
"Ada apa dek.." Tiba tiba saja Devid sudah berdiri di belakang Airin.
"Ah, nggak ada apa apa... hehehehe" Airin terkejut dengan kehadiran Devid yang tiba tiba. Devid yang mandi dengan cepat atau dia yang terlalu lama menatap ponsel Devid. Sehingga dia tidak menyadari kalau Devid telah keluar dari kamar mandi.
Airin pun beranjak mendekati Syfa yang tengah asyik bermain dengan boneka bonekanya. Sementara Devid masih heran melihat Airin yang tadi terkejut saat ditanya. Devid pun meraih ponselnya dan membukanya. "Apa dia sudah melihat wallpaper ini ya.?" Tanya Devid dalam hati. Devid pun jadi was was, apakah Airin marah karena diam diam telah mengambil gambarnya dan Syfa, kemudian menjadikannya Wallpaper ponselnya. Devid pun kembali memperhatikan Airin. Tapi tak terlihat seperti orang marah.
Malam ini Syfa tidur dengan Omanya lagi. Seperti biasa Airin naik terlebih dahulu ke atas ranjang. Masih lengkap dengan hijabnya. Dia masih belum bisa tidur tanpa hijabnya. Bahkan sudah menjadi terbiasa. Devid masih belum masuk lagi ke kamar. Tadi setelah sholat Isya, Airin melihat Devid masuk keruang kerjanya. Kemudian Airin membuatkan secangkir wedang jahe dan menyuruh Bik Ros mengantarkannya ke ruang kerja Devid.
Tak lama Devid pun masuk, dia melihat Airin masih belum tidur. Masih menatap layar ponselnya. Dia melihat Airin masih memakai hijabnya. Devid ingin sekali membicarakan hal ini dengan Airin. Apakah Airin mau melepas hijabnya saat dikamar. Mengingat mereka sudah lebih dari setengah tahun menikah. Devid bingung sendiri memikirkan bagaimana caranya mengatakannya pada Airin.
Setelah keluar dari kamar mandi, Devid pun ikut merebahkan tubuhnya di ranjang. Di pandangnya Airin yang sudah memejamkan mata. Lamaa dia menatap wajah ayu itu, matanya, hidungnya, berlanjut ke bibirnya yang tipis berwarna cerah. Ada h*srat yang menyesak, yaa.. Dia lelaki normal, yang punya ketertarikan pada wanita. Apalagi wanita itu sesungguhnya telah halal untuk disentuhnya. Tapi Devid masih mencoba menahan gejolak hasrat kelelakiannya.
"Dek... Sudah tidur kah ?" Tanya Devid perlahan. Airin pun membuka matanya. Sesaat mereka saling pandang. Ingin sekali Devid mendekapnya. Lagi lagi ia hanya mampu menghembuskan nafas berat menahan segala rasa.
"Ada apa mas,, ?" Tanya Airin.
"hmmmm... Mas boleh bicara sebentar nggak..." Tanya Devid. Dia sangat berhati hati sekali berucap. Takut Airin akan tersinggung. Kemudian Airin pun menganggukkan kepalanya dan merubah posisinya. Duduk sambil bersender di kepala ranjang. Devid pun mengikutinya.
"Ada apa mas... " Tanya Airin.
__ADS_1
"Mmmmm... Begini, tapi kamu jangan marah ya..." Ucap Devid.
"InsyaAllah nggak.." Jawab Airin sambil tersenyum. Devid pun lega mendengarnya.
"Mmmmm... Kita sudah menikah lebih dari setengah tahun kan ?" Ucap Devid sambil menatap Airin. Airin pun menganggukkan kepalanya.
"Mmmmm.... Apakah kamu belum siap untuk melepas hijabmu didepan mas ?." Tanya Devid akhirnya.
"Tapi kalau memang kamu belum siap juga nggak apa apa. Mas nggak akan memaksamu. Tenang saja, jangan jadikan beban ya." Lanjut Devid kemudian, saat dilihatnya wajah Airin terlihat kaget. Dia takut kalau kalau Airin akan merasa terpaksa melakukannya.
"Kita tidur saja ya. Lebih baik istirahat..." Ajak Devid. Sambil bersiap siap untuk kembali merebahkan kepalanya dibantal.
"Aku malu mas.." Ucap Airin tiba tiba. Devid kembali menatap nya. Dan Airin pun menatapnya.
Devid terpana, dia mencerna setiap kata kata yang diucapkan Airin. Apa maksud perkataannya. Kemudian Devid teringat saat dulu Airin melakukan visum di Rumah Sakit. Yang waktu di terkena kasus telah menghilangkan nyawa mantan suaminya. Devid baru tersadar apa maksud perkataan Airin. Karena dulu dia pernah sekilas melihat bekas bekas luka di sebagian tubuh Airin. "YaTuhan, apakah karena itu dia selalu tak mau membuka hijabnya. Aku telah mengingatkan luka nya kembali. Ya Allah..." Devid merutuki kebodohannya.
"Maaf kan mas dek, mas tidak bermaksud membuka luka lama mu. Mas tidak pernah ada fikiran buruk atas dirimu. Mas tidak pernah memandang fisikmu dek, jujur. Bagi mas kamu adalah wanita yang hebat. Wanita yang sempurna. Tolong, jangan menangis." Ucap Devid bersalah. Perlahan di genggamnya jemari Airin. Direngkuhnya wanita yang telah sah menjadi istrinya itu dalam pelukan. Sesaat mereka berpelukan. Airin pun tak menghindar. Dia merasakan kenyamanan. Serasa beban yang selama ini di pikulnya menjadi hilang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Malam berganti pagi, lebih tepatnya masih subuh. Suara Adzan Subuh sayup sayup terdengar dari arah Mesjid Mesjid terdekat. Airin menghampiri Devid yang masih terlelap. Berniat untuk membangunkannya untuk sholat subuh bersama.
"Mas,,, mas.... Bangun,, Sudah masuk waktu Subuh." Ucap Airin sambil sesekali menepuk lembut tangan Devid.
Devid pun terjaga dari tidurnya dan membuka matanya. Sesaat diam terdiam kaku menatap wanita yang berdiri disamping ranjang. Airin, dia membangunkan Devid tanpa memakai hijab. Rambutnya yang panjang tergerai indah bercahaya. Airin tersenyum padanya. Devid mengucek matanya, kemudian menatap Airin sekali lagi. Tapi tetap sama, Airin sedang tak berhijab.
"Kamu.. ? " Devid jadi bingung mau berkata apa. Antara kaget, senang juga merasa bersalah. Apakah Airin melepas hijabnya karena obrolan mereka tadi malam.
"Kenapa... Kan Mas yang minta,,, benarkan.. Mas jadi ngk suka..." Ujar Airin dengan raut wajah sedikit sendu. Dia kira Devid akan senang kalau mengabulkan permintaannya untuk tidak berhijab kalau mereka tengah berada di kamar. Padahal sedari tadi telah berusaha mempersiapkan diri untuk tidak berjilbab i depan Devid.
"Tidak,,, tidak... Bukan nggak suka. Kamu makin cantik jadi mas pangling.. eh, maksudnya mas makin suka..." Devid jadi makin bingung dan akhirnya keceplosan. Sesaat mereka sama sama terdiam dan hanya mata yang saling menatap. Seakan akan masing masing mencoba menyelami perasaan mereka.
"Waktu sholat subuh keburu habis, lebih baik mas segera ambil wudhu.." Airin lebih dulu sadar, wajahnya jadi merona mendengar pengakuan Devid. Segera dia melangkah menjauh dari Devid.
Devid pun jadi salah tingkah, dia kemudian melangkah ke kamar mandi. Disana Devid tersenyum senyum sendiri. Dada nya masih berdebr debar, dia yakin kalau Airin juga mulai ada perasaan padanya. Dari tatapan matanya tadi.
Sementara itu di dalam kamar, Airin menghembuskan nafas panjang berkali kali. Dia benar benar deg deg an saat berdekatan dengan Devid tadi. Lututnya masih terasa lemas, jantungnya serasa mau copot. Tapi entah kenapa ada desiran indah dirasakannya. Mungkinkah ini pertanda cinta. Airin pun tersenyum.
Hari itu pun berlalu dengan indah, Devid di Rumah Sakit tampak sangat semangat dan ceria. Atmosfir bahagia terpancar dari wajahnya. Semua yang berpapasan dengan Devid di Rumah Sakit dapat merasakan, kalau Presdir mereka hari itu tengah senan bahagia.
__ADS_1
Sementara itu Airin dirumah pun tak jauh berbeda. Dia selalu tampak tersenyum dan sesekali tertawa sendiri. Anita yang melihat menantunya itu merasa kalau Airin tengah bahagia.
"Syfa, Bunda kamu kenapa. Seperti orang yang lagi kasmaran saja. Melamun, senyum senyum trus tertawa sendiri." Bisik Anita pada Syfa. Gadis kecil itu hanya menanggapi perkataan Omanya dengan celoteh kecilnya.