Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Runtuh. Lagi.


__ADS_3

Patah.


Bahkan lebih dari itu kembali Zoya rasakan saat inseminasi buatan yang Naina lakukan kembali gagal. Bagaimana rasanya menanti dalam waktu yang cukup lama dan berakhir dengan sia-sia?


Remuk.


Tidak, bahkan lebih dari itu Zoya rasakan. Tidak ada harapan lagi, yah, setidaknya hal itu yang ia rasakan saat ini.


Tiga hari sudah Zoya menghabiskan waktunya di dalam kamar. Tidak keluar barang selangkahpun, membuat Naina dan Ethan tidak tenang tentu saja. Keduanya cukup paham, jika Zoya sudah berusaha kuat selama ini. Wanita itu bahkan melakukannya berulang-ulang. Jatuh. Bangkit. Jatuh. Bangkit. Jatuh. Bangkit dan jatuh lagi. Pasti sangat melelahkan.


Diam-diam Naina merasa bersalah sekalipun kegagalan itu terjadi bukan atas keinginannya. Hanya saja ia malu pada Ethan atas perdebatan yang terjadi di antara mereka beberapa hari yang lalu.


"Kenapa memangnya kalau saya kenapa- napa?"


"Pak Ethan takut?"


"Pak Ethan takut kalau keadaan saya memburuk dan hasil inseminasinya gagal sehingga saya tidak biaa mengandung anak Pak Ethan. Begitu?"


Naina benar-benar malu mengingat hal itu. Mungkinkah Tuhan melakukannya karena Naina berkata sembarangan? Ah, entahlah.


***


"Sayang." Ethan memanggil tepat di telinga Zoya ketika wanita itu tengah tertidur. Perlahan mata wanita itu terbuka, ia menoleh pada sang suami. Melihat tatapan teduh suaminya, Zoya segera berbalik dan memeluk pria itu. Menenggelamkan wajahnya pada dada Ethan. Pria itu balas mendekap tubuh Zoya, erat.


"Kamu nggak kerja?" tanya Zoya, masih dalam dekapan Ethan. Ethan mengangguk.


"Lagi?" kali ini Zoya mendongak begitu dirasa jika sang suami menganggukan kepala, Zoya mempertemukan tatapan mereka. Kembali Ethan mengangguk. Sudah tiga hari pria itu tidak ke gedung agensi ketika Zoya memilih untuk mengurung diri.


Mungkin Ethan mengkhawatirkan keadaan istrinya. Takut Zoya berbuat hal-hal yang tidak wajar ketika Ethan meninggalkannya nanti. Takut istrinya kesepian dan membutuhkannya. Ethan takut jika wanita itu akan pergi jauh tanpa seizinnya.


"Bagaimana dengan jalan-jalan?" tawar Ethan setelah beberapa saat.


"Kamu udah beberapa hari nggak masuk kerja." Zoya mengingatkan suaminya, juga mengalihkan topik yang sang suami utarakan. Tapi Ethan tampak tidak perduli.


"Saya ingin jalan-jalan dengan kamu." justru pria itu kekeuh dengan tawarannya pertama kali pada Zoya. Zoya hanya diam, kembali menenggelamkan wajah di dada Ethan, Ethan juga kembali mendekap wanita itu. Tak lama ia menghela napas berat. Pasrah dengan tangan mengusap belakang kepala Zoya.


"Aku punya dosa apa, yah Than. Sampe-sampe Tuhan nggak mau kasih aku anak." sahut wanita itu dengan sendu. Ethan menggelengkan kepala.


"Sayang, jangan berbicara seperti itu." cegah Ethan, serius.


"Tuhan itu sebagaimana yang kita pikirkan, jangan berburuk sangka. Kita tetap harus berbaik sangka. Yah? Anggap semuanya ujian dan kita bisa melewati ini." panjang lebar Ethan, tak mau sampai istrinya berpikir macam-macam.


Zoya terdiam setelahnya, ia lebih memilih untuk memejamkan mata, hingga kemudian, di kepalanya terlintas wajah seorang anak kecil yang ia temui lebih dari seminggu yang lalu. Ada rindu menelusup hati Zoya.


Senyum tipis terukir di bibir wanita itu. Namun ia justru menenggelamkan wajahnya kian dalam di dada Ethan.


**


Naina setengah tak percaya saat melihat Zoya menuruni anak tangga. Ia senang tentu saja melihat wanita itu sekalipun Zoya tidak tampak benar-benar baik-baik saja.


"Mbak Zoya." tegur Naina, Zoya tersenyum tipis. Berjalan menapaki anak tanggga terakhir hingga berhadapan dengan Naina yang sedang menyapu lantai.


"Apa kabar Naina?" tanya Zoya. Mereka tinggal dalam satu rumah. Di bawah atap yang sama, rasanya aneh menanyakan hal tersebut. Namun begitu mengingat fakta jika keduanya tidak bertemu selamana beberapa hari ini, rasanya wajar hal itu dipertanyakan.


"Baik Mbak. Keadaan Mbak Zoya sendiri bagaimana?" Naina bertanya balik, membuat Zoya tersenyum simpul dan mengangkat bahu acuh tak acuh. "Tidak lebih baik." ia menyahut apa adanya setelah beberapa saat sambil melenggang menuju dapur. Naina mengekor di belakangnya, siap- siaga andai Zoya membutuhkan sesuatu hal atau butuh bantuannya.


"Mbak Zoya cari apa?" tanya Naina saat mendapati wanita itu tengah mengedarkan pandangan ke segala sudut dapur.

__ADS_1


Zoya menoleh, kemudian menggelengkan kepala. Setelahnya ia membuka salah satu pintu lemari yang paling atas dan mengambil sekardus sereal miliknya.


Awalnya Zoya ingin melanjutkan tidur di dada hangat Ethan. Namun perutnya justru lapar dan ia tidak ingin merepotkan Ethan, sehingga ia memilih untuk pergi ke dapur sendiri guna mencari makanan. Pun, ia juga sudah rindu keluar dari kamar setelah tiga hari mengurung diri.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Zoya sembari membuat semangkuk sereal untuknya, ia menoleh sebentar saat gadis itu menganggukan kepala.


Sesaat hening terjadi di antara keduanya. Naina hanya memerhatikan Zoya yang tengah menuangkan susu pada serealnya. "Mbak Zoya nggak kangen keluar?" Naina memberanikan diri untuk bertanya.


"Mm, sekedar berjalan-jalan?" sambung gadis itu. Setidaknya, Zoya harus melupakan kesedihannya sejenak dan melihat dunia luar. Agar wanita itu sadar jika kehidupannya tidak sepenuhnya hancur. Masih banyak harapan di depan saja.


"Jalan-jalan?" tanya Zoya memastikan jika pendengarannya tidak salah. Sekilas ia mengingat ajakan Ethan beberapa saat yang lalu.


"Menghirup udara segar di luar sana?" Naina menambahkan, Zoya terdiam tampak membuat pertimbangan. Hingga kepalanya menemukan sebuah tempat yang rasanya cocok untuk dikunjungi. Setidaknya, menghirup udara luar harus ia lakukan.


"Terimakasih Naina." ucap wanita itu sambil membawa semangkuk sereal yang telah ia buat. Naina menatap arah kepergian Zoya dengan alis bertaut. Terimakasih untuk apa?


"Terimakasih untuk inspirasinya." Zoya bagai bisa menebak pertanyaana batin gadis itu. Zoya tersenyum cerah setelahnya, melanjutkan langkah untuk kembali ke kamar. Sedangkan Naina menatapanya dengan senyuman, ia kemudian menggelengkan kepala melihat tingkah Zoya.


**


Zoya kembali ke kamar dengan semangkuk sereal yang ia inginkan, Ethan masih berbaring di atas tempat tidur sambil bermain ponsel. Pria itu mengangkat pandangan begitu istrinya masuk.


Ia baru akan beranjak dari posisinya bersamaan dengan Zoya yang mengarahkan tangan padanya. Membuat Ethan mematung di tempat.


"Jangan bergerak!" cegah Zoya. Ia berjalan dan menaruh mangkuk serealnya di atas meja di samping tempat tidur. Membiarkan Ethan terheran-heran dengan tingkah wanita itu. Karena setelah Zoya menyendokan sereal ke mulutnya, wanita itu naik ke atas tempat tidur.


Hal yang menakjubkana lagi yang wanita itu lakukan adalah ketika ia memeluk Ethan, tepat seperti beberapa saat lalu. Ia menenggelamkan wajah di dada Ethan, menghirup aroma tubuh pria itu dalam dalam.


"Kamu mau jalan-jalan?" tanya Zoya setelah mengurai pelukan Ethan menatap wanita itu tidak percaya tapi kemudian kepalanya mengangguk.


"Iya, saya ingin berjalan-jalan dengan kamu." sahutnya masih dengan raut bingung menatap Zoya.


"Aku mandi dulu, nanti kita jalan-jalan oke? Tapi sebelumnua aku mau diskusi sama kamu." sahut Zoya yang membuat Ethan kebingungan. Namun begitu, pria itu hanya mampu mengangguk, lantas membiarkan Zoya berlalu menuju kamar mandi.


Beberapa saat setelah wanita itu bersiap-siap dan Ethan juga tampak sudah rapi dengan pakaian yang dipilihkan Zoya, pria itu hanya menatap Zoya yang tengah memandangnya penuh arti hingga kemudian senyum di wajah Zoya terukir indah.


"Aku pengen adopsi seorang anak." pengakuan wanita itu tentu saja membuat Ethan mematung di tempatnya, setengah tak percaya atas apa yang baru saja terlontar dari bibir Zoya.


Sekilas Ethan mengingat Freya pernah memberikan penawaran tersebut saat mereka mengobrol via telpon. "Sayang." tegurnya dengan dahi berkerut, Zoya mengangguk-anggukan kepala.


"Iya. Aku mau adopsi." Zoya meyakinkan sang suami.


"Ada seorang anak di panti yang aku sama Bunda kunjungi kemarin, usianya sekitar empat tahunan. Aku mau adopsi dia." terang wanita itu dengan raut serius, juga berharap Ethan akan mengizinkan. Mengingat jika pria itu pernah menawarkan padanya agar mereka mengadopsi anak.


"Zayn?" tebak Ethan mengingat bocah yang pernah Zoya ceritakan usai wanita itu menghabiskan waktu dengan Freya. Zoya mengangguk mengiyakan. "Iya. Zayn."


"Kamu serius?" tanya Ethan memastikan, kembali Zoya mengangguk dengan polosnya.


"Kamu kasih izin kan?" wanita itu meminta kepastian. Ethan mengangguk, membuat senyum di bibir Zoya mengembang sempurna.


"Apapaun Zoya. Apapun akan saya kasih untuk kamu."


"Apapun akan saya lakukan."


**


Naina tentu saja heran, setelah Zoya yang beberapa saat lalu turun ke lantai dasar. Kini wanita itu menggandeng Ethan. Auranya tampak cerah begitu senyum wanita itu terukir saat menyapa Naina.

__ADS_1


"Naina, saya sama Ethan pergi keluar sebentar." beritahu Zoya. Naina yang masih bingung hanya mampu mengangguk.


"Mungkin akan cukup lama." sambungnya. Naina tentu tidak bisa bebas bertanya mengenai tempat tujuan kedua majikannya sehingga lagi-lagi yang bisa dilakukannya hanyalah menganggukan kepala.


Dua orang itu berlalu meninggalkan rumah. Zoya akan mengajak Ethan menuju panti asuhan. Sepanjang perjalanan, Zoya terus mengukir senyumnya, Ethan sesekali menoleh pada wanita itu. Tampaknya Zoya sangat senang sekali. Kebahagiaan yang wanita itu rasakan tertular pada Ethan.


Zoya tidak henti tersenyum, tentu saja, ia senang karena dirinya akan bertemu kembali dengan Zayn. Bocah yang tatapaan matanya begitu menarik perhatian Zoya.


"Kita mampir di sini dulu." sahut Zoya begitu mobil melewati pusat perbelanjaan. Ia akan membeli banyak mainan dan juga camilan untuk anak-anak panti. Mereka pasti akan senang sekali. Raut penuh antusias Zoya membuat Ethan kian penasaran pada anak kecil yang istrinya maksud. Tampaknya Zoya begitu terpanah dengan anak kecil itu.


**


Begitu mobil yang Ethan kemudikan memasuki gapura Panti Asuhan, Zoya kian tidak sabar. Ia buru-buru turun dari mobil, tapi sebelumnya. Ia sempat melihat ke udara di mana sebuah pesawat melintas di sana. Zoya menyipitkan mata karena cahaya raja siang menerpanya. Lantas ia menjatuhkan padangannya pada gedung sederhana panti dan mulai berjalan masuk dengan Ethan.


Senyum dan lambaian tangan dari anak-anak panti segera menyambut kedatangannya. Sedangkan mata Zoya mengedar mencari keberadaan Zayn.


Hal pertama yang ia lakukan setelah dengan Ethan membagikan mainan pada anak-anak adalah menemui Ibu Pengurus Panti dan menanyakan keberadaan Zayn yang tak kunjung terlihat sejak ia tiba di sana. Atau anak itu sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit.


"Saat Ibu Freya dengan Mbak Zoya pulang. Ada yang datang kemari dan ingin mengadopsi salah satu anak dari sini."kalimat yang baru saja Ibu Pengurus Panti katakan sudah mulai membuat Zoya merasa was-was. Rasanya tebakannya tidak akan melesat.


"Dua hari kemudian, beliau datang lagi dan membawa Zayn. Hari ini mereka akan berangkat ke Luar Negri." sambungnya yang membuat perasaan Zoya tak karuan. Ethan yang mengerti dengan hal itu sejak tadi hanya menggenggam tangan Zoya. Tak melepaskannyabl sama sekali barang sedetikpun.


***


Wanita itu keluar dari ruangan Ibu Pengurus Panti dengan lesu. Harapannya benar-benar usai dan sirna. Angan-angan yang ia dambakan menjadi sumber kebahagiaan rupanya tak direstui semesta.


Ethan berjalan di belakang mengikuti langkah kaki istrinya. Zoya bahkan mengabaikan sapaan anak-anak yang menatapnya penuh senyuman. Wanita itu terus berjalan gontai.


Rasanya dada Ethan juga remuk. Padahal ia sudah sangat senang melihat kondisi sang istri yang tampak membaik begitu mengingat Zayn. Calon anak mereka.


Namun, lagi-lagi Tuhan belum memberi mereka jalan untuk mendapatkan kebahagiaan yang utuh.


**


Hari hari kembali Zoya lalui tanpa semangat hidup. Semua terasa hambar menghampiri kehidupannya, tak pernah ada makan malam ataupun sarapan bersama di meja makan. Rumah kembali sepi seperti saat wanita itu baru saja mengetahui jika tidak ada rahim di dalam tubuhnya.


Hingga suatu malam, ketika Zoya tengah melamun sendirian di ruang utama rumah dengan keadaan tv yang menyala sementara lampu utama tidak, Naina menghampiri wanita itu.


"Mbak Zoya ingin lihat Zayn?" Naina sudah tahu perihal Zoya yang berniat mengadopsi Zayn namun terlambat karena sudah didahului orang lain.


Zoya menatap gadis itu. Cukup lama keduanya beradu pandang hingga kemudian Zoya menganggukan kepala. Naina duduk di samping Zoya, membuka fitur galeri dan memperlihatkan beberapa foto Zoya dengan Zayn yang ia ambil saat dua orang itu tengah asik bermain.


"Kamu ternyata ambil fotonya?" tanya Zoya karena sebelumnya Naina tidak memberitahukan atau memperlihatkan foto tersebut padanya.


Naina menganggukan kepala. "Waktu itu saya perhatiakan Mbak Zoya dan Zayn lucu sekali, jadi saya diam-diam ambil foto kalian. Untuk kenang-kenangan."


Gadis itu menyahut sesuai fakta. Asik menggeser slide demi slide foto-foto Zoya saat berkunjung ke panti. Sedangkan Zoya tampak memerhatikannya.


"Naina."


Gadis itu mengangkat pandangan, baru sadara jika sejak tadi Zoya memerhatikannya. Ia menunjukan wajah dengan gestur bertanya.


"Bagaimana kalau kamu mengandung anak Ethan saja." sahut Zoya yang membyat Naina mematung bingung.


"Secara biologi."


"Melalui interaksi sebagaimana dua orang dewasa."

__ADS_1


TBC


Panas nggak, tuh.


__ADS_2