Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
"Terimakasih Sudah Bertahan."


__ADS_3

"Than, udah!" Rival berusaha menahan pria itu yang menghajar Kevin dengan begitu brutal, kawan - kawan Kevin membawa Kevin menjauh dari jangkauan Ethan. Kalau saja Rival tidak mendaratkan pukulan pada rahang pria tampan itu, maka Ethan bisa saja melempar botol wine yang sudah di pegangnya pada kepala Kevin.


Ethan tersungkur atas bogem mentah dari Rival, ia merasa bau anyir seketika menyeruak indera penciumannya, bercampur dengan bau keringat. Ethan tau sudut bibitnya berdarah. Tapi ia tak marah pada Rival, pria yang melerainya itu juga hanya berdiri dengan napas memburu. Tanpa ia sangka jika perangai Ethan begitu keras melebihi batu.


Ethan mengatur deruan napasnya yang begitu berantakan. Matanya menatap Kevin dengan tajam, ia beringsut bangun dan membuat Kevin mengambil gerakan waspada.


Ethan tak memiliki niat intuk kembali memukul Kevin. Ia hanya ingin Kevin tau jika dirinya sangat marah terhadap pria itu atas tindakan bodoh dan cerboh yang sudah Kevin lakukan sampai mengharuskan ia kehilangan calon anaknya, juga nyaris membuat istrinya meninggal.


"Kamu tau, gimana usaha saya mati - matian menjaga Zoya?" Ethan berbicara dengan nada lemah, tubuhnya sudah sangat lelah.


"Kamu tau, bagaimana saya berusaha menjaga calon anak kami dalam perut Zoya?" Ethan hampir menangis, kevin tau hal itu jika Zoya sedang dalam kondisi hamil. Namun ia juga tidak tau jika kejadianya akan seperti ini. Ia tidak tau jika Zoya yang akan menjadi korban.


"Kamu belum pernah merasakan seperti saya Kevin. Saya dengan Zoya kehilangan calon anak kami untuk yang kedua kali. Kamu pikir bagaimana rasanya?"


"Dan sekarang kamu harus tau, salah satu ovarium Zoya diangkat karena kecelakaan itu. Kecil kemungkinan bagi kami untuk memiliki anak setelah ini."


Kevin hanya menunduk dengan rasa bersalahnya.


Ethan melangkah mundur bersamaan dengan masuknya beberapa orang polisi yang langsung siap siaga menodongkan pistol. Salah satu dari mereka menghampiri Ethan. Ethan hanya menganggukan kepala dan membuat polisi itu mengeluarkan borgol, berjalan ke arah Kevin hang sudah pasrah pada apa yang akan dihadapinya.


"Pak Kevin, anda kami tangkap atas tuduhan pembunuhan berencana. Silakan ikut kami ke kantor polisi."


**


Ethan tidak tau kejutan seperti apa yang sudah Tuhan siapkan untuknya dengan Zoya hingga kepedihan melanda keduanya terlalu lama. Bahkan rasanya luka lama Ethan karena kehilangan untuk yang kali pertama masih membekas di hatinya, kemudian luka baru terbentuk di atasnya. Perih. Itulah yamg Ethan rasakan.


Kesedihan menggerogoti dirinya namun ia tak bisa tumbang begitu saja. Ada orang yang harus ia jaga. Ada orang yang harus ia beri kekuatan agar keduanya sama - sama bisa bertahan dan melewati aral yang melintang.


Ethan menghela napas saat melihat Freya yang sudah menunggunya di pintu masuk ruang rawat Zoya. Di sana juga ada Andreas, Grrycia, Warry dan Anna. Mereka ada untuk menguatkannya, karena Ethan harus kuat dan mampu menguatkan Zoya.


"Zoya udah siuman, dari tadi dia tanyain kamu terus." beritahunya, tapi kemudian raut wajah Freya berubah begitu melihat luka pada ujung bibir putranya.


"Than, ini kenapa?" Menyentuh ujung bibir Ethan. Ethan menahan tangan wanita itu dan mengukir senyum tipis.


"Enggak papa, Bunda. Ethan nggak papa," sahutnya dengan begitu meyakinkan. Freya terdiam, tapi kemudian ia hanya pasrah.


"Bunda belum bilang apa pun ke Zoya, Bunda nggak tega, Sayang."


"Biar Ethan yamg bilang ke Zoya."


"Termasuk bilang kalau salah satu ovariumnya udah diangkat?" kali ini Ethan terdiam, menatap mata sang bunda seolah meminta jawaban. Sampai setelah cukup lama, Ethan menggelengkan kepala. Zoya akan sangat terluka jika mengetahui hal tersebut.


"Untuk sementara, Ethan akan rahasian ini dari Zoya. Zoya nggak boleh tau dulu Bunda."


Freya mengangguk setuju, lantas mempersilakan Ethan agar segera measuk dan menemui Zoya. "Cepet masuk." titah Grrycia saat ia berhenti di depan pintu ruangan. "Kamu harus kuat. Mami tau nggak mudah, tapi kamu harus bisa kasih kekuatan ke Zoya." Perempuan itu menggerakan kepalanya ke arah ruang rawat Zoya di mana saat Ethan masuk, wanita itu tengah berbaring dengan wajah yang menoleh ke samping kanan.


Tapi begitu sadar akan kehadirannya, Zoya menoleh dan segera beranjak untuk duduk. "Ethan,"


Ethan segera berhambur memeluk wanita itu, Air mata Zoya dalam sekejap mata tumpah membasahi dada Ethan, wanita itu terisak dengan sangat memilukan dan membuat hancur perasaan Ethan. Ia merasa gagal untuk tak membuat wanita itu menangis.

__ADS_1


"Sabar, yah, Sayang. Tuhan lagi kasih kita ujian."


"Sesering ini?"


"Karena Dia tau kamu kuat, Sayang."


Dan sudah, Ethan hanya diam dengan tangan yang tak berhenti mengelus punggung istrinya. Sedangkan Zoya terus terisak di dada pria itu. Hal mengerikan yang ia pikir hanya mimpi ternyata benar - benar sudah merampas malaikat kecilnya. Lagi. Untuk yang kedua kali. Ia merasakan luka yang sama.


**


"Aku masih bisa hamil lagi, 'kan Than?"


"Kita masih bisa punya anak, 'kan?"


"Dokter nggak bilang hal macem - macem, 'kan Than?"


"Enggak, Sayang. Dokter nggak bilang apa - apa." Ethan menatap wanita itu, genggaman tangannya kian erat. "Kamu masih bisa hamil lagi. Kita bisa punya anak, kamu jangan khawatir."


Ini adalah hari ke - empat di mana Zoya berada di Rumah Sakit. Besok ia baru diperbolehkan pulang setelah masa pemulihannya selama empat hari pasca operasi. Sedangkan yang Zoya tau ia harus beristirahat di Rumah Sakit setelah mengalami keguguran.


"Sabar, yah, Sayang. Kamu sama Ethan punya dua malaikat kecil di surga. Tuhan lebih sayang sama mereka." Zoya banyak mendengar kalimat itu keluar dari mulut Freya, Grrycia dan juga Anna untuk menenangkannya. Begitu juga dari Mama Selin yang sore tadi sempat menjenguknya.


"Mbak Zoya, makan sekarang?" Naina masuk dengan membawa bubur buatan gadis itu karena Zoya menolak makanan rumah sakit. Zoya mengangguk setelah lamunan di kepalanya buyar, selama tiga hari ini ia tak bicara dengan Naina, juga tak banyak bicara dengan siapa pun. Zoya tau ini Takdir Tuhan yang memang sudah seharusnya untuk terjadi tanpa ada yang bisa mencegah.


Naina duduk pada kursi di samping brankar dan siap untuk menyuapi wanita itu. Kebetulan Ethan belum pulang dari gedung agensi sehingga Naina yang mengambil alih tugas tersebut.


"Ada apa Naina?"


"Saya belum sempat berterima kasih ke Mbak Zoya karena sudah menyelamatkan saya." gadis itu berucap lemah, membuat gerakan bibir Zoya kian memelan. Tapi kemudian wanita itu hanya menghela napas.


"Saya hanya perantara, Naina."


"Maafkan saya, karena gara - gara saya –"


"Saya yang salah. Coba saja seandinya saya biarin cincin pernikahan saya tetap berada di dalam dompet. Saya pasti nggak akan ngejatuhin cincin itu dan ngebuat kamu harus ngambil cincin saya."


"Terlepas dari semua itu. Semuanya udah ada yang ngatur Naina, dan kita nggak bisa nawar." Zoya tampak tegar, Naina memaksakan senyumnya dengan mata berkaca - kaca, sampai pintu ruangan yang tiba - tiba saja terbuka membuat gadis itu segera menyeka air mata yang terlanjur jatuh membasahi pipi.


"Zoya–" Arasy merentangkan tangan dan langsung memeluk Zoya. Zoya menyambut pelukan adik iparnya, wanita itu memang sering berkunjung selama ia berada di rumah sakit meski hanya sebentar.


"Gimana, udah lebih mendingkan, 'kan?" tanya wanita itu setelah mengurai pelukan. Zoya mengangguk, Arasy tersenyum senang. Setidaknya, jika keadaan Zoya baik fisik maupun psikisnya aman, maka Ethan juga akan baik - baik saja.


Mata wanita cantik itu kemudian menangkap buket bunga yang berada pada meja di samping brankar Zoya. "Oh, iyah. Lupa, tolong buang, yah." sahut Zoya pada sang adik ipar, Arasy meraih buket bunga tersebut dan mengambil note yang berada di sana.


...Get Well Soon...


...Edrin Nicolas....


"Edrin tadi ke sini?"

__ADS_1


"Mbak Selin yang bawain."


Arasy mengangguk - anggukan kepala. "Buang sekaramg sebelum Ethan datang, nanti –"


"Kenapa?" justru pria itu sudah muncul di pintu ruangan yang sebelumnya tidak ditutup kembali oleh Arasy. Arasy dan Zoya saling bertukar pandang.


"Fansku kasih bunga, kayaknya dia cowok." Arasy buka suara saat pria itu sudah berdiri di hadapannya.


"Terus?"


"Zoya suruh aku buang bunganya." dustanya setelah melirik sang kakak ipar.


"Bagus. Buang saja," suruh pria itu. Arasy mengangguk, sejak dulu ia tau Ethan tak suka jika ada pria yang mendekatinya. Begitu Ethan duduk di tepi brankar, dua wanita itu saling mengedipkan mata. Arasy berjalan menuju keranjang sampah yang tersedia di sana. Sedangkan Ethan meraih kening istrinya.


"Udah makannya?" tanya Ethan, Zoya mengangguk setelah sebelumnya menatap pada Naina. Ethan mengusap puncak kepala wanita itu.


"Aku udah bosen di Rumah Sakit. Mau pulang," sahut Zoya. Saat itu hanya ada mereka berdua di sana. Naina pulang lebih dahulu sedangkan Arasy sudah berlalu sejak beberapa jam yang lalu.


"Sabar, kan tinggal beberapa jam lagi." besok kamu udah bisa pulang." Ethan menenangkan. Wanita itu akhirnya hanya diam dan mengangguk, toh tidak ada yang bisa ia lakukan.


"Gimana kalau saya ajak jalan - jalan keluar. Cari angin malam," ajakanya yang seketika membuat Zoya berbinar dan mengangguk setuju.


Taman Rumah Sakit menjadi pilihan Ethan untuk membawa istrinya melepas penat. Ia mendorong kursi roda yang diduduki Zoya diiringi obrolan sederhana yang mengalihkan duka dalam hidup mereka.


"Udah, di sini aja!" sahut Zoya yang membuat sang suami berhenti mendorong kursi roda. Mata Zoya terfokus pada beberapa anak kecil yang tengah bermain kembang api dengan orang tuanya.


Ethan juga melihat hal itu. Yang membuatnya lantas menggenggam tangan sang istri, melangkah ke hadapan wanita itu dan menekuk lutut dengan tangan yang menggenggam kedua tangan Zoya.


"Zoya,"


"Hmm."


"Terimakasih,"


"Terimakasih untuk apa? Aku bahkan udah buat kita kehilangan yang ke–"


"Terimakasih karena sudah bertahan untuk saya." sela pria itu dengan cepat. Keduanya hanya saling terdiam setelahnya. Perlahan mata Zoya memanas dan berkaca - kaca, kemudian lelehan air membasahi pipinya. Jari tangan Ethan tergerak untuk menghapus air yang menganak sungai di pipi sang istri.


"Terimakasih sudah bertahan demi saya, Zoya. Saya nggak tau apa yang akan terjadi andai hal yang lebih buruk menimpa kamu dan membuat saya kehilangan kalian."


"Saya –" suara Ethan tersendat, mata pria itu tampak memerah.


"Saya tidak ingin kehilangan kamu, Zoya."


Zoya mengangguk berulang - ulang, membawa kepala Ethan ke dadanya. Kapan saat terakhir kali Zoya melihat pria itu menjatuhkan air mata? Rasanya sangat lama. Lama sekali.


Sedangkan dari jarak jauh, Naina yang baru saja tiba kembali di Rumah Sakit menatap pemandangan itu iba. Ia tau begitu besar cinta yang ada di antara dua orang itu. Namun begitu Naina sadar, jika tidak ada kebahagiaan yang sempurna.


TBC

__ADS_1


__ADS_2