Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
EXTRA PART (3)


__ADS_3

Entahlah Agyan harus merasa senang atau tidak. Yang pasti, rasa paling dominan di hatinya adalah kesal luar biasa melihat istrinya digandeng oleh pria lain. Meski mereka hanya berakting, tetap saja Agyan tidak suka.


Jujur ia merasa kesal pada Arfat dan Rachel yang memaksa Freya untuk menerima tawaran sebuah film dan menjadi pemeran utama di sana tanpa proses casting.


Agyan memang memberinya izin, bagaimana pun ia tau jika Freya tampak tertarik pada karakter yang akan dimainkannya. Dan Agyan tidak bisa mengatakan tidak pada sang istri.


"Cut!"


Seketika semua orang memusatkan perhatiannya pada Agyan. Padahal, adegan yang sedang Freya mainkan dengan lawan mainnya nyaris sempurna andai saja Agyan tidak menghentikannya.


Sang Sutradara tampak heran dan bangkit dari posisinya. Masalahnya, ini adalah yang kelima kali Agyan menghentikan proses syuting tanpa alasan—Kecuali alasan pribadi.


"Pak Agyan, ada apa lagi?" Sutradara bertanya dengan berusaha menahan emosi. Andai yang berada dihadapannya ini bukan bosnya, mungkin ia sudah mengusirnya dari lokasi syuting sejak pagi tadi.


"Apa adegan ini tidak terlalu berlebihan?" dahi Agyan berkerut. Ia kesal dan dipaksa harus bersikap profesional. Dan ia, tidak bisa.


Freya yang sudah merasa lelah hanya mengibaskan rambutnya, ia tidak mengerti dengan tingkah sang suami. Sangat wajar jika Agyan cemburu, tapi seharusnya Agyan sadar jika beginilah yang akan terjadi ketika proses syuting berlangsung.


"Pak, ini hanya adegan pelukan. Sama sekali tidak berlebihan." seorang Astrada ikut angkat bicara. Karena ia tau Sutradara sudah tidak dapat mengendalikan kekesalannya.


"Tapi Freya istri saya!"


"Kami di sini semuanya mengetahui hal itu, Pak."


Agyan mendesah. Saat ini, mungkin ia terlihat amat posesif di mata para kru film yang jelas terlihat menahan kesal padanya. Agyan tau mereka lelah, ingin cepat menyelesaikan scene ini dan segera beristirahat. Tapi Agyan sudah mengacaukannya sejak dua jam yang lalu.


"Yasudah. Untuk hari ini kita sampai di sini saja. Kita lanjutkan besok," Sutradara membuat keputusan. Sepertinya akan percuma jika proses syuting terus dilanjutkan. Mereka tidak akan mendapat hasil yang memuaskan jika Agyan terus mengawasi mereka.


Para kru membubarkan diri dan merapihkan peralatan. Agyan melangkah menghampiri Freya, tersenyum tanpa merasa berdosa pada istrinya. Sedangkan Freya hanya mendelik padanya sambil mengusap keringatnya dengan tisue.

__ADS_1


"Kamu kenapa, sih, Gyan?"


"Apa?"


"Kamu nanya?"


"Kamu kelewatan tau, gak. Kasian, kan kru film yang udah siap-siap sejak tadi pagi." oceh Freya. Sementara Agyan tampak tak perduli dengan ocehan istrinya.


"Aku cemburu, By."


"Kita udah punya Ethan sama Arasy. Kamu gak perlu sampe berlebihan kaya gitu. Aku aja dulu biasa banget pas kamu aktif syuting."


"Sayang. Sekarang sama dulu jelas beda lah!"


"Beda apanya? Sama aja! Pegangan tangan, pelukan, cium dahi, pipi. Sama, Agyan!"


"Di mataku beda, By. Terserah!"


"Aku mau jemput anak-anak dulu." pamit Freya. Agyan mencekal pergelangan tangan wanita itu.


"Ada apa?"


"Anak-anak dijemput Papi sama Mami. Kamu sama aku,"


"Kemana?"


"Pak Arfat!"


Freya mengernyit, tetapi ia hanya mengikuti suaminya. Mengikuti kemauan Agyan yang menariknya ke arah mobil. Hari ini, Arfat memang tidak hadir dilokasi syuting karena ada urusan di kantor.

__ADS_1


Agyan akan langsung ke kantor. Ia perlu membahas urusan penting dengan Arfat mengenai film yang dibintangi Freya saar ini.


"Ku dengar kamu membuat keributan di lokasi syuting. Aku tidak mengerti," Agyan yang menggenggam tangan Freya menghentikan langkah saat suara tak asing menyapa indera pendengarannya.


Ternyata dialah biang masalah.


"Kapan kamu tiba di Indonesia?"


"Kemarin, aku diantar suamiku sekarang dia berada di apartement."


"Oh, bagus. Aku harus bertemu dengannya."


Rachel mengangguk. Ia memang baru tiba kemarin di Indonesia setelah pulang ke negaranya untuk mengunjungi orangtuanya yang sedang sakit.


"Kita kembali pada pembahasan awal. Kamu membuat masalah? Ayolah, Gyan. Kalau kamu masih menganggap aku sebagai Direktur Utama di sini, seharusnya kamu berhenti membuat kegaduhan!"


"Tidak bisa Rachel,"


"Dan ini gara-gara kamu. Oke,"


"Ada apa?" Rachel tampak heran. Ia menatap Freya. "Seperti biasa Rachel, tingkat cemburunya semakin hari justru semakin parah!" decak Freya setengah kesal. Agyan memutar bola matanya, sedangkan Rachel menertawakan pria tampan itu.


"Kamu memang selalu berlebihan!"


"Aku tidak mau tau!" Agyan menyudahi Rachel yang meledeknya.


"Oh, yah. Sebelum kalian pulang nanti, mampir ke ruanganku sebentar. Ada hadiah untuk Ethan dan Arasy." pesannya sebelum kedua orang itu pergi.


"Baiklah, kami permisi dulu."

__ADS_1


Agyan dengan Freya berlalu menuju ruangan Arfat. Freya tidak tau apa yang akan Agyan lakukan, sementara Agyan akan membujuk Arfat agar pemeran utama pria diganti olehnya. Apapun yang terjadi, istrinya tidak boleh berdampingan dengan pria lain.


__ADS_2