
Siang ini rencana pertemuan kelurga itu akan di adakan. Ibu dan lelaki yang akan melamarnya dan kelak akan menjadi calon suaminya akan datang berkunjung. Lebih tepatnya, akan melihat nya secara langsung.
Airin merasakan dadanya berdebar debar. Bukan karena ada rasa kepada lelaki yang kelak akan melamarnya. Bagaimana akan ada rasa, kenal saja pun tidak.
Airin merasa deg deg an lebih karena takut. Ini adalah kali keduanya dia harus menikah karena di JODOHkan. Trauma akan pernikahannya yang lalu saja masih membekas, tapi sekarang dia harus kembali menjalani pernikahan karena dijodohkan.
Bedanya, perjodohan kali ini inisiatif Ibunya. Dan yang sedikit bisa membuatnya tenang menjalani perjodohan ini. Karena, perjodohan ini dari Ustadzah Hasna. Airin percaya, Ustadzah Hasna tidak sembarangan memilihkan lelaki untuk menikahinya. Airin berharap, Lelaki yang nanti akan dijodohkan dengannya itu lebih baik dari Mas Andri suami nya yang dulu.
Airin masih di kamarnya, setelah sholat dzuhur. Dia masih asyik bercanda dengan putri kecilnya Syfa. Semua persiapan untuk menyambut tamu yang akan datang sudah siap semuanya, meskipun hanya sederhana saja.
"tok,, tok,, tok,," Suara ketukan pintu kamarnya. Tak lama Ibunya yang masuk.
"Nak, tamunya udah datang. Ada ustadzah Hasna juga. Kamu keluar ya."Ujar Ibunya.
"Iya bu, sebentar. Airin merapikan Jilbab dulu." Setelah merasa cukup rapi Airin pun keluar dari kamarnya. Tidak lupa sambil menggendong Syfa. Dia akan membawa anaknya dalam pertemuan ini. Karena Lelaki yang akan meminangnya itu juga harus menerima kehadiran Syfa.
Diruang depan sudah ada beberapa orang. Diantara mereka yang dikenal Airin hanya Ustadzah Hasna. Selebihnya Airin tidak mengenalinya. Hanya ada seorang laki laki diantara mereka. Dan itu pun suda tampak sangat berumur. "Tidak mungkin kan ini lelaki yang akan dijodohkan denganku." Bisik Airin dalam hatinya. Karena memang lelaki itu sepertinya lebih tua dari Ayahnya.
"Iniloh Bu Anita, Airin. Yang sudah saya ceritakan. Cantik kan, masyaAllah. Airin ini anak sulungnya Pak Rahmat dan Bu Dewi. Mereka ada 2 anak perempuan. Adiknya Airin lagi di luar kota, kerja." Kata Ustadzah Hasna pada seorang Wanita yang tadi dipanggil Bu Anita. Lalu akupun menyalami Ibu itu.
"MasyaAllah, ayu nya." Ujar Bu Anita. Aku hanya tersenyum menunduk.
__ADS_1
"Maaf ya Airin. Anak tante ngk bisa hadir. Karena tadi mendadak ada Rapat pentng di Rumah Sakit. Katanya ada yang memasukkan obat2an secara Ilegal. Jadi Dia harus turun tangan langsung. Maaf ya, Tap dia suda menyerahkan semua keputusan kepada kita. Kapan acara nya akan dilangsungkan.. Bagaimana Bu Dewi." Kata Ibu Anita.
Airin sedkit lega, karena bukan lelaki tua yang hadir ini yang akan menjadi calon suaminya. Ternyata Dia adalah Om nya calon suami Airin.
Obrolan terus berlanjut, para orangtua itu membahas tentang hari pernikahan. Airin hanya diam membisu, sesekali menjawab apabila ditanya. Sementara Syfa sudah bergilir digendong oleh para tamu. Yang sebentar lagi akan menjadi Kakek dan neneknya juga. Tampak Syfa sangat senang diajak bermain dan bercanda.
Hari H nya telah ditentukan. Dua hari setelah hari ini adalah hari Lamaran. Dan dua hari kemudian dilanjut dengan Akad nikah. Benar benar sangat cepat, mungkin untuk orang yang biasa seperti keluarga Airin sangatlah mustahil Tapi tidak dengan orang yang memiliki harta seperti Anita.
Akad dan resepsi nanti akan diadakan dirumah Airin. sesuai dengan permintaan Dewi Ibu Airin. Dia ingin anaknya menggelar pernikahan secara terbuka. Meskipun sederhana. Tidak seperti pernikahan yang terdahulu, saat itu Airin dan Ayah Syfa hanya melangsungkan Akad dikantor KUA. Tanpa ada acara apapun digelar.
Untuk segala kebutuhan acaranya akan diatur keluarga Anita. Mulai dari surat menyurat sampai dekorasi lengkap. Nant akan ada yang datang mengurus semuanya. Dan nanti juga akan diadakan Resepsi untuk seluruh Kolega dan Keluarga Besar Rumah Sakit yang Devid pimpin.
Airin tak banyak bicara, atau lebih tepatnya dia menurut saja akan semua keputusan yang telah mereka buat. Apalagi Lelaki yang akan jadi calon suaminya pun tak hadir sekarang. Airin pun pasrah dengan semuanya.
"Maaf tante, kondisi kamar saya hanya seperti ini." Ujar Airin. Anita tersenyum hangat. Entah kenapa, sejak pertama kali melihat Airin tadi. Anita merasa sangat menyukai Airin. Wanita yang lembut dan ke Ibuan. Dia sengaja memperhatikan Airin sewaktu ngobrol ngobrol tadi. Airin diam tak banyak menuntut. Sikap tenagnya terlihat jelas, tidak ada kesan dibuat buat. Juga penampilan Airin yang sangat menyejukkan mata. Pakaiannya sangat tertutup, beda dengan wanita wanita muda sekarang yang lebih suka memakai pakaian yang kekurangan bahan.
"Tidak mengapa sayang, kamarmu ini meskipun sederhana tapi rapi daa nyaman. Sepertinya tante ngk salah pilih kamu jadi istri anak tante." Jawab Anita tersenyum. Airinpun tersenyum.
Kemudian, Anita mengeluarkan sesuatu dari tas nya. sebuah kotak kecil. Isinya sebuah cincin berlian. Sangat cantik sekali. Anita lalu mengeluarkan cincin itu dan memberikannya pada Airin.
"Pakailah sayang, ini adalah cincin pemberian Almarhum Suami tante. Tante ingin meberikannya sekarang padamu." Ujar Anita.
__ADS_1
"Tapi tante, itu cincin kenangan berarti Kenapa diberikan kepada saya. Dan juga saya belum jadi menantu tante. Apakah tidak berlbihan." Jawab Airin menolak.
"Tidak sayang. Tante memag sudah berniat. Jika kelak anak tante bersedia menikah lagi. Maka tante akan memberikan cincin ini kepada istrinya nanti. Sebagai tanda, tante menyerahkan anak yang sangat tante sayangi padanya. Tante sangat bersyukur sekali kamu mau menjadi menantu tante.. Pakai ya, jangan menolaknya. Karena itu membuat tante sedih." Kata Anita.
Kemudian cincin itu dipasangkannya langsung di jari manis Airin. Dia tersenyum senang karena cincin itu sangat pas di jari Airin. Dan Airin pun sekali lagi hanya mampu menuruti saja. Tapi hatinya sedkit haru, karena sepertinya Calon Ibu mertuanya ini sangat baik. Semoga saja nanti suaminya juga akan baik padanya.
Anita memeluk Airin, diciumnya calon menantunya itu. Tak terasa airmatanya mengalir. Dia benar benar bahagia, karena sebentar lagi anaknya akan menikah kembali.
"Terimakasih sayang, Terimakasih sudah mau menjado calon menantu tante" Ujar Anita.
"Airin seharusnya yang berterima kasih kepada Tante sekeluarga. Mau menerima Airin sebagai menantu dan istri dari anak tante." Jawab Airin.
"Tante yakin, Devid akan bahagia setelah kalian menikah nanti. Karena dia akan memliki seorang istri yang cantik, sholeha dan baik seperti kamu." Ujar Anita lagi.
"Devid,,?" Tanya Airin, dia seperti tak asing dengan nama itu.
"Iya, nama anak tante itu Devid Ergan.... Kamu belum dikasih tau yaaa nama calon suami kamu. MasyaAllah,,, kok malah jadi lucu, udah beberapa hari lagi Akad nikahnya tapi kamu belum tau nama calon suami kamu."Kata Anita, sambil tertawa kecil.
Airin hanya tersenyum, dia merasa pernah dengar nama itu. Tapi dimana ya, Airin lupa.
Akhirnya semua tamu pun pulang. Dewi Ibu Airin memberes rumah, sementara Airin memberikan Asi pada Syfa. Airin masih saja memikirkan nama lelaki yang akan menikahinya kelak.
__ADS_1
"DEVID ERGAN,,, siapa yaa... Aku merasa kenal dengan nama itu. Tapi dimana." ujar Airin lirih....