Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Pacar Posesif (B/V)


__ADS_3

"Aku makan siang di kantor,"


"Yaudah, aku ke kantor kamu."


"Enggak bisa, Van. Kamu bukan karyawan sini,"


"Nyari makannya di kafe deket perusahaan tempat kerja kamu aja. Yah, Kak. Aku mau makan siang bareng." Vanesh merengek seperti anak kecil. Braga memijat pelipisnya, ia seringkali pusing jika sikap Vanesh yang satu ini sudah muncul.


"Nggak makan, Ga?" beberapa rekan kerja Braga bertanya saat melewati kubikelnya.


"Nanti aja." Braga menyahut sambil mengangkat tangannya diakhiri senyum tipis. Beberapa rekan kerjanya tersebut berlalu untuk makan siang. Vanesh yang sejak tadi terdiam mendengarkan Braga lantas buka suara, "tadi ada ceweknya?" ia bertanya sedikit kesal.


"Enggak ada, cowok semua."


"Bohong banget!"


Lagi-lagi Braga hanya mendesah dan merasa serbasalah. "Kamu udah pulang ngampus?" tanyanya. Mengalihkan pembicaraan, Vanesh yang tau jika sebenarnya Braga menghindari amukannya lantas mengangguk meski Braga tidak dapat melihat, beberapa saat kemudian ia menyahut. "Aku udah pulang."


"Yaudah, kita makan siang bareng." putus Braga yang membuat Vanesh terpekik senang. "Beneran?"


"Iya. Kamu di mana, aku tunggu di kafe deket perusahaan."


"Oke, aku langsumg ke sana. Bye Sayang. sampe ketemu!" dengan semangat empat lima, gadis itu menyahut dan memutus sambungan telpon secara sepihak.


Braga perlahan menurunkan ponselnya. Ia menatap layar ponsel dan tersenyum. Vanesh memang seringkali menjengkelkan, tapi sikap cerianya selalu mampu mengusir gundah dalam lelah Braga usai bekerja.


Vanesh, seperti penyemangat yang segar untuknya. Braga beranjak untuk segera memenuhi janjinya pada sang kekasih.


"Braga,"


Braga menoleh pada seorang wanita yang berdiri tepat di belakangnya. Dia adalah Penty, pimpinan dari divisi tempat Braga bekerja.


"Kamu mau makan siang?" wanita berumur tiga tahun lebih tua dari Braga itu sudah berpindah posisi di samping meja kerja Braga.


"Iya, Bu. Saya kebetulan makan siang di luar hari ini."


"Kebetulan sekali, saya juga mau makan di luar. Bisa bareng aja?"


Braga terdiam. Hampir enam bulan ia bekerja di perusahaan Warry. Ia memang mendapat perlakuan baik dari Penty, seorang single parent dari anak kecil berusia empat tahun yang pernah Braga temui di pusat perbelanjaan.


Saat itu, Penty sedang belanja bulanan dengan anak dan juga pengasuh dari anaknya. Braga bahkan sempat makan siang bersama dengan Penty sehingga sedikit banyak ia mengetahui kehidupan pribadi atasannya ini.


"Suami saya meninggal tepat ketika saya sudah melahirkan," ungkapnya, menoleh pada putrinya yang sedang melahap es krim. Braga menatap anak kecil itu dengan prihatin.


"Jadi, suami ibu belum pernah melihat putri kalian?"


Penty menganggukan kepalanya dengan senyum tipis. Di hari bahagianya atas kelahiran putri pertama mereka, justru menjadi duka cita ketika ia mendapat kabar bahwa suaminya mengalami kecelakaan dan dalam perjalanan ke Rumah Sakit.


"Hari ulangtahunnya, adalah hari di mana ia kehilangan ayahnya."


Braga tersenyum dan mengusap puncak kepala anak kecil itu. "Tapi sepertinya dia kuat, sama seperti Ibu."


Penty tersenyum mendengar pujian Braga. "Ibu belum ada niatan untuk mencarikan ayah baru untuk putri ibu?"


Penty tersenyum pada pria muda itu. "Tidak mudah Braga, mencari pria yang tidak hanya mencintai saya, tetapi juga putri saya."


"Saya tidak ingin jika kelak, suami saya tidak dapat memcintai putri saya. Jika begitu, artinya percuma, Nara tetap tidak akan mendapat kasih sayang seorang ayah."


Braga hanya memperhatikan Penty yang berucap tenang. Penty sudah seperti kakak baginya. Bahkan saat hari pertama bekerja, Penty lah yang banyak membantu ketidaktahuan Braga.


"Braga."


"Ga,"


Braga tersadar saat Penty melambaikan tangan di hadapan wajahnya. Sekilas kejadian dua bulan lalu sirna dari kepala Braga.

__ADS_1


"Kamu ngelamun?"


"Kenapa Bu?"


"Saya mau ikut kamu makan siang di luar, tidak papa?"


Braga diam sebentar. Ia bingung karena takut jika Vanesh akan marah dan salah paham. "Tapi saya—"


"Kamu sama pacar kamu?" tebak Penty diakhiri senyum manisnya. Braga mengangguk dengan senyum tipis.


"Kalau kamu tidak keberatan saya ikut, saya tidak masalah. Saya ingin bertemu pacar kamu, saya ingin tau—Seberapa hebat gadis yang bisa menaklukan perasaan kamu." sahutnya dengan jahil. Braga hanya tertawa. kemudian mempersilahkan Penty jika ia memang ingin ikut.


Braga akan mengirim pesan pada Vanesh jika meja mereka akan kedatangan tamu. Dan Braga akan mengenalkan Penty pada sang pacar.


Sementara Vanesh yang sedang berada di supermarket buru-buru berlalu untuk makan siang dengan Braga setelah membeli barang yang diperlukannya.


Di pintu keluar, ia bertemu dengan Agyan dan Freya yang tampaknya akan berbelanja. Keduanya terlihat mesra dengan obrolan kecil yang mengiringi langkahnya, Vanesh berdiri menghadang langkah dua orang itu dengan senyum ceria.


"Vanesh."


"Hay Kak Freya, Kak Gyan. Mau belanja?" tanyanya dengan buru-buru. Raut wajah senangnya amat ketara di mata siapa saja yang melihatnya.


Freya dan Agyan hanya bertukar pandang, kemudian mengangguk. "Yaudah, selamat berbelanja. Semoga hari kalian menyenangkan." sahutnya sambil berlalu.


Agyan dan Freya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah centil anak itu. Agyan kembali menggandeng Freya dan keduanya masuk ke dalam supermarket.


"Kamu bisa tebak kenapa Vanesh bisa seseneng itu?" tanya Freya sambil memilih beberapa camilan sehat untuk ia beli.


"Mau ketemu Braga." Agyan menyahut asal meski tepat sasaran. Freya diam memperhatikan Agyan yang tengah memilih. Hari ini suaminya itu cuti kerja demi untuk menemaninya belanja. Padahal Freya bisa melakukannya sendiri.


Sayangnya Agyan tidak dapat percaya dan melakukan segala hal sesuka hatinya.


"Menurut kamu, Braga sama Vanesh bakal nikah?"


"Menurutku, sih, iya. Karena—Mereka cocok. Vanesh yang bawel, dan Braga yang kalem."


Agyan melempar sebungkus biskuit dengan kesal ke dalam troli. "Aku keberatan kamu bahas-bahas Braga!"


"Alesannya?"


"Dia pernah suka sama kamu!" terlihat jika dia kesal setelah mengatakannya. Mengingat sahabatnya menyukai gadisnya dalam waktu yang lama.


"Kapan?" Freya sedikit terkejut dengan pertanyaan Agyan. Namun begitu, Agyan memilih untuk mengabaikan istrinya dan berjalan duluan sambil mendorong troli belanjaan.


"Gyan."


"Agyan tunggu."


*


*


Dengan wajah semringah karena akan menikmati makan siang dengan orang tercintanya. Vanesh memasuki kafe tempatnya membuat janji dengan Braga.


Ia mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Braga sampai ia melihat pria itu melambaikan tangan padanya.


Vanesh melangkah dan menghampiri Braga. Senyum yang sejak tadi melekat di wajahnya mendadak pudar, berganti dengan raut heran saat melihat seorang wanita dewasa yang duduk satu meja dengan Agyan.


"Dia siapa?" tanyanya pada Braga tanpa tedeng aling.


"Dia—"


"Aku kan bilang, makan berdua. Bukan bertiga, kenapa kamu ngajakin cewek, sih."


"Dia selingkuhan kamu di kantor?"

__ADS_1


"Vanesh."


"Mbak, Kak Braga ini pacar saya. Setelah saya wisuda kami nikah. Jangan jadi pelakor, yah." ungkapnya dengan lembut. Penty yang mendapat serangan tiba-tiba hanya bisa diam.


"Nanti di hujat netizen loh. Nanti followersnya turun." ucapnya dengan nada memohon. Ditambah raut wajahnya yang polos dan menggemaskan.


Ia duduk di kursi dekat Penty dan menggapai tangan wanita itu. Sedangkan Braga juga duduk, raut wajahnya selalu tidak mengerti dengan segala tindakan Vanesh. "Saya mohon, Mbak. Saya cuma cinta sama Kak Braga. Nggak bisa kalo sama yang lain." ungkapnya dengan memelas.


Penty hanya tersenyum dan balas menyentuh tangan Vanesh. "Kamu cantik, Braga beruntung punya pacar seperti kamu."


Vanesh mengernyit mendengar kalimat wanita di hadapannya. Ia menoleh pada Braga meminta jawaban dengan raut heran.


"Aku udah kirim chat ke kamu." Braga menyahut sambil melahap makannya. Jika harus meladeni Vanesh, maka waktu makan siangnya akan sangat tersita.


Mendengar jawaban pacarnya, buru-buru Vanesh mengecek ponselnya. Dan benar saja, ada dua chat masuk dari Braga.


Ayang❤


Aku ajak Bu Penty. Dia pengen ikut makan siang bareng. Nanti aku kenalin, dia atasan aku di kantor. Biar kamu nggak salah paham.


Aku udah sampe. Kamu di mana?


Vanesh menggigit bibir bawahnya, ia menatap Penty dengan kikuk. Ia sangat malu karena sudah salah paham dan berpikir macam-macam. Sedangkan Braga menatapnya penuh ledekan.


*


*


"Makannya, nanti tanya-tanya dulu." sahut Braga setelah keduanya menyelesaikan makan dan keluar dari kafe. Penty sudah lebih dulu kembali ke kantor.


"Ya, maaf. Abisnya aku takut kamu gandeng selingkuhan kamu makan siang buat mutusin aku."


Braga menghela nafas. "Jangan kebanyakan nonton sinetron."


"Kamu nggak suka, yah."


"Aku terlalu posesif, yah."


"Aku terlalu cemburuan, yah. Makannya kamu nggak papa waktu itu kita nggak pacaran."


"Kamu nggak nyaman aku ikut campur urusan pribadi kamu, 'kan?" gadis itu membombandir Braga.


"Hmm."


"Kak Braga!" protesnya. Braga tertawa, ia menggenggam tangan Vanesh.


"Aku suka. Asal jangan diulangi, yah."


"Artinya kamu nggak suka dong. Kamu tau nggak—"


Braga mengecup punggung tangan gadis itu. Membuat Vanesh bungkam dan hanya diam.


Perasaannya menghangat dalam seketika.


"Aku balik ke kantor. Kamu pulangnya, hati-hati, yah." Braga berlalu dari sana. Sedangkan Vanesh hanya mematung. Bahkan saat Braga sudah menghilang, ia baru menganggukan kepala dan melihat punggung tangannya yang tadi mendapat kecupan.


"Gue gak bakal cuci tangan 24 jam!"


TBC


Jujur, aku nggak jago bikin cerita dari tokoh lain karena sering mentok. Aku selalu fokus pada pemeran utama. Tapi karena ada beberapa yang request BragaVanesh. Aku maksain buat bikin:")


Makasih kalian yang masih stay baca dan dungung novel ini. Saranghe❤❤❤


Btw aku bikin chat story. Iseng aja, sih, tapi nulisnya tulus penuh perasaan. Kalo berkenan, silahkan mampir:") Judulnya PERMAINAN SEBUAH TAKDIR.

__ADS_1


__ADS_2