
Zoya sebisa mungkin menenangkan diri saat ia dengan Freya sydah melangkahkan kaki memasuki rumah, Selin juga mengekor di belakang keduanya, suasana rumah yang begitu sepi membuat Freya tampak keheranan.
"Ethan belum pulang dari gedung agensi?" Freya bertanya seraya menaruh plastik putih bermerk ayam fillet di atas meja ruang tamu.
"Mm, Ethan ke luar kota Bunda." dusta Zoya dengan senyum manisnya. "Ke luar kota?" reaksi Freya sama dengan perkiraannya. Hampir membuat Zoya benar-benar tidak bisa berbohong di hadapan wanita itu. Terlebih saat Freya terus menatapnya dan kemudian mendekat.
"Naina pulang kampung, Ethan di luar kota, sejak kapan?" tanya Freya, mengusap puncak kepala Zoya penuh perhatian dengan raut cemas di wajahnya.
"Dua hari yang lalu Bunda." Zoya menyahut, kali ini suaranya terdengar begitu pelan.
"Astaga, jadi selama ini kamu tinggal sendiri di rumah?" Freya bagai terkejut. Spontan membuat Zoya mengangguk polos.
"Kok bisa-bisanya Ethan ninggalin kamu sendirian di rumah? Kenapa nggak nginep ke rumah Bunda, Sayang?" Freya mengusap lengan Zoya, tatapannya tampak khawatir dan kecewa.
"Zoya nggak papa, Bunda."
"Kalau ada yang macem-macem sama kamu, gimana? Selin juga." wanita itu beralih pada Selin, mendadak membuat Selin pias di tempatnya.
"Kenapa kamu ngebiarin Zoya tinggal sendiri. Bahaya! Kamu tau sendiri, 'kan."
"Maaf Bu," hanya itu yang dapat Selin katakan. Zoya mengalihkan perhatian Freya agar tidak menyalahkan Selin.
"Bunda, Mbak Selin nggak salah. Zoya yang pengen tetep di rumah, Mbak Selin udah ngajak Zoya nginep ke rumahnya, tapi Zoya yang nolak." panjang lebar wanita itu. Ia tidak berbohong, Selin memang mengajaknya untuk menginap di apartementnya dan Randy. Tapi Zoya menolak, ia akan sangat merasa tidak nyaman berada di antara manajer dan juga skretaris suaminya.
"Sayang–"
"Bunda, Ethan juga cuma dua hari lagi." Zoya segera menyela.
"Enggak, Bunda nggak bisa biarin kamu tinggal sendiri selama dua hari itu. Malam ini kamu nginep di rumah Bunda, okey." Freya tampak tidak bisa dibantah sehingga tidak ada yang bisa Zoya lakukan kecuali hanya mengangguk dan menuruti mama mertuanya.
Zoya paham betul, jika Freya sangat mengkhawatirkannnya. Mengingat ia adalah seorang bintang besar yang seharusnya mendapat tempat aman.
Bukan berarti rumah miliknya tidak aman. Hanya saja, mengingat Zoya hanya sendiri di rumah. Memang sangat riskan bagi dirinya nanti.
"Bunda bawain kamu ayam fillet, Kita makan sama-sama, yah." sahut Freya kemudian. Tatapan khawatir penuh cemas di wajah wanita itu kini meredup. Ia menggandeng Zoya menuju meja makan, Selin mengikuti.
__ADS_1
Baik Zoya mapun Selin tidak dapat menolak sekalipun hanya baru berselang satu jam keduanya sudah menikmati makan siang dengan Arfat dan Irpan tadi.
***
Naina mengatur napasnya yang berantakan usai menyeret kopernya ke dalam kamar mandi begitu tiba-tiba saja ponsel Ethan berbunyi dan menginterupsi keduanya.
Gadis itu menaruh tangan di dadanya, debaran di sana tak bisa ia kendalikan mengingat apa yang hampir terjadi antara dirinya dengan sang suami.
Naina melihat lagi koper miliknya. Ia membukanya dan mengambil satu set pakaian dalam di sana. Ia nemang sengaja tak menyimpannya di dalam lemari, ia merasa malu jika Ethan harus melihat pakaian dalamnya nanti.
Tatapan gadis itu kemudian beralih pada pintu kamar mandi dimana di luar sana Ethan tengah menerima panggilan entah dari siapa.
"Kamu tidak bisa mengatasinya?" tanya Ethan pada sang skretaris. Randy bilang jika Rachel bertanya mengenai keberadaannya.
"Benar Pak, saya nggak mungkin bilang ke Ibu Rachel kalau Pak Ethan sedang liburan sedangkan Zoya tidak ikut."
"Memang jangan sampai mengatakan hal itu." sahut Ethan. Setelahnya keduanya saling terdiam. Ethan berpikir keras, mempercepat kepulangannya juga tidak mungkin mengingat jika ia dengan Naina belum melakukan apapun selama di Maladewa.
"Biar saya urus itu nanti." sahut Ethan yang kemudian memutus sambungan secara sepihak. Ia memilih duduk di tepi tempat tidur setelahnya, memilin jari jari tangannya sedangkan kepalanya tengah menepis bayangan malam pertamanya dengan Naina saat keduanya baru saja tiba di Maladewa.
Ethan bahkan tak pernah berpikir untuk menyentuh Naina. Terutama dalam waktu dekat, rasanya sangat sulit dan nyaris tidak mungkin.
Pada malam harinya, saat tengah menikmati makan malam, dua orang itu hanya saling terdiam. Naina yang mendadak canggung saat Ethan hanya diam.
Sedangkan Ethan sibuk memikirkan alasan apa yang akan dikatakannya pada Rachel kemana ia pergi selama beberapa hari tanpa istri maupun skretarisnya. Juga tanpa ada konfirmasi apapun pada perusahaan.
"Pak Ethan, nanti plesternya harus diganti sebelum tidur." Naina memberanikan diri memulai komunikasi saat Ethan hanya diam dengan tangan yang sibuk mengaduk makanannya.
"Hmm?" pria itu menaikan alis, tapi sebelum Naina menjawabnya, ia sudah lebih dulu mengingat apa yang gadis itu katakan dan spontan menyentuh plester pada luka di pelipisnya.
"Tidak masalah, nanti saya ganti." pria itu menyahut seperlunya.
"Pak Ethan harus makan yang banyak." sahut Naina lagi, Ethan menatap makanannya yang masih utuh dan berantakan karena tangannya sendiri.
"Tentu saja." sahutnya, Naina hanya mampu mengangguk dan melanjutkan makan malamnya yang terasa hambar. Sedangkan di sebrang meja, Ethan tengah menatapnya.
__ADS_1
"Naina,"
"Iya Pak?"
Pria itu mendesah, mendadak indera pendengarannya merasa terganggu setiap kali Naina memanggilnya dengan embel-embel Bapak.
"Bisa berhenti panggil saya Pak?"
"Saya suami kamu." sahut pria itu dengan raut tidak suka. Sesaat Naina mematung, bahkan ia merasakan jika dalam seperkian detik, aliran darahnya seperti berhenti mengalir hingga ia dengan segera menyadarkan diri.
"Ethan?" gadis itu bersuara dengan nada ragu, berhasil membuat Ethan menautkan alisnya. Telinganya benar-benar kian terganggu mendengar gadis itu memanggil namanya, terlebih mengingat jarak usia di antara keduanya yang cukup jauh. Tentu saja Ethan jauh lebih tua dibanding dengan Naina.
"Jadi saya harus panggil apa?" tanya Naina saat melihat raut Ethan yang tampak tidak setuju jika ia memanggil nama pria itu.
Naina dibuat kian bingung saat Ethan justru mengangkat bahu acuh tak acuh dan melanjutkan makannya tanpa memerdulikan Naina. Gadis itu diam menatap sang suami yang asik makan, hingga ia menyimpulkan sebuah panggilan yang mungkin akan terdengar lebih pantas bagi Ethan.
"Mas Ethan?" sahutnya yang perlahan membuat Ethan mengangkat pandangannya. Senyum tipis terbit di bibir pria tampan itu, Ethan mulai menyesalinya, mungkin seharusnya ia tak perlu membahas hal ini dengan Naina.
Mungkin seharusnya, Zoya yang lebih dulu menggunakan panggilan tersebut padanya.
"Mas Ethan." Naina mengulang panggilan tersebut saat mendapat sinyal persetujuan dari Ethan.
"Satu hal lagi." Ethan berbicara dengan tatapan mata yang serius menatap Naina. Membuat gadis itu mengerjap polos.
"Saya minta kamu untuk tidak terlalu dekat dengan Rival."
Naina sempat terdiam guna mencerna maksud dari permintaan Ethan. Mungkinkah pria itu cemburu? Bukankah sebelumnya, Ethan sempat mendukung kedekatannya dengan Rival saat Zoya berinisiatif untuk mendekatkannya pada Rival?
Lalu, kenapa sekarang Ethan melarangnya dekat dengan Rival? Benarkah pria itu cemburu karena saat ini Naina adalah istrinya?
"Saya tidak ingin jika Rival mengetahui pernikahan kontrak kita."
"Masalahnya akan menjadi runyam nanti."
Dalam waktu sekejap, raut wajah Naina berubah sendu. Seharuasnya ia tidak perlu berpikir jauh mengenai apapun yang Ethan katakan. Ia tidak perlu bermimpi, jika ada dirinya di dalam hati sang suami.
__ADS_1
TBC