Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Tawaran Dari Orang Terdekat


__ADS_3

Hampir setengah jam mata Freya terbuka, tapi ia masih saja terdiam dalam dekapan Agyan. Masih memikirkan cara bagaimana mengatakan pada suaminya untuk menghadiri acara peragaan busana.


Freya terkesiap saat tiba-tiba saja Agyan mengusap perutnya, rupanya suaminya itu sudah bangun. "Udah bangun?" tanyanya saat Freya mengusap tangan Agyan yang berada di permukaan perutnya.


"Udah lama."


Sesaat hening, sampai Agyan mengeratkan pelukannya. Hari masihlah sangat pagi, masih banyak waktu untuk berdiam diri di atas tempat tidur dengan nyaman.


"Jangan ngelamun," Agyan berbisik tepat di telinga kiri Freya, membuat gadis itu meremang dan mengusap lehernya, sedangkan Agyan hanya tertawa, kemudian membalikan tubuh Freya agar berhadapan dengannya.


Perlahan mendekatkan wajahnya dan mengangkat dagu Freya, menyatukan bibir mereka. Hanya sebentar, karena Agyan melepasnya saat tak mendapat balasan dari istrinya.


"Ada sesuatu yang buat kamu kepikiran?" tanya Agyan yang seolah peka, ia mengusap permukaan bibir istrinya.


Ayolah, ia sudah hampir enam tahun mengenal Freya, dan ia sudah hafal bagaimana tingkah gadis itu saat sedang marah, cemburu atau sedang memikirkan sesuatu.


"Ada."


"Apa?"


"Yang semalem,"


Agyan mengerutkan keningnya, sedikit menjauhkan tubuhnya dari Freya dan menguraikan pelukannya.


"Aku ada hal penting yang mau di omongin sama kamu—"


"—Tapi kamu janji jangan marah," gadis itu ragu-ragu.


Agyan terdiam, perasaannya mulai tidak enak dengan kalimat terakhir Freya. Ia mengamati wajah istrinya yang tampak memohon. Lama, sampai akhirnya Agyan mengangguk.


"Kemaren aku dapet telpon dari Mbak Tari Amaliya. Dia menejer artis di BS Entertaiment—" Freya menggantung kalimatnya, memperhatikan raut wajah Agyan yang tidak berubah.


"Dia nawarin aku buat balik jadi model."


Kali ini Freya menatap Agyan dengan ragu. Suaminya itu hanya mengguyur rambutnya ke belakang dan beranjak dari tempat tidur.


"Gyan—"


"Kita udah bahas ini jauh sebelum kita nikah!" sahut singkat Agyan yang artinya, final. Freya tidak akan kembali pada dunianya.


"Tapi seenggaknya kamu kasih izin buat aku hadir di acara peragaan busana tahunan, yah, Gyan."


Freya juga beranjak dan berdiri di hadapan Agyan yang sedang membuka satu persatu kancing piama yanh dikenakannya. "Acaranya minggu depan," Freya belum menyerah untuk dapat izin dari Agyan.


"ENGGAK!" Agyan beranjak.


"Tapi aku dibayar mahal untuk itu, Gyan."


"Uangnya bisa aku pake buat kebutuhan rumah tangga kita.


Agyan seketika menghentikan langkahnya, ia urung melanjutkan langkah menuju kamar mandi dan balik menatap Freya setelah mendengar kalimat istrinya.


"Kamu cape, hidup susah sama aku?"


"Enggak gitu,"


"Apa!"


Freya mendekat, maksudnya sama sekali bukan untuk menyinggung perasaan Agyan. Ia hanya ingin membantu suaminya itu agar tidak memikirkan ini semua sendirian. Freya hanya ingin berguna bagi Agyan.

__ADS_1


"Aku cuma mau bantu kamu, demi kita, Gyan."


"Aku gak butuh bantuan kamu!"


"Gyan!"


"Kamu nggak perlu kerja apapun, Freya. Aku bisa penuhin apapun kebutuhan kamu." Agyan masih bisa menahan emosinya dan berbicara baik-baik kepada Freya.


"Aku cuma mau bantu, Gyan. Aku tau aku udah janji sama kamu buat ninggalin dunia model, tapi kali ini aku cuma—"


"Jangan buat aku marah, Frey!"


Freya terdiam, menatap Agyan dengan lekat. Freya tau banyak beban dalam kepala suaminya. Bahkan di balik kebersamaan mereka terukir cerita pilu jika Agyan dan dirinya harus menjauh dari keluarga mereka.


Freya tau selama ini Agyan terbebani dengan hal itu. Meski Agyan tidak pernah mengeluhkannya sedikitpun, meski Agyan tidak pernah menunjukan keputusasaannya di depan Freya. Tapi Freya tau.


*


*


Meja makan dalam rumah yang baru ditempati selama du minggu itu terasa sepi pagi ini. Tidak ada obrolan hangat dari sepasang suami istri seperti biasanya. Hanya suara denting peralatan makan yang sejak tadi terdengar.


Agyan sudah dengan pakaian rapihnya, siap kembali mendatangi perusahaan yang belum di kunjunginya untuk melamar kerja. Sementara Freya sama seperti biasanya, dress rumahan selutut dengan rambut yang dibiarkan tergerai.


Freya beranjak dari meja makan, ia berjalan ke arah pantry untuk membuat susu hamil yang dua hari lalu Agyan belikan untuknya. Sementara Agyan hanya memperhatikannya, ia masih enggan berbicara dengan Freya, dan tampaknya Freya juga merasa kesal padanya.


Agyan membiarkan pagi mereka tidak diisi dengan obrolan ringan setelah perdebatan di kamar tadi. Biar dulu seperti ini, ia hanya sedang meredakan emosi.


"Dia pikir gue bakal minta maaf duluan? Enak aja!" Freya menggerutu sendiri, kemudian ia beranjak melewati Agyan dan duduk di sofa ruang tv, menyalakan tv dan asik sendiri.


Agyan menyudahi makannya, kemudian melegut segelas air putih, ia beranjak menghampiri Freya sambil merapihkan dasi yang hari ini dipasang olehnya sendiri.


"Aku berangkat," sahutnya, sedikit membungkuk dan mengecup kening Freya dengan singkat. "Hati-hati." Agyan mengangguk, kemudian berlalu keluar dari rumah.


"Maafin aku, Gyan." Freya tau Agyan tidak akan memberinya izin. Tapi ia tidak pernah mengira jika akan bertengkar dengan Agyan dan berakhir dengan perang dingin.


*


*


Hari sudah sangat siang, terik matahari dengan bebas membakar kulit siapa saja yang berada di bawahnya.


Seorang pria terlihat hanya diam di depan sebuah perusahaan besar, sama seperti hari-hari sebelumnya saat Agyan melamar pekerjaan. Ia kembali mendapat penolakan, dengan alasan yang sama. Tidak ada lowongan pekerjaan yang cocok dengannya.


Agyan mendesah, mengipaskan map yang dipegangnya ke arah wajahnya yang terasa panas. Ternyata begini sulitnya mencari pekerjaan di Jakarta.


"Gyan,"


Agyan menoleh saat melihat Gavin, ia tersenyum. "Gimana?" tanya Gavin yang membuat Agyan lagi-lagi hanya tersenyum.


"Ditalok lagi." ungkapnya, Gavin menatapnya iba. Menepuk bahu Agyan menguatkan, kemudian mengajak pria itu untuk ikut makan dengannya di sebuah restoran dekat perusahaan tempat Agyan tadi berdiri.


"Biasanya muka loe gak murung-murung amat kaya gitu." tegur Gavin sambil mengaduk makanannya.


Agyan yang sedang mengunyah makanan, hanya terdiam dengan gerakan mulut memelan. Tiba-tiba saja ia mengingat Freya, biasanya jam-jam seperti ini, istrinya itu mengiriminya pesan dan mengingatkan makan. Tapi karena perdebatan tadi pagi, bahkan Agyan tidak mendapat satupun pesan dari Freya


"Kalian berantem?" Gavin bagai sudah bisa menebak. Agyan mengangguk samar, dan sudah. Gavin tidak ingin ikut campur.


"Dia izin ke gue buat balik jadi model," tiba-tiba saja Agyan bercerita. Gavin memperhatikan, jika Agyan bercerita tanpa ia paksa, maka Gavin akan bebas mengutarakan pendapatnya.

__ADS_1


"Loe kasih izin?"


"Enggak."


Gavin mengangguk-anggukan kepalanya. Hal yang sudah ia duga. Agyan tidak akan membiarkan wajah cantik istrinya menjadi konsumsi publik.


"Dia lagi hamil, gue gak mau dia kecapean." ini alasan yang sudah Gavin tebak.


"Dan lagipula, gue udah pernah bahas ini sebelum kita nikah. Freya gak akan ada di dunia modelling."


"Dia diundang ke acara peragaan busana minggu depan?"


"Loe tau dari mana?"


"Cherry. Dia juga diundang,"


Agyan terdiam dengan kepala yang beberapa kali tampak mengangguk.


"Gue tau Freya, gue juga ngerti kenapa sampe kalian berdua debat."


Bagaimana pun, Gavin tau keadaan ekonomi Agyan dengan Freya saat ini. Terlebih, Agyan belum juga mendapat pekerjaan.


"Loe coba lebih ngertiin dia, jangan buat dia tertekan. Biarin aja dia ngilangin sedikit stres dengan hadir di acara yang dia pengen."


"Gue tau itu semua hak loe, tapi seenggaknya, loe kasih Freya sedikit ruang buat ekpresiin suasana hatinya."


"Maksud loe Freya nggak bahagia sama gue?" sinis Agyan. Gavin tertawa menanggapinya. "Bukan itu maksud gue, gue tau Freya cuma bahagia sama loe. Tapi gini deh, loe pikir Freya nggak bosen tiap hari cuma sama loe doang?" sahut logis Gavin.


Agyan mengangguk-anggukan kepala. Gavin ada benarnya, selama ini Freya terlalu sering berdiam diri di rumah dan menghabiskan waktu hanya dengannya, tanpa ada orang lain yang masuk dalam lingkungan mereka.


Barangkali Freya kesepian dan bosan. Tapi untuk gadis itu berjalan di atas catwalk dengan sepatu hak tingginya, Agyan tidak bisa memberinya izin, ia khawatir dengan keselamatan Freya dan calon anak mereka.


"Gyan,"


Agyan menatap Gavin saat panggilan pria itu membuyarkan lamunannya tentang Freya.


"Kalo loe belum juga dapet kerjaan, loe bisa kerja di tempat gue. Terserah loe pengen di sirkuit atau toko hape gue, loe bisa pilih sendiri." sahutnya. Meski sudah beberapa kali menawarkan hal ini pada Agyan dan selalu mendapat penolakan, tapi Gavin tidak menyerah.


"Gue tau loe gak mungkin nerima tawaran gue karena gue keponakan mertua loe, tapi loe harus mikirin Freya."


"Loe harus punya penghasilan buat nafkahin keluarga kecil loe, Gyan."


"Loe gak bisa egois dengan nolak berbagai tawaran dari orang-orang terdekat loe."


Agyan hanya diam sepanjang Gavin mengungkapkan banyak kata, sampai kemudian ia bersuara. "Gimana pendapat bokap sama mertua gue nanti? Mereka bakal ngerendahin gue, Vin."


"Yang pasti, loe kerja keras. Bukan dapetin uang secara cuma-cuma."


Kali ini Agyan terdiam cukup lama. Mempertimbangkan pendapat Gavin yang sesungguhnya juga berada di kepalanya. Tak perduli atas bantuan siapa, yang pasti ia sudah bekerja keras untuk menafkahi keluarganya dengan usahanya sendiri.


Ia sudah mandiri dengan berdiri di atas kakinya sendiri tanpa meminta belas kasih dari orangtuanya atau pun orangtua Freya.


"Gimana, Gyan?"


"Kalo sampe sore ini gue gak dapet kerjaan, gue bakal kerja di tempat loe."


Gavin tersenyum senang mendengar keputusan Agyan. "Harusnya dari kemaren-kemaren aja." sahutnya setelah beberapa saat.


Agyan hanya menyunggingkan senyum tipis, ia akan kembali mencari pekerjaan setelah ini. Jika tidak membuahkan hasil, maka ia akan bekerja di tempat Gavin. Tidak perduli akan mendapat cemoohan. Gavin benar, ia tidak bisa egois, karena ada dua nyawa yang harus dinafkahinya.

__ADS_1


TBC


Kalo kalian nggak mau konfliknya tentang badai ekonomi. Terus mau apa? Badai pelakor? 😂


__ADS_2