Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Sebuah Pertanyaan


__ADS_3

Rumah yang Naina dan bibinya tempati tidaklah besar, hanya rumah pada biasanya di kampung. Ruang tamu menyatu dengan ruang utama di mana ada sebuah televisi yang sudah tampak tua dan sebuah kursi panjang dari rotan. Juga sebuah meja kayu dengan cat warna hitam yang sudah memudar.


Di dalam rumah tersebut terdapat dua kamar dan sebuah dapur sederhana, sangat sederhana dengan perabotan seadanya.


Tadi saat Zoya sempat memberikan izin kepada orang-orang kampung untuk meminta foto dengannya, Naina pamit untuk membersihkan kamar yang akan ditempatinya dengan Ethan dua malam ke depan.


Ketika Zoya memperlakukan para fansnya seolah pertemuan mereka adalah sebuah gelaran fan meeting, Ethan dengan sukarela menjadi fotografer dengan banyak bertanya kepada Zoya apakah Zoya pegal atau tidak karena terlalu lama berdiri.


Para warga kampung mengantri untuk foto bersama dengannya, Zoya tidak masalah dengan hal itu, justru ia senang mendapati orang-orang yang dalam diam mendukungnya di dinia entertaint.


Barulah begitu acara sesi foto itu usai, Zoya merasakan pegal di kakinya.


Naina dengan Bibi mempersilakannya untuk segera beristirahat di kamar. Kamarnya sederhana, kecil. Bahkan sangat kecil "Mbak Zoya, maaf ya tempatnya seperti ini." sahut Naina saat Zoya dengan Ethan akan masuk ke kamar untuk beristirahat setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang.


"Saya nggak masalah, tempat ini nyaman." sahut Zoya terlihat begitu tulus, Naina hanya tersenyum samar, menganggukan kepalanya dan mempersilakan Zoya dengan Ethan untuk segera masuk dan beristirahat.


kamar Naina memang tidak besar seperti kamarnya dengan Ethan di rumah, bahkan kamar mandi mereka jauh lebih besar dari kamar tersebut. Hanya ada ranjang kecil dengan kasur yang bahkan sepertinya tidak muat untuk dua orang.


Zoya pernah tinggal di tempat seperti itu jauh sebelum ia menjadi seorang aktris ternama. Zoya menoleh, mengalihkan tatapannya kepada suaminya yang tengah mengamati isi kamar, tatapan laki-laki itu fokus pada sebuah lemari di sudut ruangan, lemari pakaian milik Naina.


"Kamu nggak papa tidur di tempat kayak gini?" tanya Zoya, membuat Ethan mengalihkan tatapannya. "Memangnya kenapa?" Ethan justru balik bertanya.


"Karena tempatnya nggak semewah rumah kamu, hotel kamu, apartemen kamu ataupun rumah Bunda–"


"Yang penting ada kamu." Ethan menyela denga singkat dan cepat dari, Zoya memaku sesaat, terpanah dan tersipu. Ia ingin berlama-lama di sana dalam posisi bertatapan dengan Ethan namun Zoya merasakan kakinya begitu pegal, sehingga ia memutuskan untuk mendaratkan tubuhnya, lesehan di atas tempat tidur.


Sejujurnya Zoya ingin berjalan-jalan mengelilingi kampung atau bahkan ikut memanen buah naga, namun cuaca masih sangat lembab. Terlebih lagi waktu sudah sore. Kata Bibi, biasanya di jam saat ini para warga yang sedang memanen buah juga pulang ke rumahnya masing-masing.


Awalnya Zoya merasa kecewa, namun begitu Bibi dengan Naina menghibur jika mereka bisa memetik buah pagi nanti barulah Zoya merasa lega.


"Sinyal di sini normal atau tidak?" tanya Ethan, lalu mengeluarkan ponselnya. "Ada." Zoya menjawab sambil menganggukkan kepala. Ethan tampak mengotak atik ponselnya sementara Zoya mengamati gerak-gerik sang suami, kemudian pria itu mengangkat ponselnya.


"Hey kalian ada di mana?" samar-samar Zoya mendengar suara orang yang dikenalinya.


"Bunda?" ia bertanya kepada Ethan yang langsung dijawab anggukan kepala oleh sang suami.


"Kamu nggak bilang sama Bunda kalau kita liburan di sini?" sekali lagi Ethan menganggukkan kepala, kemudian pria tampan itu berjalan ke arahnya dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Kalian ada di mana?" tanya Freya, masih penasaran karena Ethan belum memberitahukannya di mana mereka berada. Dilihat dari backround mereka, anak dan menantunya Freya tidak mengenal tempat tersebut sama sekali, tapi ia tahu itu bukan rumah ataupun hotel milik putranya.


"Honeymoon?" tiba-tiba saja seseorang berseru dalam layar ponsel wajah bunda berganti menjadi wajah Arasy.


"Hallo Arasy. Iya, kita lagi liburan." Zoya yang menjawab.


"Di mana? Kok nggak ngajak-ngajak, sih." Zoya menoleh pada sang suami, diam-diam Ethan menggelengkan kepala, melarang Zoya memberitahukan kepada Arasy di mana keberadaan mereka atau jika nanti sang adik tahu maka ia akan mengacaukan semuanya.


"Enggak asik." Arasy menggerutu saat Zoya memilih untuk bungkam.


"Randy bilang katanya kamu enggak akan masuk kantor selama tiga hari. Emangnya kalian pergi kemana?" kalai ini layar ponsel berganti kembali menjadi wajah Freya, sebelumnya Ethan dengan Zoya melihat Arasy mengerucutkan bibir karena tidak lagi diberi kesempatan untuk berbicara dengan kakak dan kakak iparnya ketika Bunda meraih ponsel miliknya kembali.


"Ada, lah, Bun." Ethan teguh pada pendiriannya untuk merahasiakan di mana keberadaannya dengan Zoya saat ini.


"Kamu beneran nggak akan kasih tahu Bunda kalian ada di mana?"


"No Bunda, kami takut Arasy menyusul dan mengacaukan semuanya." sahut Ethan, samar-samar Zoya mendengar gerutuan Arasy, suaranya cukup jauh, barangkali ia beranjak setelah tadi ponsel jatuh kembali ke tangan Freya.


"Kalian ini ada-ada saja." Freya akhirnya menyerah.


"Hati-hati ya, kabari Bunda kalau ada sesuatu."


"Kamu kenapa harus telepon Bunda?" tanyanya, heran dengan tingkah random sang suami yang bahkan tidak memberitahukan di mana keberadaan mereka pada Bunda.


"Ngasih kabar kalau saya sama kamu di sini, biar dia nggak khawatir kalau datang ke rumah kita dan kita gak ada di sana." sahut Ethan yang membuat Zoya mengangguk-anggukan kepala setelahnya. Terserah Ethan saja dia mau melakukan apa.


**


Itu pukul lima lebih sepuluh menit saat Zoya dengan Ethan keluar dari kamar untuk mandi. Naina dengan Bibi tampak sedang membuat kudapan di dapur. Zoya mengamati seisi dapur beralaskan ubin. Dengan sebuah tungku yang tengah menyala, di atasnya adalah alat masak yang tampak mengepulkan asap.


Naina dengan Bibi yang tengah memilih beberapa sayuran untuk di masak sebagai menu makan malam menoleh begitu Zoya dengan Ethan tampak di sana.


"Mau mandi Mbak?" Naina bertanya seraya menghampiri Zoya, Zoya mengangguk.


"Di sini pake sumur timba, nggak papa?"


Zoya sempat mengernyit, namun kemudian menoleh pada suaminya dan Ethan hanya mengangguk tak masalah.

__ADS_1


Lantas Naina mengantar dua majikannya ke belakang di mana sumurnya berada. Begitu tiba, sontak saja Ethan tercengang melihat keadaan tersebut, sumurnya berada di luar. Tidak ada tirai penghalang apa pun di sana.


Apakah ia akan mandi dan mempertontonkan tubuhnya?


****. Ethan menoleh pada istrinya yang juga terlihat terkejut, Ethan tidak mungkin membiarkan istrinya itu mandi di sana. Terlebih, di belakang rumah Naina ada beberapa rumah di mana para pemiliknya sedang menikmati sore sambil mengobrol ria dengan para tetangga. Naina yang melihat hal itu justru tersenyum.


"Mandinya di dalam, di sini cuma ngambil air saja Pak." jelasnya pada Ethan yang raut wajahnya tak beraturan meski tetap tampan.


"Suruh mandinya di rumah Ibu aja, Na, biar nggak perlu nimba." sahut salah seorang tetangga Naina yang sudah menggunakan sanyo. Naina menatap Zoya dan Ethan bergantian, Zoya meminta pendapat sang suami namun Ethan menggelengkan kepalanya.


"Kamu tunggu di dalam saja, biar saya yang ngambil air." intruksinya kemudian, alih-alih langsung menurut dan masuk, Zoya justru tetap berdiri di sana, ia ingin melihat suaminya menimba air dari sumur. Memangnya pria itu mampu?


"Kamu merendahkan saya?" Ethan mengerti tatapan jahil sang istri, Zoya hanya mengangkat bahu acuh. "Aku cuma pengen lihat suamiku ngambil air buat istrinya." jawab Zoya dengan senyum jahil.


Ethan berdecak, ia melihat tali timba berwarna hitam itu, mengamatinya dan mengintip ke dalam sumur, ia menjadi ngeri sendiri membayangkan jika dirinya masuk ke dalam sana.


Hingga perlahan pria itu mulai menarik tali timba setelah Naina memberinya contoh. Sebenarnya tidak nasalah, hal itu begitu mudah dan Ethan mampu melakukannya. Namun yang menjadi masalah adalah para tetangga Naina yang menjadikannya pusat tontonan.


Sambil berbisik-bisik mengenai tubuh seksi Ethan yang berkeringat dan membuat pakaian yang ia kenakan sedikit basah. Olahraga sore? Benar, Zoya mengatakannya begitu tadi. Rasanya Ethan tidak akan memiliki tenaga lagi untuk olahraga malam dengan wanita itu nanti.


Zoya membiarkan saja saat beberapa tetangga Naina mengangkat ponsel mereka dan mengambil gambar Ethan. Entah mengapa Zoya senang melihat suaminya yang sedang menimba air, ketika tiga buah ember berukuran sedang sudah terisi air, Naina mengambil salah satunya dan membawanya ke dapur untuk kemudian dituangkan pada sebuah bak berukuran besar di dalam kamar mandi.


Ingin meringkankan beban sang suami, Zoya pun melakukan hal yang sama. Namun belum kunjung tangannya menyentuh gagang ember, tangan Ethan sudah lebih dulu meraih tangannya.


"Biar saya saja. Kamu tunggu di dalam!" intruksinya dengan serius, lantas membawa dua ember itu masuk ke dalam, meninggalkan Zoya yang hanya mematung. Tapi beberapa detik berselang, wanita itu juga menyusul masuk.


"Maaf, yah, Neng Zoya. Tempat saya memang seperti ini." sahut si Bibi begitu Zoya masuk, Zoya menggeleng pelan sambil tersenyum."Enggak papa Bi, justru saya senang. Saya jadi tau bakat terpendam suami saya." wanita itu menyahut sambil tertawa kecil yang disusil cengiran juga dari si Bibi.


Tak lama, saat Ethan keluar dari dalam kamar mandi dengan membawa lagi dua embernya untuk diisi kembali, Zoya hanya tersenyum sambil mengangkat tangan. Seolah memberikan semangat pada suaminya.


Ethan mengangguk, tapi kemudian menunjuk bibirnya, meminta imbalan yang Zoya respon dengan anggukan kepala.


Si Bibi yang melihat hal itu hanya menggeleng pelan, rasanya menyenangkan melihat keromantisan di antara kedua tamu artinya. Gaya yang natural, sama seperti yang ia lihat melalui saluran televisi.


Begitu ia melihat sang keponakan, ia juga jadi berpikir. Kapan anak itu akan segera memiliki suami?


TBC

__ADS_1


Tinggalkan komentar kalian untuk Ethan dengan Zoya guys, i love yoo banyak-banyaak❤❤


__ADS_2