Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Tidak Akan Seperti Angkasa


__ADS_3

Dokter mengatakan jika Zoya hanya kelelahan dan butuh beristirahat sesuai dengan prediksi wanita itu. Arfat memintanya untuk beristirahat saja di penginapan. Sementara yang lain kembali ke lokasi syuting dan akan pulang besok pagi.


Zoya meraih ponselnya dan melihat waktu yang sudah menunjukan pukul dua belas malam. Sementara Selin masih terjaga untuk memantau kondisinya usai wanita itu meminum obat yang sudah diberikan dokter.


"Mbak Selin kenapa nggak tidur?" tanya Zoya, perlahan ia mengubah posisinya dan duduk, menyandarkan punggung pada kepala ranjang.


"Mbak nungguin kamu, lagian Mbak juga udah tidur tadi." jawabnya seraya tersenyum.


"Tapi nggak bisa gitu Mbak, jangan diforsir tubuh Mbaknya. Mbak udah janji sama aku buat jaga kesehatan dan nggak kenapa-napa." Zoya merajuk. Merasa sudah cukup merepotkan wanita itu.


Selin tersenyum dan meraih tangan wanita itu. "Mbak kan nggak kenapa-napa. Kamu cepet sehat, biar bisa beraktivitas lagi." ucap Selin dengan begitu tulus. Zoya mengangguk, ia menatap Selin penuh terimakasih.


"Mbak udah harus cariin aku manajer baru. Perut Mbak nanti tambah besar dan Mbak harus banyak istirahat."


"Kalau sama aku, Mbak terlalu banyak berativitas. Kasihan calon keponakan aku."


"Iya, Mbak nanti coba cariin kamu manajer setelah project film ini berakhir, yah. Biar Mbak istirahat setelah memastikan kalau film ini sukses." sahutnya, Zoya menganggukan kepala.


"Pak Ethan sedang dalam perjalanan ke sini." beritahunya kemudian.


"Ngapain?" Zoya bertanya dengan raut yang tampak kesal mengingat pria itu yang belakangan seperti mengabaikannya. Bahkan beberapa waktu lalu pria itu sulit juga dihubungi.


"Mbak kasih tahu Randy kalau kamu pingsan di lokasi syuting. Makannya mereka langsung ke sini."


Zoya mendesah, rupanya pria itu masih tidak bisa dihubungi. Saat pria itu tiba nanti, Zoya tidak akan memedulikannya, sama seperti yang Ethan lakukan padanya beberapa hari ini.


"Aku mau mandi sekarang boleh nggak?" tanya Zoya kemudian yang membuat Selin mengerutkan kening, curiga. Usai ia mengatakan jika Ethan akan datang, wanita itu tiba-tiba saja ingin mandi.


"Bukan itu." Zoya yang mengetahui isi kepala sang manajer segera menepisnya.


"Badanku gerah, aku nggak bisa tidur kalau gini caranya." lebih lagi Zoya sudah meminum obat dan berkeringat. Pakaian yang dikenakannya cukup lengket dan membuatnya merasa tak nyaman.


"Pakai air hangat."


"Iya." Zoya beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Sementara Selin keluar dari kamar wanita itu setelah menyiapkan pakaian Zoya.


***


Zoya hanya mematung dalam pantulan cermin saat pintu kamar terbuka dan Ethan muncul dari arah sana dengan raut wajah panik yang masih bisa pria itu sembunyikan.


Ethan dengan Randy tiba di sebuah rumah megah dua lantai milik Arfat yang dijadikan pria itu sebagai hunian sementara tim selama melaksanakan syuting di kota tersebut.


Ethan segera turun saat mobil saat mobil sudah terparkir rapi. Randy menyusul di belakangnya. Dengan tidak sabaran Ethan segera mengetuk pintu. Selin yang saat itu baru saja mendapati pesan dari sang suami jika mereka telah tiba lantas membuka pintu begitu mendengar deru mesin mobil disusul ketukan pintu.


"Dimana Zoya?" Ethan segera bertanya begitu pintu terbuka.


"Di–lantai dua, di kamar utana." bahkan sebelum Selin menyelesaikan kalimatnya pria itu sudah berlalu menapaki anak tangga.

__ADS_1


Selin menatap suaminya yang baru saja tiba dan dengan segera memeluknya. Selin tersenyum, membalas pelukan pria itu dengan perasaan bahagia. Sudah cukup lama mereka tidak berjumpa.


"Kamu sehat-sehat, 'kan di sini?" tanya Randy usai mengurai pelukan. Selin mengangguk, ia mengusap puncak kepala Randy saat sang suami mengelus perutnya, sepertinya pria itu rindu menyapa calon anak mereka.


***


Zoya hanya diam menatap pria itu, sementara Ethan juga masih terdiam dan mengatur napasnya yang berantakan setelah menapaki anak tangga. Hingga perlahan ia berjalan mengahampiri sang istri dan memeluk tubuh Zoya seraya memejamkan mata. Mendekap tubuh wanita itu penuh kerinduan.


Ia selalu ingin bertemu wanita itu namun dibeberapa kesempatan ia tidak memiliki waktu belakangan ini.


Sedangkan Zoya hanya mematung dalam dekapan pria itu. Ia sama sekali tidak membalas pelukan Ethan, lama kelamaan membuat pria itu tersadar dan mengurai pelukannya. Ia menatap sang istri dan menyadari ada yang berbeda dari wanita itu.


"Sayang," Ethan menyentuh kedua pundak Zoya namun wanita itu dengan cepat menepisnya dan melenggang begitu saja dari hadapan Ethan.


"Ngapain kamu kesini?" Zoya bertanya dengan nada enggan. Membuat Ethan tersenyum kecut dan menyimpulkan jika wanita itu tengah marah padanya.


"Maafkan saya, beberapa hari ini saya sibuk. Saya tidak memiliki banyak waktu untuk datang ke lokasi syuting kamu untuk berkunjung." sahut pria itu penuh penyesalan seraya mengikuti langkah Zoya yang kemudian duduk di atas tempat tidur dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.


"Saya minta maaf."


"Aku pernah minta kamu datang ke lokasi syuting?" tanya Zoya. Ethan terdiam, dalam hati mengatakan tidak karena Zoya memang tidak pernah memintanya untuk datang.


Melihat sang suami yang menyadari kesalahannya. Zoya mendesah. "Aku nggak pernah minta kamu buat dateng, seenggaknya jangan susah dihubungin. Bahkan beberapa hari ini kamu lupa ngasih kabar sama aku."


"Kamu bikin aku jadi overthinking tahu nggak, sih, Than!"


"Kalau aku nggak pingsan kamu malam ini kamu juga nggak akan ada di sini, 'kan?" kali ini nada bicara wanita itu seperti mau menangis. Membuat Ethan pilu melihatnya.


Zoya terdiam setelahnya. Ia ingin banyak mengoneli pria itu namun merasa tak bertenaga sekligus tidak tega melihat raut memelas sang suami.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Ethan kemudian.


"Manajer kamu bilang kamu jatuh pingsan dan suhu tubuh kamu tinggi." pria itu mengalihkan topik, alasannya buru-buru mendatangi Zoya juga karena khawatir dengan keadaan wanita itu.


"Tidak ada masalah serius, 'kan Sayang?" tanyanya lagi saat Zoya hanya diam dan mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Sama sekali tidak mau menatap Ethan.


Ethan mendesah, ia tahu ia salah dan tak mau memaksa keadaan, sepertinya ia juga harus memberi istrinya waktu untuk tenang dan bisa memaafkannya. Terlebih tubuhnya cukup lelah setelah menempuh perjalanan selama empat jam untuk sampai di tempat Zoya.


Ethan hanya menatap wanita itu dengan pasrah. Ia melepas jas yang dikenakannya dan menaruhnya di atas tempat tidur. Lantas bangkit dari duduknya.


"Saya harus cuci muka dulu." pamitnya yang kemudian berjalan menuju kamar mandi. Zoya berdecih setelah punggung pria itu hilang dari pandangannya.


Zoya kesal, sangat kesal pada pria itu. Entah kesal karena suaminya jarang memberinya kabar. Kesal karena Ethan tak pernah mengunjunginya. Atau kesal karena pria itu tidak bisa dihubungi saat asik menghadiri sebuah acara dengan Naina. Zoya tidak suka membayangkannya.


***


Ethan terheran-heran ketika ia keluar dari kamar mandi dan tidak mendapati sang istri di tempat tidur. Ia melihat pintu kamar yang sedikit terbuka menandakan jika wanita itu keluar dari kamar.

__ADS_1


Ethan berniat menyusul, tapi sebelumnya ia mengambil ponselnya lebih dulu dari balik saku jasnya. Ethan yakin jika daya batrai ponselnya penuh, ia tidak yakin jika ponselnya mati jarena kehabisan daya batrai.


Pria itu sesaat mematung setelah memastukannya sendiri jika daya batrai ponselnya masih banyak. Ia mendesah, menyadari jika hanya ada satu orang yang dapat melakukannya. Naina.


Ethan lantas turun ke lantai bawah untuk mencari Zoya, keadaan di rumah berukuran besar tersebut sangatlah sepi. Menurut Randy, saat mereka dalam perjalanan kemari, semua anggota tim kembali ke lokasi syuting kecuali Zoya yang tengah sakit dan juga Selin yang menemaninya.


Ethan melangkahkan kakinya menuju dapur saat mendengar suara dari arah sana. Ia melihat Zoya yang tengah menyalakan kompor. Ethan tersenyum, berharap marah istrinya sudah reda sehingga ia mendekap tubuh sang istri dari belakang.


Zoya yang sudah menyadari kehadiran pria itu hanya terdiam menunggu air yang direbusnya mendidih. Ia membutuhkannya karena ingin meminum susu cokelat hangat. Ethan di belakangnya menaruh dagunya pada pundak Zoya, wanita itu hanya diam pasrah.


Memejamkan matanya sesaat merasakan tangan Ethan yang melingkari perutnya dan kemudian menggenggam tangan Zoya yang memang berada di sana.


"Maafkan saya, saya salah." sahut pria itu, meminta berdamai.


"Saya berjanji tidak akan menjadi Angkasa, saya berjanji tidak akan menjadikan kamu sebagai Rain." sahut pria itu. Ketika ia meminta Zoya membacakan semua naskahnya tempo lalu dan Zoya menolak. Akhirnya Ethan membacanya sendiri saat wanita itu lelap tertidur.


Ethan tahu keseluruhan isi cerita. Ethan tahu apa yang terjadi pada Rain dan Angkasa. Ethan tahu akhir dari cinta yang dua orang itu mati-matian perjuangkan.


Ethan tahu bagaimana cara Rain dan Angkasa berpisah.


"Kisah kita tidak akan sama seperti mereka. Sayang." sambungnya.


Zoya tak menyahut, ia justru menghindar dari Ethan. Bukan mengabaikan pria itu, melainkan air yang direbusnya sudah mendidih.


Melihat hal itu, Ethan menyusul langkah Zoya dan dengan cepat mematikan kompor. Segera meraih tubuh wanita itu, mengangkat Zoya dengan ringan dan mendudukannya di atas meja kaca.


Tanpa berkata apapun pria itu hanya menatapnya dan membuat Zoya salah tingkah. Terlebih saat Ethan tidak kunjung menurunkannya.


"Ethan,"


"Katakan kamu sudah memaafkan saya."


"Than."


"Katakan kamu juga merindukan saya."


"Than,"


"Zoya," nada Ethan tampak memohon. "Ayolah."


"Katakan kamu juga merindukan saya!"


Zoya menghela napas, pria itu tampak menunggungnya penuh harap.


Faktanya tatapan yang Ethan berikan membuat perasaannya mencair. Zoya lantas mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan singkat di pipi sang suami. Sepertinya tindakan akan membuat Ethan jauh lebih percaya.


Tentu saja tindakan manisnya tersebut membuat senyum Ethan mengembang penuh kebahagiaan. Tak berkata apa-apa lagi, pria itu segera mendarakan bibirnya di atas bibir Zoya.

__ADS_1


Lantas menggendong wanita itu ala bridal style dan membawanya menuju lantai dua, meninggalkan air yang mengepulkan uap panas di atas kompor.


TBC


__ADS_2