti, ia hanya mengangguk.
"Sama yang itu udahan, Mbak?" tanya Melin lagi. Sebagian dari mereka tau pada Agyan yang dulu pernah merecoki acara pemotretan, setelah itu, Agyan tidak pernah lagi mau datang ke lokasi pemotretan, mungkin para kru menyangka jika Freya dan Agyan sudah putus.
Selama beberapa minggu ini, justru ia sering datang dengan Braga ke studio pemotretan, kadang sepulang dari kampus, dan mereka makan di jalan. Mungkin hal itu yang membuat para kru di sini mengira jika Braga adalah pacar Freya.
"Mbak Frey, malah ngelamun!"
"Bukan Mel, dia temen gue. Namanya Braga,"
"Oh, nggak pernah Mbak kenalin, sih."
"Mau di gebet? Doi udah ada gandengan!" Freya mengingatkan, Melin hanya mencebikan bibirnya.
"Duduk dulu, Ga. Gue masih lama, nggak papa emang?" tanya Freya. Ia sudah selesai merias diri, hanya tinggal menunggu waktu pemotretan dan menunggu kedatangan partnernya.
"Atau kalo loe bosen, loe bisa ke lantai bawah aja, di sana ada kafe. Enak nunggunya,".
"Santai aja, Frey. Kaya gue baru sekali aja ke sini." sahutnya. Freya hanya tersenyum, ia memang terlalu sering merepotkan Braga. Atau lebih tepatnya. Braga yang selalu menawarkan diri untuk mengantarkan kemana pun ia pergi. Dan menemaninya dalam kondisi apapun.
"Nanti kalo acara pemotretannya udah mulai, gue ke lantai bawah."
"Oke deh,"
Fokus keduanya teralihkan saat pintu ruangan terbuka. Mbak Nadien muncul dengan seorang pria tampan dan postur tubuhnya yang tinggi. Freya dapat menebak, jika pria tersebut pasti yang akan menjadi partnernya, jelas terlihat dari bagaimana penampilan pria tersebut, tidak buruk, dia terlihat tampan dengan aura yang kuat di sekitarnya.
"Freya, udah siap?" tanya Mbak Nadien, sedikit merapihkan rambut Freya.
"Udah, Mbak."
Mbak Nadien tersenyum, menoleh pada seorang pria yang tadi dibawanya. "Frey, kenalin. Ini Dirly, partner pemotretan kamu hari ini."
Freya bangkit dari duduknya tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Dirly, pria itu menerima uluran tangannya, kemudian justru mencium punggung tangan Freya tanpa menyebutkan namanya.
__ADS_1
"Selamat bekerja sama." ujarnya yang hanya mendapat anggukan kepala dari Freya. Braga dibelakangnya hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Dirly.
"Dirly ini bukan model, dia kebetulan salah satu anak pemilik perusahaan majalah, karena partner asli kamu tiba-tiba ada halangan. Dirly bersedia buat gantiin." terang Mbak Nadien. Freya hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa harus memusingkan hal tersebut.
"Yaudah, Frey. Kalo gitu gue ke lantai bawah, nanti kabarin aja kalo beres." pamit Braga yang membuat Dirly menoleh padanya. Ikut mengangguk seolah mewakili Freya.
"Nanti gue kabarin!" Freya berseru sebelum Braga benar-benar berlalu.
"Semuanya udah siap?" tanya seorang pria dengan topi berwarna hitam.
"Sudah." Mbak Nadien menyahut cekatan.
"Kita langsung ke studio pemotretan!"
Freya dan Mbak Nadien, berikut Dirly mengikuti intuksi untuk segera melangkah ke studio pemotretan. Dirly dan Freya segera mengambil posisi.
Dengan backround hitam dan satu buah kursi, Freya duduk, sementara Dirly di belakangnya dengan tangan yang bertumpu pada kedua bahu Freya. Beberapa kali berpose dan selalu mendapat mesra position.
"Frey, kamu natap ke cowoknya!" sang fotografer mengarahkan Freya ketika posisi gadis itu tengah mengalungkan lengan pada leher Dirly.
Freya mengangguk, dengan luwes mengikuti semua intruksi. Baginya, hal seperti ini sudah menjadi sesuatu yang biasa dalam dunianya sebagai seorang model. Terlebih, sikap Dirly juga terlihat santai.
Freya merapihkan rambut saat acara pemotretan telah usai. Ia berjalan menghampiri Mbak Nadien yang menyodorkan ponsel padanya. "Pacar kamu dari tadi nelponin terus!" sahutnya. Freya hanya melihat layar ponsel, sekilas dan kemudian memasukan benda pipih itu ke dalam tasnya.
"Gimana sama perpanjangan kontrak kamu sama agensi, Frey?" tanya Mbak Nadien sebelum Freya berlalu.
"Tanggal berapa?"
"Dua bulan lagi!"
Freya diam sesaat, mempertimbangkan sesuatu. "Nanti Freya pikirin lagi, tau sendiri otak sering blank!"
"Aku pulang duluan, yah Mbak."
"Kamu hati-hati, yah!"
Freya berlalu lebih dulu, menemui Braga di lantai bawah dan keduanya keluar dari gedung. "Mau makan dulu, nggak?" tanya Freya pada pemuda yang sejak tadi terus terdiam itu.
"Enggak usah, loe juga harus telponan sama Agyan, 'kan?"
Freya mengangguk dengan senyuman. Keduanya sudah berada di dalam mobil dan Braga sudah menghidupkan mesin.
"Tugas kampus udah loe kerjain, Ga?"
"Baru sedikit." Braga sudah melajukan mobilnya. Menembus jalan ibu kota di bawah langit sore. Di sampingnya ada gadis cantik, yang selama dua bulan ini baru saja memulai kehidupan baru jauh dari orang terkasihnya.
"Nanti gue minta contoh soalnya, ya. Gue belum sempet!"
"Kebanyakan ngelamun, sih,"
"Iya, nih, lelah ditawan rindu!" ungkap Freya dengan sendu yang hanya ditanggapi senyuman oleh Braga.
Sejauh ini, kawan Agyan yang sering dekat dengannya adalah Braga. Morgan, dan Cherry berada di fakultas yang berbeda dengannya. Mereka hanya bertemu sesekali di kantin kampus, itupun tidak sering karena Freya yang lebih suka berada di kelas saat jam istirahat.
Dan sejauh ini pula, Freya tidak pernah mengetahui bagaimana kisah asmara seorang Braga. Jika ditanya tentang Vanesh, Braga cenderung sering menghindar dan Freya tidak ingin menjadi pemaksa.
**
Gyan❤
__ADS_1
Yang
Gyan❤
By.
Gyan❤
Angkat dong telponnya.
Gyan❤
Aku udah ngantuk, ini!
Freya tersenyum geli melihat spam chat dari Agyan berupa emoticon menggemaskan. Lantas ia menghubungi pria itu, barangkali Agyan masih terjaga. Sampai panggilan tersambung dan ia mendengar desahan nafas kesal Agyan di ujung sana.
"Yang, masih ngantuk?" tegur Freya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, masih mengenakan pakaian bekas pemotretan tadi. Jika harus mandi dan merapihkan diri, ia takut Agyan akan kehilangan jam tidurnya.
"Hmm, kamu kemana aja!"
"Aku habis pemotretan, ini baru pulang ke rumah." sahut Freya, ia tertawa geli mendengar suara Agyan yang tampak mengantuk.
Jika sedang melakukan panggilan telpon ataupun vidio call, tak jarang bahkan Agyan sampai ketiduran karena tidak bisa menahan rasa kantuk yang menyerangnya.
Padahal, Freya sudah melarangnya untuk menelpon agar Agyan bisa beristirahat dengan baik. Tapi pemuda tampan itu kekeh menolak dan tetap ingin berbicara dengannya. Bagi Freya, berbalas pesan pun sudah cukup dari pada harus mengorbankan jam tidur Agyan.
"Vidio call, yah." pinta Agyan yang langsung diiyakan oleh Freya.
Freya menentang ponselnya, ia melihat Agyan diatas tempat tidurnya dengan posisi tengkurap dan matanya yang terpejam.
"Kok jelek gitu, pacar aku." ujar Freya, ada perasaan tidak tega melihat Agyan di sana.
"Ini ganteng permanen, Yang. Cuma lagi males nunjukin aja!"
Freya terkekeh, melihat Agyan yang menguap dan mengusap layar ponsel. "Kamu kangen aku, nggak?"
"Iyah. Kangen, cepet pulang, yah."
Agyan tersenyum, ia mengguyur rambutnya ke belakang. Membuat poni yang tadi menutupi dahinya kini tersingkap sempurna dan menambah ketampanannya.
"Cium, Yang!"
Freya tertawa. "Dasar narsis!"
"Tadi katanya kangen!"
"Otak kamu, tuh, cuma kaya gitu doang. Kotor, awas kalo di sana macem-macem!" ancam gadis itu dengan kesal.
"Terserah, 'kan kamu nggak liat!" Agyan terlihat santai.
"AGYAN!"
Pemuda itu hanya tersenyum, Freya tau jika Agyan hanya bercanda. Tapi dengan apa yang tidak bisa dilihatnya, terkadang Freya berpikir jauh mengenai Agyan di sana.
"By, aku kangen!" ungkapnya, kali ini Agyan serius. Freya hanya mengulas senyum, sampai perlahan mata Agyan tertutup di sana, dalam beberapa waktu, ia tampak tertidur pulas. "Kebiasaan!" sahut Freya dengan suara kecil melihat Agyan yang tertidur.
Ia menatap Agyan, mencium layar ponsel seolah mencium pemuda itu. "Aku juga kangen kamu, Gyan."
TBC
__ADS_1
Aku spoiler dikit : Dua atau tiga part ke depan akan menceritakan kisah hubungan jarak jauh mereka. Pertemuan Agyan dengan Freya akan terjadi dalam kondisi tidak terduga:")