Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Selamat Tinggal


__ADS_3

Naina hanya meminta untuk dipesankan minuman karena ia benar-benar tidak lapar. Tetapi Rival tidak mau mendengarkan. Pria itu justru memesankannya makanan.


Mau tak mau, Naina akhirnya makan dengan pria itu, selain karena ia begitu sayang jika makanan tersebut mubazir, lebih dari itu pun makanan di sana ternyata sangat enak meski tidak enak masakannya bagi Naina sendiri.


Sama halnya seperti beberapa waktu lalu ketika mereka berada di dalam mobil l, sepanjang menikmati makanan pun keduanya hanya saling terdiam. Fokus dengan makanan masing-masing.


Ketika Rival mengatakan jika dirinya lapar sepertinya pria itu benar-benar tidak berbohong, karena ia makan dengan begitu lahap tanpa memperdulikan sekitar. Acuh tak acuh seperti biasa bahkan kepada Naina yang ada di hadapannya.


Diam-diam, ketika Naina mengunyah makanannya dengan pelan, matanya terfokus pada Rival. Pria itu tampan dengan wajah meneduhkan, hidungnya mancung, kulitnya bersih dan sehat. Bibirnya tipis dan berwarna merah alami, matanya sipit dan akan menghilang ketika pria itu tersenyum.


Tapi justru hal itu menjadi daya tarik baginya, karena pria itu akan berkali lipat terlihat tampan saat matanya menghilang ketika ia tersenyum.


Selain daripada itu Rival juga seorang pria baik meski tampak kekanak-kanakan, sekalipun di usianya yang sudah dewasa tapi di hadapan Naina pria itu memang selayaknya pria seumuran dirinya pada umumnya. Namun ketika Naina pernah sesekali melihat Rival dengan anggota keluarganya, terutama kepada sang mama pria itu tampak lah seorang anak yang sangat disayangi orang tuanya sehingga ia terlihat manja.


"Kapan makanan kamu akan habis jika kamu terus menatap saya?" tegur Rival yang membuat Naina spontan mengerjapkan matanya. Ia sudah tertangkap basah bukan? Jadi, apa yang bisa dilakukannya kecuali hanya kembali menundukkan pandangan lantas melanjutkan makan dengan hati menggerutu mengutuki dirinya sendiri karena sudah menatap pria itu berlama-lama dan membuat nya kelimpungan, sedangkan Rival tersenyum melihat tingkah gadis di hadapannya.


"Saya sudah resign dari perusahaan." beritahu pria itu kemudian, yang membuat Naina seketika melupakan kejadian tadi dan mengangkat pandangannya, menatap Rival dengan syarat penuh tanya. Jadi apa tujuan pria itu memberitahukan hal tersebut kepada dirinya?


"Beberapa hari lagi saya berangkat ke luar negeri." sambungnya yang masih membuat Naina tak mengerti, namun begitu ia tetap mendengarkan.


Beberapa detik selanjutnya, ketika Naina mendapati pria itu hanya terdiam. Gadis itu memilih untuk bertanya. "Maksud Mas Rival memberitahukan saya untuk apa? tanyanya. Pria itu terdiam, tidak mengerti maksud perkataan gadis di hadapannya.


"Maksud saya, saya siapa berhak tau tujuan dalam hidup Mas?" Naina memperjelas agar Rival mengerti.


Rival mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh, ia tampak bersantai. "Siapa tahu kamu ingin mengucapkan selamat tinggal." sahutnya.


"Memangnya Mas Rival tidak akan kembali lagi?"

__ADS_1


"Apa alasan saya harus kembali?" Rival justru balik bertanya. Naina memaku di tempatnya.


"Mm, orang tua mas Rival, adik-adik Mas Rival atau–"


"Atau kamu?" Rival menyela dengan cepat, spontan membuat gadis itu kembali memaku dalam beberapa saat.


Sehingga berselang beberapa detik Naina tetapi tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia hanya diam menatap Rival, bingung dengan apa yang akan dia katakan tapi juga tak mampu memutus kontak mata mereka, sampai kemudian Rival terkekeh pelan. Oh, tidak pria itu tertawa. Entah apa yang membuatnya begitu.


"Saya tidak memiliki alasan untuk kembali. Mungkin akan lama." sahut pria itu dengan raut santai dan mengabaikan Naina begitu saja. Seolah, apa yang dikatakannya tadi bukan hal besar. Padahal hal itu jelas membuat perasaan Naina berantakan.


"Kalau Mas Rival menjadikan saya alasan untuk Mas Rival datang ke kampung halaman saya tanpa tujuan beberapa hari yang lalu, kenapa tidak menjadikan saya lagi sebagai alasan untuk Mas Rival kembali setelah puas mengunjungi negara orang nanti?"


Entah Kenapa Naina ingin mengatakan hal tersebut, namun pada kenyataannya ia hanya mampu mengatakannya di dalam hati. Bibirnya benar-benar sudah terkunci.


Dalam kondisi yang tidak bisa membuat Naina mengontrol diri sendiri, saat Rival asik melanjutkan makannya kembali, Naina bahkan tidak bisa bertanya alasan kenapa laki-laki itu ingin pergi.


**


Rival tidak memiliki bahan obrolan dan lebih fokus pada kemudi. Sementara Naina sendiri lebih banyak diam daripada harus membuka obrolan. Pun ia tidak tau harus memulai darimana.


Dengan buru-buru Naina segera membuka seat belt yang melekat di tubuhnya begitu mobil Rival berhenti di depan gerbang, lantas segera membuka pintu mobil dengan cepat, namun gerakannya terhenti begitu Rival menahan pintu mobil yang akan Naina buka.


Terkejut sekaligus heran, Naina menoleh kepada pria itu. Tubuh Rival yang condong membuat wajah keduanya begitu berdekatan. Naina sempat menahan napasnya. "Mas Rival." tegurnya tetapi Rival hanya terdiam, tentu saja membuat gadis itu salah tingkah di tempatnya terutama dengan jarak mereka yang hanya beberapa sentimeter.


"Saya akan pergi dan tidak tahu kapan akan kembali lagi. Kamu benar-benar tidak ingin mengucapkan selamat tinggal?" sahut Rival setelah beberapa saat, embusan napas pria itu saat berbicara menerpa wajah Naina.


"Apa Mas Rival sangat ingin saya mengucapkan selamat tinggal?" tanya Naina. Rival tidak menyahut sehingga Naina kembali berbicara. "Mas Rival ingin saya mengucapkan selamat tinggal seolah Mas Rival tidak akan pernah kembali lagi." sambungnya yang membuat Rival tak mengerti apa maksud dari perkataan gadis di hadapannya tersebut.

__ADS_1


"Jika Mas Rival ingin saya mengucapkan selamat tinggal, artinya Mas Rival tidak akan pernah membuat saya mengucapkan selamat datang kembali."


Pada intinya Nina tidak ingin mengucapkan selamat tinggal, seolah kalimat itu akan menjadi jurang pemisah antara dirinya dengan Rival.


Tapi apa salahnya? Bukankah Naina sudah mengatakan kepada dirinya sendiri jika ada ataupun tidak Rival dalam hidupnya maka tak akan pernah berpengaruh apapun pada kehidupannya.


Lama keduanya saling terdiam, Rival tak merespon apa yang Naina sampaikan sementara Naina sudah tak memiliki apa-apa lagi untuk dikatakan.


Hawa dingin menyeruak kala angin berhembus di dalam cuaca dimana hujan baru saja reda. Ketika tatapan matanya dengan Rival bertahan dalam satu garis lurus, Naina sadar jika perlahan tapi pasti pria itu mulai mendekatkan wajahnya, mengikis habis jarak di antara mereka.


Naina tak menyukainya sama sekali, namun anehnya, sama seperti saat di dapur rumah Bibi di kampung halamannya ketika Rival melakukan hal yang sama. Naina tak mampu menolak ketika Rival melakukannya lagi.


Setelahnya, Naina merasakan benda lembut mendarat di keningnya, begitu pria itu beralih ke sana, cukup lama.


Disusul dengan suara Rival yang berbisik halus di telinganya.


"Kalau begitu jangan ucapkan selamat tinggal, tetapi sampai jumpa lagi."


**


Beberapa hari setelah insiden bertemu dengan Rival di supermarket, makan bersama di restoran, dan kejadian tidak terduga di dalam mobil. Naina tidak pernah lagi mendengar kabar pria itu rupanya Rival sudah pergi menuju tempat tujuannya tanpa berpamitan kembali kepada Naina.


Naina terkekeh sendiri mengingat kekonyolan dirinya. Untuk apa juga ia berharap berlebihan kepada pria yang tidak memiliki kejelasan apapun kepadanya?


Memang siapa dirinya berhak menuntut sebuah kabar dan informasi dari pria itu?


Sekalipun Naina tidak pernah berharap Rival melakukan hal itu padanya, rupanya hal tersebut begitu mengganggu pikirannya Naina.

__ADS_1


Gadis itu mencoba setenang mungkin, meskipun pada hakikatnya untuk melupakan hal tersebut memang tidak akan mampu ia lakukan dengan mudah.


TBC


__ADS_2