Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Unexpected Thing


__ADS_3

Ethan menghentikan mobilnya ketika mereka melewati area dataran tinggi. Ia keluar dari mobil dan membukakan pintu bagian Zoya. Tanpa bertanya apapun, Zoya hanya turun dengan begitu saja mengikuti pria itu.


"Kita ngapain?" ia baru bertanya saat melihat suaminya yang naik ke kap mobil. Sedangkan Zoya masih di bawah dengan raut bingung.


"Kamu naik ke sini!" Menepuk tempat di sampingnya.


"Enggak!" Menolak tanpa pertimbangan.


"Aku bantu," Ethan mengulurkan tangan pada wanita itu. Zoya mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Aku bilang nggak mau."


"Yasudah!"


Ethan memilih menyerah membujuk wanita itu. Fokus menatap panorama sore yang indah. Pepohonan rindang sesekali bergoyang tertiup angin. Zoya menatap jenuh, sedangkan Ethan tampak menikmati tanpa perduli dengannya.


Zoya menoleh pada pria itu yang mengabaikannya. Ia mendesah. "Yaudah bantu!" ia mengulurkan tangan pada Ethan, Ethan menundukan pandangan. Menatap Zoya yang membutuhkan bantuan. Meraih tangan wanita itu dan membantu Zoya untuk naik ke kap mobil.


"Hati-hati."


Ethan meraih pinggang wanita itu. Sampai Zoya berhasil duduk di sampingnya. Tapi wanita itu tampak meringis sambil memegangi perutnya.


"Aww,"


"Zoy." Ethan menoleh khawatir. "Kenapa?" tanyanya sambil memperhatikan raut wajah Zoya. "Enggak papa-enggak papa. Perut aku cuma keram aja." sahut Zoya, menahan tangan Ethan yang akan menyentuh perutnya. Memejamkan mata, Zoya merasakan keram di perutnya yang mulai reda.


"Enggak papa?" tanya Ethan lagi untuk memastikan keadaan sang istri.


"Iya. Udah nggak papa,"


Ethan menyingkap rambut Zoya, dahi wanita itu tampak berkeringat. Ethan menyeka keringat Zoya dengan punggung tangannya. "Beneran udah nggak papa?" ia masih khawatir.


"Kalau gitu kita ke rumah sakit aja, ya."


Zoya menggelengkan kepala, kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Ethan. Pria itu hanya diam, kemudian menuruti saja apa yang istrinya inginkan.


"Pantesan kamu betah." tiba-tiba Zoya berbicara setelah cukup lama ia hanya diam dan ikut melihat pemandangan yang sejak tadi ditatap oleh Ethan.


"Kenapa?"


"Pemandangannya indah."


Ethan tersenyum. "Iya."


Keduanya sama-sama terdiam. Menikmati keindahan puncak di sore hari dengan langit berwarna jingga. Ethan menggandeng Zoya, membuat wanita itu menoleh padanya.


"Oh, iya. Aku baru inget. Randy sama yang lain gimana pulangnya?" tanya Zoya, mengingat mereka harus membawa grand piano dan membereskan meja makan.


"Jangan bilang–" Zoya menunjuk wajah Ethan dengan tatapan memicing. Tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu, dan tampang Ethan seperti mengiyakan isi pikiran Zoya.


"Kamu ..., kok tega banget, Than." memukul pelan dada Ethan sedangkan pria itu justru tertawa.


**


"Saya nggak ngerti, kenapa Pak Ethan pilih jalan yang nggak bisa dilaluin sama mobil?" tanya seorang pemuda yang Randy tugaskan untuk mengandalikan drone untuk merekam moment Ethan dengan Zoya.


"Padahalkan ada jalan ini, yang bebas dari jalan kaki. Ngapain cape-cape coba?" herannya. Randy yang sedang menyetir hanya menggelengkan kepala. Ia tau apa yang sebenarnya Ethan lakukan, hanya saja ia tidak ingin memberitahukan.


Ia tidak ingin usaha payah Ethan diketahui siapapun kecuali hanya dirinya dan pria itu.


**


Ethan menghentikan mobil di pelataran vila begitu mereka tiba setelah puas menikmati panorama sore hanya berdua. Zoya yang melepas seatblet menatap Ethan yang juga tengah melepas seatbelt yang dikenakannya.


"Ethan."


Ethan menoleh, menaikan alis dengan gestur bertanya pada wanita itu yang memanggil namanya. "Makasih." ucap Zoya setelah beberapa saat.


"Buat?"


"Semua surprise yang kamu kasih buat aku." ungkapnya dengan raut manja.


Ethan menyipitkan mata melihat wanita itu yang menatapnya dengan tampang imut dan menggemaskan. Setelahnya Ethan tertawa dan menggelengkan kepala. Tidak tahan melihat wanita itu berlama-lama.Sedangkan wanita itu tampak hanya bertahan dengan raut wajahnya.


Setelahnya Ethan kembali menatap sang istri. "Kalau gitu sekarang giliran kamu."


"Aku?" tanya Zoya, menunjuk dirinya sendiri. Ethan mengangguk.


"Saya sudah kasih kamu beberapa hadiah. Kamu tidak berniat memberi saya hadiah juga?" Ethan menautkan alis menatap wanita itu.


"Jadi kamu nggak iklas kasih aku hadiah?"


"Saya iklas, tapi saya memgharapkan sesuatu dari kamu."


Zoya terdiam sesaat. Mengalihkan tatapannya ke arah lain. Lantas kembali menatap sang suami yang sudah sangat menaruh harapan.


"Kamu mau apa?" Zoya memutuskan bertanya. Ethan berpikir sebentar. "Jangan macem-macem!" ancam Zoya. Ia hapal tatapan mata pria itu. Ethan tersrnyum dan menggelengkan kepalanya.


"Mm, gini aja." Zoya sudah membuat keputusan. Ethan menaikan alis, ia merasakan firasat tidak baik atas usul sang istri.


"Tutup mata kamu!"

__ADS_1


Ethan mengangkat satu sudut bibirnya. Hapal apa yang akan Zoya lakukan. Tapi ia memilih untuk menuruti perintah wanita itu, memejamkan matanya sedangkan Zoya tersenyum penuh kemenangan.


Menatap Ethan penuh ejek, rasanya ia tidak akan memuruti kemauan pria itu. Dengan sangat pelan, Zoya berusaha membuka pintu mobil, belum rencananya terwujud sempurna tangan Ethan sudah lebih dulu menahan tangannya. Membuat Zoya menoleh ke belakang dan melihat pria itu yang tampak membuka matanya dengan perlahan.


Tersenyum canggung pada Ethan. "Saya tau apa yang akan kamu lakukan. Jangan berusaha terlalu keras. Rencana kamu untuk menghindari saya tidak akan pernah berjalan sempurna." sahut Ethan.


"Aku nggak niat kaya gitu." berusaha mengelak agar harga dirinya bisa diselamatkan, setidaknya untuk sesaat.


"Oke, jadi hadiah apa yang akan kamu kasih ke saya?"


Zoya bernapas lega, sepertinya Ethan memberikannya pertanyaan bagus. "Kayaknya aku harus siapin hadiah terbaik buat kamu. Jadi–" Menyentuh dada Ethan dengan sensual, tatapan mata Ethan beralih pada tangan wanita itu yang ada di dadanya. Tak lama, kembali mengalihkan netra bulat itu pada Zoya.


"–Jadi, kamu harus kasih aku waktu. Okey," Zoya menepuk pipi kiri Ethan dua kali, lantas turun dari mobil lebih dulu meninggalkan pria itu.


Ethan hanya menatap kepergian Zoya sampai wanita itu menghilang dari balik pintu. Ethan mengambil ponsel. Mendial nomor sang Skretaris dan menempelkan benda tersebut ke telinganya.


"Kalian sudah pulang?"


"Sedang di perjalanan Pak."


"Makasih, yah. Untuk tadi dan beberapa hari kemarin."


"Enggak ada niatan menaikan gaji Pak?"


"Kamu tidak iklas membantu saya?"


"Iklas Pak, alhamdulillah."


**


Zoya memasuki vila dengan raut bahagia. Selin yang sedang menentang ponselnya spontan menoleh saat pintu masuk terbuka. Ia tersenyum begitu mendapati Zoya yang muncul dari sana.


"Gimana jalan-jalannya?" tanyanya antusias dan melangkah menghampiri wanita itu. Zoya tersenyum, raut bahagia terlukis dengan jelas dalam wajah cantiknya.


"Mmm, yah. Lumayan, lah."


Selin lagi lagi hanya tersenyum, ia dapat mengetahui perasaan Zoya hanya dengan melihat wajah wanita itu.


"Pak Ethan di mana?" tanya Selin saat tak mendapati Ethan dengan Zoya.


Zoya menoleh ke arah pintu, Ethan tidak mengikutinya. Artinya pria itu masih di luar.


"Kayaknya masih di luar, deh,"


"Ohh."


"Aku ke atas, yah, aku mau mandi." pamit Zoya kemudian, ia sudah merasa tidak nyaman dengan pakaian yamg dikenakannya selama seharian.


Begitu Zoya menghilang dari balik pintu, Selin mengotak atik ponsel. Menempelkan benda pipih itu di telinganya. Ia sudah memperkirakan jika orang yang ditelponnya dalam keadaan kondusif.


"Fahry?" panggilnya begitu panggilan sudah terhubung.


"Ada apa Sel?"


"Kamu mmu kenapa nggak bilang kalo kamu juga liburan di puncak?"


"Maksudnya 'juga liburan di puncak?' Kamu di puncak juga?" Fahry balik bertanya.


"Bukan cuma aku! Tapi Zoya juga."


"Zoya?"


"Fah, gimana pun caranya kamu sama Mbak Anggun harus segera ninggalin puncak."


"Nggak bisa gitu, Sel. Aku gak mungkin tiba tiba ngajak Anggun sama Anye pulang. Kami masih punya waktu tiga hari di sini."


"Tapi gimana kalau Zoya nemuin kalian dan–"


"Mbak Selin–"


Spontan Selin membalikan tubuh dan menurunkan ponsel dari telinganya. Zoya berdiri di anak tangga menatapnya dengan tatpan curiga.


"Mbak lagi telponan sama siapa?" Zoya bertanya penuh selidik. "Euu, ini urusan kerjaan. Ada beberapa manejer acara yang ngundang kamu buat acara on air. Tapi Mbak bilang nggak bisa karena kamu lagi ada kepentingan." dusta Selin dengan kaku, bahkan senyumnya tampak sangat dipaksakan.


"Kayaknya yang aku denger bukan itu, deh."


"Ada yang Mbak sembunyiin dari aku?"


"Zoy–"


Ethan yang muncul di antara mereka membuat ucapan Selin terjeda. Sedangkam tatapan Zoya tampak tidak bersahabat dan terlihat kesal. Ia berbalik dan kembali masuk ke kamar. Sedangkan Selin tampak mendesah, menebak-nebak sejak kapan Zoya berdiri di sana dan mendengarkannya.


Sementara Ethan yang sesungguhmya mengetahui apa yang terjadi melangkah menyusul istrinya. Ethan sudah akan masuk tadi, tapi begitu mendengar nama Fahry disebut, Ethan menghentikan langkah. Tidak berniat menghping hanya saja rasanya akan canggumg jika ia masuk begitu saja sedangkan Selin sedang berbicara diam-diam.


Ethan masuk ke kamar mereka. Ia tidak melihat Zoya di dalam sana, tapi gemericik air di dalam kamar mandi membuatnya yakin jika Zoya berada di sana.


Sepuluh menit berselng, Zoya keluar dari sana. Tersenyum lembut pada Ethan seolah tidak ada yang terjadi di bawah sana beberapa waktu yang lalu.


"Mandi gih! Kamu mau langsung tidur?" tanyanya. Ethan menggelengkan kepala dengan kedua sudit bibir yang terangkat.

__ADS_1


"Saya mandi dulu."


Zoya mengangguk. Ethan berlalu ke arah kamar mandi. Sementara Zoya yang sudah memakai piama di dalam kamar mandi memilih mengeringkan rambutnya yang basah.


Ia menatap dirinya dalam pantulan cermin. Zoya menghela napas, Jelas jelas Zoya mendengar jika Selin menyebutkan nama Fahry. Artinya mereka masih terus berhubungan.


Zoya melempar sisir yang baru saja digunakannya. Membuat beberapa barang di atas meja rias terjatuh, di antaranya adalah sebuan parfum yang jatuh ke lantai dan pecah begitu saja. Bersamaan dengan Ethan yang keluar dari kamar mandi.


"Zoya." dengan cepat menghampiri wanita itu dan berlutut di sana, melihat barangkali pecahan kaca dari parfum mengenai kaki Zoya.


"Kamu nggak papa?" tanya Ethan khawatir.


Zoya menggelengkan kepalanya. Ethan bangkit, menggandeng Zoya untuk duduk di tepi tempat tidur. Sedangkan Ethan mencari pakaiannya. Setelah selesai ia membereskan kekacauan yang sudah istrinya ciptakan. Memasukan pecahan parfum itu ke tempat sampah.


Setelahnya Ethan menghampiri Zoya, duduk di samping wanita itu. "Kamu belum makan malam. Mau saya masakin sesuatu?" tanya Ethan. Tidak berniat menanyakan apa masalah wanita itu karena ia yakin Zoya tidak akan mau mengatakannya pada Ethan.


"Aku nggak laper!"


Ethan meraih tangan wanita itu, tapi Zoya dengan cepat menepisnya. "Aku nggak mau. Jangan maksa!"


"Aku ngantuk, mau tidur."


Zoya beranjak, merebahkam tubuhnya dengan posisi membelakangi pria itu. Sementara Ethan mendesah. Ia berjalan dan mematikan sakelar lampu. Kemudian juga membaringkan diri di samping Zoya.


Dengan sangat sabar Ethan mengalah. Ethan tidak ingin usahanya selama ini sia sia jika sekarang bersikap kasar dan pemaksa pada Zoya. Ethan memilih melakukan hal yang sama, tidur dengan posisi meunggungi Zoya.


Merasa pergerakan di belakangnya berhenti, Zoya akhirnya menoleh. Menatap punggung suaminya. Wanita itu mendesah dan merasa bersalah. Padahal Ethan tidak melakukan hal apapun, tapi Zoya melampiaskan rasa marahnya pada pria itu.


Zoya berbalik, menggeser tubuhnya pada Ethan dan memeluk pria itu. "Maaf," lirihnya yang membuat Ethan membuka matanya yang semula terpejam. Ethan menggenggam tangan Zoya yang melingkar di perutnya. Tak lama ia juga berbalik dan memeluk wanita itu.


Zoya menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. Ethan mengerti, dan ia tidak marah. Yang dilakukannya hanya mendaratkan kecupan di puncak kepala Zoya, kemudian menenangkam wanita itu di dalam pelukannya. Mengantarkan wanita itu agar memasuki alam mimpi yang indah.


**


Fahry yang berada di vila lain menatap anak dan istrinya yang sudah terlelap sejak satu jam yang lalu. Sedangkan dirinya masih terjaga dan memikirkan apa yang ia bicarakan di telpon dengan Selin tadi. Bahkan Fahry mendengar suara Zoya


Entahlah apa yang harus ia lakukan. Sedangkan pulang dan menyudahi liburan tidak mungkin untuk ia lakukan.


Pada keesokan harinya, seusai sarapan Zoya berniat jalan-jalan sendiri. Ia masih belum berbicara pada Selin, dan beruntung Ethan tidak marah padanya karena sikap Zoya kemarin.


Selin yang diam-diam mengikuti Zoya berjalan-jalan tampak memperhatikan untuk memastikan jika Zoya tidak sampai bertemu dengan Fahry atau semuanya akan berubah sangat kacau nanti.


Zoya mengedarkan pandangan, menikmati suasana pagi yang menyejukan. Sampai sebuah bola menggelinding dan berhenti tepat di kaki Zoya.


Pandangan Zoya mengarah pada bola tersebut, lantas ia mengambilnya. Bertanya tanya dari mana asal bola sampai seorang gadis kecil berjalan menghampirinya.


"Itu bola Anye, Tante."


"Anye?"


Zoya berjongkok untuk memastikan jika anak kecil itu adalah Anye yang ia kenal. "Hey, Anye. Ini Tante, masih ingat?" tanya Zoya setelah memastikan jika ternyata gadis kecil ifmtu adalah Anye, putri dari Anggun.


"Tante yang tidak sengaja kamu tumpahi minuman di acara makan malam staf." tambah Zoya agar Anye merasa familiar


"Tante Zoya?" gadis kecil itu rupanya masih ingat. Zoya tersenyum bangga.


"Kamu sedang liburan sama Mama Anggun?" tanya Zoya, kepala gadis kecil itu mengangguk lucu.


"Sama Ayah juga."


"Ayah?"


Lagi. Anye menganggukan kepala.


"Anyee."


"Itu Ayah Anye."


Anye menoleh ke belakang di mana sang ayah sudah pasti akan mencarinya. Sementara Zoya mengkuti arah tatapan Anye.


"Enggak boleh." Selin hendak melangkah.untuk menghentikan hal itu terjadi. Tapi bahunya ditahan oleh seseorang.


"Jangan cegah Zoya untuk mengetahui sesuatu hal yang seharusnya dia ketahui."


"Tapi, Pak. Ini akan berdampak besar bagi kehidupan dan karier Zoya."


"Kapan pun itu, artinya tetap akan terjadi. Biarkan!"


"Biar Zoya mengetahui semuamya!"


Dengan berat hati, Selin menahan langkahnya. Mengikuti apa kata Ethan meski ia tau akan bagaimana dampaknya nanti.


"Fahry." lirih Zoya dengan suara bergetar. Sedangkan Fahry mendadak berhenti melangkah saat wanita tersebut adalah wanita yang sangat ia kenal.


"Zoya." lirihnya, terkejut.


"Tante Zoya, ini AyahNya Anya."


"Ayah Fahry."

__ADS_1


TBC


Silent reader gak ada niatan buat nongol?


__ADS_2