Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Sebuah Usaha


__ADS_3

Lagi, Nain bukan hanya terpana akan sikap Ethan dalam memperlakukan Zoya. Kali ini pun, ia harus jatuh cinta saat melihat bagaimana keakraban yang terjalin antara Freya dengan Zoya. Freya adalah mama mertua idaman semua wanita.


Dua wanita cantik itu tengah mengobrol di ruang keluarga. Terlihat begitu dekat dengan sesekali saling tertawa. Cukup membuatnya berdecak memuji Zoya, wanita itu sangat beruntung dalam hidupnya.


"Ethan, tuh, turunan orang setia. Enggak mungkin berpaling dari kamu," sahut Freya, meyakinkan menantunya saat wanita itu tengah membahas perihal Ethan yang kerap kali mendiamkannya jika sedang marah. Seperti kemarin misalnya.


"Sekali pun dia lagi marah, dia gak mungkin ada pikiran buat ninggalin kamu."


"Seyakin itu Bunda?"


"Hmm." Freya mengangguk penuh keyakinan.


"Papi Andreas, Ayah Agyan, mereka cukup sama satu perempuan. Dua laki - laki yang kalau ada masalah atau lagi marah lebih milih diem daripada berantem." terang Freya yang membuat Zoya mengangguk - anggukan kepala. Wajar saja jika Ethan bersikap begitu padanya, rupanya hal itu memang gen yang sifatnya melekat dan sangat kuat. Ada jiwa Andreas dan Agyan yang mengalir di dalam tubuh suaminya.


"Nah, Ethan juga begitu kalau marah. Tapi dia setia. Apalagi kamu, tuh, wanita satu - satunya di hidup Ethan."


"Satu - satunya?" kali ini Zoya sedikit terkejut mendengar keterangan Freya.


"Hmm, Ethan nggak pernah pacaran sama siapa pun atau deket sama siapa pun."


"Pas jaman sekolah, dari SD sampai SMP banyak tuh yang deketin. Ada yang sering ke rumah juga, ngajakin belajar bareng."


"Ethannya mau?"


Freya menggeleng takjub. "Malah asik main game di kamar. Pas SMA cewek ceweknya pada kapok deh buat deketin."


Zoya hanya mampu tertawa mendengar penuturan Freya. Ia juga ikut takjub pada sikap Ethan. Hal yang sangat wajar, mengingat bagaimana pertama kali Zoya mengenal pria itu. Dingin, cuek, angkuh dan cenderung apatis.


"Nah, makannaya." Freya menyentuh tangan Zoya.


"Pas tau Ethan mau menikah. Bunda kaget. Tapi Arasy jelasin semuanya ke Bunda, kalau Ethan, tuh, udah lama suka sama kamu. Bunda langsung setuju deh buat kalian cepat menikah." Freya terlihat tulus mengatakannya dengan senyum terukir, sedangkan Zoya tersenyum hambar. Mengingat bagaimana dulu paniknya ia terjebak dalam kamar hotel pria itu dan nyaris membuat kariernya di dunia entertainer hancur berkeping - keping.


"Arasy kemana Bunda, kenapa nggak ikut?" tanya Zoya setelah beberapa saat. Mengalihkan topik pembicaraa karena ia merasa enggan membahasnya. Manis dan juga pahit, tapi jauh lebih baik jika tidak dibahas.


"Hmm, biasa. Dia lagi suka banget bela diri."


"Zoya denger dia nolak beberapa tawaran pemotretan." "Padahal sebelumnya batal mundur dari dunia entertaint."


"Iya. Rencananya bulan depan mau ambil film yang ditawarin Pak Bagaskoro."


"Produser film horor?" tanya Zoya dengan nada terkejut. Freya segera mengangguk, ia juga tidak tau alasan kenapa putrinya itu ingin syuting film horor. Namun melihat beberapa bulan ke belakang, terutama setelah liburan di beberapa negara, putrinya itu memang kian berbeda. Meski tingkah manjanya tetaplah sama.


Barangkali Arasy ingin menaklukan rasa takutnya akan trauma masa kecil di taman bermain. Entahlah.


Setelah mengobrol ngalor - ngidul dengan Freya. Wanita itu pamit pulang karena hari sudah mulai siang, Zoya melangkahkan kakinya ke dapur begitu mobil yang ditumpangi sang mama mertua meninggalkan pelataran rumah.


"Naina,"


Panggilnya pada sang asisten rumah tangga yang sedang berada di halaman samping. Setengah terburu - buru gadis itu menghampiri Zoya.


"Ada apa Mbak?"


"Siang ini kita belajar masak, yah." sahut Zoya dengan raut berbinar. Naina mengangguk tak kalah berbinar pula.


Karena hari ini Zoya tak memiliki kegiatan apa pun, ia akan menghabiskan waktunya di dapur memasak dengan Naina. Mencoba sebisa mungkin agar ia bisa memasak sendiri untuk suaminya.


"Aduh, Naina. Ini saya nangis," Zoya mengucek ngucek matanya. Tugas pertamanya mengupas bawang tidaklah mudah. Matanya perih, berair dan tidak bisa terbuka karena pedih. Sampai kemudian ia merasa tangan besar menangkup kedua sisi wajahnya.


"Coba matanya buka." dan suara orang yang sangat familiar menyapa halus indera pendengarannya.


"Enggak bisa, Ethan. Pedih,"

__ADS_1


"Ini... Pak." Naina menyodorkan sebuah panci berisi air bersih. Ethan menerimanya dan mengusapkannya pada mata Zoya, wanita itu mengucek matanya, namun tangan Ethan menahan.


"Gimana?" tanya Ethan, perlahan wanita itu mulai membuka matanya. Ternyata langkahnya yang hanya sebuah permulaan sudah nyaris membuatnya menyerah dalam percobaan pertama.


"Udah agak mendingan." sahutnya, meski tak ayal jika ia masih merasa perih di matanya.


"Kenapa ngupas - ngupas bawang?" tanya heran Ethan. Ia tau dengan baik jika sang istri tidak bisa melakukannya.


"Aku lagi belajar masak sama Naina." sahutnya, membuat Ethan menatap Naina sebentar. Kemudian mengusap mata Zoya yang berair.


"Udah nggak apa - apa?" tanyanya seraya merendahkan tubuh guna melihat wajah Zoya yang sedang menunduk. Wanita itu mengangkat pandangannya, kemudian mengangguk dan tersenyum.


"Udah nggak papa."


"Ini kamu mau kemana?" ia baru sadar jika suaminya tampak rapi.


"Ada acara di luar."


"Acara?" alis Zoya bertaut. Pekerjaan? Di hari libur? Tidak mungkin. Apakah Ethan akan berkumpul dengan teman - temannya? Teman yang mana? Suaminya itu tidak memiliki teman, apalagi teman akrab yang mengharuskannya berkumpul guna menghabiskan waktu.


"Randy ngajakin keluar."


Zoya mengangguk samar. Yah, Randy, hanya Randy. Ethan hanya memiliki Randy.


"Yaudah. Hati - hati," ucapnya seraya melambaikan tangan. Ethan mengangguk, mengusap puncak kepala wanita itu dan berlalu. Zoya menatap punggung suaminya yang kian menjauh. Hal biasa yang sudah terlanjur menjadi kebiasaan jika Ethan tidak pergi dengannya.


"Gimana Mbak Zoya, matanya udah gak perih?" tanya Naina, ia sangat khawatir saat melihat Zoya yang terus mengucek matanya karena merasa perih, beruntung Ethan dengan segala perhatiannya segera datang.


"Masih agak pedih sih." sahut Zoya.


"Yaudah, kalau gitu biar saya yang lanjutin ngupas bawangnya. Mbak Zoya duduk aja dulu, sama ini ...," Naina menyodorkan timun yang sudah ia potong.


"Makasih Naina, aduh maaf, yah. Niatnya belajar malah kaya gini." ucapnya, tidak enak.


Naina yang melanjutkan tugas Zoya mengupas dan mengiris bawang hanya tersenyum menanggapinya. Setelahnya Zoya hanya duduk dengan potongan timun di kedua matanya, Naina benar, karena setelahnya Zoya merasa matanya mendingan dan terasa sejuk. Tidak pedih atau pun panas lagi seperti yang ia rasakan beberapa waktu lalu.


"Naina," panggil Zoya dengan suara pelan setelah ia terdiam cukup lama.


"Iya Mbak."


"Saya mau tanya sesuatu. Siapa tau kamu punya jawabannya."


"Hmm, apa Mbak?"


"Kamu tau gak, sih, cara biar cepet hamil?" pertanyaan wanita itu membuat Naina terdiam heran. Bukan apa - apa, hanya saja, ia belum menikah dan tidak mengerti hal seperti itu. Tentunya harus Zoya yang lebih tau.


"Secara tradisional gituh." sambungnya. Karena Zoya sudah searching pada sang ahli, sebagian mengatakan hal - hal yang bersifat umum mengenai tips agar cepat hamil. Memperbaiki kualitas hubungan ****. Harus menghindari rasa kelelahan. Jaga kondisi psikologis, dan memperbaiki gaya hidup. Rasanya hal itu sudah ia dan Ethan lakukan.


"Mmm." Naina bagai berpikir. Sedikit demi sedikit, jika cara tradisional ia tau, mengingat ibu - ibu atau pun pasangan muda sering mengobrol mengenai hal tersebut ketika berkumpul di suatu rumah saat di kampung halamannya.


"Ada beberapa Mbak."


Zoya mencopot timun di matanya, menegakan duduk dan menatap Naina penuh antusias. "Waktu di kampung, saya sering denger ibu - ibu bahas hal seperti itu."


"Ramuan tradisional."


"Hmm, terus?"


"Saya juga bisa bikin kalau Mbak Zoya mau."


"Boleh boleh. Apa ramuan tradisionalnya?"

__ADS_1


"Air rebusan sirih sama bawang putih."


"Bawang putih?" Zoya meringis mengatakannya, terutama saat mengingat jika suaminya tidak suka bawang putih. Ia yakin mulutnya akan bau bawang putih dan bagaimana jika saat Ethan nanti ...?


"Selain buat menyuburkan kandungan, bawang putihnya juga baik untuk pemulihan dari keguguran Mbak." sahut Naina. Zoya terdiam mengingat jika ia pernah mengalaminya. Sangat pahit.


"Boleh, deh. Nanti kamu bikinin, yah."


"Siap Mbak."


Zoya tersenyum, sedangkan Naina melanjutkan pekerjaannya. Beberapa jam selanjutnya Zoya melakukan tugasnya sebagai orang yang diajari memasak. Tidak buruk untuk yang pertama kalinya belajar memasak dengan Naina. Sekali pun masakannya tidak seenak hasil masakan gadis itu, namun untuk kali pertama, ia mendapat acungan jempol dari Naina. Guru memasaknya.


Beberapa hari kemudian, Naina yang baik hati itu benar - benar membuatkannya ramuan tradisional yang gadis itu maksud beberapa hari yang lalu. Belum satu gelas air rebusan sirih dan bawang putih itu masuk ke mulutnya, ia sudah muntah - muntah karena merasa tidak kuat dengan aromanya. Juga merasakan sensasi aneh di mulutnya begitu cairan itu menyentuh lidah.


"Nggak papa, sedikit - dikit aja. Namanya juga kali pertama." Naina menyemangatinya.


Sampai tiga hari berikutnya, meski masih merasa mual, Zoya mencoba untuk menghabiskannya. Ia menghela napas, meminumnya sedikit dan meringis.


"Sayang."


Ia menoleh dan buru - buru mengambil air putih. Meminumanya habis dalam satu kali tegukan, membuat mulutnya terasa jauh lebih baik.


"Ini apa?" tanya Ethan dengan heran seraya menutup hidungnya begitu mencium aroma bawang putih yang menyengat bercampur dengan daun sirih.


"Ramuan tradisional buatan Naina."


"Buat?"


"Katanya bagus buat penyubur kandungan." sahut Zoya meringis setelahnya mengingat jika beberapa hari ini ia berjuang dengan keras demi menghabiskan satu gelas setiap harinya.


"Bagus juga buat pemulihan paska keguguran." sambungnya yang membuat Ethan mengangguk mengerti, menatap wanita itu penuh cinta.


"Kenapa gak diabisin?"


"Ini mau." sahut pasrah Zoya, meraih kembali gelas berisi cairan ajaib itu, perlahan menenggaknya hingga habis.


"Enak?" tanya Ethan, Zoya segera menggeleng. Inginnya memuntahkannya kembali, namun tangan Ethan dengan cepat meraih dagunya dan mendekatkan wajah mereka. Tapi wanita itu menahan dada Ethan.


"Kamu gak suka bawang putih." sahutnya ragu. Ethan tersenyum.


"Saya juga tau kamu gak suka minuman tadi." sahutnya dengan penuh pengertian. Kemudian melanjutkan apa yang akan ia lakukan, jika biasanya Zoya menikmatinya, maka kali ini jujur Zoya merasa tidak enak, juga tidak tega pada suaminya. Ia tau betul bagaimana selama ini Ethan sangat menghindari bawang putih.


Sedangkan di ambang pintu dapur, Naina hanya mematung. Lagi, ia harus melihat sebuah pemandangan yang seharusnya tidak boleh ia lihat.


TBC


Naina nongol terus, ih😅


Reader : Sebenernya si Naina itu apa, sih? Mau apa?


Author : Ya makannya, baca aja dulu😂


Reader : Halah, palingan jadi pelakor


Author : Hmmm, seudzon, yeakan? Enggak baik atuh da.


Reader : Terus apaan dong thor?


Author : Ya makannya baca aja dulu🤣


Gimana puasanya, masih lancar? Yang semangat, yah💖💖

__ADS_1


__ADS_2