
Zoya tidak tau apa yang dilakukannya entah benar atau tidak. Tapi ia merasa sudah sangat tepat ketika membuat kesepakatan dengan Ethan kemarin malam agar pria itu selalu meminta persetujuannya dalam melakukan apapun.
Tapi bukan berarti Ethan terus menghubunginya setiap waktu untuk meminta persetujuan saat akan melakukan hal-hal tidak penting. Seperti meminta persetujuan Zoya karena pria itu akan makan bersama Randy, atau saat pria harus pergi keluar perusahaan dengan Randy. Bukan persetujuan seperti itu yang Zoya maksud.
"Zoy, Randy mengajak saya mampir di stand es krim karena cuaca siang ini sedang panas. Bagaimana? Kamu setuju?"
"Iya, aku setuju. Tapi makan es krimnya jangan banyak-banyak, oke." panggilan terputus, Zoya menjerit tidak mengerti. "Lakuin apapun yang kamu mau, silakan! Aku nggak masalah!" kesalnya sambil mengacak rambutnya sendiri. Adhel yang sedang mengipasi wanita itu tersenyum kecut melihatnya.
Sedangkan Randy yang sudah berdiri di luar mobil menoleh kesal pada pria yang dua hari ini sangat sering menelpon Zoya untuk memberitahukan istrinya saat akan melakukan hal-hal kecil, bahkan hampir setiap waktu saat Zoya break syuting. "Apa harus setiap waktu minta persetujuan, yah Than?" jujur Randy sudah sangat ingin menanyakan hal ini sejak kemarin.
Ethan keluar dari mobil, mengancingkan jasnya dan tersenyum pada Randy. "Zoya bilang begitu." menyahut setelah beberapa saat.
"Maksudnya bilang begitu?"
"Kami sepakat, hal apapun yang mau aku lakuin, aku harus meminta persetujuan Zoya." sahut Ethan dengan yakin. Randy justru mengernyitkan dahi, ia tau ada kesalahan di sini. Barangkali Ethan salah mengartikan.
"Kenapa?" Ethan bertanya, menilik penampilannya saat saat sang Skretaris terus memperhatikan. Ethan merasa tidak ada yang salah dengan dirinya.
"Kamu yakin itu yang dimaksud Zoya?" kali ini giliran Ethan yang mengernyitkan dahi.
"Sebelumnya kalian bahas hal apa?" tanya Randy lagi, mengulik dan ingin segera membuat kesmipulan. Ethan terdiam, masih sangat jelas apa yang kemarin malam ia dengan Zoya bicarakan.
"Gini, Than. Aku cukup bisa ngerti urusan rumah tangga kalian, sekalipun kamu cinta sama Zoya, belum tentu dia punya perasaan yang sama kaya kamu, 'kan?"
"Kenapa kamu tau?" Bos besar justru merasa tersinggung. Randy mendesah.
"Jadi mungkin, Than. Maksud Zoya tuh, kamu minta persetujuan Zoya untuk hal-hal yang menjurus pada kalian berdua."
Kerutam di dahi Ethan semakin mendalam, ia belum terlalu paham. Faktanya para pria cerdas memang jarang memiliki perasaan yang peka dalam percintaan. Sepertinya Randy memahami bagaimana bosnya.
"Contohnya gini–" Randy melihat sekeliling, mengangkat tangannya membentuk sebuah moncongan dan menunjukannya di hadapan Ethan, semakin membuat pria itu tidak mengerti begitu Randy menyatukam dua moncongan itu dengan raut bodoh.
Randy berdecak, sepertinya apa yang ia lakukan sangatlah sia-sia. "Gini loh, Than. Kalo misalkan kamu minta cium, minta jatah kamu sebagai suami, baru minta persetujuan Zoya."
"Intinya hal yang berhubungan antara kamu sama Zoya. Terutama kontak fisik." Randy memperjelas dengan kesal. Membuat beberapa orang yang sedang menunggu di stand es krim menoleh dengan tatapan awkward pada mereka.
Ethan melayangkan tatapan tajamnya pada Randy. "Kenapa nggak bilang dari awal?"
"Kenapa baru bahasnya sekarang?" gemas Randy, ingin rasanya mencubit pipi sang boss. Tapi kesabarannya masihlah banyak untuk pria tampan itu.
**
Sementara di lokasi syutingnya, Zoya tengah melalukan sesi foto bersama dengan semua para pemain dan kru film. Ini adalah hari terakhir mereka melakukan syuting. Selama tiga bulan ini bekerja keras, rating film mereka sampai pada hari ini patut diacungi jempol.
Sebelumnya juga ada sedikit drama dari Sutradara yang berterimakasih dan meminta maaf pada semua pihak khususnya kru dan aktris jika selama proses syutimg barangkali terkadang khilaf dan membuat kesalahan.
Selanjutnya mereka akan makan malam bersama. Zoya sudah berdiri di samping mobilnya saat Edrin menghampirinya. "Hay," pria itu menyapa. Zoya tersenyum dan balas menyapa. "Hay."
__ADS_1
"Nggak kerasa, yah, udah selesai aja." sahutnya. menjurus pada project film mereka dengan kedua tangan yang berada pada saku celana.
"Iya. Rasanya baru kemarin."
"Semoga kedepannya kita punya project bareng lagi." pria itu tersenyum jenaka, Zoya juga hanya tersenyum dan mengangguk-anggukan kepala.
Setelah semua siap mereka menuju restoran tempat akan diadakannya makan malam bersama. Zoya memilih duduk sendiri setelah acara sambutan dan pindato singkat dari Sutradara film, perwakilan kru dan para pemain selesai, sesekali ia melihat ponselnya yang diletakannya di atas meja.
Satu sudut bibir Zoya terangkat. Syukurlah, sepertinya Ethan mengerti apa yang Zoya maksud, karena sudah lebih dari enam jam pria itu tidak menelponnya. Zoya meraih gelas minumnya, mendekatkan gipsi pada bibirnya sampai ponselnya menyala. Id Pak Boss menghiasi layar ponsel.
"Baru juga dipikirin." serunya, menggapai ponsel dan menggeser ikon hijau.
"Hallo."
"Kamu di mana?" orang di ujung sana to the point.
"Lagi makan sama tim produksi. Aku mungkin telat pulang."
"Bisa keluar sebentar?"
Zoya mengernyit. Seketika ia membalikan tubuh ke arah pintu keluar restoran. Ethan berdiri di sana masih dengan stelan formalnya. Pria itu tersenyum sambil menentang ponselnya ke udara, menjauhkan benda itu dari telinga. Anehnya hal sederhana yang pria itu lakukan membuat kedua sudut bibir Zoya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Keluar nggak?" Ethan bertanya sekali lagi.
"Aku keluar sekarang." Zoya bangkit dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Ethan menunggu di luar, keduanya sama-sama menurunkan ponsel dari telinga begitu sudah saling berhadapan
"Lancar."
"Good girl." tangan Ethan mendarat di puncak kepala wanita itu, membuat Zoya lagi-lagi tersenyum. Meskipun dua hari ini tingkah Ethan sangat aneh dan menyebalkan, tapi Zoya merasa hal itu jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Kamu jemput aku?" tanya Zoya, pria itu tampak berpikir sebentar. Kemudian menganggukan kepala.
"Kalau kamu belum selesai saya bisa menunggu." Zoya berpikir sebentar, ia menoleh ke arah restoran.
"Yang lain belum ada yang pada pulang. Aku nggak enak kalo pulang duluan, gimana dong?"
"Gimana kalau kamu pulang duluan aja." Zoya tidak enak jika harus membiarkan pria itu menunggunya.
"Enggak papa, saya tunggu di sini."
"Kalau gitu gabung aja."
"Enggak perlu, kamu aja." Ethan menolak lembut.
Ragu, tapi akhirnya Zoya melangkah dan melambaikan tangan pada pria itu. Ia kembali memasuki restoran dan mengambil tempat duduk yang lain. Bergabung dengan Selin dan beberapa manejer aktris lain.
Sedangkan Ethan menunggu di luar, ia cukup sadar jika kedatangannya tidak akan membuat mereka yang di dalam senang. Karena kehadirannya justru akan membuat suasana menjadi tegang.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu, Ethan masih sabar bersandar bada body mobil untuk menunggu istrinya. Melihat wanita itu dari balik kaca transparan restoran, wanita itu tampak sedang asik mengobrol.
"Suami kamu nggak papa nunggu lama?" tanya Selin yang membuat Zoya menoleh pada Ethan di luar sana, ia merasa tidak enak pada suaminya tapi juga tidak enak pada yang lain.
"Pak Ethan baik, yah. Zoya beruntung dapetin Pak Ethan." salah seorang manejer aktris buka suara, Zoya hanya mampu tersenyum menanggapinya.
Mungkin memang pemandangan langka melihat seorang Zeinn Ethan menunggu dengan sabar hanya karena seorang wanita.
"Tampan, tajir, baik. Gak suka main perempuan juga, Pak Ethan paket lengkep pokoknya." yang lain menyambung.
"Kamu pulang duluan aja Zoy, lagian Pak Ethan juga habis kerja, dia butuh buru-buru istirahat." sahut Selin. "Kasian," sambungnya.
Zoya akhirnya mengangguk. Permisi dari sana dan berjalan keluar menghampiri Ethan, Ethan yang melihat kedatangan wanita itu lantas menegakan posisinya.
"Sudah beres?"
"Udah."
"Yang lain belum pada bubar." Ethan melihat orang-orang di dalam yang terlihat masih asik dan sebagian masih menikmati makan.
"Udah, ngga papa. Ayo, kita pulang sekarang."
Zoya lebih dulu masuk ke mobil, Ethan menyusul dan duduk di balik kemudinya. Bersiap mengenakan seatbelt.
"Padahal saya tidak mendesak kamu untuk segera pulang jika memang kamu belum selesai."
Zoya yang belum mengenakan seatbeltnya hanya menatap pria itu.
"Saya tidak ingin membuat kamu merasa terganggu–"
Cup.
Sebuah kecupan di pipi kiri Ethan membuat pria itu mematung, perlahan menoleh pada Zoya, sang pelaku yang tengah tersenyum. "Makasih," ucapan Zoya membuat Ethan perlahan tersenyum. Tindakan manis wanita itu barusan membuat perasaan Ethan tak karuan.
Ethan memegang gagang stir. "Zoya,"
"Hmm."
"Sekarang saya mengerti persetujuan seperti apa yang kamu maksud." Ethan menoleh pada wanita yang duduk dengan posisi sedikit miring menghadap padanya itu.
"Maaf membuat kamu repot." Ethan cukup sadar jika telpon setiap waktunya sudah pasti membuat wanita itu kesal dan repot.
Zoya tersenyum, kemudian mengangguk. Mata keduanya bertatapan dalam satu garis lurus. Mata Ethan mengarah pada bibir Zoya yang setengah terbuka.
"Boleh?" ia meminta persetujuan wanita itu, mempraktikan apa yang sudah ia dan Zoya sepakati. Zoya yang mengerti terdiam sebentar, perlahan tersenyum, kemudian kepalanya mengangguk pelan yang membuat Ethan melepas seatbelt yang ia kenakan dan mencondongkan tubuhnya pada Zoya.
TBC
__ADS_1
Adem bener Bang Ethan😂