Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Fitnah lagi


__ADS_3

FLASHBACK ON


"Bos,, foto nya sudah siap." Suara darii seberang sana memberikan sebuah info yang ditunggu tunggunya.


"Oke, sekarang aku langsung kesana." Jawabnya.


"Mau kemana mas.. " Tanya Luna pada Pria yang duduk disampingnya, Andri. Mereka tengah menikmati makan siang bersama.


"Aku ada kerjaan sedikit. Kamu pulang sendiri bisa kan." Jawab Andri tersenyum. Luna menganggukan kepalanya dan balas tersenyum. Setelah mengecup kening Luna, Andri pun bergegas menemui orang yang menghubunginya tadi.


Andri ternyata menuju sebuah studio foto. Dia langsung bertemu dengan Bram, yang tadi menelfonnya. Andri pun melihat hasil foto foto yang diserahkan Bram. Tampak Andri tersenyum, dia benar benar tak menyangka kalau hasil foto foto yang di edit Bram ternyata memuaskan. Sedikitpun foto foto ini tampak seperti asli, bukan hasil editan.


"Keren, benar benar keren.." Ujar Andri senang.


"Pasti donk, siapa dulu... Bram..." Jawab Bram dengan gaya sombong.


Setelah berbincang bincang sebentar, Andri pun pergi. Tampak kini tujuannya ke arah Rumah Sakit. Rumah Sakit Harapan, Rumah Sakit Yang di pimpin Devid. Sesampainya disana, Andri langsung menuju ke arah ruangan Dokter Devid, yang sebelumnya sempat ditanya tanya kan nya terlebih dahulu kepada para petugas medis yang lalu lalang disepanjang koridor Rumah Sakit itu. Sesampainya Didepan ruangan Devid, Andri menemui seorang perawat asisten Devid disana.


"Maaf sus, Dokter Devidnya ada." Tanya Andri.


"Iya ada di dalam. Ada keperluan apa ? Kalau mau berobat jam praktek sudah selesai. Bapak bisa datang besok pagi dan mendaftar terlbih dahulu di depan." Jawab perawat itu.

__ADS_1


"Nggak sust, saya hanya mau memberikan ini untuk Dokter Devid. Ini kemaren pesanan Dokter Devid." Ujar Andri meyakinkan perawat itu.


"Ooo,,, baiklah, saya berikan ke Dokter Devid nya sekarang." Ujar Perawat itu.


"Terimakasih Sust. " Ujar Andri tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda perawat itu. Perawat itu pun tersenyum kemudian masuk ke ruangan Devid. Setelah memastikan perawat itu masuk keruangan Devid. Andri pun segera meninggalkan tempat itu. Karena kalau nanti setelah membuka amplop yang dibawanya mebat Devid nekat keluar dan dia masih ada disitu maka permainannya tidak akan seru lagi. Andri pu meninggalkan Ra Sakit dengan tersenyum puas.


"Semoga suka dengan kejutan dariku Pak Dokter.." Ucapnya lirih dengan senyuman yang menakutkan.....


FLASHBACK OFF


Suara Dokter Adrian mengaget semua yang ada diruang Operasi. Ya, Dokter Devid hampir saja melakukan kesalahan yang fatal, kalau saja Dokter Adrian tidak segera mengingatkannya. Sedari awal Operasi dimulai, Dokter Adrian dan Dokter Kevin sudah melihat keanehan dengan sikap Dokter Devid. Tampak jelas kalau dia tidak focus dan kehilangan kosentrasi. Beberapa kali kesalahan dalam meminta alat pada asisten yang membantu jalannya Operasi. Seperti dia sebenarnya membutuhkan gunting tapi yang dimintanya pisau. Dan kesalahan kesalahan lainya. Dokter Adrian dan Dokte Kevin sedari tadi saling berpandangan melihat Gelagat Dokter devid.


"Maaf Dokter Devid. Sebaiknya biar saya yang memimpin Operas ini. Sepertinya Dokter sedang dalam keadaan tidak Vit." Ujar Dokter Adrian.


"Maaf Dok, ini semua demi keselamatan pasien. Sedari tadi Dokter terlihat tidak focus. Jangan sampai Operasi ini gagal Dok." Ujar Dokter Adrian kembali.


"Saya setuju Dok, Biar Dokter Adrian yang melakukannya." Sahut Dokter Kevin. Semua tenaga medis yang membantu jalannya Operasi melihat perdebatan ketiga Dokter itu. Mereka juga merasakan kalau Dokter Devid tidak focus.


"Baiklah," Akhirnya Devid mengalah, dia pun mundur berganti posisi dengan Dokter Adrian. Sampai Operasi itu selasai berjalan dengan lancar. Mereka bertiga keluar dari ruangan Operasi. Sementara pasien di siapkan oleh perawat untuk di pindahkan ke ruang perawatannya.


Saat ketiga Dokter itu keluar, di depan pintu pihak keluarga sudah menunggu. Mereka langsung saja menghampiri ketiga Dokter itu. Sebagai Dokter penanggung jawab, Dokter Devid yang menyampaikan ke pihak keluarga mengenai hasil Jalannya Operasi.

__ADS_1


"Alhamdulillah, berkat Do'a pihak keluarga dan dengan pertolongan Allah. Operasinya berjalan lancar. Bapak Firdaus akan segera dipindahkan keruang perawatannya. Harap untuk membeikan beliau waktu untuk istirahat dulu ya.." Ujar Devid disambut dengan rasa Syukur pihak keluarga. Dan ketiga Dokter itupun kembali ke ruangan mereka masing masing.


Devid telah sampai di ruangannya. Ruangan yang tadi nya hancur berantakan karena luapan emosinya kini sudah rapi kembali. Karena memang tadi sebelum Operasi, Devid dah meminta orang untuk membersihkannya. Kembali Devid duduk terdiam, dan bayangan masalahnya kmbali mengganggu fikirannya. Devid menarik nafas dan menghembuskan nya dengan kasar. Dia membuka laci mejanya, dan mengambil lagi amplop coklat yang dikirim seseorang untuknya itu. Tadi Devid langsung menyimpan oto foto itu, dia tak ingin ada orang lain yang melihat foto foto itu. Karena mungkin saja akan tersebar tentang perselingkuhan istrinya.


Lagi lagi dia menatap foto foto gambar Airin dan Syahdan itu. Terlihat sekali pancaran kebahagiaan dari keduanya. Pancaran mata yang tersirat saling mencintai. Dan senyum Airin yang tulus. Lamunannya tersentak ketika ponselnya berdering. Ada nama Airin terlihat dilayarnya. Devid membiarkan saja tanpa ada niat untuk mengangkatnya. Sampai dering ponsel itu berhenti dengan sendirinya.


Diraihnya benda pipih itu, ada belasan panggilan tak terjawab. Dari Airin dan Bundanya. Tadi Devid memang belum mengabari kerumah kalau malam ini dia ada Operasi mendadak. Sudahlah, fikir Devid. Untuk apa juga mengabarinya. Kalau hanya sekedar untuk formalitas hubungan suami istrinya. Toh didalam hatinya juga tak ada rasa apapun. Devid menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Dia benar benar merasakan capek hati dan capek badan hari ini.


Sementara itu dirumah, Airin duduk termenung di teras rumah. Dia menunggu Devid yang belum juga pulang. Biasanya kalau terlambat pulang selalu mengabarinya. Meskipun hanya lewat pesan singkat di aplikasi hijau. Tap hari ini Devid tak mengabarinya, dit elfon jug tak dijawab.


"Devid belum pulang juga.." Tiba tiba Anita sudah berdiri disampingnya. Sudah cukup lama Anita berii disamping menantunya itu. Tapi Airin tak menyadarinya. Dia sedari tadi melihat Airin memainkan ponselnya, membuka gallery foto dan melihat foto foto Devid. Foto foto mereka bertiga. Anita tau, Airin dan Devid pasti lagi ada masalah. Mungkin mereka tengah berantem. Tapi Anita tak ingin mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Bertengkar kecil sudah biasa dalam rumah tangga. Malah itu akan menjadikan pengikat hati keduanya.


"Eh Bunda... Belum Bund..." Airin kaget dengan kehadiran Ibu mertuanya. Dia segera mematikan ponselnya. Airin menjadi malu, takut kalau tadi Ibu mertuanya melihat nya tengah memandangi foto Devid.


"Bertengkar itu hal yang biasa dalam berumah tangga.." Ucap Anita sambil duduk disaming Airin.Airin sedikit menggeser posisinya supaya Ibu mertuanya bisa duduk nyaman. Airin pun tersenyum mendengarkan perkataan Ibu mertuanya itu.


"Tugas kita sebagai istri harus selalu mengalah. Bukan karena takut, tapi sebenarnya justru itu senjata kita untuk mengikat hati suami. Tidak mengapa kalau kita meminta maaf terlebih dahulu. Meskipun kita tak bersalah. Laki laki itu Ego nya tinggi. Tapi dia akan tunduk kepada wanita yang selalu mengalah kepadanya. Kamu faham maksud Bund nak.." Lanjut Anita menasehati menantu kesayangannya itu.


"Iya Bund, airin faham.." Jawab Airin.


Tak lama Devid pun pulang, Devid langsung memasukan mobilnya ke garasi kemudian baru menuju rumah. Devid tersenyum melihat Bundanya di luar rumah. Sesaat senyumnya hilang melihat Airin juga ada didepan rumah.

__ADS_1


"Bunda nungguin Devid ya.. Tumben.. hehee" Ujar Devid pada Anita. Devid pun mencium tangan Anita. Dan Airin juga mencium tangan Devid seperti biasa menyambut kepulangan devid. Hati Airin sedikit sedih, karena Devid hanya menegur Bundanya. Tanpa melihat ke arahnya. Airin pun mengambil tas kerja dan Jas putih Devid di tangan Devid, kemudian masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.


"Bukan Bunda yang menunggu kepulanganmu, kalau Bunda sudah tau kamu kalau sudah kerja sampai lupa waktu. Istri mu yang sedari tadi menuggumu duduk diluar. Bunda juga baru saja menemaninya." Ujar Anita.


__ADS_2