
Mobil hitam yang dikemudikan Ethan melaju di bawah langit cerah Ibu Kota menjelang jam sepuluh pagi. Zoya tampak duduk dengan tenang, Ethan yang fokus menyetir sesekali mengalihkan perhatian pada wanita tersebut yang duduk di sampingnya. Zoya terlihat hanya diam dengan pandangan lurus ke depan.
"Kamu ngapain mau ke perusahaan Grandfa?" pertanyaan Zoya membuat Ethan menoleh pada wanita itu, tepat sekali. Ethan sudah menunggu pertanyaan tersebut dari Zoya sejak tadi.
"Tugas." Ethan menyahut singkat, mencoba acuh pada Zoya.
"Oh."
Kerutan di dahi Ethan mendadak tercipta saat sikap acuhnya dibalas telak oleh wanita itu. "Oh?" ulangnya dengan intonasi sedikit tinggi dan berhasil membuat Zoya menoleh heran. Zoya kira sangat wajar jika Ethan mendapat tugas apapun dari ayah atau kedua kakeknya yang memiliki perusahaan besar.
"Oh?" ulang Ethan lagi.
"Apaan, sih, dulu juga kamu cuma bilang 'oh' pas aku kasih tau kamu kalau aku ini aktris terkenal." kesal Zoya. Ethan menghela napas, ia seringkali bersikap berlebihan jika berhadapan dengan wanita itu.
Zoya juga ikut menghela napas agar kesabarannya tidak habis menghadapi suaminya. "Emang kamu dapet tugas apa?" sepertinya Zoya harus bertanya dan bersikap antusias agar suaminya bahagia.
"Ada sedikit masalah di perusahaan cabang luar negri. Saya dan ayah yang biasa mengurusnya."
Zoya tersenyum mendengarnya. "Luar negri? Tepatnya di mana?"
"Amerika."
"Berapa hari?"
"Bisa kurang, atau lebih dari empat hari." Ethan menyahut dengan pandangan yang tetap fokus ke depan.
"Kenapa nggak satu atau dua minggu aja, sih?"
Ethan membulatkan mata mendengar hal itu, menatap kesal istrinya yang berkata macam-macam dan terang-terangan di hadapannya. "Kalau saya kangen kamu, bagimana?"
Zoya menoleh, kemudian tersenyum pada Ethan yang memfokuskan pandangan ke depan. "Oww," Zoya menepuk pelan lengan suaminya dengan gaya alay, seolah tersipu dengan apa yang tadi Ethan katakan.
Ethan hanya menggeleng pelan, kemudian kembali fokus menyetir sampai sesuatu hal mengganggu pikirannya. Ia menoleh pada Zoya, wanita itu tampak santai meski Ethan akan meninggalkannya ke tempat yang jauh.
"Zoy," panggil Ethan setelah menghentikan mobil tepat ketika lampu lalu lintas berwarna merah.
"Hmm." Zoya menyahut malas.
"Saya akan pergi jauh. Amerika dan Indonesia itu tidaklah dekat, kamu tau itu bukan?"
"Tapi kita masih ada di langit yang sama, 'kan?" Zoya berkata serius, sejenak membuat Ethan mematung mengingat apa yang wanita itu katakan. Rasanya cukup menggetarkan perasaan Ethan. Tak lama, tanpa sadar Ethan menganggukan kepala.
"Jalan!" beritahu Zoya yang tidak sadar jika Ethan larut dalam kalimat yang disampaikannya barusan.
"Hmm?"
"Lampu ijo, Ethan." Zoya memperjelas dengan senyuman.
"Oh." kesadaran Ethan terkumpul sempurna, ia mulai melajukan mobil untuk melanjutkan perjalanan, mengantarkan wanita itu ke tempatnya akan syuting iklan. Karena tempatnya searah dengan perusahaan Wary, Ethan mengajak Zoya untuk berangkat bersama alih-alih membiarkan sang istri dijemput oleh manejernya.
Memikirkannya kembali tetap membuat Ethan tidak tenang. Bagaimana mungkin wanita itu sangat terlihat baik-baik saja saat Ethan akan meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama. Atau mungkin wanita itu justru senang karena Ethan pergi dan tidak akan mengganggunya dalam waktu beberapa hari?
"Kamu tidak sedih saya pergi?" topik pembicaraan Ethan masih seputar tugas ke luar negri yang akan dilaksanakannya. Zoya menoleh kesal, ia sudah mulai bosan, Ethan sangatlah berlebihan.
"Kamu bakal balik lagi ke Indonesi, 'kan Than?"
"Hmm."
"Yaudah, ngapain aku harus sedih? Aku juga bisa ngelakuin hal apapun tanpa kamu, aku gak butuh bantuan kamu buat ngelakuin sesuatu. Okey?"
"Aku bisa makan sendiri, berangkat ke tempat kerja sendiri dan–"
"Termasuk bisa muasin diri kamu sendiri?" pertanyaan pria itu yang menyela dengan cepat menjeda perkataan Zoya. Wanita itu menatap Ethan dengan tatapan flat. Ia semakin malas saat pembicaraan Ethan menjurus ke sana.
Melihat perubahan ekspresi wanita itu membuat Ethan tersenyum, ia menggapai tangan Zoya. "Udah, ah males!" sahut Zoya tanpa menepis genggaman tangan Ethan.
"Ayolah, Zoya." Zoya menatap pria itu malas. "Kita bukan cuma baru satu atau dua kali ngelakuin hal itu."
"Harus banget dipublikasi, yah?" kesal Zoya, Ethan tersenyum, mengecup punggung tangan wanita itu. "Bunda tau nggak, sih. kalau anaknya yang maha kalem ini ternyata Don Juan?"
"Zoya, saya hanya meniduri kamu, cuma kamu wanita satu-satunya. Saya berbeda dengan Don Juan!" Ethan menolak keras apa yang sang istri katakan.
"Terserah!" Zoya tidak mau tau. Ethan lagi-lagi hanya bisa tersenyum, memfokuskan pandangan ke depan dan menyetir dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain masih menggenggam tangan Zoya.
"Zoya."
"Apa lagi, sih?"
"Kamu sudah mencintai saya?"
"Belum!" menyahut spontan tanpa pertimbangan.
"Lalu, kapan kamu akan mulai mencintai saya?" tanya Ethan dengan penasaran. "Bagaimana kalau setelah kita bertemu lagi malam nanti?"
"Enggak tau, ah!"
"Kenapa saya perhatikan akhir-akhir kamu sering marah-marah?"
"Enggak tau. Kalau ngeliat kamu bawaannya kesel terus," Zoya menatap kesal suaminya. Ethan menyunggingkan satu sudut bibirnya.
"Berarti saya harus pergi jauh, biar kamu tau bagaimana rasanya merindukan saya."
"Coba aja!"
**
Setelah mengantarkan Zoya, Ethan melajukan mobilnya menuju perusahaan Warry, begitu memarkirkan mobil. Langkah lebar Ethan mengantarkan pria itu memasuki perusahaaan. Sapaan para karyawan menyambut kedatangan pria itu, namun Ethan adalah Ethan. Selain tatapan datar yang bisa ia berikan sebagai balasan sapaan. Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi.
Aryo–mantan manejer Agyan saat berada di dunia entertaint dan sekarang menjadi skretaris setia Agyan itu menyambut kedatangan Ethan. Menuntunnya menuju ruangan Agyan.
__ADS_1
Agyan memang mengelola perusahaan mertuanya, mengingat Freya adalah anak tunggal, dan tidak ada yang menjalankan perusahaan keluarga Maheswary.
Sedangkan Zeinn Group di kelola oleh Andreas, Rayn dan juga Rival, putra dari Rayn Afgara Zeinn dan Mark Devina Adelia.
"Ayah dan Grandfa sudah ada di dalam?" tanya Ethan pada Aryo begitu mereka tiba di lantai di mana ruangan Agyan berada.
"Benar Pak Ethan, mereka berdua sudah menunggu di dalam."
Ethan menganggukan kepala, lantas mengancingkan jasnya ketika Aryo sudah membuka pintu ruangan. Ethan melangkah masuk, terlihat dua orang yang menunggunya sudah duduk pada sofa di sudut ruangan, menyambut kedatangannya dengan senyuman.
**
"Tugas ke luar negri?" tanya Selin saat Zoya menyampaikan jika Ethan akan pergi ke Amerika untuk urusan bisnis atas perintah Kakeknya.
"Iya."
"Berapa hari?"
"Katanya kurang lebih empat hari." Zoya menyahut santai kemudian melegut susu kemasan rasa kacang ijo yang tersedia di atas meja tempatnya beristirahat.
Selin mengernyitkan dahi. "Zoy itu susu kacang ijo!" Selin mengingatkan, ia tau pasti Zoya sangat tidak menyukai makanan ataupun miniman yang terbuat dari kacang ijo.
"Iya. Tau." menyahut sambil terus menikmati susu tersebut.
"Kamu–"
"Enggak papa, kok. Aku suka, enak."
"Kamu nggak suka kacang ijo!"
"Tapi sekarang suka."
Selin terdiam, kemudian hanya menganggukan kepala. Menatap Zoya dengan tatapan tak terbaca.
"Gimana hubungan kamu sama Pak Ethan?" ia akhirnya bertanya mengenai hubungan suami istri itu. Melupakan pembahasan mengenai susu kacang ijo.
"Baik-baik aja."
"Mbak liat Pak Ethan baik banget sama kamu. Kenapa kamu nggak nyoba buka hati kamu aja buat dia?" usulnya, toh sudah tidak ada harapan apapun lagi antara Zoya dengan Fahry. Justru lebih bagus jika bahkan mereka tidak perlu meski untuk sekedar bertemu.
"Lagi nyoba,"
Zoya berhenti meminum susu kacang ijonya, ia hanya menggigit sedotan tersebut dengan mata yang tampak menerawang. "Enggak mudah, sih, Ethan baik. Tapi aku yang nggak ngerti sama perasaan aku."
"Enggak ngerti kenapa?"
"Enggak ngerti aja."
Selin mengangguk-anggukan kepala, tak lagi banyak bertanya. Ia tau bagaimana Zoya dan cara wanita itu dalam menilai pria.
"Oh, yah, Zoy. Menurut Mbak, mulai sekarang Mbak nggak perlu tinggal sama kalian."
"Kenapa?"
Zoya mengernyit, selama ini ia banyak menghabiskan waktu berdua dengan Ethan sekali pun ada Selin. Karena Ethan bilang ia tidak terganggu dengan kehadiran manajer Zoya tersebut.
"Mbak Selin nggak ganggu kok, lagian Mbak juga jarang nginep di rumah kami."
"Mbak 'kan sibuk."
Zoya terdiam, tak lama ia mengangguk. Barangkali Selin juga membutuhkan kenyamanan lain.
"Oh, yah, Produser yang nunjuk kamu jadi bintang iklan di sini ngasih hadiah sereal banyak banget." beritahu Selin begitu mengingat jika pagi tadi salah satu kru memberitahunya mengenai hal itu.
"Sereal? Balikin aja, ah. Aku nggak mau,"
"Stok sereal kamu masih banyak?" tanya Selin, mengingat jika Ethan menyediakan banyak sekali sereal di lemari dapur rumahnya untuk wanita itu setelah Selin memberitahunya jika Zoya pemuja sereal.
"Aku nggak suka sereal akhir-akhir ini."
"Zoya, kamu suka banget sereal, loh. Sereal tuh makanan wajib buat kamu."
"Iya tapi sekarang udah nggak lagi." Zoya menyahut acuh. Membuat Selin tidak habis pikir.
Sedangkan Zoya terdiam, mengingat jika akhir-akhir ini justru Ethan yang sering menghabiskan sereal miliknya.
**
Zoya cukup terkejut saat Freya menjemputnya untuk pulang ke rumah wanita itu. Freya bilang Ethan yang memintanya karena mereka akan menginap di rumah orang tua pria itu.
Kedatangan Freya yang sangat ramah dan tampak menyayangi Zoya cukup menarik perhatian, berikut beberapa staf gedung tempat Zoya memiliki peroject kerja sama di sana.
"Aku udah sering liat orang pamer keakraban sama pacarnya. Tapi baru kali ini liat orang pamer keakraban sama mama mertuanya."
"Zoya Hardiswara beruntung banget nikah sama Zeinn Ethan, punya mertua sebaik Bu Freya sama Pak Agyan yang dua-duanya anak pengusaha besar."
"Iya, bener."
Tiba-tiba seseorang datang di antara mereka.
"Jangan salah, bukan cuma Zoya aja yang beruntung dapetin Zeinn Ethan. Tapi Zeinn Ethan juga beruntung dapetin Zoya Hardiswara." sahutnya, menengahi.
"Mereka sama-sama beruntung."
"Bener banget."
"Ethan bilang kamu udah selesai, bener? Bunda nggak ganggu, 'kan?" tanya Freya yang tengah fokus menyetir.
"Enggak Bunda, Zoya udah beres kok."
__ADS_1
Freya tersenyum. "Bagus kalau gitu."
"Kita mau langsung pulang atau belanja dulu?"
"Bunda maunya gimana? Zoya, sih, ikut aja."
"Enggak cape?" Freya bertanya khawatir. Ia tau bagaimana lelahnya menekuni dunia seperti Zoya, Freya pernah merasakannya. Terutama menantunya adalah aktris, tidak seperti Freya yang hanya seorang model.
Begitu kesepakatan mereka dapatkan, akhirnya Freya mengajak menantunya mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan setelah Freya menelpon kepala pengawal di rumah Wary agar mengirimkan beberapa bodyguard untuk mereka.
Kedatangan Zoya Hardiswara dengan mertuanya yang dikawal empat bodyguard spontan membuat keramaian di dalam pusat perbelanjaan. Para Bodyguard berusaha menjaga majikannya agar orang orang tidak mendeka dan mengganggu kenyamanan Zoya dengan Freya.
Ramai-ramai orang mengeluarkan ponsel, merekam dan mengambil banyak banyak potret keakraban aktris cantik itu dengan mertuanya dan berburu barang-barang mewah.
Zoya mengernyitkan dahi, merasa kepalanya pusing melihat lautan manusia. Sampai setelah ia dengan Freya keluar dari mall. Zoya baru bisa bernapas lega. Meski pusing di kepalanya belum mereda.
"Bagaimana? Menyenangkan bukan?" Freya terlihat senang. Tentu saja membuat Zoya juga senang melihatnya, sampai dari kejauhan, seseorang yang tengah berlari terburu-buru menabrak Zoya, beruntung Freya dapat meraih tangan menantunya dan wanita itu tidak terjatuh.
"Zoy, kamu nggak papa?"
Zoya memegangi kepalanya, perlahan pandangannya tampak kabur. Sampai kemudian ia tidak dapat melihat apa apa. Samar samar ia mendengar Freya memanggil namanya berulang kali, juga seseorang yang meminta maaf, entahlah apa maksudnya, Zoya tidak mendengarnya secara jelas.
Begitu terbangun, Zoya berada di brankar rumah sakit. Ia bangkit, memegangi kepalanya. Pening yang sebelumnya ia rasakan tampak jauh lebih baik.
"Ibu Zoya, Ibu sudah siuman?" seorang Dokter menghampiri Zoya.
"Iya Dok."
"Syukurlah, Ibu hanya pingsan. Dan, begini Bu–"
"Harusnya kamu berhati-hati, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan menatu saya?"
Zoya mengernyit, tau pasti jika itu adalah suara Freya. Ia buru-buru beranjak dari brankar. "Terimakasih, Dok."
"Ibu Zoya tunggu, hati-hati Bu!"
Dengan cepat Zoya sudah berlalu dari hadapan dokter. Dokter tersebut tampak bingung, kemudian hanya menggeleng pelan.
Sampai seorang suster memanggilnya jika ia harus memeriksa pasien lain.
Zoya menghampiri Freya yang tengah memarahi orang yang sudah menabraknya di depan pusat perbelanjaan beberapa waktu lalu.
"Masnya nggak liat kalau ada orang, yah?"
"Bunda, udah! Zoya nggak papa, kok" Zoya berusaha melerai sang Bunda. Sedangkan para bodyguard hanya berdiri di belakang Freya, membuat nyali pria yang tidak sengaja menabrak Zoya menciut dan hanya menundukan kepala.
"Maaf, Bu."
"Minta maaf sama menantu saya!" Freya emosi. Memangnya apa yang nanti akan ia katakan pada Ethan jika sampai sesuatu hal terjadi pada Zoya?
"Maaf Mbak." pria itu tampak menyesali kecerobohannya.
"Iya, Mas nggak papa."
"Lain kali hati-hati, Mas!" sahut Freya, mengingatkan.
"Iya Bu."
"Sekali lagi maaf. Saya permisi,"
Zoya mengangguk, sedangkan napas Freya tampak berantakan. "Zoya nggak papa kok, Bunda. Cuma ketabrak gitu doang,"
"Masalahnya kamu pingsan, dan Bunda nggak berani hubungin Ethan." kesal Freya, Zoya hanya tersenyum melihat kekhawatiran mama mertuanya.
Beberapa detik selanjutnya tatapan Freya tampak cemas melihat sang menantu. "Tapi kamu beneran nggak apa-apa, 'kan?" Meraih tangan Zoya dan mengusapnya. Zoya mengangguk. "Iya, Zoya nggak kenapa-napa Bunda. Bunda nggak perlu khawatir."
Freya bernapas lega, menggandeng Zoya untuk berjalan. "Maafin Bunda, yah, harusnya Bunda nggak usah ngajakin kamu belanja."
"Ini bukan salah Bunda."
"Makasih udah khawatir dan perhatian sama Zoya." ungkap Zoya dengan tulus, Freya menoleh, kemudian tersenyum dan mengangguk.
"Sama-sama Sayang."
Keduanya berjalan dikawal empat orang bodyguard untuk keluar dari gedung Rumah Sakit.
Sedangkan di tempat lain. Ethan tersenyum melihat sebuah postingan pada salah satu akun penulis artikel di mana keakraban Zoya dengan Freya yang sedang menjadi pembicaraan hangat saat ini.
Agyan yang melihat putranya tersenyum lantas mengintip layar ponsel sang putra. Ia mengangguk mengerti, Ethan yang sadar akan tindakan sang ayah segera mematikan ponsel dan memasukannya pada saku di balik jasnya.
"Kamu sayang banget sama Zoya?" tanya Agyan, rundingan mereka mengenai perjalanan bisnis Agyan dengan Ethan ke Amerika sudah selesai, keduanya akan berangkat besok pagi.
"Biasa aja." Ethan menyahut asal.
Agyan mengusap dagu. Alisnya bertaut. "Zoya, tuh, cantik sekali. Ayah juga masih sangat muda, 'kan Than?" sahut Agyan yang membuat Ethan mengerutkan kening tidak mengert.
"Boleh, lah, kalau Ayah ngedipin istri kamu sesekali." goda Agyan yang membuat Ethan tampak kesal.
"Ayah gak usah macem-macemlah. Stamina Ayah kalau tanding basket sama Ethan aja udah kalah."
"Oh, yah, tapi kayaknya vibes Ayah lebih dari kamu,"
"Tapi Zoya sukanya sama Ethan!" pria itu tidak mau kalah.
"Tau dari mana kamu?" pancing Agyan. Kali ini Ethan terdiam, bahkan saat mengantarkan wanita itu pagi tadi jelas-jelas Zoya mengatakan jika dirinya belum menyukai Ethan.
"Ya, pokoknya Zoya milik Ethan. Ayah udah punya Bunda, mau Ethan aduin ke Bunda?" ancamnya yang membuat sang ayah justru tertawa dan mendaratkan tepukan di bahunya.
"Makannya, kalau cinta jujur aja!"
__ADS_1
"So-soan bilang 'biasa aja'!" ledek Agyan sambil melenggang keluar dari ruangannya, meninggalkan Ethan yang mengusap kening karena sudah tertangkap basah sang ayah.
TBC