Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Batasan


__ADS_3

Ethan tersenyum melihatnya, setelah istrinya berada kembali di sampingnya ia menggandeng Zoya menatap wanita itu dengan raut bangga, sementara Randy dan Selin tampak canggung di tempatnya.


"Mbak Selin pengen kado apa dari aku?" tanya Zoya kemudian, spontan Selin menggelengkan kepalanya. "Enggak perlu repot-repot, Zoy."


"Enggak usah repot-repot, kamu jangan nyusahin diri kamu sendiri." tolaknya.


"Enggak repot Mbak, justru aku seneng karena aku mau ngasih hadiah sama future mommy." sahut Zoya, tak ingin penawaramnya mendapat penolakan. "Gimana kalau kita belanja. Iya belanja aja." usulnya, benar-benar tidak bisa ditolak. Karena selanjutnya yang dilakukannya adalah meraih tangan Selin dan menuntunnya untuk keluar.


Meninggalkan Ethan dengan Randy di dalam ruangan. "Maaf Pak Ethan," sahutnya penuh sesal. Ethan menggelengkan kepala, jika Zoya saja mampu menerima dan begitu bahagia saat mengetahui jika sang manejer tengah mengandung anak pertamanya. Jadi untuk apa Ethan merasa keberatan saat mana hanya melihat senyum Zoya pun dunianya begitu sudah sempurna. Sangat lebih dari cukup bahkan.


"Tidak perlu meminta maaf, justru kamu harus sangat bersyukur karena Tuhan sudah memberikan kepercayaan kepada kamu dan juga Selin."


Ucap Ethan dengan tulus. Randy tersenyum tipis, kemudian menganggukkan kepala, setelahnya dua orang itu menyusul istri masing-masing keluar dari kantor Ethan.


Sepertinya hari ini keduanya harus meninggalkan pekerjaannya karena Zoya yang begitu ingin mengajak Selin untuk berbelanja, terutama wanita itu pergi tanpa pengamanan. Ethan tidak ingin sesuatu terjadi pada istrinya.


**


Suasana pusat perbelanjaan sama seperti hari-hari biasanya, begitu ramai oleh pengunjung. Tidak pernah sepi. Ethan mengutus empat orang bodyguard untuk menemani mereka berbelanja agar Zoya berbelanja dengan nyaman tanpa adanya gangguan.


"Mbak Selin mau apa? Pokoknya, nanti aku yang bayar, oke."


"Mbak Selin harus ambil barang yang banyak, kalau nggak, mau marah." beritahu Zoya berapi-api, membuat Selin menggelengkan kepala. Meski begitu ia tidak terlalu perlu heran, dirinya sangat tahu siapa Zoya. Selin sangat mengenal wanita itu dengan baik.


"Nah, kita ke sini dulu." sahutnya sambil menarik Selin ketika mereka melewati sebuah counter tas branded.


Selin hanya mampu menurut, sementara Ethan dengan Randy hanya bertukar pandang, mereka tahu bagaimana para wanita ketika berbelanja, jadi keduanya hanya pasrah saja mengikiuti dan mengamati istri masing-masing yang tengah memilih tas yang disukainya.


"Aku kasih Mbak, dua, tiga, atau bisa lebih. Selama suka, ambil aja, yah." sahut Zoya saat Selin tengah memilah.


"Zoya, tas Mbak udah banyak. Kamu juga udah pernah beberapa kali beliin Mbak tas."


Sekalipun Selin tahu uang Zoya banyak dan tidak akan habis, ditambah lagi suaminya tajir melintir dan hartanya tidak akan habis tujuh turunan. Tetap saja, Selin selalu merasa sayang jika uangnya dihamburkan untuk membeli tas yang tidak terlalu dibutuhkan.


"Sayang uang Zoy."


"Uangku banyak, Mbak."


"Iya, Mbak tau. Tapi sayang kalau dipake beli tas yang belum tentu Mbak butuhin nanti."

__ADS_1


Zoya mengerucutkan bibir, merasa kecewa karena penawarannya ditolak oleh sang manager. Melihat raut wajah Zoya yang muram, pada akhirnya Selin mendesah pasrah.


"Mbak ambil satu, ya." sahutnya yang membuat senyum di bibir Zoya seketika melebar, wanita itu menganggukkan kepalanya penuh semangat. Setidaknya hari ini, Selin harus mengambil apapun barang yang ingin diberikan kepada wanita itu dari Zoya sebagai hadiah untuk Selin dan juga calon keponakannya.


Tas sudah didapat, sepatu branded, beberapa pakaian mahal bahkan perhiasan dan juga beberapa set perlengkapan bayi sudah Selin miliki, ia benar-benar menggeleng takjub melihat kelakuan Zoya.


Sepertinya wanita itu bingung ingin menghabiskan uangnya untuk apa, sehingga menghadiahi Selin dengan banyak sekali kemewahan.


"Kita ke mana lagi?" tanya Ethan, dua pria itu tampak sudah bosan mengikuti langkah istri-istrinya namun tetap terus menikmati karena tidak ingin dua wanita cantik itu kecewa.


"Nanti dulu Mbak Selin mungkin udah capek keliling terus, nggak baik sama kandungannya." sahut Zoya, Selin mengangguk, begitu juga Randy, membenarkan apa yang Zoya katakan, mereka sudah terlalu lama berjalan-jalan.


"Kita ke food court aja gimana?" katanya "Sekalian makan siang." Usul Randy yang diiyakan oleh yang lain, sehingga keempatnya dengan diikuti empat orang Bodyguard berjalan menuju food court untuk beristirahat sekalian menikmati makan siang.


Beruntung saat itu tidak terlalu banyak orang di food court, terlebih Ethan sempat mengambil sebuah hoodie untuk Zoya kenakan agar wanita itu tidak terlalu dalam radar para fansnya saat menikmati makan.


"Habis ini mau beli apa lagi Mbak?" tanya Zoya disela-sela makan. Sepertinya wanita itu masih ingin terus menghabiskan uangnya. Selin menggelengkan kepala kuat-kuat. "Udah cukup. Cukup Zoy, udah banyak." Selin menolak tawaran wanita itu, Zoya hanya mengangguk pasrah. Selin benar, memang sudah terlalu banyak yang dibeli.


Ketika makanan pesanan mereka tiba. Keempatnya menikmati makan, namun begitu Zoya adalah orang yang sebenarnya tidak terlalu lapar. Hingga ia hanya memakan sedikit makanannya, kemudian mengedarkan pandangan melihat beberapa pengunjung yang tampak asik dengan dunianya


Wanita itu mengukir senyum kala matanya menangkap objek yang menarik perhatian. Seorang batita yang tengah mengacak-acak makanannya, membuat meja berantakan. Tapi sang ibu tampak tidak marah sedikitpun, ia justru sesekali tersenyum pada putranya tersebut dan menyuapinya untuk makan. Senyum Zoya kian melebar melihat hal tersebut.


Ethan yang semula fokus pada makanannya seketika mengangkat pandangan saat wanita yang duduk bersebrangan dengannya tidak melakukan pergerakan apapun. Saat mendapati wanita itu tengah menatap objek lain selain dirinya, Ethan pun ikut mengalihkan fokusnya.


Zoya mengerjapkan mata saat mendapati suaminya menghampiri batita yang menjadi objek perhatiannya. Ia baru sadar jika sang suami beranjak dari tempat duduknya untuk menggendong batita tersebut. Bukan hanya menggendong, karena Ethan membawa batita itu pada Zoya.


"Saya sudah izin sama mamamya buat bawa dia kemari. Kebetulan dia ng-fans sama kamu." sahut Ethan, sekilas menoleh pada ibu si bayi yang ada dalam gendongannya. Wanita itu menggeleng takjub menatap Zoya dengan tersenyum. Zoya hanya menganggukan kepala dengan sopan.


"Mau gendong?" tanya Ethan, ia tersenyum pada batita tersebut yang membuat sebagian pakaian yang Ethan menakan menjadi kotor. Sehingga begitu anak itu ada dalam pangkuan Zoya dan masih anteng, Ethan mengambil tissue dan mengelap tangan serta bibir bocah tampan itu.


Ethan kembali duduk di uirsinya saat Zoya asik bermain dengan bocah itu yang asik memainkan lidahnya sendiri. Ethan mulai menyandarkan punggung ke belakang melihat bagaimana Zoya tampak gemas pada bayi dalam gendongannya.


Ethan bahkan tidak kuasa membayangkan bagaimana nanti kehidupan rumah tangga mereka saat ada makhluk kecil itu di dalam rumah. Pasti akan sangat menyenangkan berkali-kali lipat.


**


Usai berbelanja, dan menghabiskan banyak waktu hari ini di dalam pusat perbelanjaan, rupanya Zoya begitu kelelahan. Karena ketika dalam perjalanan pulang, wanita itu tertidur di dalam mobil bahkan sampai mereka tiba di rumah.


Naina segera membuka pintu saat mendengar deru mesin mobil majikannya. Ia melihat Ethan yang tengah menggendong Zoya menuju rumah.

__ADS_1


"Mbak Zoya ketiduran?" tanyanya begitu Ethan menginjakan kaki di teras. Ethan mengangguk, lantas dengan cepat berlalu menuju kamar mereka di lantai dua, sedangkan Naina kembali menutup pintu. Waktu sudah menunjukan pukul empat sore dan Naina baru akan memasak untuk makan malam.


"Tidak ada Bunda datang kemari?" tanya Ethan yang baru saja melangkahkan kakinya ke dapur setelah membaringkan istrinya yang tertidur pulas.


"Ibu Freya?" Naina justru balik bertanya. Ethan yang sedang melegut air putih guna menyegarkan kerongkongannya mengangguk.


"Euu, tidak ada, Pak. Tidak ada yang datang bertamu hari ini." sahut Naina sambil terus mengiris bawang.


"Seharian ini kamu tetap di rumah?" tanya Ethan lagi. Karena jika Naina pergi ke luar, bisa saja ada yang datang bertamu dan kembali ketika tidak mendapati siapapun di rumah.


"Enggak Pak. Seharian saya ada adi rumah."


Yang Naina tahu, ketika berbicara ia harus menatap lawan bicaranya agar terkesan sopan dan menghargai, namun rupanya hal itu tidak tepat untuk ia lakukan saat sedang mengiris bawang, sehingga karena kelengahannya ujung pisau yang tajam itu mengenai jarinya, dua sekaligus. Spontan membuat gadis itu meringis dan Ethan menoleh padanya dengan raut terkejut.


"Ada apa?" tanyanya, kemudian matanya fokus pada dua jari Naina yang mengeluarkan darah. Naina hanya meniup-niupinya. Bukan saja karena luka itu terasa pedih, tapi juga karena pisau tersebut bekas mengupas bawang dan rasanya sangat lumayan saat benda tajam itu melukai tangannya..


"Tidak papa." Naina menyahut tak masalah.


Ethan berjalan menghampiri gadis itu dan meraih tangan Naina, membawanya menuju wastafel, menyalakan keran air dan mencucinya. Naina hanya mampu mengikuti langkah kaki pria itu dan meringis saat aliran air yang kencang dari keran air menimpa tangannya yang terluka.


"Harus segera dicuci atau nanti akan infeksi."sahut Ethan sambil terus mencuci tangan Naina di bawah air keran.


Zoya yang baru saja bangun dan turun ke lantai dapur begitu merasa kerongkongannya kering hanya mematung menatap Ethan dengan Naina yang berada di dapur. Sampai kemudian, Ethan yang menyadari kehadirannya menoleh.


"Sayang, tolong ambilkma plester." intruksinya yang membuat Zoya segera beranjak menuju tempat di mana kotak P3K ada di rumahnya. Kemudian ia kembali dengan sebuah plester dan menyerahkannya pada Ethan.


"Terimakasih Sayaang." ucap pria itu.


"Saya bisa sendiri Pak." Naina buka suara saat Ethan hendak memberi plalester di jari-jari tangannya yang terluka.


Ethan terdiam sesaat, namun dengan cepat Zoya mengambil alih plester dari tangannya. Memasangkannya pada jari tangan Naina yang terluka.


"Kenapa bisa sampe kaya gini?" tanyanya pada Naina begitu jari tangan wanita itu sudah ia pasangi plester.


"Tadi nggak sengaja kena pisau. Mbak."


"Lain kali hati-hati. Jamgan sampai kaya gini lagi." pesan Zoya yang segera mendapat anggukan dari Naina.


Sedangkan setelahanya Zoya melakukan apa tujuannya pergi ke dapur. Ia mengambil segelas air minun dan segera menandaskannya. Sejak tahu jika dua orang itu pernah bermalam bersama di sebuah penginapan, Zoya merasa risih jika suaminya berdekatan dengan Naina.

__ADS_1


Sekalipun Zoya memercayai keduanya, tapi tetap, saja kontak fisik di antaraa mereka tidak akan lagi Zoya biarkan.


TBC


__ADS_2