Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Alat Penyadap


__ADS_3

Acara empat bulanan Selin diadakan secara sederhana di kediaman orang tua wanita itu, pada awalnya Selin tak ingin melakukannya dan hanya akan menggelar syukuran pada tujuh bulanan nanti. Namun suami dan orang tuanya sangat menginginkannya sehingga Selin menyerahkan saja semua urusan pada suami dan orang tuanya. Ia bahkan tak tau apa apa dan hanya ikut serta saat acara berlangsung.


Sepanjang acara, Zoya banyak membantu, salah satunya menyambut kedatangan para tamu. Meski sesekali ia merasa kerepotan karena banyak yang meminta untuk berfoto dengannya. Tentu saja Zoya tidak bisa menolak, menyambut baik kedatangan tamu undangan dan membuat mereka senang pasti juga akan membuat tuan rumah senang sehingga Zoya merasa tidak keberatan dengan hal itu.


Disela-sela kesibukannya, ia mencari keberadaan sang suami. Sampai matanya menangkap Ethan yang tampak menarik tangan Naina untuk lebih dekat padanya. Zoya mengukir senyum tipis sekalipun ada yang tak biasa dengan hatinya ketika melihat hal itu.


Setelahnya, ia melangkahkan kaki untuk menghampiri dua orang itu. Ethan menyambutnya penuh senyuman saaat ia tiba. Zoya berbisik pelan pada pria itu.


"Jangan terlalu kentara atau orang-orang akan curiga." sahutnya memperingatkan sang suami yang membuat Ethan segera mengambil jarak dari Naina. Naina yang mengerti apa yang dua orang itu bicarakan hanya mengangguk samar.


Beberapa menit lalu, ia mendapat pesan dari Rival, pria itu menanyakan keberadaannya. Saat Naina mengatakan jika ia berada di rumah orang tua Selin dan tengah menghadiri acara syukuran empat bulanan Selin, pria itu meminta untuk menjemputnya, sehingga Naina memilih menemui Ethan dan meminta izin pada suaminya itu.


"Rival mau jemput kamu?" tanya Ethan setelah Naina mengatakan isi pesan yang Rival kirimkan. Naina mengangguk, sementara Ethan terdiam, jujur ia tak ingin memberi izin. Namun mengingat jika barangkali Rival ingin melihat keadaan gadis yang tengah mengandung anaknya, Ethan tak berani mencegah Naina.


Ia juga sengaja menarik Naina karena desakan orang-orang membuat gadis itu nyaris beberapa kali tertabrak. Ia tidak tahu jika Zoya akan melihat kejadian tersebut.


"Kamu nggak nginep aja, Zoy?" tanya Selin usai acara inti empat bulanannya yang digelar di rumah orang tuanya selesai. Tapi beberapa tamu yang notabenenya adalah kerabat dekat dan para tetangga masih berada di sana.


"Kapan-kapan, aja, yah." tolak halus Zoya sekalipun membuat kedua orang tua Selin tampak melayangkan tatapan kecewa padanya. Mereka tentu saja merindukan putri angkatnya itu untuk menginap di sana.


"Naina di mana?" tanya Zoya saat mereka sudah berada di pelataran rumah Selin dan akan memasuki mobil untuk pulang. Selin dan Randy juga orang tuanya mengantar mereka sampai ke teras.


"Naina pulang duluan." Ethan menyahut enteng. Sementara Zoya menampilkan raut bingung di wajahnya.


"Kamu serius ngebiarin Naina pulang sendiri?" ada nada jengkel terselip dalam pertanyaan Zoya. Sementara suaminya tak banyak berkomentar dan hanya menghela napas.


"Naina tidak sendiri, Sayang. Dia dijemput Rival."


"Mas Rival?" dahi Zoya berkerut mendengar hal itu.


"Gimana bisa?" tanyanya kemudian.


"Rival mungkin punya urusan sama Naina. Kamu tahu sendiri kan mereka sempat dekat."


"Tapi sekarang situasinya beda, Than. Mas Rival jangan terlalu deket lagi sama Naina. Gimana kalau sampai dia tahu rahasia kita. Akan makin runyam urusannya." oceh Zoya yang tidak habis pikir dengan pola pikir sang suami. Padahal sebelumnya mereka sudah pernah membahas hal ini untuk menjauhkan Rival dan Naina.


Melihat sang istri yang tampak emosi, Ethan tak menyahut sepatah katapun. Ia justru meraih tangan sang istri dan menatap Zoya dengan sangat lembut sekali. "Rival sudah tahu."


"Iya, tapi–" Zoya membulatkan matanya. Menatap Ethan dengan sorot tidak percaya.

__ADS_1


"Kamu bercanda, 'kan Than?"


"Saya serius Sayang, saya sangat serius."


Zoya mendesah, apa yang ia tutupi nyatanya dapat Rival ketahui dengan mudah. "Sejak kapan?" Zoya bertanya dengan nada lemah.


"Saat kamu syuting di luar kota." Ethan menyahut pasrah dan membuat Zoya menghela napas, rupanya sudah cukup lama dan Ethan baru berani mengatakannya sekarang.


"Nggak apa-apa, Sayang. Rival bisa jaga rahasia." Ethan kali ini menepuk pundak istrinya.


"Bukan itu."


"Apa?"


"Setahuku Mas Rival suka sama Naina, jadi gimana perasaannya pas tahu kalau Naina nikah sama kamu. Sama saudaranya sendiri."


"Dia pasti ngerasa terluka." ujar Zoya dengan raut wajah tak terbaca. Tak dapat membayangkan bagaimana perasaan Rival.


Ethan mematung di tempatnya, membayangkan lagi bagaimana reaksi Rival saat itu ketika tahu bahwa Naina adalah istrinya. Benar, pria itu tampak terluka, bahkan sangat terluka.


"Than," Zoya menyadarkan suaminya yang justru hanya diam. Ethan mengukir senyum, menatap istrinya dan hanya mengelus punggung tangan wanita itu.


Sehingga yang Rival lakukan adalah langsung mengantarkan gadis itu pulang namun dengan melajukan mobilnya perlahan agar ia bisa berlama-lama menghabiskan waktu dengan Naina.


Rival menghela napas, menoleh pada gadis di sampingnya, rasanya baru sebentar, tapi ia sudah harus berpisah dengan Naina.


Naina perlahan membuka seatbeltnya saat mobil sudah berhenti di depan gerbang rumah suami sekaligus majikannya. Tetapi Rival masih belum mematikan mesin mobil.


"A–aku duluan, Mas Rival." sahutnya sedikit gugup. Dengan segera membuka pintu mobil, tetapi sebelum gadis itu turun, Rival sudah lebih dulu menahan pergelangan Naina.


"Kabarin aku kalau terjadi sesuatu."


"Kabarin aku kalau kamu butuh apapun." pesan Rival. Naina mengangguk, menatap pria itu lekat. Mungkin, jika ia tidak terikat perjanjian pernikahan dengan Ethan, ia akan bersama dengan Rival.


Mungkin, jika ia tidak memiliki kontrak pernikahan dengan Ethan, semuanya tidak akan seperti sekarang. Mungkin, seandainya sikap Ethan padanya sedikit lebih baik, ia tidak akan sampai mengandung anak Rival.


"Jaga diri baik-baik." ucap Rival, kali ini tangan pria itu mengusap permukaan perutnya. Membuat Naina hanya mengerjap polos hingga memejamkan mata ketika Rival mendaratkan bibir di keningnya.


***

__ADS_1


"Aku memang istri Mas Ethan. Tapi Mas Ethan bukan suami aku sekalipun Mbak Zoya nggak ada di rumah ini!"


"Mas Ethan pikir aku nggak sakit hati saat ngeliat kamu sama Mbak Zoya yang sering mesra-mesraan di depan aku? Mas Ethan pikir aku nggak pernah cemburu kalau ngeliat kalian sama-sama, huh?"


"Pernah, Mas Ethan mikirin gimana perasaan aku. Pernah Mas Ethan mikirin aku, huh?"


"Tapi saya menikahi kamu bukan karena cinta, Naina. Saya menikahi kamu atas kesepakatan yang sudah kita buat bahkan di atas tandatangan yang kamu bubuhkan!"


"Saya pikir kamu sudah salah paham."


"Bukankah syarat yang Zoya ajukan jangan sampai di antara kita ada cinta?"


"Mungkin Mas Ethan bisa seperti itu. Tapi aku nggak Mas. Dengan kita tidur dan menghabiskan waktu bersama, Mas Ethan pikir aku nggak akan jatuh cinta?"


"Aku terlanjur jatuh hati sama kamu."


"Tapi aku cukup tahu diri Mas. Aku enggak bisa milikin kamu sampai kapanpun, itu kenapa aku butuh Mas Rival."


"Karena aku sadar, aku butuh orang yang benar benar ingin dan mencintai aku."


"Mas Ethan tenang aja, aku nggak akan bilang ke Mas Rival perihal pernikahan kontrak kita. Aku cuma akan bilang ke Mad Rival kalau aku siap dikenalin ke keluarganya, kalau Mas Rival yakin mau nikahin aku. Aku bakal ngulur waktu sampai perjanjian kita selesai."


"Jadi, apa yang kamu inginkan dari saya Naina?"


"Apa yang kamu inginkan?"


Zoya mendesah, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, melepas earphone dari telinganya dan menutup laptopnya. Air mata wanita itu menggenang, rupanya dugaannya tidak salah.


Apa yang orang-orang sekitarnya khawatirkan benar adanya, salah satu dari mereka pasti akan ada yang tak bisa menahan perasaannya. Itu adalah Naina, rupanya Naina jatuh cinta pada suaminya. Zoya bahkan tidak sanggup mendengarkan rekaman tersebut hingga selesai.


Wanita itu kembali mendesah, mengguyur rambutnya ke belakang dan menatap suaminya yang begitu lelap tertidur di bawah selimut tebal.


Sehari sebelum berangkat ke luar kota untuk keperluan syuting tempo lalu, dengan perasaan was-was dan merasa bersalah, Zoya memasang sebuah alat penyadap di bawah tempat tidur Naina. Ia tahu dirinya sudah melanggar privasi, namun hal tersebut perlu dilakukan olehnya.


Sejujurnya, sehari setelah ia mengambil alat penyadap di kamar Naina begitu pulang dari luar kota, Zoya ingin segera mendengarkan apa saja yang terjadi saat ia tak ada. Namun ia belum berani melakukannya dan baru hari ini memberanikan diri. Sangat berat bagi Zoya mengetahui fakta tersebut. Namun, ia yakin hanya Naina yang keliru, Zoya yakin Ethan dapat meluruskannya.


Zoya tak bisa menolak saat memori di kepalanya mengulang hal-hal yang pernah ia lihat antara Naina dan suaminya atau apapun interaksi antara dua orang itu.


Setelah dipikir-pikir, mungkin Naina sudah cukup lama menyiratkan sorot tak biasa pada Ethan. Mungkin, seharusnya Zoya lebih cepat menyadari, jika Naina jatuh cinta pada suaminya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2