Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Sad Ending


__ADS_3

Selin segera meraih tubuh Zoya ketika wanita itu tiba begitu selesai berbicara dengan suaminya. Zoya sudah bercerita, Selin sudah tahu apa yang tengah terjadi dengan hidup sang aktris sekaligus teman yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


Selin sangat mengerti jika semua tidaklah mudah bagi Zoya. Hal ini begitu sulit, bahkan seandainya Selin yang berada salam posisi wanita itu, rasanya ia tak akan bisa.


Zoya terlalu tegar menjalani rumit perjalanan hidupnya. Wanita itu terlalu tegar sekaligus rapuh diwaktu bersamaan, mungkin itulah alasan mengapa Tuhan mengirimkan Ethan berada di sisinya.


Selin segera meraih ponsel dari saku jeansnya begitu benda canggih itu berdering. Id Pak Ethan menghiasi layar ponsel, Selin menempelkan benda pipih itu di telinga saat Zoya madsh dalam dekapannya.


"Hallo, Pak Ethan."


"Saya titip Zoya."


"Tolong jaga Zoya baik-baik." terdengar ******* napas pria itu sebelum kemudian ia melanjutkan. "Jangan sampai dia menangis."


Selin mengangguk begitu panggilan terputus. Meski rasanya sangat terlambat untuk mencegah Zoya agar tidak menangis. Wanita dalam dekapannya itu terisak. Selin hanya mampu mengusap punggung Zoya, sedikit meredakan isakannya agar tak mengundang perhatian.


Sepanjang perjalanan menuju salah satu negara di Eropa Timur yang memakan waktu lebih dari 15 jam, Zoya hanya diam melamun, Selin yang duduk di sampingnya tak bisa melakukan hal apa pun kecuali hanya membiarkan waktu sendiri bagi Zoya untuk menenangkan diri.


Bahkan ketika pesawat yang mereka tumpangi transit, Zoya tak berbicara sepatah katapun padanya. Andai Selin tak memaksa, wanita itu juga akan menolak makan.


Setelah menghabiskan waktu 15 jam 40 menit perjalanan, ketika seluruh anggota tim tiba di sebuah hotel, Zoya segera menuju kamar miliknya begitu Selin memberinya kunci.


"Silakan beristirahat. Besok kita akan memulai syuting, kita bisa menikmati keindahan Bukares begitu selesai syuting nanti, bagaimana?" Irpan meminta pendapat seluruh anggota tim sebelum mereka masuk ke kamar masing-masing.


Semua mengangguk setuju. Sambil bekerja, sekalian liburan, begitulah kira-kira anggapan semua orang, tapi akan lebih baik jika mereka mementingkan pekerjaan lebih dulu dan menikmati liburan setelah pekerjaannya beres nanti. Rasanya tidak akan ada beban jika begitu, mereka bisa menikmati liburan sepuasnya.


***


Rival hanya diam di ruangannya dengan tangan yang menyangga dagu. Jam bubaran kantor sudah berlalu sejak satu setengah jam yang lalu, namun ia masih bertahan di dalam ruangannya.


Sejak kemarin, setelah mendengar kabar dari Ethan jika Zoya mengetahahui rahasia dibalik kehamilan Naina, Rival sudah merasa tidak tenang.


Ia sibuk menerka-nerka mengenai apa yang akan terjadi setelahnya. Ia tidak menyangka jika akan secepat ini Zoya mengetahui fakta yang coba mereka sembunyikan.


Jika keadaan berbalik kacau, maka Rival tidak memiliki pilihan lain kecuali terus terang kepada orang tuanya jika ia sudah menanamkan benih dirahim seorang gadis yang tak lain adalah Naina.


***


Hari ini, Naina memilih untuk mendatangi sebuah rumah dua lantai, miliknya yang merupakan pemberian Ethan. Ini adalah kunjungan keduanya setelah sebelumnya pernah datang ke rumah tersebut bersama dengan Ethan dan Zoya untuk melihat keadaannya.


Perabotan di rumah tersebut sangatlah lengkap, Zoya yang menyiapkannya dan memilih produk paling bagus untuk Naina. Naina yang tengah duduk pada sofa panjang di ruang utama rumah membayangkan untuk memboyong sang bibi ke rumah tersebut untuk pindah ke Jakarta dan tinggal bersamanya.


Namun dalam hitungan detik, bayang bayang tersebut sirna dari pelupuk matanya mengingat kondisi Ethan selama tiga hari ini usai mengantar Zoya ke Bandara. Pria itu lebih banyak diam, Ethan seperti orang bisu.


Di rumahpun, Ethan lebih banyak melamun, bahkan kemarin pria itu tidak pergi bekerja dan hanya mengurung diri di dalam kamar. Ethan tidak keluar dan tidak makan.


Naina tentunya adalah orang yang paling merasa bersalah. Ia menjadi penyebab hal itu terjadi begitu Zoya mengetahui jika anak yang ia kandung bukanlah anak Ethan.


Naina merasa malu bahkan untuk pakaian bagus yang ia kenakan. Pemberian Zoya yang sangat mengasihinya, tetapi ia sama sekali tidak tahu cara berterimakasih.


Naina menyeka air matanya, saat Zoya pulang nanti, bahkan Naina rela jika harus berulut di hadapan wanita itu untuk meminta maaf.


***


"Suami kamu."

__ADS_1


Selin menyodorkan ponsel pada Zoya yang tengah duduk sambil membaca script begitu break syuting.


Zoya hanya menoleh, ia sama sekali tak memiliki minat untuk berbicara dengan suaminya. Beberapa hari ini, ia mencoba menyibukan diri dan menahan emosi yang bergejolak di hatinya. Bahkan memendam tangis yang solah ingin menumpahkan seluruh air mata yang dimilikinya.


Melihat keengganan di wajah Zoya, Selin menghela napas dan mencoba mengerti. Tetapi ia juga tidak bisa terus menerus membiarkan Zoya larut dalam masalahnya dan Ethan. Bagaimanapun, mereka perlu bicara.


"Mbak tahu ini sulit, Mbak sangat mengerti sslekali. Tapi seenggaknya kamu istirahatin suami kamu dari rasa khawatir. "


"Kamu yang paling tahu dia Zoy. Mbak yakin keadaan suami kamu pasti kacau kalau kamu begini terus."


"Seenggaknya angkat telponnya, biarin dia tahu kalau kamu baik-baik aja." bujuk Selin penuh lemah lembut karena tak ingin menyinggung perasaan Zoya.


Zoya mendesah, meraih ponsel dari tangan Selin lantas beranjak untuk mengangkat telpon suaminya. Selin memaksakan senyumnya melihat hal itu.


Selin tahu Zoya adalah aktris yang profesional. Bahkan beberapa hari ini, dalam keadaannya yang sangat kacau pun Zoya mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik seolah ia tak memiliki masalah apapun. Kali ini, Zoya berhasil memedakan masalah pribadi dan pekerjaannya.


"Aku baik-baik aja, kamu nggak perlu khawatir." sahut Zoya begitu menggeser ikon hijau. Ia menyilangkan tangan, menatap potret malam Bukares yang begitu memesona dengan berbagai warna lampu yang menyala.


Zoya tidak tahu alasan apa yang mendasari Arfat dan Irpan berkomunimasi dengan Manajer Lokasi untuk mereka melakukan syuting di negara ini dari banyaknya negara indah di dunia.


Irpan hanya mengakatakan secara singkat pada salah satu pemain yang bertanya alasan mengapa mereka memilih Bukares. Karena Bukares sangat cocok untuk Rain yang memilih meninggalkan Angkasa setelah cintanya dengan pria itu kandas begitu saja.


Setelah semalam menginap di Bukares, Zoya setuju dengan apa yang Irpan katakan. Bukares memang cocok untuk Rain yang memilih sendiri daripada terus bersama dengan Angkasa dan terluka.


"Saya tahu kamu berbohong, tapi saya sangat senang jika kamu baik-baik saja." suara Ethan menyadarkan Zoya dari lamunan.


Sesaat hanyalah hening di antara keduanya. Sepertinya Ethan pun tidak tahua apa yang ingin ia bicarakan. Karena inginnya hanya mendengar suara Zoya, ia tak bisa berharap lebih mengingat seberapa besar kesalahannya pada sang istri.


"Zoya," Zoya menoleh ke sumber suara dimana Selin memanggilnya dan memberi aba aba jika ia harus bersiap untuk take terakhir.


"Aku harus take." beritahunya dengan singkat.


"Yasudah."


"Aku tutup telponnya."


"Zoya–"


Zoya yang sudah akan memutus sambungan telpon menahan jari tangannya. Tapi ia tak bicara dan hanya mendengarkan barangkali ada yang ingin Ethan sampaikan.


"Saya sangat merindukan kamu."


"Cepatlah pulang, ada pelukan permintaan maaf dari saya sedang menunggu kamu."


Zoya berhasil menitikan air matanya, tapi ia tak merespond. Ia lebih memilih memutus sambungan telpon, menyeka air matanya dan bergegas untuk melanjutkan pekerjaannya.


***


Bertahan tidaklah mudah bagi Rain, ia tidak ingin terus menerus terluka. Bagaimana mungkin ia akan hidup dengan suami yang mencintai madunya?


Bagaimana mungkin ia kaan mempertahankan rumah tangganya yang sudah tidak dapat diperbaiki?


Hingga pada langkah akhir, Rain memilih pergi. Melupakan seluruh kenangannya dengan Angkasa, melepaskan seluruh cintanya untuk pria itu.


Rain memilih jalannya sendiri untuk berpisah dengan orang yang paling ia cintai.

__ADS_1


"Kita bisa selesaikan ini baik-baik sayang. Aku memang mencintai Selia, tapi cinta aku ke kamu tetap ada." Angkasa mencoba menahan kepergian Rain yang saat itu angkat kaki dari rumah dan membawa semua pakaiannya


"Tetap ada kamu bilang?"


"Aku akan adil sama kalian."


"Mustahil Angkasa. Mustahil ada dua cinta di sini." Rain menunjuk dada pria itu. "–yang sama banyaknya."


"Mari berpisah, mungkin seharusnya dari awal kita dengarkan apa yang orang tua kita katakan untuk tidak bersama."


"Aku sudah nggak mau terluka, Angkasa."


"Kita sudahi saja." Rain melanglah pergi.


"Rain–"


Bersamaan dengan itu, Selia keluar dari rumah seraya menggendong bayinya yang menangis, membuat langkah Angkasa tertahan untuk mengejarnya.


Sementara Rain terus melangkah meninggalkan pelataran rumah. Rumah yang ia dan Angkasa bangun penuh cinta. Rumah yang kemudian ia tinggalkan demi menyelamatkan hati dan perasaannya.


Malam itu, di jalanan sepi yang senyap. Rain berjalan dengan tangis, langkah kakinya kemudian tertahan dan ia menangis sejadi-jadinya menumpahkan perasaan sesak di dadanya.


Edrin dan Alexa yang sudah menyelesaikan take-nya berkumpul dengan sutradara untuk melihat Zoya yang masih menyelesaikan takenya.


Irpan menggeleng takjub melihat aktung emukau Zoya yang begitu mendalmai perannya. Sangat mendalami kondisi sakit Rain saat ini.


Begitu juga Edrin yang menggeleng takjub melihat akting Zoya.


Sementara Alexa dan Selin yang sadar akan keadaan wanita itu merasa janggal dan iba. Berbeda dengan yang lain yang tampak kagum dengan akting menangis wanita itu.


"Hebat sekali Rain, bagus. Seperti itu." decak Irpan, penuh bangga dengan raut puas di wajahnya. Selin di belakangnya menggeleng.


"Itu bukan Rain. Itu Zoya."


Zoya menjadikan kesempatan perannya untuk menumpahkan segala isi hatinya atas kesakitan yang ia rasakan. Sudah cukup ia menahannya selama berhari-hari. Seperti Rain yang sangat terluka, ia pun sama.


Zoya pun sangat terluka.


Diceritakan, Rain memilih menjauh dari kehidupan Angkasa dan meninggalkan semua hal yang berhubungan dengan pria itu. Bukares menjadi pelariannya. Menjadi tempat dimana ia menata kembali kehidupannya. Berdamai dengan dirinya sendiri.


"Kenapa Rain sama Angkasa harus berakhir seperti ini?" salah satu pemain My Beloved Wife bertanya-tanya.


"Mungkin, kalau dalam ceritanya Angkasa sama Rain ketemu lagi, semuanya akan beda." salah satu dari mereka menimpali.


"Kenapa harus sad ending?"kali ini Edrin pun ikut buka suara dan memperjelas pertanyaan rekan-rekannya. Zoya yang ada di sana hanya tersenyum dan menatap rekan-rekannya.


"Ada apa dengan sad ending?" semua mata mengarah pada Zoya.


"Bukankah sad ending selalu meninggalkan kesan kuat?" Zoya berpendapat, membuat beberapa di antara mereka mengangguk setuju.


Tidak ada yang salah dari cerita sad ending. Justru biasanya, cerita dengan akhir yang menyedihkan dan kurang memuaskan hati para penonton akan lebih melekat dalam ingatan mereka.


Edrin juga mengangguk setuju. "Benar. Sad ending selalu meninggalkan kesan kuat."


TBC

__ADS_1


Jadi bagaimana pemirsa, bukankah sad ending menyenangkan? Hmm


__ADS_2