Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Sekali Pengkhianat Tetap Pengkhianat


__ADS_3

Beberapa orang di ruang utama rumah Arfat yang disulap menjadi penginapan itu hanya saling terdiam. Mereka adalah Zoya, Ethan, Randy, Selin, Alexa, Naina dan Rival. Suasana canggung cukup terasa sejak Naina dan Rival tiba di sana untuk melihat keadaan Zoya.


Naina memang meminta Rival untuk mengantarkannya karena ia cukup merasa khawatir dengan keadaan Zoya. Gadis itu tak punya pilihan lain selain Rival karena ia tak tahu letak lokasi keberadaan Zoya, ia tak cukup punya koneksi seperti Rival untuk mengetahui hal tersebut.


Zoya melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Setengah jam lagi ia sudah harus sampai di lokasi syuting. Sementara Edrin dan anggota tin yang lain sudah meluncur lebih dulu.


Zoya tak mau membuat semua orang di lokasi syuting menunggu. Ia juga tak mau terlalu merepotkan asisten sutradara karena harus merombak jadwal setelah ia pingsan san tidak bisa mengambil adegan kemarin.


Alexa yang memang akan berangkat dengan Zoya dan Selin terpaksa ikut duduk di antara mereka dan terjebak dalam situasi membosankan yang tak dimengerti olehnya.


Barangkali yang membuat suasana canggung hanyalah Ethan, Naina dan Rival. Kemudian semua orang menjadi terdiam dengan situasi awkward yang tiga orang itu ciptakan.


Randy menatap satu persatu di antara mereka kemudian memusat pada Ethan dan juga Rival. Dua orang itu tampak tengah bersitegang meski hanya saling terdiam.


"Mm, apa sebaiknya kita buru-buru pulang saja Pak Ethan?" Randy buka suara untuk mencairkan suasana. Rasanya jika tidak dipaksakan maka sampai zaman berubah kembali ke zaman baru pun mereka hanya akan diam seperti patung.


"Sebaiknya begitu Pak Ethan, karena setelah ini kami juga akan segera berangkat ke lokasi syuting." Selin menimpali, membuat Ethan melakukan pergerakan, menatap sang istri yang duduk di sampingnya.


"Kamu yakin sudah sepenuhnya sehat?" tanya Ethan memastikan. Sejujurnya pagi tadi ia juga sudah berdebat dengan sang istri perkara hal ini. Ia tidak yakin jika Zoya sudah benar-benar pulih dan Zoya yang bersikeras mengatakan dirinya sehat dan akan segera melakukan syuting.


Zoya mengangguk konsisten, masih sama seperti pagi tadi saat Ethan melemparkan pertanyaan yang sama. "Saya takut kamu pingsan lagi di lokasi." Ethan berkata dengan nada khawatir, tetapi Zoya menggelengkan kepala guna meyakinkan pria itu jika ia baik-baik saja.


"Aku gak bakal kenapa-napa." jawab wanita itu kemudian. Ethan akhirnya hanya menatap wanita itu lama sekali, seperti halnya Naina yang menatap dua orang itu dan juga Rival yang menatap Naina.


Alexa yang kebetulan berada pada sofa dengan posisi berhadapan dengan Rival dan Naina mengerutkan kening ketika menyaksikan hal tersebut. Sepertinya ada yang tidak biasa di antara mereka. Satu sudut bibir Alexa tertarik ke atas, rasanya cukup menarik melihat pemandangan tersebut.


Setelah cukup yakin jika Zoya memang akan baik-baik saja, Ethan memutuskan untuk pulang dan kembali ke Jakarta. Begitu juga Rival dan Naina yang datang berdua.


"Kamu hati-hati, segera kabari saya jika terjadi sesuatu." pesan Ethab sebelum berlalu pergi. Zoya mengangguk usai pria itu mengusap puncak kepalanya.


Sementara Randy sudah berada di dalam mobil usai berpamitan pada sang istri.


"Iya," Zoya menyahut singkat.


"Kalau kamu nggak susah dihubungi." sambungnya, menyindir. Ethan berdecih, meraih puncak kepala sang istri dan meninggalkan kecupan di sana. Lantas memeluk istrinya tersebut, di sana. Alexa kembali mendapat pemandangan yang sama seperti beberapa saat lalu, ketika Naina menatap Ethan dan Zoya dengan raut tak terbaca dan Rival menatap Naina dengan tatapan yang semua orang dapat melihatnya secara jelas. Tatapan pria itu sangat mudah diartikan. Cinta. Pria itu menatapa Naina dengan cinta.


"Saya pulang, yah. Sampai ketemu lagi di Jakarta nanti."


"Iya. Dua hari lagi." Zoya menyahut dengan senyum yang membuat Ethan juga mengukir senyum. Pria itu mengacak puncak kepala sang istri dan melangkah pergi.


Sekarang, giliran Naina yang akan berpamitan pada Zoya sementara Rival sudah berpamitan Secara singkat setelah Ethan tadi.


"Mbak Zoya sehat-sehat, yah, di sini. Saya pamit." sahutnya dengan senyum manis yang terbit di bibirnya. Zoya mengangguk, meraih tangan Naina dan tersenyum.


"Kamu juga sehat-sehat, yah. Sebentar lagi saya juga akan pulang ke Jakarta." balas Zoya, Naina mengangguk, usai berpelukan singkat dengan Zoya, gadis itu berlalu menuju mobil Ethan. Zoya hanya melambaikan tangan saat dua mobil itu berlalu meninggaljan pelataran luas milik Arfat Nahlil.


Naina bersama dengan Ethan dan Randy, sementara Rival hanya sendirian di dalam mobilnya. Satu hal yang tidak adil baginya karena Naina datang bersana dengannya. Lantas, kenapa Ethan merampas Naina dan meminta gadis itu untuk ikut bersama dengannya? Padahal jelas-jelas semalam Ethan meninggalkan gadis itu dengan begitu saja tanpa memerdullikannya.


Rival tersenyum smirk, wajar jika Ethan bersikap seenaknya macam itu karena Naina adalah istrinya. Yah, Rival baru menyadari fakta yang sangat dibencinya tersebut.

__ADS_1


***


"Vidio yang Mbak posting di sosial media menggemparkan publik. Bagaimana cara kerja saya? Mbak pasti puas–"


"Kita lihat, siapa dalang di balik semua ini."


"Saya memang sudah curiga sama kamu." sahut Alexa yang membuat pria itu panik.


"Mbak Alexa, saya mohon. Saya terpaksa melakukan hal itu karena ibu saya butuh uang banyak utuk berobat."


"Kalau kamu memang benar membutuhkan uang, kenapa kamu tidak meminta pada Pak Arfat atau Pak Irpan?"


"Kenapa kamu justru tertarik untuk melakukan hal kotor seperti ini.dan merugikan kami semua.


"Saya terpaksa Mbak Alexa, saya tidak punya pilihan. Tolong jangan katakan ini pada siapapun. Saya mohon,"


"Kalau begitu katakan pada saya siapa orang yang sudah menyuruh kamu!"


"Apa kalau saya mengatakannya pada Mbak Alexa, Mbak Alexa akan membebaskan saya?" .


"Of course!"


"Sekarang bilang sama saya siapa orang yang sudah membayar kamu!"


"Euu."


"Siapa?"


"Mbak Somi."


"Mbak Somi yang suruh saya. Dia bilang dia merasa sakit hati karena Mbak Zoya tidak membantunya bergabung di film ini."


"Dia bilang kecewa karena Pak Arfat menolaknya untuk bergabung dengan film ini bahkan sebelum mempertimbangkan bakat akting yang dimilikinya."


Seorang pria dengan jaket kulit berwarna kecoklatan itu hanya mematung di ambang pintu begitu ia mendengar sebuah rekaman suara. Ia kian mematung melihat ekspresi semua kawan-kawan timnya yang menatapnya dengan raut tidak terbaca, sementara Alexa yang dalam posisi berdiri dengan ponsel di tanganbya hanya.terdenyum dan melambaikan tangan padanya.


"Hay." dengan raut tanpa dosanya Alexa menyapa pria yang sekarang raut wajahnya terlihat tengah pucat pasi itu. Tatapan matanya tampak kecewa pada Alexa yang mengingkari janji padahal Alexa sudah mengatakan tidak akan memberitahukan rekan satu tim mereka jika ia yang diam-diam mengambil vidio dan mengirimkannya kepada Somi untuk diunggah di intetnet.


Namun wanita itu justru memberinya sebuah kejutan tidak terduga yang sama sekali tidak diharapka olehnya.


"Mbak Alexa sudah janji." sahutnya, nada bicaranya terdengar bergetar karena kecewa. Karena sepuluh atau bahkan lima menit setelah ini ia akan dipecat. Bagaimanapun, sebelum mengerjakan project film ini ia sudah menandatangani sebuah perjanjian jika senua anggota tim harus solid dan saling mendukung. Bukan menjadi penkhianat seperti dirinya.


"Sorry, tapi pengkhianat tetap pengkianat." Alexa mengangkat bahu acuh tak acuh, menyerahkan nasib pria malang itu kepada Arfat yang dermawan dan bijaksana.


"Kamu tidak bisa dibiarkan." sambungnya.


Bagaimanapun, pria itu pantas mendapat hukuman atas apapun yang ia lakukan, bahkan saat ia mengatakan bahwa ia harus melakukanya untuk sebuah kepentingan, Karena Tuhan selalu memiki cara lain dan memberikan kita pilihan.


***

__ADS_1


Dua hari kemudian, tim pulang ke Jakarta dengan keadaan gembira setelah mendapat hasil yang sesuai atas kerja keras mereka. Semua orang tampak bergembira setelah melewati suka duka selama proses syuting berlangsung.


Arfat memberikan mereka libur selama tiga hari untuk beristirahat. Malamnya, sebelum penutupan syuting di luar kota, Arfat menggelar makan malam tim di sebuah restoran.


Seperti biasa, Ethan selalu berubah menjadi sangat menyebalkan saat Zoya akan bepergian tanpa didampingi olehnya. Pria itu sudah mengganggu Zoya bahkan saat wanita itu tengah memakai dressnya dan berdandan.


"Aku bilang kamu cukup anterin aku dan jemput begitu makan makannya selesai."


"Saya ikut saja. Tapi saya tidak akan bergabung, saya bisa di meja lain." pria itu mencoba bernegosiasi dengan sang istri.


"Pak Arfat udah booking restonya, nggak ada orang lain yang bisa masuk kecuali anggota tim." Zoya menjelaskan agar suaminya paham.


"Tapi saya keluarga dari anggota tim. Bahkan istri saya menjadi pemeran utama di film yang sedang digarap tim itu." pria itu mrncoba merayu. Zoya yang tengah mengenakan antingnya hanya tersenyum melihat raut menggenaskan Ethan melalui pantulan cermin.


"Anterin aku ke resto dan tunggu. Okay." Zoya tak bisa dibujuk hingga pada akhirnya membuat Ethan hanya bisa pasrah.


Ethan benar-benar hanya mengantarkan sang istri dan menunggu di dalam mobil sampai wanita itu benar-benar selesai menikmati makana malam bersama timnya. Tapi. beruntung, ada Randy yang juga mengantarkan Selin untuk bergabung..


Dua orang itu duduk pada kap mobil sembari menagap resto dan orang orang yang berada di dalamnya.


Ethan dapat melihat bagaimana tawa lepas Zoya di dalam sana melalui kaca transparan resto.


Ethan tentunya juga tak meloloskan Edrin dari radarnya. Tapi tampaknya, pria itu tak berbuat ulah. Ia tampak tak menggangu Zoya atau melakuakan sesuatu hal yang mengganggu penglihatan Ethan.


Ethan kembali mengalihkan perhatiannya pada sang istri dan mengingafat jika ia belum memberitahu Zoya jika Rival sudah mengetahui pernikahannya dengan Naina.


"Kita mau kemana?" tanya Zoya saat Ethan melajukan mobil melalui jalan yang bukan ke arah rumah mereka.


Zoya pulang lebih dulu dari acara makan malam tim dan meninggalkan permainan yang tengah berlangsun karena tidak ingin membiarkan suaminya menunggu terlalu lama, behlgitu juga Selin yang menyusulnya dan pulang lebih dulu.


"Mm, kita ...," Ethan melihat jalanan di depannya dan berhenti di sebuah pelataran sebuah hotel.


"Bagaimana jika kita bersenang-senang malam ini dan tidak perlu pulang." sahut pria itu, Zoya tak menyahut. Ia justru menatap sang suamibl dan menilik raut wajah Ethan yang tampan tak bisa terbantahkan.


"Deal." Zoya menyahut yakin dengan raut wajah penuh rona bahagia. "Kalau begitu aku kabari Naina dulu kalau malam ini kita nggak akan pulang."


Sahut Zoya. Ethan mengangguk dan mempersilakan sang istri untuk menelpon.


Sejujurnya Zoya merasa ragu untuk memberitahukan Naina jika malam ini ia dengan Ethan tidak akan pulang. Namun Zoya khawatir Naina akan menunggunya dan terjaga sepanjang malam karena tak temukan kuncinya.


Zoya menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya. Ia hanya tersenyum pada sang suami saat pria itu memainkan rambutnya.


Sampai pada dering keempat, panggilannya baru terhubung.


"Hallo, Mbak Zoya. Kalian udah dalam perjalanan pulang?" Naina bertanya dengan nada penuh antusias di ujung sana.


"Euu, malam ini saya sama Ethan nggak pulang. Jadi kamu nggak perlu nunggu, kunci pint dan tidur, yah?"


TBC

__ADS_1


__ADS_2