Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Tak Memiliki Cinta


__ADS_3

Saat itu Rival sudah akan bersiap untuk tidur, namun bayangan Naina terus melintasi pikirannya hingga ia segera meraih ponsel miliknya. Butuh waktu yang cukup lama ketika pria itu melakukan pertimbangan hingga kemudian memberanikan diri untuk menghubungi Naina.


Rival sudah berharap-harap cemas dengan perasaan khawatir saat mendengar nada sambungan, ia takut diabaikan oleh Naina, terlebih lagi telponnya sama sekali tidak mendapat respon dari gadis itu. Namun tak ingin dengan mudah menyerah, Rival kembali menghubungi Naina dan berjanji pada dirinya sendiri jika Naina masih tidak mengangkat telpon darinya maka ia akan menyerah.


Rival kembali menempelkan benda piph itu di telinganya, sontak saja senyumnya tiba-tiba terukir begitu panggilan terhubung dan ia bisa mendengar jelas meski hanya suara ******* napas Naina di ujung sana.


"Hallo Mas." Rival spontan memegang dadanya yang tiba tiba saja berdebar begitu mendengar suara Naina yang lembut menyapa dengan mulus di indera pendengarannya.


Rival mengutuki dirinya sendiri, padahal ia bukanlah seorang anak remaja yang tengah kasmaran, namun hormon di dalam dirinya rupanya benar-benar memengaruhi dirinya setiap mengingat Naina.


"Hallo, Naina. Apa kabar?" Rival bertanya dengan senyum tipis sekalipun Nain tidak ada di hadapannya untuk melihat senyum manis yang ia punya. Di ujung sana Naina hanya diam, tak segera menjawab pertanyaannya. Membuatnya melihat layar ponsel sementara guna memastikan jika panggilan mereka masih terhubung.


"Ba–baik, Mas." Naina menyahut gugup di unung sana. Rival hanya tersenyum, andai saat ini ia berada di tengah keramaian, mungkin semua orang akan mengira jika dirinya gila. Tersenyum sendiri hanya karena berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


"Saya sudah kirim kamu chat tapi kamu nggak balas, kamu sedang sangat sibuk?" tanya Rival, sejujurnya hal itu hanya basa-basi yang ia lakukan. Alasan utama ia menelpon Naina adalah murni karena dirinya ingin mendengar suara Naina karena merindukan gadis itu.


Perihal alasan kenapa dirinya pulang kembali ke Indonesia, Rival akan memberitahukan Naina langsung saat nanti keduanya bertemu dan menghabkan waktu bersama. Rival harap mereka bisa melakukan hal itu.


"Euu, saya lupa." Naina menyahut di ujung sana, spontan berhasil membuat Rival menautkan alisnya.


"Kamu benar-benar lupa atau nggak perduli?" Rival bertanya dengan nada hampa. Ia benar-benar merasa khawatir jika Naina tak menginginkan dirinya lagi nanti.


"Kenapa saya harus perduli?"


Kali ini Rival terkekeh, ia benar-bemar tertawa mendengar nada tak ramah Naina padanya.


Selanjutnya, ia diam untuk beberapa saat. Dalam hening mendengar deruan napas Naina dengan kepala yang berpikir keras. Bagaimana caranya agar obrolannya dengan Naina terus berlangsung.


"Saya hanya ingin tahu apa kamu penasarn tentang alasan kenapa saya pulang." jujur pria itu kemudian, Naina diam beberapa saat.


"Apa memangnya?" tanya Naina pada akhirnya. Sesaat hanya ada hening di antara mereka, Rival tak kunjung menjawab pertanyaan Naina sedangkan Naina diam untuk mendengarkan jawaban pria itu.


"Apa, Mas?" Naina bertanya sekali lagi saat Rival benar-benar tak berkata-kata.


"Nanti, nanti kamu akan tahu sendiri." jawaban ambigu Rival akhirnya membuat Naina bungkam.


"Saya akan memberitahu kamu secara langsung." sambungnya. Kemudian, dengan tenang Rival memutus sambungan telepon dan menurunkan ponsel dari telinganya. Hal itu ia lakukan demi keamanan dan keselamatan dirinya sendiri.


Pria itu lantas memegangi dadanya seolah kesakitan. "Ahh, mau meledak rasanya."


***


"I miss you so much!" ungkap Zoya dengan mata terpejam, rasanya ia rindu mendengar suara Ethan. Ia tidak sabar menantikan pria itu pulang, Zoya ingin segera memeluknya dan tidak akan membiarkan Ethan melangkah meninggalkannya barang satu detikpun.


"Kalau kamu sangat merindukan saya, kenapa kamu tidak memberi saya kabar selama seharian ini?" pertanyaan penuh posesif itu membuat Zoya justru terkekeh.

__ADS_1


"Aku nggak mau ganggu kamu sama Naina." jujurnya yang membuat Ethan berdecih. Zoya hanya tersenyum dan memilih diam, ia mendengarkan hembusan napas Ethan di ujung sana dengan tenang. Hingga kemudian ia mendengar pria itu berbicara.


"Saya sangat merindukan kamu Zoya, saya sangat ingin segera pulang dan memeluk kamu." ungkapnya yang hanya Zoya tanggapi dengan senyuman.


"Saya ingin segera pulang." sambungnya dengan nada penuh permohonan. Hanya dari suaranya, tampak begitu jelas jika rindu pria itu begitu mendalam dan menggebu-gebu.


"Project kamu belum selesai." sahut Zoya, mencairkan suasana.


"Project?" Ethan terdengar keheranan.


"Hmm, project membuat bayi dengan Naina." Zoya memperjelas.


"Kamu masih punya tugas." sambung wanita itu, Ethan tak memberikan respon apapun. Saat Zoya hanya diam, ia juga diam dan sibuk mendengarkan hembusan napas Zoya yang lembut.


"Kamu harus baik sama Naina!" kali ini nada bicara Zoya terdengar lirih di telinga.


"Ini perintah!" sambungnya sedikit tegas.


"Saya baik pada setiap orang, Zoya."


"No, kamu tahu apa maksud aku Ethan."


"Zoya," Ethan mendesah, terdengar sulit untuk menjelaskan.


"Saya hanya mencintai kamu, jangan paksa saya untuk membagi hati dengan siapapun."


"Saya sudah coba, tapi sulit sekali Zoya. Sampai kapanpun, saya tidak akan bisa memperlakukan wanita lain sama dengan saat saya memperlakukan kamu." panjang labar pria itu. Tidak salah lagi, Zoya tahu bagaimana cara Ethan mencintai dirinya.


"Setiap kali saya mencobanya, selalu wajah kamu yang muncul di hadapan saya."


Adalah hal yang wajar Ethan mengatakan hal tersebut di atas perasaannya pada Zoya yang begitu besar. Namun sedikitpun pria itu tidak sadar jika Naina mendengar apa yang ia katakan.


Sama halnya seperti Ethan yang penasaran mengenai apa yang dibicarakannya dengan Rival, begitu juga Naina yang merasa penasaran mengenai apa yang sang suami dan istri pertamanya bicarakan.


Cinta, tentang cinta. Mereka berbicara menganai hal yang tidak dapat dimiliki oleh Naina.


***


Pagi-pagi sekali, Zoya menggeliatkan tubuhnya saat kamarnya tampak terang benderang. Ia menutupkan selimut ke seliruh tubuhnya, membuat Selin yang sengaja datang pagi-pagi ke rumah wanita itu berdecak melihat kelakuan Zoya.


"Zoy, banguun." ia berkacak pinggang di samping ranjang tepat di mana Zoya sedang berbaring.


"Ini jam berapa, sih?" Zoya bertanya seraya menggeliat saat Selin menarik selimutnya. Selanjutnya yang dilakukannya adalah menggisik matanya.


"Jam tujuh pagi. Kamu ada pertemuan penting sama dua brand make'up jam delapan pagi dan ada pemotretan sama Edrin, selanjutnya kita makan siang sama sutradara film baru kalian." Selin membeberkan apa saja kegiatan Zoya hari ini. Ia sudah menyusunnya semalam dan ia tidak ingin agenda wanita itu berantakan karena Zoya bangun terlambat.

__ADS_1


"Ayo cepet bangun. Mbak nggak mau jadwal kamu berantakan." sahut Selin lagi, Zoya bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk sembari berusaha mengumpulkan sisa sisa nyawanya.


"Mbak tunggu kamu di bawah. Kamu mau sarapan apa? Nnati biar Mbak bikinin." tawar wanita itu sebelum berlalu meninggalkan Zoya.


"Mm," Zoya tampak berpikir sebelum kemudian menyahut. "Terserah Mbak, yang gampang aja. Biar Mbak Selin nggak repot."


"Enggak repot, kamu tinggal bilang aja mau makan apa."


"Nasi goreng udang plus telur setengah mateng." sahut Zoya akhirnya. Selin mengangguk, kemudian benar-benar berlalu meninggalkan Zoya sendirian di dalam kamar.


Begitu Selin keluar dari kamarnya, Zoya meraih ponsel. Ia membuka jendela obrolannya dengan Ethan.


Dua hari lagi saya pulang, saya ingin segera bertemu dengan kamu.


Zoya hanya mampu tersenyum melihat isi pesan yang suaminya kirimkan. Kemudian, ia turun dari tepi tempat tidur untuk segera membersihkan diri, tapi sebelumnya ia sempat menoleh ke samping dimana ranjang di sebelahnya kosong.


Sama seperti Ethan, Zoya pun sangat merindukan pria itu. Rasanya, beberapa hari ini tanpa Ethan, hidupnya terasa kurang. Kurang lengkap dan kurang sempurna.


***


Zoya turun ke lantai bawah usai merapikan diri dengan pakaian yang sudah Selin siapkan. Ia melihat manajernya tersebut sudah duduk pada salah satu kursi di meja makan dengan dua piring nasi goreng. Satu dengan telur setengah matang, satu tanpa telur.


"Menu sarapan untuk Nona Zoya Mahaeswary." Selin menyambut kedatangan wanita itu.


"Cih," Zoya berdecih tapi bibirnya mengukir sebuah senyum, ia kemudian duduk dan menghirup aroma nasi goreng yang tengah menggodanya.


"Silakan Tuan Putri."


"Hmm, pasti enak. Thanks Mbak Selin." ucapnya dengan ceria, Selin menanggapinya dengan senyuman dan anggukan kepala saat Zoya sudah mulai menikmati sarapan.


"Mbak," panggil wanita itu saat keduanya tengah menikmati sarapan.


"Hmm, kenapa Zoy?"


"Kerja Mbak jangan terlalu di forsir.Jangan terlalu repot dan capek."


"Aku bisa urus semuanya sendiri kok," sahut Zoya, kali ini ia tampak serius. Tapi justru Selin menanggapinya dengan kekehan kecil.


"Kalau semuanya kamu yang urus, kerja Mbak ngapain? Makan gaji buta dong."


"Bukan gitu, tapi Mbak, 'kan nggak sendirian sekarang. Ada hal berharga yang harus Mbak Selin jaga, aku nggak mau sampe kalian kenapa-napa." tutur Zoya dengan tatapan tulusnya yang membuat Selin mengukir senyum tipis.


"Kamu nggak perlu khawatir, Mbak baik-baik aja. Mbak bisa jaga diri Mbak sendiri." Selin menenangkan. Zoya hanya bisa mengembuskan napas pasrah, menatap Selin yang tengah menghabiskan nasi goreng udangnya sambil sesekali melihat ponselnya.


Zoya hanya tidak ingin, karena kesibukan wanita itu bekerja, Selin menjadi kelelahan. Zoya tidak ingin apa yang pernah terjadi padanya menimpa Selin.

__ADS_1


TBC


__ADS_2