
Kabar duka yang datang dari salah satu anggota tim membuat seluruh anggota merasakan duka yang mendalam bagi keluarga mendiang. Takdir Tuhan memang tak dapat dirubah, tak dapat ditebak akan seperti apa jadinya.
Andai malam itu sang kru tak bersikeras untuk pulang dan sedikit lebih sabar untuk menunggu saja cuaca buruk reda atau pergi saat pagi hatinya, mungkin pria itu masih ada bersama mereka. Mungkin pria itu masih dapat berkumpul dengan keluarganya.
Namun demikian, hal itu sudah menjadai patokan Tuhan. Tak ada yang dapat dirubah ataupun dicegah jika Tuhan sudah berkehendak.
Mengingat jarak dari penginapan tidak begitu jauh dari rumah duka. Syuting pada hari tersebut diliburkan dan tim memilih untuk melayat ke rumah duka.
"Mbak Selin nggak perlu ikutlah." Zoya tidak ingin wanita itu kecapean karena mereka akan cukup repot oleh jalanan sisa hujan semalam.
"Enggak papa Zoy, kamu nggak perlu khawatir. Mbak bisa jaga diri baik-baik. Lagian Mbak juga harus dampingin kamu." sahut Selin menenangkan wanita itu. Ia dapat melihat bagaimana raut sendu Zoya yang penuh duka saat pagi tadi mendengar kabar duka ini.
Semua anggota tim memang sedih karena mereka kehilangan satu anggota. Bukan saja karena mereka kehilangan keluarga, tapi ketiadaannya juga cukup memengaruhi proses syuting yang baru dua minggu dilaksanakan.
Tetapi Zoya pasti adalah yang paling sedih, padahal mereka baru satu hari melakuka syuting di puncak. Tapi tragedi nahas ini sama sekali tak bisa dihindari.
Alexa yang berdiri tak jauh dari dua orang itu lantas melangkah mendekat. "Biar Zoya sama aku aja."
"Mbak Alexa yakin?" tanya Selin setelah sebelumnya sesaat sempat terdiam. Alexa sempat menatap Zoya sebentar, ia mengingat apa yang Ethan katakan padanya sebelum mereka berangkat kemarin, jika pria itu menitipkan Zoya padanya. Alexa memang tersinggung, namun tidak ada salahnya juga jika ia memenuhi apa yang Ethan inginkan.
"Ibu Selin tenang aja, Zoya aman sama aku."
"Zoy," Selin masih merengek untuk ikut.
"Mbak, Mbak harus istirahat, okay. Tetep di vila dan jangan kemana-mana." pesan Zoya tak mau Selin membantah. Wanita yang sudah tampil rapi dan sudah siap berangkat itu hanya mendesah pasrah saat Zoya melambaikan tangan menuju mobil yang dikendarai oleh Edrin dan berlalu meninggalkan vila.
***
Tangis histeris sudah terddngar sejak Zoya dengan yang lain turun dari mobil. Isak tangis dari para tetangga terutama anggota keluarga menyambut kedatangan mereka. Kru tersebut dikenal dengan kepribadian yang baik, sehingga wajar mereka merasa kehilangan ketika pria itu meninggal dunia .
Hati Zoya begitu pilu melihatnya, terlebih saat ia melihat seorang wanita yang duduk dengan pakaian hitam sambil menggendong bayi. Zoya yakin jika wanita itu adalah istri dari korban, di sampingnya adalah seorang wanita paruh baya yang mungkin adalah ibu merrtuanya.
Dalam artian dialah ibu dari korban.
Mata kedua wanita itu tampak sembab seolah menggunakan waktu sejadi-jadinya hanya untuk menangis.
Zoya mengerti, hal ini pasti sangat sulit dipercaya oleh istri korban. Wanita itu juga pastinya sangat tidak bisa membayangkan, hari lahir sang anak sama dengan hari kematian sang suami.
Arfat, Irpan, diikuti yang lain menyalami istri dan ibu korban, mengucapkan bela singkawa sedalam dalamnya dan juga mengucapkan beribu-ribu maaf karena tidak dapat mencegah kepergian korban sehingga terjafilah hal yang tidak diinginkan.
"Pasti keluarga korban sulit nerima hal ini." Alexa di sampingnya berbicara. Zoya hanya diam.
"Coba aja kalau semalam nggak hujan. Coba aja kalau semalam cuaca normal." sambungnya bagai tidak terima atas kondisi yang tengah mereka hadapi.
"Tapi takdir nggak bisa dihindari. Seandainya semalam cuaca cerahpun, jika dia harus meninggal tadi malam, maka akan tetap terjadi sekalipun bukan tertimpa pohon." Edrin di saampingnya menyahut, pemikiran logis itu membuat Alexa di sampingnya menoleh dan tak mengatakan apapun kecuali menganggukan kepalanya sebagai tanda persetujuanbatas pendapat yang Edrin kemukakan.
Lantas, senyum manis terbit di bibirnya saat melihat pria itu tengah menatap korban dengan raut iba.
Bagaimanapun, semua orang harus tabah ketika kehilangan. Sudah ada patokan dari sang khalik dan tak ada manusia manapun yang bisa menghindar. Semua orang akan mendapat giliran nanti.
"Mbak Zoya," panggilan dari seorang wanita yang beberapa saat lalu Zoya mintai tolong membuat Zoya mrnoleh.
"Ini–" ia menunjukan layar ponselnya.
"Saya udah dapat nomor rekening keluarga korban." sahutnya, Zoya mengangguk dan berterimakasih. Ia memang meminta tolong pada salah satu kru wanita untuk mendapatkan nomor rekening keluarga korban. Zoya berniat menyisihkan sebagian harta yang ia punya untuk masa depan sang bayi dan ibu.
Tidak seberapa, bahkan bukan apa-apa dan tak dapat mengembalikan nyawa sang suami yang sudah dipanggil sang pencipta. Hanya saja, hal tersebut Zoya lakukan untuk mengurangi beban sang istri yang ditinggalkan agar tidak terlalu kesulitan di masa depan kelak.
Tanpa Zoya duga, jika Alexa dan Edrin juga mengeluarkan ponselnya dan ikut melakukan hal yang sama tanpa meminta persetujuan lebih dulu darinya. Zoya tersenyum tipis melihat kelakuan dua orang itu.
__ADS_1
"Boleh saya gendong sebentar?" pinta Zoya pada istri korban ketika ia melihat bayi mungil dalam dekapan wanita itu.
Istri korban dengan mata sembabnya mengangguk, tapi bibirnya mengukir senyum tipis yang membuat hati semua orang teriris, karena dengan jelas senyum yang ditunjukannya adalah senyum penuh paksaan.
Zoya meraih tubuh mungil bayi lucu itu saat sang ibu menyerahkannya. Zoya tersenyum lebar dengan hati yang menghangat saat menatap bayin yang tengah tertidur pulas itu.
"Cantik sekali." puji Zoya. Ia tulus mengatakannya karena bayi tersebut memang tampak begitu cantik.
"Anak baik, anak pintar. Sehat-sehat yah, Sayang. Harus kuat, seperti Bunda." sahut Zoya yang membuat mata ibu si jabang bayi kembali berair. Sangat kasihan melihat sang anak yang bahkan tak memiliki ayah sejak lahir ke dunia.
Arfat memberikan kompensasi yang besar pada keluarga korban. Ia bahkan akan menjamin masa depan sang jabang bayi dan istri korban tak perlu mengkhawatirkan masa depan putrinya.
Apa yang Arfat dan anggota tim berikan tentunya tak seberapa. Tak sebanding dengan nyawa sang kru yang gugur dalam perjuangan. Apa yang mereka berikan tak akan membuat sang kru kembali di tengah-tengah mereka. Hanya saja, tak ada yang mampu mereka berikan kecuali doa terbaik dan jaminan masa depan.
Hanya itu.
***
"Untuk mobil kamu, saya akan ganti nanti. Saya dengar, mobil itu hadiah sweet seventeen kamu dari daddy kamu." sahut Arfat ketika mereka sudah kembali ke penginapan.
"Enggak perlu lah Pak." Alexa menolak karena ia memang tidak memikirkan hal tersebut. Rasanya, memang sudah takdir ia berpisah dengan mobil kesayangannya.
"Tidak bisa seperti itu, Alexa. Mobil itu memiliki banyak kenangan indah. Saya yakin kamu sangat mencintai mobil itu."
Alexa tersenyum. "Kalau Pak Arfat ganti mobil dengan yang baru, itu berarti mobil pemberian Pak Arfat, bukan Dady. Vibesnya akan berbeda bukan?"
"Mobilnya akan jadi berbeda karena bukan hadiah sweet seventeen dari daddy." panjang lebar Alexa. Arfat tampak terdiam, apa yang Alexa katakan memang benar. Sekalipun merek mereka sama, namuj mobil itu akan menjadi berbeda.
Zoya dengan Edrin dan beberapa kru yang masih berada di pelataran vila hanya diam menyimak obrolan dua orang itu.
"Pak Arfat nggak perlu khawatir. Aku udah simpen kenangannya dengan baik." wanita itu menunjukan sebuah foto lawas dimana seorang remaja wanita tengah didekap oleh sang ayah di depan mobil yang tampak masih baru.
"Jadi, Pak Arfat nggak perlu ganti mobilnya, nggak masalah. Itu bukan apa-apa, yang paling penting Pak Arfaf nggak boleh nyerah sama film garapan anda."
"Kita memang kehilangan satu anggota tim. Tapi kita tidak boleh menyerah dan mengecewakan seseorang yang sudah gugur dalam perjuangan." sahut wanit itu dengan yakin dan kemudian berlalu lebih dulu memasuki vila.
Yang lain mengangguk setuju, begitu juga Zoya dan Edrin. Arfat hanya tersenyum menatap kepergian wanita itu yang bangkit secara bersamaan dengan Edrin, keduanya kompak meminta maaf. Sepertinya ia memang tidak salah mengajak Alexa bergabung dalam project filmnya. Pola pikir wanita itu gak bisa dianggap remeh.
Edrin juga tersenyum mengingat apa yang wanita itu katakan. Sepertinya, pria itu harus mulai merubah penilannya terhadap Alexa.
Wanita itu seksi, tidak lembut tapi dia baik. Dia memiliki hayinyang lebih lembut dari kapas.
***
Pada malam harinya, saat sebagian tim sudah beristirahat dengan mengunjungi alam mimpi, sebagian lagi tengah duduk santai sembari bercengkrama di teras vila, mengingat lagi kenangan yang mereka miliki dengan salah satu anggota tim yang sudah tiada.
Sementara Zoya sendiri berada di dalam kamarnya. Selin dengan Alexa sudah tidur pulas di sampingnya. Hanya Zoya yang masih terjaga dan tak dapat memejamkan mata, padahal besok ia harus berangkat ke lokasi syuting pagi-pagi sekali.
Zoya menoleh ke kanan dimana Selin tampak asik dengan dunia mimpinya. Ia menoleh lagi ke samping kiri dimana Alexa tampak begitu cantik dalam tidurnya.
Zoya mendesah, tak bisa membiarkan dirinya sendiri yang terus terjaga. Ia bangkit dari posisinya, membuat satu kaki dan tangan Alexa yang semula menindihnya mengingkir.
Zoya keluar dari kamar untuk mencari udara segar. Ia melihat beberapa anggota time yang sudah tertidur di runang utama vila.
Lagi-lagi, Zoga mendesah melihat orang-orang yang dapat tidur dengan mudah. Padahal ia merasa lelah, tapi tubuhnya tak bisa diajak bekerja sama untuk segera beristirahat.
"Mbak Zoya, mah kemana?" tanya seorang kru wanita ketika Zoya melangkah keluar dari vila. Di sana beberapa anggota tim lelaki mentapanya.
"Kemana Zoy?" Edrin yang juga masih terjaga dan bergabung dengan para kru bertanya.
__ADS_1
"Nyanti angin, nggak bisa tidur." wanita itu menyahut.
"Mau ditemenin nggak? Bahaya, udah malem." tawar pria itu, Zoya tak menjawab. Tapi tampaknya bukan hal buruk karenan apa yang Edrin katakan memang benar. Waktu sudah larut malam.
Zoya akhirnya mengangguk dan membuat Edrin beranjak dari posisinya. "Hati-hati." para ktu berpesan pada dua orang itu. Edrin hanya mengangguk samar dan menyusul langkah Zoya yang sudah berjalan lebih dahulu.
"Kamu kenapa nggak pake jaket?" tanya Edrin melihat wanita itu hanya mengenakan kaos lengan panjang berukuran jumbo dan celana jeans hitam.
"Padahal di sini dingin banget." sahut pria itu lagi dengan keduan tangan yang masuk di saku hoodie yang dikenakannya. Zoya hanya tersenyum tipis.
"Kamu boleh pakai hoodieku kalau mau."
"Tapi aku nggak pake baju dalem." sahut pria itu random, yang membuat Zoya terkekeh.
"Nggak usah, makasih." sahut Zoya. Setelahnya, ia menghentikan langkah dan menagap langit malam bertabur bintang, cuaca malam saat itu begitu cerah. Bahkan bulanpun tanpa malu-malu menampakan diri dengan cahaya yang sangat terang.
"Aku nggak nyangka kalau jalannya seberat ini." sahut Zoya mengawali pembicaraan. Edrin yang mengerti kemana arah pembicaraan wanita itu hanya mendengarkan.
"Kasus prostitusi dan sekarang kecelakaan. Nanti apalagi?" Zoya menoleh pada pria itu dengan raut sendu.
"Jangan sampaii ada lagi Zoya."
"Tapi prosesnya masih panjang Drin. Mustahil kalau cobaannya cuma samlai di sini."
Edrin terdiam. "Nggak masalah, seberat apapun cobaannya, kalau kita semua masih kuat berdiri ya lanjutin lari. Tapi kalau emang berat, kita jalan pelan-pelan aja." Edrin menghibur, Zoya hanya mengukir senyum tipis.
Edrin pahan betul, sebagai seorang yang berperan sebagai tokoh utama, Zoya pasti memikirkan bagaimana hasil hang akan mereka dapatkan jika seandinya masalah terus menimpa mereka dan tim tak bisa lagi bekerjasama.
"Kamh bener," sahut Zoya, menoleh pada pria itu. Edrin juga menoleh dan membuat keduanya saling bertatapan. Hingga lampu sebuah mobil membuat dua orang itu menepis tatapan mereka dan fokus pada sebuah mobil yang melaju ke arah mereka berdua.
"Siapa?" Edrin bertanya, Zoya menggelengkan kepala karena tak dapat mengenali siapa orang yang mengemudikan mobil, pun tak dapat melihat plat nomornya, hingga ketika mobil berhenti, sang pengemudi turun behitu saja bahkan sebelum mematikan mesin mobil.
Zoya hanya mematung melihat siapa orang yang turun dari mobil. Ia menoleh lada Edrin.
"Ethan." lirihnya, kalau terus dipaksakan sampai kapanpun tidak akan mengeesal.
Ia takut pria itu salah paham dan menghajar Edrin. Zoya sudah berharap-harap cemas melihat pria itu.
Namun ternyata, dugaannya salah besar saat melihat pria itu dengan langkah lebarnya berjalan ke arah Zoya. Ethan segera menghampiri Zoya dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat, Zoya memejamkan matanya sekilas. Rasanya kecemasan yang sejak tadi ia rasakan hilang bahkan membuatnya tidak bisa tidur seketika hilang. Tampaknya, semua sirna karena pelukan dari suaminya.
Zoya membalas pelukan pria itu, tak memedulikan Edrin yang berada di sana.
"Are you okay, Sayang?" tanya Ethan, suaranya tampak baru saaja menghilangkan beban di hatinya. Begitu riangan.
Pagi tadi, saat mendengar kabar dari Randy jika anggota tim Zoya mengalami kecelakaan dan meninggal, Ethan ingin segera meluncur menyusul Zoya karena ingin menenangkan istrinya yang pastinya terpukul atas kejadian ini. Bahkan kasus prostitusi yang melibatkan Yara Narasatya saja belum selesai, tetapi masalah sudah harus menimpa mereka.
Namun Ethan tidak bisa langsung meluncur karena pekerjaannya yang belum selesai, belum lagi Rachel yang secara langsung memantaunya. Ethan tidak bisa berkutik, sehingga saat ia pulang dari agenasi, Ethan pulang ke rumah dan hanya sempat mandi dengan buru-buru. Begitu usai, Ethan segera meluncur menyusul sang istri.
"Aku baik-baik aja." Zoya menyahut, menyandarkan kepalanya kian nyaman di dada sang suami, Ethan bernapas tenang, mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala wanita itu dan mengelus rambut Zoya, lembut.
Edrin di sana benar-benar hanya menjadi penonton. Bahkan dua orang itu menganggapnya seolah tidak ada di sana.
Edrin mendesah berat. "Iya iya, dunia ini cuma milik kalian aja! Yang numpang ngontrakmah bisa apa?!"
TBC
Mohon maaf kalau banyak typo. Aku ngeditnya merem melek karena ngantuk, huhu.
Semoga kalian masih menikmati alur cerita ini.
__ADS_1
Terimakasih❤❤❤