
Putus komunikasi sejak Agyan kembali ke Amrik menjadi hal biasa bagi Freya, karena sebelumnya pun mereka sudah kehilangan komunikasi selama satu tahun. Meski perasaannya tetap lah sama, selalu rindu pada Agyannya.
Namun begitu, Freya tetap menikmati prosesnya. Di hari bahagianya ini, diam-diam Freya berharap Agyan adalah orang pertama yang memberinya buket bunga mewah. Pada kenyataannya, Mbak Nadienlah yang menjadi orang pertama, mendatanginya dan memberi ucapan atas kelulusannya dari perguruan tinggi.
"Congratulation, My Sister!" ia merentangkan tangan, Freya memeluknya. "Thanks Mbak Nadien."
Mbak Nadien tersenyum, menatap gadis cantik dengan toganya itu. "Jadi, kamu beneran nggak mau memperpanjang kontrak lagi?" tanyanya, Freya mengangguk.
"Sekarang, Mbak Nadien, 'kan bukan cuma menejerin aku doang."
"Lagian, model Mbak yang baru baik, cantik, mudah diatur. Nggak kaya aku." canda Freya sambil tertawa. Mbak Nadien ikut tertawa mendengarnya.
"Mbak udah menejerin kamu sejak kamu SMP, Mbak udah nyaman dan terbiasa!"
Freya hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Mbak mau pindah ke Bali,"
"Jadi?"
Mbak Nadien sudah lama menceritakan pada Freya jika ia akan pindah ke Bali. Menuruti keinginan orangtuanya untuk kembali menikah setelah lama menyendiri begitu suaminya meninggal satu tahun setelah pernikahan mereka.
"Jadi,"
"Semoga Mbak Nadien bahagia, yah. Makasih selama ini udah sabar ngadepin aku!"
Mbak Nadien mengangguk, kembali memeluk Freya dan akhirnya pamit untuk pulang setelah memberitahu Freya jika malam nanti ada acara khusus untuknya. Freya hanya menatap kepergiannya sambil melambaikan tangan. Meski Freya tidak pernah benar-benar mengakrabkan diri pada menejernya tersebut, tapi Mbak Nadien mengenal dan memahaminya dengan baik tanpa harus Freya jelaskan apa keinginannya.
Senyum Freya merekah saat melihat seorang pria dengan buket bunga di tangannya. Perawakannya tinggi, ia mengenakan kemeja berwarna biru muda dengan balutan rompi, dan jas serta celana dengan warna hitam senada.
Setelah memberikan selamat untuk kawan-kawannya, Braga kembali ke parkiran, ke mobilnya dan mengambil buket bunga yang sudah ia siapkan untuk Freya. Langkahnya semakin mantap begitu gadis itu tersenyum dan melangkah perlahan ke arahnya, tapi justru membuat langkahnya terhenti.
Langkah Braga benar-benar terhenti saat seseorang mendahului langkahnya dan memeluk Freya. Braga hanya mampu mematung dengan senyum yang perlahan memudar.
"Kamu dateng, nanti ada Mami Papi aku!" sahut Freya setelah Agyan menyerahkan buket bunga dan mencium keningnya.
"Nggak papa, aku cuma sebentar!" sahutnya. Lantas menggandeng Freya, sementara Freya asik mencium dan menatap bunga dari Agyan, dan ia baru menyadari satu hal— "Ga," tegurnya pada Braga, membuat Agyan juga menatap pria dengan toga itu.
"Congratulation, yah." ia menyalami dan memberi pelukan pada Braga. "Thanks, Gyan."
Agyan mengernyit melihat buket bunga di tangan Braga, Braga segera tersenyum dan menyerahkannya pada Freya. "Congratulations, Frey. Ini buket bunga, titipan dari Cherry."
"Gue kira dari loe, thanks, ya." Freya menyahut sambil menerima buket bunga dari Braga yang tersenyum padanya.
Agyan hanya melipat tangan di dada, memperhatikan interaksi antara Braga dan Freya. Setelah menyelesaikan studynya di Amrik dan lulus dengan gelar summa cum laude, Agyan pulang ke Indo dan langsung mendapat tugas dari sang Papi.
Posisinya di perusaah juga cukup penting sebagai Direktur eksekutif dari departemen komunikasi, membuatnya sibuk bekerja selama satu bulan ini ia berada di tanah air. Andreas seolah sengaja tidak mengistirahatkannya, agar ia tidak memiliki waktu untuk bertemu Freya, dan Andreas berhasil.
"By, aku langsung pulang lagi ke kantor." sahut Agyan, memutus obrolan Braga dan Freya.
"Yakin?" tanya gadis itu, mendekat pada Agyan. Agyan mengangguk, memegang kedua bahu Freya dan mengecup keningnya.
"Sekali lagi congratulations, yah. My wife,"
Agyan menarik satu sudut bibirnya, gadis itu juga perlahan tersenyum. "Kamu hati-hati!"
"Hmm." "Ga, gue duluan, yah." Braga hanya mengangguk, Agyan berlalu. Bersamaan dengan kedatangan Warry dan Anna yang langsung memeluk dan memberi ucapan selamat kepada Freya.
*
*
Agyan membuka pintu ruangannya. Ia hanya mematung di ambang pintu saat Andreas duduk di kursinya dengan tatapan penuh selidik. Agyan hanya menghela nafas, kemudian berjalan mendekat.
"Habis dari mana kamu?"
"Kampus Freya,"
Andreas menganggukan kepala. Jujur ia salut dengan sikap putranya yang selalu mampu bertanggungjawab atas apa yaang dilakukannya dengan bersikap jujur dalam hal apapun, terutama tentang sesuatu yang berhubungan dengan Freya.
"Gyan,"
Agyan menatap sang Papi, kemudian menarik kursi dan duduk setelah melepas kancing jasnya. "Sudah sekian lama, apa kamu tidak bisa mendapat pengganti Freya?"
"Bukan tidak dapat, Gyan hanya tidak mencari dan Gyan tidak menemukan."
__ADS_1
Andreas menghela nafas, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan tenang. "Dengar ini, Gyan!"
"Kamu tau bagaimana hubungan Papi dengan Mami Freya dulu. Papi tidak ingin orang dari masa lalu Papi berada di masa depan."
"Papi tau Papi terlalu egois. Andai kamu ada di posisi Papi, kamu akan mengerti." Andreas merasa putus asa menjelaskannya.9
"Tapi Gyan mencintai Freya, Pi."
"Baiklah, Papi kasih kamu pilihan antara Papi dengan—"
"Jangan pernah suruh Gyan buat pilih, karena Papi akan kecewa. Gyan akan memilih Freya." Agyan menyahut dengan sangat yakin. Andreas memberikan tatapan tak percayanya. Dan Agyan sangat meminta maaf karena kali ini harus mengecewakan sang Papi yang sangat dihormatinya.
"Agyan!"
"Kalau Papi tetap tidak memberi restu. Maka Agyan akan melamar Freya sendirian, jika Papi Freya setuju, Agyan akan menikahi Freya meski tanpa restu dari Papi."
"Agyan sudah dewasa, Pi. Agyan sudah harus menentukan jalan hidup Agyan sendiri tanpa ada paksaan dari pihak manapun!"
"Tapi saya orangtua kamu, Agyan!"
"Agyan tau!"
Anderas diam menatap putranya yang tampak masih saja tenang. Persis seperti dirinya saat dulu masih muda. Keteguhan pendiriannya pun sama dengannya dulu.
"Tanpa restu dari Papi, hidup kamu tidak akan bahagia. Agyan!"
Andreas bangkit, meninggalkan ruangan Agyan tanpa mau menatap putranya. Agyan hanya mendesah. Mengusap wajah dan menghembuskan nafasnya dengan gusar.
*
*
"Kamu di mana?"
"Di jalan. Aku mau dateng ke acara perayaan kelulusan yang diadain pihak perusahaan model buat aku."
"Oh, oke!" "Hati-hati."
"Non,"
Freya mendongak pada sopirnya. "Den Agyan!"
"Hah!"
Freya melihat dihadapan mobilnya Agyan tengah duduk di kap mobil. Jelas terlihat wajah tampan pria itu saat terkena lampu mobil Freya. Sopir melajukan mobilnya melewati mobil Agyan, kemudian Freya memintanya untuk berhenti.
"Bapak tunggu di sini bentar."
"Tapi, Non, kalau Tuan tau saya kasih izin non ketemu Den Agyan, gimana. Nanti saya dipecat!"
"Ya makannya jangan kasih tau. Bapak tunggu di sini aja!"
"Non—"
Tanpa bisa dicegah, Freya berlalu begitu saja keluar dari mobil. Ia menghampiri Agyan yang sudah berdiri di samping mobil. "Kamu ngapain?" tanya Freya, melihat keadaan tubuh Agyan. Ia masih mengenakan pakaian kantornya persis saat datang ke kampus tadi siang.
"Mau ke rumah kamu."
Freya menautkan alisnya. "Ngapain? Kan aku mau pergi."
Agyan tersenyum, menangkup satu sisi wajah Freya yang tampak mengkhawatirkannya. Perjalanan cinta mereka memanglah menyedihkan, Agyan mengakuinya. Selama beberapa tahun ini, ia banyak memberi beban pada gadisnya.
"Aku mau ketemu Papi kamu." ia berucap dengan tenang.
"Jangan, Gyan."
"Aku mau ngelamar kamu, masa nggak boleh. Katanya pengen nikah." sahut Agyan dengan penuh ledekan.
Mata Freya berkaca-kaca, ia melihat mobil Agyan. "Mami Papi kamu?" tanyanya, Agyan hanya menggeleng kecil.
"Aku cuma sendiri."
Sekarang Freya mengerti, jika kekasihnya memaksakan diri. Yang artinya Andreas maupun Grrycia belum memberi restunya untuk mereka.
__ADS_1
"Gimana kalo Papi tolak kamu?"
"Aku bakal datang lagi." Agyan sedikit terkekeh, Freya juga tertawa dengan air mata yang menganak sungai di pipinya.
"Kalau ditolak lagi?"
"Aku bakal datang lagi sampe Papi kamu bosen nolak aku."
Freya berhambur memeluk Agyan, menangis di dada prianya. Rasanya tak percaya mendapati kenyataan hubungan mereka tak seperti orang kebanyakan.
Empat tahun sudah berlalu dengan cepatnya, namun restu belum kunjung mereka dapatkan.
"Aku udah gagal bahagiain kamu, Frey."
"Kamu nggak gagal, Gyan."
"Aku gagal!"
"Waktunya aja yang belum tepat, kamu nggak gagal!" kekeuh Freya yang tidak ingin Agyan merasa demikian.
Agyan melepas pelukannya. Menatap Freya dengan ibu jari yang mengusap lelehan air mata di pipi gadis itu. "Jangan nangis kalau gak mau aku merasa gagal!"
Freya mengangguk, Agyan mengangkat dagunya. Mempertemukan bibir mereka dalam kecupan singkat. "Kamu berangkat, gih." suruhnya kemudian.
Lagi, Freya hanya mampu mengangguk, ia tidak dapat membuka suara dan mengatakan apa-apa bahkan sampai Agyan mengantarkannya ke mobil dan membukakan pintu mobil.
"Pak, hati-hati, yah. Saya titip Freya," sahut Agyan pada sang sopir.
"I—Iya, Den."
Mobil perlahan melaju, Freya hanya menoleh pada Agyan, pria tampan itu tersenyum dengan tenang melepas sang kekasih sampai mobil Freya jauh dari penglihatannya.
Agyan berdiri dengan sesekali menghela nafas di depan pintu besar bercat putih di hadapannya. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu.
Ketukan ketiga, pintu terbuka, menampilkan Warry yang tampak terkejut melihat kedatangannya.
"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Warry tanpa senyum di wajahnya. Agyan tersenyum dengan tenang. "Saya tidak dipersilahkan masuk?"
Warry menghela nafas, menyingkir dari sana seolah mempersilahkan Agyan untuk masuk. Pria tampan itu masuk dan mengucapkan terimakasih.
Lama Agyan hanya duduk diam di sofa ruang tamu dengan posisi saling berhadapan dengan Warry. Ia bagai dejavu, persis seperti saat ia baru saja lulus dari Ghalapagos dan diundang makan siang di rumah Freya, kemudian berbicara dengan Warry saat akan melamar Freya.
"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Warry, membuyarkan lamunan Agyan.
"Saya ingin melamar Freya!"
Terdengar sangat berani. Namun bukan apa-apa bagi Warry yang tidak mengharapkan kalimat tersebut.
"Kamu tidak mungkin melupakan situasi diantara keluarga kita. Jangan harap saya akan menerima lamaranmu!"
"Tapi saya dan Freya saling mencintai, Om."
"Tidak mungkin Freya tidak bisa mencintai laki-laki lain."
"Pada kenyataannya seperti itu!"
Warry tampak tertawa meremehkan. "Kamu merasa seperti itu?" Agyan tanpa ragu mengangguk.
"Pergilah, Agyan. Jangan mengharapkan Freya lagi. Kamu tampan dan mapan, kamu bisa menemukan pengganti putri saya!"
"Tidak bisa Om, saya hanya ingin Freya."
Warry tersenyum. "Pulanglah!"
Agyan diam sebentar, kemudian tanpa ragu ia bangkit dengan sopan. "Tidak papa jika saya ditolak, saya akan datang lagi nanti. Mungkin lusa, minggu depan, atau bulan depan dengan berita mengejutkan."
Warry terdiam, menatap Agyan dengan tajam, ia merasa terancam. Sementara yang ditatap tampak tidak risih sedikitpun. "Permisi, Om."
Agyan berjalan keluar, tapi sebelumnya, ia menatap figura besar yang dilewatinya. Tersenyum pada Freya kecil yang tengah duduk diatas ayunan.
TBC
Votenya besok aja, ya:")
__ADS_1