
Di tengah-tengah ramainya pesta ketika semua orang menikmati alunan nada yang begitu indah dengan menggerakan tubuh mereka, justru Naina hanya memeluk tubuhnya sendiri di salah satu sudut dengan tatapan yang menyapu hampir seluruh penjuru melihat semua orang tampak begitu menikmati momen tersebut bersama dengan pasangannya masing-masing.
Sementara dirinya hanya sendiri di sana, selain karena ia tidak bisa berdansa, dia juga cukup sadar diri jika dirinya hanyalah asisten rumah tangga yang diundang untuk datang, rasanya tidak pantas jika ia ikut berbaur bersama mereka, terlebih lagi ia tak memiliki pasangan. Kemudian hal itu diperkuat dengan pakaiannya yang tampak kotor setelah terkena tumpahan minuman, membuatnya merasa kian tidak percaya diri untuk berbaur dengan mereka semua.
Netranya menangkap Ethan dengan Zoya yang tampak mesra berdansa. Saling tersenyum dan sesekali menyatukan dahi mereka seolah dunia hanyalah milik berdua, yang lain hanya menumpang. Naina tersenyum melihatnya, pemandangan tersebut membuat hatinya ikut merasakan bahagia.
Di sudut lain, Freya dengan Agyan pun tampak sama, tampak menikmati kebersamaannya di tengah-tengah pesta. Naina lebih tertarik untuk memerhatikan sekelilingnya, sedangkan di lain sisi, ia menjadi perhatian seseorang.
Ketika dirinya lebih senang melihat kebahagiaan orang-orang, justru seseorang tertarik untuk melihat padanya.
"Pepet, jangan cuma diliatin!"
Rival menoleh ke sumber suara di mana Arasy mendudukan diri di sampingnya dengan segelas minuman berwarna merah di tangannya. Lantas wanita cantik itu menatap objek yang semula menarik perhatian Rival. Naina.
"Belum ada niatan buat cepet punya istri Mas?" kali ini Arasy menjatuhkan tatapannya pada Rival. Tak segera menyahut, Rival justru mengangkat bahunya dan tampak enggan membahas hal tersebut.
Beberapa bulan setelah bergabung di perusahaan justru Rival merasa kian nyaman hidup sendirian, tidak tertarik sama sekali terhadap wanita-wanita yang ingin kepadanya. Namun belakangan, ia merasa jika ketika ia bertemu dengan asisten rumah tangga Ethan dan Zoya, Rival merasa tertarik pada gadis itu. Pada Naina.
"Hello ..., Mas Rival." Arasy menyadarkan pria itu dari lamunannya. Lagi, Rival menoleh kepada Arasy yang tampak cantik itu, ia menggelengkan kepala. "Aku sama sekali belum ada niatan untuk menikah. Lagian calonnya belum ada."
"Terus itu?" Arasy memajukan dagunya, menunjuk Naina yang masih berdiam diri di tempatnya dengan pandangan yang masih menyapu sekitar.
"Dia cantik. Aku cukup kenal dan kurasa dia baik Mas Rival. Enggak tertarik? Atau mau nyoba?" Arasy to the poin, karena faktanya apa yang ia katakan memang benar adanya. Sekalipun jika dibandingkan latar belakang Rival dengan Naina jelas jauh berbeda, Arasy merasa cukup yakin jika Rival tak akan mempermasalahkan hal tersebut, faktanya Arasy tahu mengenai bagaimana keluarga besarnya dan harta bukanlah segalanya, semua tidak diukur hanya dengan hal itu bukan? Masih ada beberapa hal berharga yang jauh lebih penting daripada uang.
"Dia juga pintar masak, pokoknya perfect. Mau nyari yang gimana lagi, coba?" sambungnya tetapi Rival masih hanya terdiam, hingga kemudian pria tampan itu tersenyum tipis, lantas menggelengkan kepalanya yang membuat Arasy akhirnya menyerah untuk membahas hal tersebut, sepertinya Rival memang benar-benar tidak memiliki niatan dalam hidupnya untuk memiliki seorang wanita.
"Gimana kerja di perusahaan, Mas? Kamu betah, setelah lama cuman keliling dunia ngabisin duit orang tua?" Arasy bertanya dengan nada menyindir yang justru membuat Rival terkekeh mendengarnya.
"Enggak bisa di filter sedikit aja ngomongnya Ar? Aku tersinggung," sahut Rival apa adanya dengan alis bertaut, menatap Arasy dengan sorot mata yang serius. Arasy tertawa, hingga kemudian beberapa detik berselang keduanya terdiam. Pandangan Rival dan Arasy jatuh ke tak tentu arah, hingga setelahnya Rival buka suara.
"Ternyata kerja di perusahaan gak mudah. Terutama dengan posisiku sebagai karyawan biasa di perusahaan milik keluarga sendiri."
"Mas mau menyerah?"
"Bukan. Cuma mau mengistirahatkan diri dulu."
__ADS_1
"Dengan cara?"
Rival mempertemukan tatapannya dengan Arasy. "Resign." sahutnya singkat. "Ada tempat yang harus aku tuju, mungkin akan cukup lama di sana."
"Setelah kembali nanti, aku akan siap menjalani hidup." Rival menyahut dengan nada serius, bahkan pilihan kata pria itu begitu bagus, nyaris membuat Arasy terbawa suasana. Tapi di detik berikutnya, Arasy memukul bahu Rival, cukup keras dan berhasil membuat Rival mengaduh kesakitan.
"Drama banget, sih!"
"Emang selama ini kamu nggak hidup, Mas?"
"Aduuh, Mas. Aku nggak ngerti sama pola pikir kamu, selama ini kamu ngapain aja sih?"
"Cuma napas aja." Rival menjawab dengan nada yang sangat menyebalkan dan membuat Arasy menggeleng takjub, hingga kemudian wanita itu bangkit meninggalkan Rival membuat pria itu kembali sendirian di sana dan kemudian membuat pria itu kembali mengalihkan tatapannya kepada Naina yang tetap masih berada di tempatnya tadi. Tak bergeser sedikitpun.
Rival mengingat apa yang ia dengan Arasy tadi. Ia memang sudah meminta izin kepada Rayn dan akan resign dari perusahaan kemudian menenangkan dirinya untuk waktu ia sendiri belum ia ketahui, yang pasti akan cukup lama.
Yang membuat dirinya tidak berani mendekati Naina sekalipun hasratnya begitu menggebu-gebu untuk mendekati gadis itu, ia tak ingin meninggalkan Naina seandainya nanti keduanya memiliki ketertarikan yang sama.
Sepertinya Rival benar-benar harus menyerah sebelum mencoba, ia selalu ragu untuk melangkah atau berbuat lebih. Ia cukup berprinsip seandainya Tuhan menakdirkan mereka bersama, maka bagaimanapun caranya mereka akan bersama bukan? Sekalipun harus ada usaha maka semuanya kembali Rival serahkan kepada Tuhan. Bagaimana baiknya, biar Tuhan yang mengatur semua. Begitulah seorang Rival dalam menyikapi segala persoalan hidupnya.
**
Sejujurnya, sejak mereka bersiap pulang dari acara pesta, Zoya cukup bertanya-tanya mengenai jas siapa yang dikenakan asisten rumah tangganya.
Ia dengan Ethan memang tidak menginap di rumah Freya untuk beberapa alasan, salah satunya karena Ethan yang menolak untuk menginap di rumah sang Bunda. Entahlah apa alasannya.
"Sepertinya saya cukup kenal sama jas yang kamu pakai, saya merasa familiar sekali." sahut Zoya yang membuat Naina mengarahkan pandangan yang semula fokus pada kaca jendela mobil berpindah kepadanya.
"Kenapa Mbak?" tanpa sadar Naina spontan bertanya karena ia tidak mendengar yang Zoya katakan tadi, ia melamun.
"Saya merasa kenal sama jas yang kamu pake."
Naina mengusap jas Rival yang dikenakannya, Zoya menatapnya dengan tersenyum. "Oh, ini. Iya Mbak, ini jas Mas Rival. Tadi ada orang yang nggak sengaja nabrak saya dan numpahin minuman di pakaian saya, terus Mas Rival yang bantuin pakaian saya karena jadi transparan." jujur Nain apa adanya. Zoya hanya menganggukkan kepalanya. Tidak terasa jika mereka sudah sampai di rumah.
Ethan yang mengemudikan mobilnya dengan tenang hanya menoleh sekilas ke bangku belakang di mana Naina duduk di sana, kemudian satpam di rumah mereka membukakan pintu gerbang, Ethan kembali melajukan mobilnya dengan pelan dan menepikannya di pelataran rumah.
__ADS_1
Setelahnya ia lebih dulu turun dari mobil, kemudian membukakan pintu untuk Zoya. Naina membuka pintu mobilnya sendiri, ketiganya lantas berjalan memasuki rumah dengan tangan Ethan yang melingkari pinggang Zoya, Naina mengikuti di belakang mereka.
Etan terus mengandeng Zoya hingga mereka berada pada tangga menuju lantai dua kamar mereka, terus melangkah dengan Ethan hingga akhirnya ia memilih untuk menghentikan langkahnya begitu mengingat sesuatu.
Lantas membalikan tubuh kepada Naina. "Naina." panggilnya dan membuat gadis itu menghentikan langkah, lantas menoleh padanya dengan tatapan penuh tanya. "Iya. Ada apa Mbak? Ada yang perlu saya bantu?" tawarnya Zoya menggelengkan kepalanya.
"Kamu masih ingat? Waktu itu saya pernah menawari kamu untuk mencarikan calon suami untuk kamu. Kamu masih mau?"
"Bagaimana, kamu masih setuju dengan hal itu?" Zoya mengingat kembali moment di hari pernikahan Rendy dengan Selin. Beberapa bulan yang lalu didetik sebelum ia mengalami kecelakaan dan kehilangan calon buah hatinya untuk yang kedua kali.
Naina tidak langsung menyahut, ia terdiam untuk beberapa saat. Ia ingat betul saat Zoya mengatakan hal tersebut, ia kemudian mengangguk setelah beberapa saat.
"Iya, saya masih ingat Mbak."
"Kalau seandainya Mas Rival cocok untuk kamu dan saya dengan Ethan setuju untuk menjodohkan kalian, bagaimana?" ujar Zoya, to the point.
Naina kembali terdiam, kali ini cukup lama mempertimbangkan apa yang Zoya katakan, terutama saat ia mengingat jika beberapa jam yang lalu saat acara dansa berlangsung di pesta ulang tahun Freya, ia memergoki Rival yang terus menatapnya dengan tatapan tak biasa. Entahlah apa artinya, Naina tidak ingin berharap lebih.
Ia tidak ingin menanggapi secara berlebihan mengenai tatapan tersebut. Ia cukup sadar diri untuk tidak menjatuhkan hati kepada orang yang derajatnya jauh lebih di atasnya.
Zoya dengan Ethan masih menunggu respon dari Naina. "Memangnya Mas Rival akan mau sama saya?" Naina bertanya setelah beberapa saat, Zoya hanya tersenyum dan menoleh kepada ada suaminya mengerti akan tatapan sang istri lantas Ethan menganggukan kepalanya. "Kenapa tidak?" tanya Ethan kepada Naina.
Gadis itu tak menyahut, mematung di tempatnya. Dengan Rival? Apakah mungkin?
Sementara saat ini ini ia tak memiliki perasaan apapun kepada Rival, atau lebih tepatnya entahlah sudah berapa lama Naina tidak pernah memiliki perasaan kepada seorang pria. Mungkin ini kah yang disebut mati rasa?
Lantas, apa penyebabnya? Apa mungkin tanpa sadar ia sudah jatuh cinta, pada orang yang tidak diketahuinya?
Siapa?
TBC
Karena tadi malam nggak bisa up. Jadinya pagi-pagi gini udah up.
Gimana, lanjut nggak?
__ADS_1