
"Apa, sih, Gyan. Pake di tutup-tutupin segala matanya." Freya terus saja protes sepanjang jalan sampai mereka tiba di tempat tujuan dan Agyan tak kunjung membuka penutup mata Freya.
"Sayang, namanya, 'kan surprise. Kalau nggak ditutupin nggak wow dong." Agyan menyahut santai sambil menggandeng istrinya dengan hati-hati.
Aryo di belakang mengikuti mereka dengan senyum gembira yang tercetak di wajahnya. Agyan menggerakan kepalanya, membuat Aryo pindah posisi ke depan mereka dan membuka gerbang besar di hadapannya lebar-lebar.
"Siap?" tanya Agyan pada Freya, tangannya sudah bersiap membuka tali peutup mata Freya. "Hmm, cepetan, pengap By."
"Sabar, Sayang."
"Aku hitung, ya."
"Satu, dua ...., tiga!"
Agyan membuka tali penutup mata Freya. Freya membuka matanya pelan-pelan. Ia terkekeh melihat sesuatu di hadapannya. Agyan berdiri di hadapan Freya dan merapihkan rambut sang istri yang jatuh di keningnya.
"Gyan, ini?" Freya menutup mulut dengan telapak tangan. Freya tidak tau apa yang saat ini sedang dilihatnya.
"Rumah baru kita."
"Kamu?" Freya memilih tak melanjutkan kalimatnya. Ia justru memeluk Agyan dengan eratnya. "Makasih. Aku tau kamu selama ini udah bekerja keras. Kamu tau, Gyan, aku bahagia punya kamu." sahutnya dengan suara pelan. Agyan mengangguk dengan senyum samar sambil mengusap punggung Freya.
"Aku lebih bahagia, By. Aku beruntung punya kamu." balasnya dengan binar bahagia.
Freya mengurai pelukannya. Ia menatap wajah Agyan dengan lekat. Ia tau apa yang dilaluinya dengan Agyan tidaklah mudah. Beruntung, baik ia ataupun Agyan selalu kuat dan bertahan menjalaninya sampai mereka berada di titik sekarang.
"Hadiah buat kamu." ungkap Agyan setelahnya dengan mata yang menatap sebuah rumah mewah di hadapan mereka.
__ADS_1
Ia menggandeng Freya untuk memasuki pelataran rumah luas tersebut. Sebuah rumah dua tingkat dengan cat berwarna putih. Lantai marmer yang Freya injak membawa langkah kakinya ke arah pintu masuk. Aryo mengeluarkan kunci dan membuka pintu, sementara Freya menatap ke arah garasi, di mana sebuah mobil terparkir cantik di sana dengan sepeda motor Agyan yang Freya sendiri tidak tau kapan Agyan memindahkannya dan kapan pria itu membeli mobil.
"Mau langsung ke kamar kita?" tanya Agyan penuh antusias, dan Freya hanya mengangguk mengiyakan. Ikut ke mana saja Agyan membawanya pergi.
Agyan menggandengnya menapaki anak tangga menuju kamar mereka. Sementara Aryo mengatur orang-orang yang membawa barang-barang dari rumah lama Agyan. Freya menoleh.
"Loh?" tentu saja Freya heran. Ia tidak tau apapun dan tidak menyiapkan apa-apa. Ia juga tidak tau kapan mereka datang.
"Aku sama Aryo udah atur semuanya. Kamu terima beres. Ayo," Agyan mengalihkan perhatian Freya dari orang-orang di bawah sana.
Rumah yang saat ini resmi akan ditinggali oleh Agyan dan Freya sudah Agyan siapkan sejak satu bulan yang lalu. Ia sibuk meminta pendapat pada Rachel dan Ocha, sama sekali tidak memberi tahu Freya karena hal ini dilakukannya sebagai bentuk hadiah untuk sang istri.
Rachel dan Ocha yang mengatur beberapa posisi perabotan di rumah ini, membantu Agyan memilih interior dan menyempurnakan semuanya. Agyan senang, karena selera glamour Rachel, tidak jauh berbeda dengan Freya sehingga Agyan bisa menyesuaikan dan tidak akan mengecewakan istrinya.
"Jadi, ini kamar kita?" tanya Freya setelah mereka memasuki kamar utama yang berada di lantai dua. Agyan mengangguk senang.
"Aku gak ngerti lagi mesti ngomong apa sekarang." mata gadis itu berkaca-kaca. Agyan mendekat, ibu jarinya menghapus lelehan krystal di pipi mulus istrinya.
"Kamu gak perlu ngomong apa-apa. Kamu cukup selalu ada buat aku, dan janji gak akan pergi."
Freya mengangguk spontan. Ia mengalungkan lengannya pada leher Agyan, mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Agyan, kemudian melepasnya dengan perlahan. "Atau kaya gitu aja." sambung Agyan yang membuat Freya mengangguk sembari tersenyum.
Agyan merendahkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan perut Freya. Satu minggu lagi, mereka akan melihat bagaimana buah hati mereka menyapa dunia, kemudian kebahagiaan mereka akan semakin sempurna.
"Aku udah pernah janji, aku bakal bahagiain kamu. Sama Ethan dan kembarannya. Aku udah janji bakal kasih kalian kehidupan yang layak."
"Aku udah nepatin janji itu, 'kan, By?" Agyan mendongak menatap Freya. Freya mengangguk.
__ADS_1
"Sayang, baik-baik di sana. Sampai ketemu nanti, Ayah gak sabar pengen ketemu kalian." Agyan mengecup perut Freya. Lama berada di sana.
"Sebentar lagi, kebahagiaan kita akan semakin sempurna." ungkapnya sembari mengelus perut istrinya.
"Ada yang kita lewatkan Agyan,"
Agyan mendongak menatap istrinya. Ada yang terlewat. Apa?
Freya duduk di tepi tempat tidur, menatap Agyan yang masih bersimpuh di hadapannya. "Papi Andreas," sambungnya. Ia meraih tangan Agyan dan menggenggamnya.
Sementara Agyan hanya terdiam. Ia harus bagaimana, sementara Andreas saja sudah tak lagi menganggapnya. Bahkan tidak datang dalam acara yang melibatkan Agyan. Padahal Agyan sudah mengirimkan undangan.
"Gyan, saat kamu memutuskan pergi dari rumah. Kamu yakin Papi Andreas serius nyuruh kamu pergi?"
"Gyan. Kadang, seorang ayah bersikap seperti itu karena dia ingin anaknya memohon. Itu yang seharusnya kamu lakuin."
"Apa akan berhasil?"
"Aku udah coba berkali-kali. Tapi hati Papih keras, Freya. Aku gak bisa."
"Gyan—"
Agyan mendesah, merebahkan kepalanya pada paha Freya. Freya memilih tak lagi membahasnya dan hanya mampu memberikan pengertian pada Agyan.
Mengelus kepala Agyan dengan lembut. Ia tak pernah ingin memaksa Agyan. Karena ia tau, suaminya selalu memiliki cara untuk segala hal. Termasuk perdamaian untuk dirinya sendiri dengan Andreas.
Semoga bisa secepatnya.
__ADS_1
TBC