Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Warung Tenda Biru


__ADS_3

Seperti apa yang sudah Zoya niatkan meski merasa tidak enak pada yang lain. Ia akan tetap pulang, dirinya juga butuh mandi dan istirahat. Dress yang terasa lengket membuatnya sangat tidak nyaman.


Seharusnya Selin mengikuti Zoya ke restoran, tapi tampaknya manajer Zoya tersebut mampir entah di mana. Zoya mendesah, menatap kakinya setelah mengetikkan pesan Selin agar menjemputnya. "Zoy," Zoya menoleh ke samping, Edrin berdiri di sana dengan senyuman.


"Mbak Selin udah dihubungin?" tanyanya.


"Udah."


Mata Edrin menatap dress wanita itu yang terlihat basah dengan warna merah yang menempel di sana. "Aku anterin pulang aja, gimana?" tawarnya. Zoya diam, mempertimbangkan tawaran Edrin, sebenarnya tidak buruk. Hanya saja Zoya merasa tidak enak jika diantarkan pulang oleh lawan main filmnya.


Zoya takut jika diam-diam ada yang memotret mereka.


Sekali lagi Zoya menatap Edrin, sepertinya Selin akan sedikit lama dan Zoya sudah sangat ingin pulang. Suaminya tidak dapat di andalkan, pulang begitu saja meninggalkan Zoya setelah merundung wanita itu di toilet restoran.


"Gimana?" Edrin minta kepastian, ia tau wanita itu tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya. Zoya akhirnya mengangguk, rasanya tidak ada pilihan lain. Edrin tersenyum dan keduanya berjalan menuju mobil Edrin, Zoya masuk dan duduk di samping kursi kendali setelah Edrin membukakan pintu untuknya.


Setelahnya Edrin sedikit memutari mobil, lantas duduk di bagian kendali dan mulai menyalakan mesin mobil. Sampai ketukan pada kaca jendela di samping Zoya membuat wanita yang sedang memasang seatbelt itu menoleh. "Ethan," bibir Zoya berucap lirih.


Pria itu memberi isyarat padanya untuk turun dari mobil. Zoya menatap Edrin sebentar, kemudian membuka pintu mobil dan turun. Edrin juga tampak mengikutinya.


"Zoya pulang sama saya." sahut Ethan, yang pasti kalimatnya itu ia tujukan pada Edrin yang bertahan di samping mobil dengan pintu yang terbuka. Zoya tampak meminta maaf pada pria itu dengan raut wajahnya, Edrin tersenyum tipis dan kemudian kembali masuk ke mobilnya.


Zoya sedikit menjauh dari mobil. Perlahan mobil tersebut melaju meninggalkan Ethan dengan Zoya. Zoya menoleh pada Ethan begitu mobil Edrin sudah hilang dari pandangannya.


Pria itu menentang sebuah paper bag di tangannya yang Zoya tidak tau apa isinya. Sampai Ethan menyodorkan paper bag tersebut pada Zoya.


"Ganti pakaian kamu di mobil!" suruhnya, berlalu begitu saja ke arah mobilnya dengan lampu depan yang masih menyala. Zoya mengekor di belakang, Ethan masuk ke mobilnya dan mematikan mesin mobil. Setelahnya pria itu turun dan mempersilakan Zoya masuk.


"Saya tau kamu tidak nyaman dengan pakaian itu. Gantilah!"


Zoya menatap paper bag yang ditentangnya, ternyata tadi Ethan pergi untuk membelikan Zoya pakaian ganti?


Ethan melipat tangan di dada, menatap wanita itu yang tidak kunjung beranjak. Zoya terlihat ragu. "Tidak ada kamera pengawas di dalam mobil saya Zoya!" Ethan tau wanita itu berpikiran buruk padanya. Ethan mengangkat satu sudut bibirnya. "Memangnya bagian tubuh kamu yang mana yang belum saya lihat?"

__ADS_1


Lihatlah bagaimana Ethan begitu pandai membuat Zoya ingin selalu mengumpat kasar padanya. Zoya membuka pintu mobil bagian belakang dengan kasar. Ethan membalikan tubuhnya, memunggungi mobil dan membiarkan wanita itu untuk mengganti pakaiannya.


"Apa nggak bisa yah, kalo hal kaya gitu gak usah diomongin?"


"Seenaknya aja!"


"Iya dia enak-enakan, gak ngerasain gimana jadi aku!" Zoya menggerutu sembari melepas dress lengket yang membuatnya tidak nyaman. Ia mengambil tisu basah dan mengelap pahanya yang terasa masih lengket. Lantas mengenakan pakaian ganti yang Ethan belikan. Sebuah jumper dress, gaun yang didesain tanpa kerah dan lengan. Dengan bagian bawah yang memiliki potongan yang longgar. Sederhana namun terasa nyaman dipakai.


Zoya keluar dari mobil begitu selesai. Ethan menoleh, melihat penampilan wanita itu yang berbeda dari sebelumnya. "Nanti kita cari tempat buat makan, saya lapar." sahut Ethan. Setelahnya masuk ke mobil begitu saja sedangkan Zoya terbengong, wanita itu baru masuk begitu Ethan membunyikan klakson mobil.


"Kamu tadi di dalem makan." sahut Zoya begitu mobil yang dikemudikan pria itu perlahan melaju membelah jalanan Ibu Kota.


"Hanya sedikit, saya masih lapar. Lagipula saya lihat tadi kamu juga belum makan dengan benar."


Zoya memilih pasrah, menyandarkan punggungnya ke belakang dan memejamkan mata. Otaknya berpikir keras, memikirkan bagaimana cara agar ia tidak selalu ditindas oleh Ethan. Lama Zoya hanya terdiam, menoleh ke sampingnya, di mana wajah tampan Ethan terlihat begitu lelah.


Pria itu seperti kekurangan istirahat. Zoya jadi mempertanyakan, apakah semalam pria itu tidur? Atau mungkin menunggu kabar darinya?


Saat Ethan mengatakan ia mencintai Zoya, apa pria itu bersungguh-sungguh? Lagi-lagi Zoya mendesah, memang dosa apa yang dilakukannya sampai dalam hidup jalan takdir membawanya harus berurusan dengan seorang Zeinn Ethan?


"Bagaimana jika makan di sana?" tanya Ethan. Zoya menoleh tempat yang Ethan maksud. Sebuah warung tenda biru di mana gerobak bakso berada di sana. "Kamu sengaja banget kalo makan sama aku ngirit?" tanya Zoya dengan wajah serius. Ethan tersenyum, mengambil sesuatu dari kursi belakang dan menyerahkannya pada Zoya.


Ethan tidak bermain-main saat mengajak wanita itu untuk makan bakso di warung tenda biru, karena faktanya dua orang itu sudah turun dari mobil sekarang. Zoya tampak dibungkus jaket parka berwarna cokelat dengan hoodie yang menutupi kepalanya. Ethan berjalan di sampingnya.


Keduanya mencari tempat duduk yang kosong. Di dalam tenda biru itu terdapat sekitar lima meja panjang dilengkapi dengan kursi panjang pula di mana kursi tersebut diatur berhadapan. Ethan mengambil spot paling pojok agar tidak ada yang mengenali mereka. Zoya mengedarkan pandangannya, terlihat jika orang-orang yang sedang duduk dan menikmati bakso adalah pasangan muda-mudi yang sedang berkencan.


Zoya merogoh ponsel saat benda pipih itu berdering, telpon dari Selin yang barangkali akan menanyakan keberadaannya. Zoya menggeser ikon hijau bersamaan dengan penjual bakso yang mengantarkan dua mangkuk bakso untuk ia dan Ethan.


"Hallo, Mbak."


"Kamu di mana, Zoy? Kamu sama Pak Ethan?"


"Mbak tadi datang ke restoran tapi mereka bilang kamu udah pulang."

__ADS_1


Zoya menatap pria itu yang tengah menuangkan saus pada mangkuk baksonya. "Iya. Aku sama Ethan lagi makan, Mbak Selin pulang duluan aja ke rumah,"


"Aku sama Ethan juga bentar lagi pulang."


"Gini, Zoy. Sodara Mbak yang dari Bandung datang, Mbak disuruh pulang, mungkin nginep di rumah, kamu nggak papa, 'kan?"


Zoya diam sebentar, matanya mengarah pada Ethan. Zoya merasa takut jika hanya berdua dengan Ethan di rumah mereka. Setelah kejasian tempo hari dengan pria itu, Zoya sering kali merasa was-was jika bersama dengan Ethan.


"Zoy, kamu nggak papa, 'kan?"


"Eu–enggak papa, Mbak."


"Yasudah, besoknya mau dijemput atau dianter sama Pak Ethan?"


"Gimana besok pagi aja, manti aku kabarin."


"Oh, yaudah. Mbak tutup telponnya ya."


"Hmm."


Zoya kembali memasukan ponsel ke saku jaket Ethan, ia menatap pria yang sedang makan itu. Sepertinya Ethan benar-benar lapar.


"Apa dengan melihat wajah saya membuat perut kamu kenyang?" teguran Ethan membuat wanita itu tersentak, buru-buru memegang sendok untuk menikmati baksonya.


Ethan menatap wanita itu, wanita yang semalaman sudah berhasil membuatnya tidak tidur. Ethan merasa kesal, tentu saja. Tapi ia juga tau dirinya bersalah dan barangkali Zoya masih marah.


Begitu selesai makan, dua orang itu pulang. Meski diam-diam Zoya berharap Ethan kembali tidur ke hotelnya dan membiarkan wanita itu sendiri saja, faktanya Zoya tidak berani untuk benar-benar sendiri di dalam rumah besar Ethan.


Ethan yang bersiap untuk mandi menatap tempat tidur yang selama satu malam ditinggalkannya. Kepalanya menggeleng samar begitu mengingat apa yang dilakukannya pada Zoya di tempat tersebut. Pintu kamar mandi yang terbuka membuat Ethan menoleh, Zoya keluar dari sana dengan rambut yang dibungkus dengan handuk. Tatapan mereka sempat bertemu tapi Zoya menepisnya dengan cepat.


Tampak bergegas ke arah walk in closet.


Ethan melangkah ke arah kamar mandi. Faktanya apa yang ia lakukan pada Zoya membuat wanita itu takut kepadanya.

__ADS_1


TBC.


Mau up tadi siang, eh jaringan ditempatku malah ngilang.


__ADS_2