
Prov Syahdan.
Aku pulang dari rumah Airin dengan hati bahagia. Hampir seharian kami bersama. Aku mengajaknya makan diluar dan juga belanja. Ibu Airin juga ikut dan pastinya juga Syfa, bayi kecil nan cantik. Secantik Bundanya. MasyaAllah, semakin hari semakin dalam rasa ini kepadanya. Airin, mas benar benar jatuh hati padamu.
Kelembutanmu, kesederhanaanmu telah memikat hatiku. Apalagi sekarang Airin benar benar menutup auratnya sempurna. Hijab lebar nan panjang membalut tubuhnya. Semakin menambah ke anggunannya.
Masih terbayang saat belanja belanja tadi. Mata Airin sampai membulat kaget saat aku mengambil beberapa gamis syar'i untuknya. Saat aku mengambil apapun yang aku rasa dibutuhnnya dan dibutuhkan Syfa. Airin hampir saja membatalkan semua belanjaan kami saat mendengar totalan belanja kami.
Sungguh, sedikitpun aku tak memikirkan nominalnya. Asalkan bisa bersama nya dan menatap wajahnya itu sangat membuatku bahagia. Aaaahhhhh.... aku benar benar sudah gila ini.. Begini kah rasa nya jatuh cinta.
"hmmm.... pulang pulang bukannya ngucapin salam. Malah senyum senyum tertawa sendiri." Tiba tiba Luna sudah ada di belakangku. Ya, saking bahagianya, aku tak mengucapkan salam saat mauk rumah tadi. Dan tidak meyadari kalau ada Luna.
"Mas kenapa? sakit ya ?" Ujarnya lagi seraya mendekat dan menyetuh keningku.
"Apaan sih kamu." Ku tepis tangan Luna.
"Mami mana." Tanyaku pada Luna. aku mengikuti ya yang berjalan ke arah dapur.
"Loohhh,,, bukannya tadi Mami mau kerumah Airin sama mas Syahdan." Jawab Luna.
"A, apa ? Mami kerumah Airin?" Aku kaget. Apa aku salah dengar ?
"Iya , tadi mami bilang mau kerumah Airin. Karena mas masih dikantor jadi Mami pergi duluan. Trus Mami nanya arah rumah Airin ke aku. Yaa aku kasih aja shareloc yang kemaren mas kirim waktu aku pertama kali kerumah Airin. Kata Mami,udah janjian sama Mas Syahdan. Nanti ketemu disana." Cerita Luna.
Aku terdiam, benar benar kaget. Ada apa Mami sampai datang kerumah Airin. Apa Mami mau menghinanya lagi. Ya Tuhan. Jangan sampai Mami berkata yang menyakiti Airin lagi.
"Hayoooooo,,,, ada perlu apa tuh Mami ke rumah Airin. Jangan jangan mau melamarnya buat mas. Hahahhahha" Kata Luna melihatku yang masih terdiam.
Tak menunggu lama aku bergegas pergi. Aku akan kerumah Airin. Aku tidak mau Mami bikin masalah lagi. Sudah cukup Mami membuat Airin terluka kemaren tanpa sepengetahuanku. "Tuhan, tolong hamba. Jangan sampai Mami kelewatan. Hamba tak mau marah dengan Mami. Hamba tak ingin menjadi anak yang durhaka." Harapku cemas.
"Hei maaaassss.... mau kemana.. Baru juga pulang." Teriak Luna. Tapi tak kupedulikan. Dengan kecepatan cukup tinggi ku lajukan mobilku. Berharap masih bisa menahan Mami.
Prov Airin.
__ADS_1
"Ibu becanda kan, Ibu ngk seriuskan." Aku masih shock dengan perkataan Ibu.
Sementara Ayah juga tak percaya. Kapan kapan ada yang melamarku. Sampai Ibu bilang sudah menerima lamaran untukku.
"Kamu jangan asal bicara Dewi. Siapa yang melamar Airin. Kenapa kamu main terima aja. Tanpa bertanya dulu padanya. Apa kamu sudah lupa dulu Airin ku paksa menikah juga. Kamu lihat sekrang hidupnya. Kamu mau anakmu menderita lagi." Ayah benar benar marah.
"Aku tidak asal terima. Aku yakin lelaki yang akan menikahi Airin sekarang adalah laki laki yang baik dan bertanggung jawab." Jawab Ibu.
"tok.. tok..." Suara ketukan pintu.
Entah siapa lagi yang datang. sungguh, saat seperti ini aku sedang tak ingin ada tamu. Segera ku rebahkan Syfa yang tertidur dipangkuanku kedalam box bayinya Dan berjalan kedepan membukakan pintu.
"Mas Syahdan." Aku kaget dengan kedatangan Mas Syahdan yang tiba tiba. Wajahnya terlihat emosi dan khawatir.
"Assalamu'alaikum. Ai" ucapnya.
"Wa'alakumsalam. mas" Jawbku.
"Kamu ngk apa apa. Mami ngk ngomong apa apa lagi kan ke kamu. Mami ngk menyakiti kamu kan Ai." Ujar Mas Syahdan. Terlihat dia seakan ingin memelukku. tapi aku mundur. Raut wajah Mas Syahdan khawatir sekali.
"Alhamdulillah.." Ucapnya lega.
"Oooo,,, ada nak Syahdan ya. Masuk nak, Maminya juga barusan pulang tadi."Ibu juga keluar menemui menemui mas Syahdan. Tapi kenapa Ibu malah menyuruhnya masuk lagi Apalagi ini sudah mau magrib.
"Nggak usah tante, saya pulang aja. Tadi saya kira Mami masih disini." Jawab mas Syahdan.
"Nggak pa pa , masuk aja dulu. Sekalian ada yang mau Tante sampaikan." Kata Ibu. Apalagi ini, jangan jangan Ibu mau bilang yang sama seperti pada Maminya Mas Syahdan. Jangan sampai terjadi ya Allah. Harapku.
Mas Syahdan menatapku, aku hanya tersenyum terpaksa. Dan mas Syahdan pun masuk dan duduk di sofa tamu.
"Begini nak Syahdan, sebelumnya Tante mau mengucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya, atas kebaikan nak Syahdan selama ini. Mulai sejak jadi pengacaranya Airin. sampai tadi siang mengajak kami belanja belanja. Semoga kebaikan nak Syahdan dibalas pahala dari Allah." Kata Ibu.
"Ah ngk perlu berterima kasih tante. Semua yang saya lakukan dan berikan ikhlas dari dalam hati saya." Jawab mas Syahdan.
__ADS_1
"Iya Tante tau nak, tapi tidak semua orang bisa berpikiran sama dengan nak Syahdan."
" Tadi Maminya nak Syahdan datang, bersama dengan calon istrinya nak Syahdan." kata Ibu. Terlihat wajah mas Syahdan yang kaget.
"Mami datang sama Fiona ?" Ulangnya seakan tak percaya.
"Iya nak Syahdan. Tante paham kenapa Maminya ngajak Fiona calon nak Syahdan kesini. Mungkin tak ingin ada kesalah pahaman antara nak Syahdan dengan mba Fionanya nanti. Karena itu tante juga perlu menyampaikannya sekarang ke nak Syahdan." Kata Ibu.
"Ibu,, sudahlah..." Aku berusaha mencegah Ibu, karena aku tau apa yang akan Ibu katakan.
"Tante Tante tak usah khawatir, tidak ada kesalah pahaman antara saya dengan Fiona, karena kami,,,," Kata kata mas Syahdan langsung dpotong Ibu.
"Nggak nak Syahdan. Tante nggak ingin lagi kedepannya Airin dihina dan di rendahkan. Jadi lebih baik juga nak Syahdan tau agar nak Syahdan mengerti dan bisa menjaga jarak dengan Airin." Kata Ibu memotong kata kata mas Syahdan.
"Maksud tante,,?" Tanya mas Syahdan tak mengerti.
"Ibu,,,," Aku berharap Ibu tak melanjutkan kebohongannya.
"Nak Syahdan, tante minta nak Syahdan tidak usah lagi menemui Airin dan Syfa. Lebih baik nak Syahdan focus focus dengan rencana penikahaan nak Syahdan dengan mba Fiona. Dan juga sebentar lagi Airin juga akan menikah. Airin sudah dilamar oleh seoarang lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Dan yang pasti bukan calon suami orang atau pacar wanita lain." Akhirnya Kalimat itu keluar juga dari Ibu.
Ku lihat mas Syahdan terkejut, dia memandang ke arahku. Seakan meminta penjelasan apakah yang disampaikan Ibu barusan adalah benar. Entah kenapa, airmataku pun jatuh. Mas Syahdan seperti terluka. Dan aku bisa merasakannya dari tatapan matanya.
"Sudah cukup Airin menderita nak, sudah cukup dia dihina dan direndahkan. Anak tante bukan perusak hubungan orang lain nak Syahdan. Tante harap nak Syahdan mengerti ya." Lanjut Ibu. Suara Ibu bergetar menahan rasa. Ibu menahan agar tak menangis.
Aku mengerti tujuan Ibu berbohong seperti ini. Karena tak ingin aku dihina lagi. Tapi aku juga tak kuasa melihat mas Syahdan yang seakan terpuruk dengan kata kata Ibu.
"Baik tante, saya mengerti. Saya mohon maaf atas semua kata kata Mami yang telah menyakiti Airin dan keluarga. Saya juga berharap Lelaki yang akan menikahi Airin adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Jika lelaki itu sampai menyakiti Airin saya pastikan, saya akan merebut Airin dan Syfa. Meskipun secara terpaksa. Saya permisi tante." Ujar mas Syahdan..
Aku sekarang mengerti, meskipun dia pernah menyangkal bahwa dia mencintaiku. Aku bisa rasakan cinta yang besar dari ucapan mas Syahdan. Kami memiliki rasa yang sama tapi harus kalah karena keadaan.
"maaaass..." Aku tak mampu berkata kata lagi... Airmataku telah banjir. Aku berusaha menahan kepergian mas Syahdan tapi aku juga bingung.
Mas Syahdan berhenti sesaat, lalu menoleh ke belakang menatapku. Mas Syahdanpun mendekat dan langsung merengkuhku dalam pelukannya. Aku terdiam, hanya airmataku yang tak kunjung berhenti. Ada sesak dalam dadaku.
__ADS_1
"Maafkan mas Airin karena telah memelukmu. Maafkan mas yang terlalu pengecut ini. Maafkan mas yang terlalu bodoh untuk mengakui segala rasa ini. Mas mencintai mu Airin. meskipun mungkin terlambat. Tapi mas ingin kamu tau rasa ini. semoga Pria yang akan menjadi suamimu menjagamu dan Syfa. Hubungi mas kalau dia sampai menyakiti kalian. Mas akan mnjemput kalian." Mas Syahdan pun terisak. tak lagi memikirkan batasan. Kubalas pelukannya. Ku peluk mas Syahdan. Aku tak mampu berkata apapun juga. Berharap mas Syahdan paham kalau aku juga mencintainya. Dan akupun tak berdaya dengan semua rasa ini.
Didalam rumah, Dewipun menangis memandang dua insan itu. Dia terpaksa harus memisahkan keduanya. Karena tak ingin lagi melihat putri sulungnya dihina dan direndahkan. Mungkin dengan tidak saling bertemu lagi adalah yang terbaik buat semuanya.