
AIRIN
Aku heran kenapa mas Devid kembali berubah. Meskipun tidak seperti marah dan benci. Tapi dia sering mendiamkanku. Bahkan terkadang terkesan menghindariku.
Ada kala nya dia terlihat sangat hangat, penuh perhatian dan cinta. Tapi bisa dengan tiba tiba saja dia menjadi dingin kembali. Apalagi kalau sampai tahap urusan ranjang. Awalnya begitu berhasrat dengan cepat bisa saja menjauh. Kadang aku sengaja memancing dan menggodanya. Meski akhirnya kami melakukannya, tpi awalnya dia seperti berusaha untuk bertahan tidak terpancing dan enggan menyentuhku. Tapi aku tidak menyerah, selalu ada cara ku untuk merayunya.
Ya, mungkin karena sekarang aku tidak lagi dalam hubungannya yang terpaksa dan melakukannya karea cinta. Aku seperti sangat tak ingin jauh jauh darinya. Rasanya setiap malam aku ingin selalu dicumbu mas Devid.
Awalnya aku mengira mungkin dia terlalu lelah dengan pekerjaannya di rumah sakit. Makana terkadang dia ingin cepat istirhat dirumah. Tapi semakin lama aku merasa semakin aneh dan berbeda. Mas Devid menghindariku untuk masalah ranjang. Karna untuk hal lainnya mas Devid tetap hangat dan perhatian. Seperti mengajakku dan Syfa jalan jalan. Bermain dan bercanda dengan Syfa. Semuanya baik baik saja. Tapi tidak untuk urusan yang satu itu. Ada apa sebenarnya, aku ingin curhat ke Bunda juga malu.
Hari ini mas Devid pulan sudah sangat larut. Aku sampai tertidur menunggunya di teras. Syukurnya Syfa sekarang sudah tidur dikamarnya sendiri dengan pengasuhnya. Jadi aku bisa focus menunggu mas Devid pulang. Aku terbangun saat mendengar suara klakson mobil mas Devid masuk. Setelah pagar dibuka dan mas Devid lansung mengarahkan mobilnya ke Bagasi.
Seperti biasa, aku selalu mnyambut kepulangannya dengan hangat. Ku berikan senyum termanisku. Tapi saat mas Devid keluar dari mobil, kulihat wajahnya sangat kusut. Tak ada senyum sedikitpun. Aku masih berfikir positif Mungkin dia sangat lelah.
Ku cium tangannya dan ku bantu membawakan tas nya. Mas Devid tak berbicara sepatah kata pyn Sepertinya benar benar lelah, fikirku. Sesampainya di kamar. seperti biasa. Ku bantu membukakan sepatunya dan menyediakan air mineral. Mas Devid pun langsung bersih bersih ke kamar mandi. Aku segera menyediakan baju gantinya.
"Mas mau maka dulu ? " Tanya ku saat mas Devid telah berganti pakaian.
"Ngk usah, mau langsung tidur saja." Akhirnya diapun bersuara.
Dan kami pun bersiap siap untuk tidur. Lagi lagi mas Devid tidur membelakangiku. Aku pun merapatkan tubuhku padanya. Ku peluk dia dari belakang. Malam ini aku tidak bermaksud untuk merayunya. Entahlah, sekarang aku hoby sekali tidur sambil memeluknya dari belakang seperti ini. terkdang bisa sampai subuh kami tidur dengan posisi ini. Kadang berganti posisi, mas Devid yang memelukku. Kucium punggungnya, menikmati aroma tubuhnya yang sangat ku sukai.
__ADS_1
"Bisa ngk sih kamu tidur ngk mancing mancing seperti ini. Jangan kayak anak kecil tidur sambil peluk peluk." Tiba tiba mas Devid bangun dan langsung berdiri. Dia pun bicara dengan setengah berteriak. Sontak aku pun terkejut dan juga takut dengan sikapnya barusan. Mas Devid tak pernah seperti ini.
Karena kaget dan takut, mataku seketika berkaca kaca. Kenapa mas Devid bersikap begitu. Pandangan matanya yang tajam seperti ingin menerkamku. Ini seperti bukan mas Devid.
"Nangis,, mau nangis.... Pakai senjata andalan. Airmata.????" Ujarnya lagi. Kemudian mas Devid menyambar bantal dan keluar kamar. Meninggalkanku seorang diri. Akhirnya airmataku pun basah. Hatiku sakit dan hancur. Ada apa dengan mas Devid. Akhirya malam itu aku tertidur sendirian dikamar. aku tertidur setelah menangis.
Saat terbangun, mas Devid belum kembali ke kamar. Aku yakin dia tidur diruang kerjanya. Segera ku bersihkan diriku, dan sholat tahajud. Seperti biasa hanya Allah tempatku bercerita. Aku benar benar tak mengerti ada apa dengan mas Devid. Sambil menunggu waktu subuh, ku isi waktu dengan membaca Alqur'an. Tangisku pun pecah lagi. Ku coba meredam rasa sedihku. Saat sedang sholat subuh terdengar ada yang membuka pintu kamar. Mas Devid, dia sudah bangun.
Selesai sholat kurapikan kamar. Mas Devid baru keluar dari kamar mandi dan terus mengerjakan sholat. setelah merapikan kamar dan menyiapkan baju untuk mas Devid kerumah sakit nanti. Aku memakai hijabku bersiap untuk ke dapur. menyiapkan sarapan. Lebih tepatnya, aku menghindar agar tak berdekatan dulu dengan mas Devid. Karena aku tak sanggup menahan sedihku karena perlakuannya semalam. Darippada airmataku tumpah lagi lebih baik aku menghindar dulu.
Tapi, saat aku akan membuka pintu. Kurasakan mas Devid menarik tanganku pelan. Dan langsung memelukku.
"Maafkan mas sayang, maafkan sikap mas tadi malam. " Ujarnya sambil masih memelukku. Dadaku sesak, mataku pun basah lagi. Aku hanya diam dan menangis tak mampu berkata apapun. Mas Devid melepaskan pelukannya perlahan. Dia menatapku dalam.
"Kamu mau kan maafin mas.." Tanya mas Devid lagi kemudian. Dan aku hanya mengangguk menjawabnya. Mas Devid tersenyum dan kembali memelukku.
Hari hari pun berlalu, minggu berganti minggu. Mungkin benar mas Devid tak pernah lagi marah dan membentakku. Tapi sikapnya tetap sama. Dingin dan menghindariku di ranjang. Dan bahkan sudah hampir 3bulan kami tidak melakukannya. Aku pun tak berani lagi untuk merayu atau menggodanya. Karena sejak kemarahanya malam itu aku tak berani lagi. Aku takut kalau mas Devid akan marah lagi.
Tapi mas Devid masih menyentuhku, meskipun hanya sekedar memelukku saat aku tengah berdiri di balkon kamar. Terkadang kami masih berciuman mesra. Aku dapat merasakan hasrat mas Devid yang bergelora saat menghisap bibirku. Tangannya pun tak bisa diam, merayap meraba disetiap bagian tubuhku. Tapi hanya sekedar begitu, tiba tiba saja mas Devid akan berhenti saat hasratku pun menginginkan lebih. "Maafkan mas sayang.." Semua kemesraan kami pun berhenti dengan satu permintaan maafnya. Kemudian mas Devid berlalu meninggalkanku yang masih berhasrat.
Apa rasanya dibuat seperti itu ? Sakit, iya sakit sekali. Aku hanya bisa menahan tangisku. Terkadang ku luapkan tangisku dikamar mandi Di bawah guyuran air shower yang mengalir kencang. Aku berharap sesak didada ini bisa sedikit saja berkurang. Karena aku tak ingin Bunda melihat ku menangis.
__ADS_1
Hari ini Aku belanja bulanan dengan Bunda dan syfa. Kami ke Mall dimana biasa Bunda mengajakku. Barang barang kebutuhan dirumah sudah banyak yag habis. Jadi kemungkinan belanjaan hari ini lumayan banyak.
Saat aku dan Bunda sedang memilih milih belanjaan, ada seorang Ibu ibu datang menghampiri kami. Ternyata teman lama Bunda.
"Apa kabar Jeng. Sudah lama ya kita tidak bertemu. Terakhir sejak Almarhum Ayahnya Devid meninggal apa ya. " Ujar Ibu itu.
"Alhamdulillah baik jeng, sehat. Iya ya sudah lama juga. kan ngk lama setelah itu jeng sekeluarga pindah ke Bali." Jawab Bunda. Aku hanya menjadi pendengar saja dari obrolan dua Ibu ibu itu.
"Oh iya sampai lupa. Kenalkan jeng, ini Airin. Istrinya Devid." Bunda pun mengenalkan aku pada temannya itu. Dan aku pun bersalaman dengan ibu itu.
"Airin tante." Ucapkan memperkenalkan diri sambil mencium tangannya.
" Loh, Devid ngk sama Clarisa lagi ya ? mereka jadi bercerai toh ?" Tampak Ibu itu sedikit ragu menerima salamku.
"Iya,Devid dan Clarisa sudah lama berpisah. Dan baru satu tahun lebih ini menikah dengan Airin." Ujar Bunda. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Lalu yang cantik imut menggemaskan ini siapa." Teman Bunda itu pun membelai Syfa yang tengah asyik duduk di atas stoller belanjaan.
" Ini anak mereka Jeng." Jawab Bunda tersenyum.
"Ah masaaaaa.. Beneran Jeng.." Tanya teman Bunda,. Dari ekspresi nya seakan tak percaya sama sekali. Bunda pun tersenyum.
__ADS_1
"MasyaAllah, Alhamdulillah yaaa.. Bersyukur kalau begitu jeng. Ternyata Devid benaran tidak mandul seperti yang di gosipin dulu itu." Ujar teman Bunda kemudian. Bunda sedikit canggung dengan perkataan temannya itu. Kemudian Bunda pun mengalihkan arah pembicaraan mereka. Aku sesaat terdiam, apa aku tak salah dengar tadi. " Mas Devid digosipkan mandul.?" Ku ulang lagi kalimat itu dalam hati..
Entah kenapa hatiku merasa ada yang aneh. Apakah karena gosip itu mas Devid bersikap dingin padaku...