
Kepanikan terjadi saat tiba-tiba saja Zoya jatuh pingsan di lokasi syuting. Wanita itu tidak sadarkan diri cukup lama dan suhu tubuhnya tinggi dengan mendadak.
Selin sudah berinisiatif menghubungi Ethan belasan kali untuk mengabari hal tersebut pada pria itu namun Ethan sama sekali tidak bisa dihubungi. Selin panik tentu saja karena hal tersebut belum pernah tetjadi sebelumnya pada Zoya.
Arfat dan Selin bergegas untuk membawa Zoya ke rumah sakit usai wanita itu sadar dari pingsannya. Namun Zoya menolak dan meminta untuk tetap beristirahat di penginapan.
Hal itu membuat yang lain khawatir, tetapi Zoya mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
"Zoy, kamu harus dibawa ke Rumah Sakit." Selin terlihat memelas agar wanita itu mau menurutinya. Tetapi Zoya tetaplah Zoya yang amat keras kepala.
"Aku nggak apa-apa, Mbak. Aku cuman kecapean dan butuh istirahat aja kok," Zoya meyakinkan sekalipun wajah pucatnya tak dapat membuat Selin percaya atas kondisi wanita itu.
"Zoy."
"Mbak!"
"Dokter sudah datang." beritahu Edrin saat dokter yang dipanggilnya beberapa saat lalu tiba.
"Ini pasiennya dok." Selin menyingkir dari tempat tidur dan mempersilakan sang dokter untuk memeriksa keadaan Zoya.
Selin memilih keluar dari ruang kamar Zoya dan menghubungi suaminya. Begitu dering keempat barulah panggilannya denfan sang suami terhubung.
"Hallo,"
"Ada apa Sayang?"
"Kamu dimana? Kamu sedang dengan Pak Ethan, 'kan?" Selin bertanya tidak sabaran. Sedikit kesal juga karena Ethan sulit dihubungi, sekaligus menyalahkan pria itu karena menjadi penyebab hilang semangatnya Zoya dan membuat wanita itu berakhir seperti saat ini.. Hal itu benar-benar membuatnya sangat khawatir, seharusnya Ethan menyempatkan diri mengabari Zoya setiap hari.
"Kamu tenang, okey. Apa ada masalah di lokasi syuting?" tanya Randy, pria itu melihat Ethan yang tengah sibuk berbincang dengan para petinggi dari berbagai perusahaan. Terlihat jika pria itu pun sudah lelah namun ia tidak bisa menghindar.
"Zoya pingsan di lokasi syuting. Suhu tubuhnya juga panas. Sebelumnya nggak pernah kaya gitu, aku khawatir." tururnya dengan napas tak beraturan.
"Pak Ethan nggak bisa dihubungi. Dia sibuk sama urusan kerjaan atau lagi berduaan sama Naina?" ada nada emosi terselip di dalam penuturan kata wanita itu begitu meibatkan Naina.
Tanpa Selin sadar, jika Alexa yang baru saja keluar dari ruang kamar Zoya mendengar hal itu. Alexa hanya berdecih dan melenggang pergi.
__ADS_1
"Kamu tenang yah Sayang, Zoya akan baik-baik aja. Aku bakal segera kasih tahu Pak Ethan."
Randy segera memutus sambungan telpon dan berusaha menghampiri Ethan. Butuh waktu beberapa menit untuk membuat Ethan menoleh ke arahnya dan Randy segera melangkah kian dekat pada pria itu.
"Ada apa?" tanya Ethan melihat raut tidak menyenangkan di wajah sang skretaris.
"Zoya pingsan di lokasi syuting. Suhu tubuhnya panas. Selin bilang Pak Ethan tidak bisa dihubungi." beritahunya yang membuat Ethan begitu terkejut. Pria itu segera merogoh ponsel di balik saku jasnya. Ia mengumpat pelan mendapati ponselnya dalam keadaan mati.
"Kita ke lokasi syuting Zoya sekarang juga!" intruksinya yang kemudian berlalu begitu saja meninggalkan kerumunan tanpa berpamitan.
Saat langkahnya sudah sampai di hadapan Naina yang beberapa waktu lalu disuruhnya untuk duduk di deretan kursi tamu, Ethan menghela napas.
"Saya harus ke lokasi syuting Zoya saat ini juga. Saya akan meminta petugas hotel untuk mengantarkan kamu pulang." sahut Ethan, membuat Naina panik dan bangkit dari duduknya saat melihat raut wajah pria itu. Apa sesuatu hal terjadi pada Zoya? Hanya pertanyaan itu yang melintas di kepala Naina.
"Kamu tetap di sini sebelum petugas hotel datang."
"Mbak Zoya nggak apa-apa kan Mas?" tanya Naina seraya menahan lengan pria itu.
Ethan terdiam sesaat. "Saya harap seperti itu." Ethan menyahut, mengusap balik lengan wanita itu dan berlalu pergi dengan Randy usai pria itu menyuruh petugas hotel untuk mengantarkan Naina pulang.
Naina mendesah, pasti Randy yang sudah membawakan informasi pada pria itu. Naina kembali duduk dengan perasaan gundah. Mengutuki dirunya sendiri yang masih berharap pada Ethan saat jelas-jelas pria itu hanya memilih Zoya.
Sementara di deretan kursi belakang, Rival memerhatikan gadis itu. Sepertinya ia paham sutuasi seperti apa yang saat ini tengah terjadi.
Naina menolak sang petugas hotel yang akan mengantarkannya pulang. Ia memilih pulang sendiri dan berjalan menyusuri hotel dengan langkah gontai.
"Mbak, mohon maaf tapi Pak Ethan akan marah kalau tahu Mbak pulang sendiri." pria berusia sekitar empat puluh tahunan itu berusaha membujuk namun Naina tak menghiraukan sama sekali. Ia tetap berjalan tak tentu arah dengan pelupuk mata yang menggenang.
Meratapi nasi yang malang. Yang bahkan ditinggalkan saat ia tak tau arah jalan pulang. Gadis itu menyeka air matanya. Sekilas wajah Rival yang menatapnya dengan tatapan datar terlintas di kepalanya dan membuat hatinya kian merasa bersedih.
Kenapa ia merasa sakit hati mendapati tatapan seperti itu dari Rival? Bagaimanapun hal itu memang pertama kali setelah kedekatan hubungan mereka. Rival hanya akan menatapnya lembut dengan sebuah senyuman.
Namun beberapa waktu lalu, pria itu menatapnya dengan raut enggan bahkan bersikap seolah olah mereka tak saling mengenal. Hancur, perasaan Naian terasa begitu hacur. Terlebih saat ia mendapati jalan buntu di hadapannyan. Ia tersadar jika sejak tadi ia melamun dalam perjalannya dan tak memerhatikan kemana langkah kakinya.
Naina berusaha untuk tenang. Ia bisa, tetapi hatinya tidak. Saat ia merasa benar-benar tersesaat, ia justru berjongkok seraya memeluk lututnya dan menangis tersedu-sudu.
__ADS_1
Ia sedih karena tersesat. Ia sedih karena Ethan lebih memilih berlari ke arah Zoya yang jauh di sana tanpa mengantarkannya pulang lebih dulu. Ia sedih karena Rival mengabaikannya. Ia sedih karena jalan hidupnya yang suram dan jauh dari kata bahagia.
Isakan pilu gadis itu membuat seorang pria yang sejak tadi mengikuti langkah kakinya akhirnya mendekat dan mengusap puncak kepala Naina.
Sejak gadis itu meninggalkan ballroom hotel, Rival memutuskan untuk mengikuti gadis itu dan memantau keamanan serta keselamatannya. Ia tidak yakin Naina bisa mendapati jalan keluar, dan dugannya tetap sasaran.
Rival melangkah dan mengusap puncak kepala gadis itu, tentu saja hal tersebut membuat isakan Naina spontan berhenti, dengan sangat perlahan ia mendongak untuk memastikan siapa orang yang menyentuh kepalanya dan berharap orang tersebut bukan orang yang memiliki niat jahat padanya.
Isakan Naina yang berhenti spontan kembali terdengar setelah memastikan siapa orang yang menyentuh kepalanya. Membuat Rival ikut berjingkok dan memeluk gadis itu untuk menenangkannya.
Tapi Naina justru berontak dan memukuli pria itu. Rival hanya meringis merasakan pukulan kuat yang Naina lontarkan, Rival tetap berdiam di sana dan tak melepaskan gadis itu dari pelukannya.
"Kamu liat sendiri, 'kan Mas. Aku sama.sekali nggak bahagia nikah sama Mas Ethan. Aku sama sekali nggak bahagia."
Gadus itu yang merubah aksen aku membuat Rival tersenyun tipis dalam waktu beberapa detik sekalipun gadisnya tengah berduka.
"Aku tahu, aku tahu." Rival masih berusaha memeluk gadis yang masih berontak itu.
"Kamu jahat! Kamu ngehindarin aku!"
"Kamu nggak pernah hubungin aku lagi. Kamu jahat!" pukulan yang gadis itu berikan perlahan berubah menjadi sebuah balasan pelukan untuk Rival. Naina mulai sedikit tenang dengan isakan kecil yang masih terdengar.
"Maafin aku, maafin aku." ucap Rival sementara gadis itu hanya menangis.
"Aku cuma mastiin kalau aku bisa mulai lupain kamu. Tapi ternyata nggak bisa, Naina. Aku butuh kamu." Rival memejamkan matanya sekilas, ia menaruh dagunya di atas kepala gadis itu.
"Aku nggak bisa. Aku butuh kamu." sambungnya dengan suara pelan. Kemudian kalimat singkat yang pria itu katakan jauh lebih pelan.
"I miss you so much!"
TBC
Hmm.
Kalau kalian tanya cerita ini mau dibawa kemana? Yang pasti menuju ending yang berkesan:")❤
__ADS_1