
Satu kata ketika pertama kali Ethan dengan Naina memasuki kamar tersebut, sempit. Bahkan Naina yakin, hanya dengan melihatnya saja Ethan pasti sudah merasa pengap dan gerah. Tapi beruntung, cuaca di luar sedang hijan, sehingga hawa dingin yang menyeruak masuk. Bisa dibayangkan jika hujan tidak turun malam ini.
"Pak saya udah bilang buat kita nggak nginep di sini. Lebih aman di dalam mobil "
"Di sini atau enggak. kita tetep berdua!" tegas Ethan yang mengerti maksud gadis itu. Naina pasti merasa canggung harus satu kamar dengannya.
Gadia itu hanya diam setelahnya, ia menundukan pandangan sampai sebuah jaket parka yang beberapa menit lalu masih melekat di tubuh Ethan tersodor ke arahnya. Gadis itu menaikan pandangan dan menatap Ethan yang menatapnya datar.
"Pake, nanti kamu kedinginan. Saya nggak mau Zoya marah kalau kamu sampai sakit." ujarnya, membuat tangan Nain perlahan meraih jaket dari tangan pria itu. Ia hanya menatap jaket tersebut. Sedangkan Ethan menatap ruang kamar yang sempit.
Dua puluh delapan tahun ini hidup di dunia ini. Baginya ini akan menjadi kali pertama ia tidur di tempat sempit dan sumpek. Meski terbilang cukup rapi dan bersih, namun Ethan merasa tak yakin akan tidur dengan nyenyak malam ini.
Ia menatap ranjang yang benar - benar hanya pas untuk dua orang, itu pun jika bantak guling yang berada di tengah - tengah disingkirkan, jika tidak maka tempat tidurnya tidak akan cukup untuk ia dan Naina.
Di samping ranjang terdapat sebuah meja kecil tempat menyimpag barang - barang penting. Seperti ponsel misalnya. Dan tidak ada apa - apa lagi kecuali sebuah pintu berwarna putih yang warna chatnya sudah mengelupas. Ethan yakin itu adalah kamar mandi? Haruskah ia tidur di sana?
Ethan menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak mungkin tidur di kamar mandi bukan? Pria itu melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah pukul setengah dua dini hari. sehingga yang dilakukannya adalah duduk di tepi tempat tidur. Sementara Naina masih berdiri di tempatnya.
Berbagi ranjang dengan Ethan? Entah lah itu sebuah malapetaka baginya atau mungkin serendipity? Kebetulan yang menyenangkan? Naina buru - buru mengggelengkan kepala. Ia melihat Ethan yang mengambil selimut dan menggelarnya di bawah.
"Saya tidur di bawah, biar kamu yang pakai tempat tidurnya." sahutnya pada Naina begitu gadis itu menutup pintu dan melangkah ke arah Ethan dengan jaket parka yang berada dalam dekapannya.
"Pak, nggak masalah biar saya yang tidur di bawah. Pak Ethan aja yang pake tempat tidurnya." tolak gadis itu dengan cepat.
"Saya bisa tidur di lantai, tapi kalau Pak Ethan, saya nggak yakin Pak Ethan bisa." sambungnya. Ethan diam, dia bisa saja tidur di lantai. Sangat bisa, dengan resiko sakit seluruh badan yang akan ia dapat keesokan paginya begitu bangun.
"Saya nggak masalah kalau tidur di bawah." sahut gadis itu lagi, mengambil bantal dari tangan Ethan dan meletakananya pada tempat yang sudah Ethan sediakan. Karena akhirnya gadis itu memakai tempat yang sudah ia siapkan kadilah Ethan yang tidur di atas ranjang.
Ia membaringkan tubuhnya di atas kasir yang keras itu. Matanya menatap plafon kamar yang sudah seharusnya direnovasi. Naina tampak sudah berbaring setelah mengenakan jaket parka milik Ethan. Gadis itu mulai memejamkan mata, namun rasa dingin menyerangnya. Bajunya yang memang masih sedikit basah meski sudah memakai jaket Ethan nyatanya tetap tak memberi sebuah kehangatan.
Tapi kantuk sedemikian parah menyerangnya, sehingga perlahan matanya terpejam tanpa perduli rasa dingin yang menyerang. Sedangkan Ethan merubah posisinya berulang ulang, padahal tubuhnya terasa lelah dan sangat membutuhkan istirahat. Namun tampaknya kantuk yang semula menyerangnya sirna begitu saja. Berganti dengan sebuah rasa rindu terhadap istrinya."
Ethan meraih ponsel, membuka jendela obrolannya dengan Zoya. Tapi ia harus kecewa saat sama sekali tidak ada signal di sana. Pria itu akhirnya beranjak dari posisi berbaringnya, ia duduk dan menoleh pada Naina yang sudah tertidur di bawah sana. Ethan kemudian memilih turun dari atas tempat tidur. Ia menatap Naina sebentar, mau memindahkan gadis itu ke atas tempat tidur, tapi perasaannya menahan. Tidak tega juga kalau sampai gadis itu terbangun karenanya. Tapi membiarkannya tidur di atas selimut tipis yang berisiko membuat masuk angin juga membuatnya tidak tega. Tapi ..., Ethan memilih tak perduli, beranjak keluar dari kamar dan mencari tempat nyaman untuk hanya sekedar duduk, hujan sudah mulai reda, hawa dingin yang semula menusuk kini membuatnya perlahan merasa gerah karena suasana panas.
**
Sedangkan di belahan bumi yang lain, Zoya juga sama dengan Ethan. Wanita itu tidak bisa tidur, ia hanya terdiam dengan posisi tubuh terlentang. Memikirkan Ethan, ia sudah mengirimi sang suami pesan namun hingga detik tadi saat ia cek statusnya masih ceklis satu.
Zoya beranjak dari tempat tidur. Rupanya gerakannya membuat wanita di sampingnya terganggu hingga sang adik ipar bangun.
"Kenapa? Enggak bisa tidur?" tanya wanita itu dengan suara serak khas orang bangun tidur.
__ADS_1
"Enggak papa, kamu lanjut tidur aja."
"Zoy, aku ini gantiin Ethan buat jagain kamu. Kalau butuh apa - apa bilang aja, yah."
"Iya. Aku cuma ngerasa gerah, mau ke balkon dulu."
"Jangan lama - lama, nanti masuk angin."
"Iya. Kamu lanjut tidur aja, yah." sahutnya seraya mengusap tangan Arasy yang semula menahannya untuk beranjak. Arasy menganggum, tampak memejamkan mata dan wanita itu sangat mudah untuk segera terlelap.
Sedangkan Zoya berjalan menuju balkon untuk mencari angin segar. Ternyata rasanya seburuk ini tidur tanpa Ethan. Ia tak bisa terlelap. Benar - benar tidak bisa.
**
Naina terbangun dan sontak saja merasa terkejut melihat tempat tidur Ethan yang kosong. Kemana pria itu pergi? Atau yang semalam jika ia pulang kampung dengan Ethan hanya halusinasi? Naina menggeleng, menolak isi kepalanya saat melihat jaket parka milik Ethan yang masih melekat di tubuhnya.
Pintu kamar yang terbuka dan menampilkan Ethan membuat Naina bernapas lega, setidaknya apa yang dilalui bukan halusinasi. dan pria itu tidak meninggalkannya.
"Sudah bangun?" tanya Ethan memdapati gadis iru yang justru melamun.
"Iya, Pak. Baru aja,"
"Saya tidak tidur sejak semalam, pukul empat tadi signalnya lumayan bagus. Jadi saya segera menghubungi Randy untuk datang kemari." terangnya yamg melaihat Naina tampak bingung dengan kedatangan Randy yang tiba - tiba.
"Ayo. Saya harus segera beristirahat." sahut Ethan lagi yang membuat Naina bergegas bangkit dari posisinya. Kemudian merapikan tempat tidur seperlunya dan menyusul Ethan yang sudah lebih dulu keluar.
Ethan mengembalikan kunci kamar kepada si ibu pemilik penginapan sembari membayar biaya yang terhitung murah. Yah, sangat murah bagi Ethan. Ibu pemilik penginapan itu tersenyum penuh arti terutama saat melihat jaket Ethan yang melekat di tubuh Naina. Mbuat Naina bingung dan akhirnya menundukan pandangan.
"Kapan - kapan menginap di sini, lagi, yah." sahutnya sebelum Ethan dan Naina berlalu pergi. Keduanya tampak acuh tak acuh, berjalan meninggalkan penginapan menuju mobil Randy yang sudah menunggu mereka.
Ethan dan Naina duduk di bangku belakang dengan Ethan yang langsung menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, pria itu tampam lelah. Membuat Naina merasa tidak enak, bagaimana pun ia lah penyebab penderitaan sang majikan malam tadi hingga pagi ini.
"Aku udah hubungin tukang derek, nanti mobil kamu biar ditangani." beritahu Randy yang mulai melajukan mobilnya. Ethan hanya menyahut dengan gumaman, sedangkan matanya terpejam. Ethan benar - benar merasa mengantuk setelah tembus sampai pagi matanya tidak diserang kantuk yang akhirnya membuatnya begadang untuk hal tidak masuk akal.
Randy melihat dua orang yang berada di kursi belakang itu melalui rear vission mirror. Ia hanya menggeleng pelan. Terutama saat matamya menangkap jaket parkanEthan yang melekat di tubuh Naina.
Ethan tiba di rumah sekitar sepuluh menit setelah Zoya tiba diantarkan oleh kedua mertuanya dan juga Arasy. Ethan sudah sempat membalas pesannya san memberitahukan jika dirinya dan Naina tidak jadi ke kampung halaman gadis itu karena Bibi gadis itu melarang lantaran sakitnya sudah sembuh dan keadaannya tidak perlu dikhawatirkan.
Zoya menaikan alis melihat prianya yang tampak loyo, berjalan ke arahnya kemudian menjatuhkan kepalanya pada pundak Zoya. Zoya yang sedang hamil kenapa suaminya yang manja tingkat dewa?
Zoya meraih jaket parka dari tangan pria itu, kemudian mengusap punggung Ethan sekilas. Naina yang berdiri di sana hanya tersenyum menatap Ethan yang tengah bermanja pada sang istri.
__ADS_1
Awalnya Naina merasa tidak enak mengemabalikan jaket parka milik Ethan itu setelah memakainya. Namun mengingat apa yang Zoya katakan agar ia tak menyentuh pakain Ethan selalu membuat - nya tidak enak jika harus melanggar aturan tersebut.
"Saya takut Mbak Zoya marah kalau tau saya sentuh pakaian Pak Ethan." begitu ucap Naina sebelum turun dari mobil. Awalnya Ethan hanya terdiam, namun beberala saat kemudian, karena menghargai sang istri ia pun menerima jaket miliknya sebelum gadis itu mencucinya.
"Pasti nggak tidur, yah?" tanya Zoya pada pria itu.
"Kok tau?" heran Ethan seraya mengangkat kepalanya dari pundak wanita itu dan menatap sang istri lekat - lekat.
"Hmm, karena semalem aku juga nggak bisa tidur." jujur wanita itu sembari mengangguk - anggukan kepala
"Telepatinya kuat." Ethan mengacak puncak kepala wanita itu.
"Saya istirahat dulu," pamitnya kemudian, mengambil alih jaketnya dari tangan samg istri kemudian berlalu pergi menuju lantai dua di mana kamarnya berada.
"Naina," Naina mendekat begitu wanita itu memanggilnya setelah Ethan berlalu.
"Keadaan Bibi kamu sudan mendingan?" tanya Zoya, Naina mengangguk.
"Ethan pernah bilang, kalau Bibi kamu sepenuhnya sudah sembuh maka pekerjaan kamu bakal di ambil alih sama Bibi kamu?" tanya Zoya dengan panjang lebar.
"Hmm." Naina mengangguk
"Terus, apa yang mau kamu lakuin?"
"Pulang kampung."
"Kenapa pulang kampung? Lagian kamu masih tetep bisa kerja di sini, kok." Zoya bagai membujuk. Naina hanya diam, tapi kemudian ia menayahut. "Masih lama Mbak. Lagian, setelah kaeadaan Bibi memburuk kaya sekarang. Saya nggak tega kalau harus biarin beliau kerja. Jadinya biar saya saja yang gantikan dia di sini."
"Nggak masalah sampai kapan - pun sebelum dipecat." ujarnya yang kemudian tertawa di ujung kalimatnya.
"Saya nggak akan pecat kamu." Zoya menepuk bahu wanita itu dengan yakin. Naina tersenyum hangat. Sekali pun ia seringkali merasakan perasaan aneh pada hatinya untuk Ethan. Namun melihat senyum Zoya ia lebih baik mati - matian mengubur perasaan meresahkannya dari pada harus meliahat raut wajah ceria Zoya berubah kecewa jika seandinya ia berkhianat pada wanita itu.
TBC
Thor, kesannya Naina baik banget nggak mau khianatin Zoya? Da emang dia mah baik gimana dong.
Thor Zoya agak tolol apa gimana, sih, begini begitu begini begitu ?
So, guys. Alur cerita mengharuskan doi bersikap seperti itu. Bayangin seandainya sejak awal Zoya setuju sama Ethan buat nggak nerima Naina jadi sisten rumah tangga mereka. Gimana tuh? Aku nulis apaan kalau kaya gitu sedangkan alurnya mengarah ke .....
Ohh btw aku belum bisa janji up Maybe Mine di lapak sebelah. Kumpulin koin aja dulu yah. Kalau mau tau alesan jelasnya, aku sibuk nulis naskah BCB and belum lagi kerjaan aku bukan cuma nulis doang. Jadi waktunya kebagi - bagi Maaf, yah🙏
__ADS_1