Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Pengacau


__ADS_3

Btw buat kalian yang nanyain novel aku dilapak sebelah dengan judul Maybe Mine udah di kunci apa belum? Belum, shay, makannya buruan baca mumpung masih gratis. Udah ada di episode 70-an yah😍


**


Zoya sudah bersiap untuk syuting dua episode terakhir film yang dibintanginya. Ia melihat sekeliling kamar yang sepi tanpa kehadiran suaminya. Zoya mendesah, membiarkan saja semuanya dan bergegas keluar. Ethan bahkan tidak pulang, Zoya yakin jika pria itu pasti menginap di hotelnya.


Kaki jenjang Zoya menapakai satu persatu anak tangga. Selin tampak sudah menunggunya di meja pantry.


"Suami kamu nggak pulang?" tanya Selun begitu Zoya ke sana dan menyambar sandwich yang sudah Selin siapkan untuknya.


Zoya menyahut dengan gelengan kepala. Selin tak lagi bertanya, tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Tapi ia cukup yakin jika ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Terutama semalam Zoya sangat bersikeras menolak jemputan Randy yang sudah jelas-jelas diutus oleh Ethan.


"Habis ini kita langsung ke lokasi syuting?" tanya Zoya setelah menggigit sepotong sandwichnya. Selin mengangguk sambil mengunyah pelan.


"Oh, yah, gimana, kamu udah mendingan, 'kan?" tanya Selin mengingat Zoya yang kemarin tidak enak badan. Zoya mengangguk mengerti.


"Kamu nggak lupa 'kan. Ada scene di mana kamu hujan-hujanan sama Edrin?"


Zoya mengangguk, ia sudah membaca naskah dan juga sudah mengobrol dengan Edrin mengenai adegan mereka yang juga akan berciuman di bawah hujan.


Zoya sudah siap dan sudah mempersiapkannya secara matang. Ia merasa jauh lebih baik dari hari kemarin asal jangan sampai ada orang yang sampai merusak moodnya.


"Adegan–"


"Aku udah persiapin itu, aku udah sempet ngobrol juga sama Edrin." Zoya menyela dengan cepat, tau kemana arah pertanyaan Selin. Selin hanya menganggukan kepala, awalnya ia sempat menolak adegan tersebut pada Sutradara. Terlebih Zoya sudah menyandang status sebagai istri dari CEO agensi yang menaunginya.


Tapi sang sutradara juga menyampaikan pada Selin jika adegan tersebut akan membuat feel dan chemistry mereka semakin terasa di mata penonton dan baik Edrin maupun Zoya juga tidak masalah dengan hal itu.


Setelah menyelesaikan sarapan, Selin dengan Zoya berangkat ke lokasi syuting, hari ini mereka akan berada di lokasi syuting seharian, Zoya juga lebih banyak menghapal naskahnya karena banyak mendapati scene hari ini lebih dari biasanya.


"Mbak Zoya udah sarapan?" tanya Somi, aktris junior yang ikut beradu akting dengan Zoya dalam film ini. Zoya mengangguk, "aku bawa salad buah, mau nggak?" tawaranya, asistennya menyerahkan sebuah kotak buah pada Somi. Zoya mengangguk menerima tawarannya. Ia sedang menunggu giliran take dan sedang membaca naskah.


"Kak Edrin keren, yah." komentarnya, melihat Edrin yang sedang take. Zoya mengalihkan tatapannya pada Edrin. Ia tersenyum dan mengangguk. Melihat Somi yang menatap Edrin lekat-lekat.


Zoya tidak perlu mengatakannya, ia sudah dapat menebak bagaimana perasaan Somi pada Edrin. Sejak awal mendapat project kerja sama dengan Edrin dan untuk pertama kali mereka bertemu di lokasi syuting, wanita itu memang mengatakan jika dirinya adalah fans Edrin Nicolas.


"Oh, yah, hari ini Mbak Zoya ada adegan ciuman sama Kak Edrin, yah?" tanyanya lagi tanpa filter, terlihat kecewa namun masih menampilkan senyuman.


Zoya mengangguk. "Cuma akting," Zoya menyahut sambil mengusap lengan Somi agar wanita itu tidak berkecil hati.


"Suami Mbak Zoya tau Mbak ada adegan ciuman sama lawan main Mbak?" wanita yang usianya tiga tahun lebih muda dari Zoya itu kembali bertanya.


Zoya hanya terdiam. Ia cukup yakin jika Ethan mengetahuinya.Tapi kenapa pria itu harus marah? Ethan tau dengan baik jika Zoya adalah seorang aktris, ia terjun kedunia akting bukan saja baru satu atau dua tahun. Seharusnya Ethan mengerti.


"Dia tau." Zoya menyahut setelah cukup lama. Somi hanya mengangguk dan tersenyum.


Zoya baru mengingat satu hal, jika kemarin Ethan sempat mengatakan jika pria itu mencintainya. Tapi Zoya tidak yakin, barangkali Ethan mengatakannya karena dia merasa bersalah dan hanya ingin membuat Zoya merasa terhibur.


"Zoy, siap-siap take!" Selin berseru. Zoya mengangguk, pamit pada Somi dan bersiap.


Ia tidak ingin memikirkannya, Ethan atau pun kejadian kemarin. Kalau bisa, Zoya ingin melupakannya saja.


Setelah beberapa kali mendapat giliran take. Adegan yang ditunggu-tunggu Sutradara dan para kru film akan berlangsung pada beberapa menit lagi. Zoya sudah berganti kostum, begitu juga Edrin.

__ADS_1


Hujan buatan sudah siap untuk mereka sampai kedatangan seseorang membuat atensi semua orang di lokasi syuting teralihkan.


"Pak Ethan." Sutradara bangkit dan menyapa Ethan, sedangkan Randy berdiri di belakang pria itu.


"Biar saya lihat proses syuting hari ini." sahut Ethan, Sutradara mengangguk begitu juga Astrada dan juga beberapa kru film.


Sementara Zoya dengan Edrin yang sudah bersiap hanya saling mematung, terutama Zoya tentunya. Ia mengutuki Ethan yang tiba-tiba saja datang ke lokasi syuting. Zoya semakin tidak mengerti saat suaminya itu duduk pada kursi Sutradara. Perasaan Zoya mendadak tidak enak, terutama mengingat jika barangkali pria itu dendam padanya karena kejadian semalam.


Zoya menghela napas saat aba-aba dari sutradara sudah menginterupsinya untuk melakukan adegan. Di mana Edrin yang berperan sebagai Azriel dengan Zoya yang berperan sebagai Ansel tengah bertengkar. Ansel yang ingin mengakhiri hubungan dan Azriel yang berusaha mempertahankan pertunangan mereka.


"Aku sudah mengatakannya sejak awal, kita memang tidak perlu bersama." Zoya memulai dialognya dengan tubuh yang sudah basah kuyup.


"Dengarkan aku Ansel, aku mencintai kamu. Apa hal itu belum cukup? Apa perjuangan dan pengorbanannku selama ini belum membuktikan jika aku sangat mencintai kamu?" Edrin terlihat sangat mendalami perannya dengan baik, wajahnya mengiba meminta agar Zoya yang berperan sebagai Ansel mau bertahan dengannya.


"Cinta saja tidak cukup, Azriel. Berapa kali aku katakan jika suatu hubungan yang dipaksakan tidak akan berakhir dengan kebahagiaan."


"Sulit untukku yang tidak mencintai kamu."


"Tapi kita sudah melalui semuanya, Ansel. Kumohon jangan pergi, jangan membuat hidupku menjadi tidak berarti."


Edrin memeluk Zoya dari belakang sebagaimana ada dalam naskah yang ia baca. Ethan yang memperhatikan mereka hanya mengeratkan pegangannya pada meja. Sedangkan para kru berikut sutradara film sudah sangat tersentuh dengan hal itu.


"Kumohon, jangan seperti ini. Aku akan melakukan apapun asalkan kita tetap bersama."


Mata Ethan terfokus pada tangan Edrin yang memeluk Zoya dengan sangat erat. Selanjutnya pria itu membalikan tubuh Zoya yang tampak sudah tidak lagi berontak, perlahan mendekatkan wajah mereka, para kru sudah sangat berharap-harap cemas menantikan adegan ciuman dua orang itu.


Sampai tiba-tiba saja seseorang berseru. "Cut!"


Semua mata mengarah pada Ethan, Edrin mendesah, kemudian menjauh dari Zoya dan wanita itu tampak menghela napas. Padahal keduanya merasa jika penjiwaan mereka sudah sangat mendalam dan sempurna memainkan peran.


"Kalau gitu kita retake saja!" usul sang Sutradara, Etham yang semula bangkit lantas kembali duduk dan bersiap memberi aba-aba pada dua orang itu.


Mereka tidak bisa berbuat apa-apa sampai kemudian Edrin dengan Zoya harus rela mengulang adegan yang tadi sudah sangat bagus.


Dalam cuaca yang dingin Edrin dengan Zoya beberapa kali mengulang adegan setiap mendekati scene ciuman mereka. Para kru sudah tampak lelah, terutama Zoya yang tampak pasrah dengan tubuh basah. Ia tau Ethan sedang sangat marah. Barangkali pria itu sedang membalaskan dendam padanya karena sikap Zoya semalam.


"Cut!" lagi-lagi Ethan berulah, bahkan sampai membuat Randy menggeleng melihatnya. Ethan bangkit. "Bagaimana jika saya menjadi pemeran pengganti untuk adegan ciuman Edrin Nicolas?" tawar Ethan, ia sudah sangat tidak tahan. Melihat istrinya berciuman dengan pria lain? Yang benar saja! Rasanya menggelikan.


Para kru tampak terheran, seorang Zeinn Ethan yang bahkan sering menolak untuk tersorot media tapi menawarkan diri untuk hal ini? Sepertinya Plankton harus berhenti mencuri resep rahasia krabby patty Tuan Krabs karena keajaiban yang sedang Ethan ciptakan sekarang. Meski bisa dimaklumi, barangkali pria itu melakukannya karena Zoya Hardiswara adalah istrinya.


Sutradara tampak tidak keberatan, terutama ia juga sudah kasian pada aktris dan aktornya juga timnya yang tampak sudah kelelahan sejak tadi. Sutradara memberi aba-aba pada Edrin, pria itu keluar dari spot syuting meninggalkan Zoya. Zoya memasang raut tidak enak pada Edrin, tapi pria itu hanya tersenyum seolah tidak masalah dengan hal itu.


Edrin langsung disambut asisten dan manajernya yang membawakan handuk juga minuman hangat untuknya. Perbuatan Ethan sudah membuat sang manjer mengkhawatirkan kesehatan aktornya.


Somi yang melihat hal itu tampak tersenyum. Sepertinya tidak akan ada adegan ciuman antara Edrin dengan Zoya, padahal Somi sudah sangat cemas sejak tadi. Somi merasa besyukur, karena kedatangan suami Zoya Hardiswara sudah membuatnya terhindar dari patah hati yang akan terjadi.


Ethan menembus hujan buatan dan menghampiri Zoya, membiarkan tubuhnya perlahan basah dengan wanita itu. Zoya tampak melayangkan tatapan tidak mengerti, ia sudah menebak apa yang coba Ethan lakukan.


"Ada apa? Kamu marah?" tanya Ethan melihat tatapan wanita itu padanya, Zoya mendesah, tatapan matanya melemah.


"Seharusnya aku yang mara, Zoya." sambung Ethan. Zoya menghela napas.


"Lakukan saja apa maumu dan kita akan segera selesai. Aku sudah sangat kedinginan." pasrah Zoya, menolak berdebat juga tidak mungkin mengakhiri syuting dengan begitu saja. Perjuangannya hari ini sudah sangat panjang, Zoya tidak ingin berakhir sia-sia.

__ADS_1


Sutradara di ujung sana sudah bersiap. Ethan segera meraih pinggang wanita itu, membuat tubuh mereka berdempetan, Zoya memilih menghindari tatapan mata Ethan. Zoya lebih terfokus pada clapper board sampai sang Sutradara berseru. "Action!"


Perlahan tapi pasti, Ethan mendekatkan wajahnya pada Zoya, sedangkan wanita itu memejamkan mata dengan tangan yang meremas pinggiran jas yang Ethan kenakan.


"Tidak perlu tegang, ini bukan kali pertama kita melakukannya." sahut Ethan sebelum menyatukan bibir mereka.


Sedangkan para kru dan juga aktris lain berikut manajer dan asisten aktris yang berada di sana tampak tegang melihat adegan tersebut. Sedangkan di sana, Ethan tampak menjalankan tugasnya dengan sangat baik, ciuman keduanya terlihat begitu natural dan membuat Sutradara film tersenyum puas. Hasil yang ia dapat lebih dari apa yang diinginkannya.


"Wrap!" seruan Sutradara di sambut tepuk tangan penuh bahagia para kru karena sudah sukses mengambil adegan. Tepuk tangan menggema sementara Ethan belum mengakhiri adegannya bahkan saat hujan buatan sudah reda.


Sutradara berikut orang-orang yang ada di sana tampak heran, namun mereka memilih tak ambil pusing, rasanya cukup memaklumi, mengingat mereka ada pasangan suami istri. Yang paling penting syuting hari ini sudah sukses.


Adhel yang hendak menghampiri Zoya dengan handuk di tangannya masih sabar menunggu Ethan dengan Zoya sadar. Sampai kemudian Ethan menghentikan ciumannya. Membuat Zoya sedikit mundur dengan perasaam hancur. Pria itu mengelap bibirnya dengan punggung jari telunjuk.


Adhel menghampiri Zoya, menyelimutinya dengan handuk dan menggandeng Zoya menuju tenda istirahat. Randy juga menghampiri Ethan, memberikan handuk pada pria itu.


Ethan menerimanya, berjalan ke arah tenda dan duduk di sana. Randy mengambilkan minuman hangat untuknya. Zoya duduk tak jauh dari tempat pria itu. "Kita akan kembali ke agensi atau tidak Pak?" tanya Randy. Rachel sudah menghubunginya dan menanyakan di mana keberadaan Ethan.


Ethan melihat arloji tahan air yang melingkar di pergelangan tangannya. "Tunggu sebentar lagi." Ethan menyahut, melegut minumannya, sekilas ia menoleh pada Zoya. Wanita itu tengah mengeringkan rambutnya dibantu oleh asistennya.


Ethan memilih acuh, ia masih kesal pada Zoya yang sampai saat ini masih saja mengabaikannya setelah semalaman Ethan menunggu meski hanya sekedar balasan pesan dari wanita itu.


Tak lama, Sutradara datang menghampiri Ethan, Ethan bangkit dari duduknya. "Terimakasih Pak Ethan, hasilnya benar-benar bagus." pujinya dengan senyum tulus, karena ia akui adegan yang Ethan ambil memang memukau dan terlihat nyata.


"Terimakasih Pak. Maaf sudah merepotkan."


"Tidak masalah." Ethan menyahut singkat.


"Zoya, terimakasih, yah." sedikit berteriak pada Zoya, Zoya mengangguk sopan dengan senyuman.


Sutradara tersebut lantas pamit meninggalkan Ethan, baru pria itu akan kembali duduk, seorang wanita yang menyapanya membuat Ethan mengurungkan niatnya untuk duduk.


"Hay Pak Ethan. Perkenalkan, Somi." wanita cantik itu mengulurkan tangannya pada Ethan. Zoya yang sejak tadi mencuri-curi pandang pada sang suami memperhatikan Somi yang tampak sedang mencari perhatian Ethan.


Ethan hanya menatap tangan wanita itu, merasa Ethan tidak akan menerima uluran tangannya, Somi menarik tangannya kembali.


"Pak Ethan tadi hebat," pujinya, Ethan hanya tersenyum tipis menanggapi wanita itu, bahkan senyuman pria itu nyaris tidak terlihat oleh lawan bicaranya,


"Aku boleh minta foto?" tanyanya dengan penuh harap. Mata Ethan mengarah pada Randy, pria itu segera angkat bicara.


"Mohon maaf Mbak Somi, Pak Ethan tidak bisa." sahutnya dengan lembut agar Somi tidak tersinggung. Somi tampak kecewa, kemudian ia permisi dan duduk pada kursi lain yang dekat dengan Zoya. Menatap wanita itu yang tampak biasa saja.


Somi patut merasa heran dan perlu mempertanyakan bagaimana bisa komunikasi antara Ethan dengan Zoya berjalan lancar di atas sikap pria itu yang begitu angkuh dan acuh tak acuh.


"Pak Ethan, kita ke agensi sekarang?" tanya Randy lagi.


Ethan mengangguk. "Di mana pakaian ganti saya?"


"Ada di mobil Pak."


Ethan mengangguk, lantas berlalu dari sana tanpa menoleh sedikit pun pada Zoya.


"So cuek banget!" Zoya merasa kesal sendiri. Menatap punggung Ethan yang kian menjauh, pria itu sama sekali tidak memperdulikannya. Atau bahkan sekedar bertanya bagaimana keadaan Zoya setelah pria itu menyiksanya di bawah guyuran air.

__ADS_1


TBC


Up sering+banyak. Masa iya koment sama votenya nggak banyak juga🤣


__ADS_2