Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Malam Pertama 3


__ADS_3

Airin masih menangis dipenghujung sholatnya. Dia tak tau harus berbuat apa. Tiba tiba Pintu kamar terbuka. Dia yakin itu Devid. Airin segera bangun darii sajadahnya dan menyimpan kembali. Airin tidak berani memandang Devid. Dan juga dia takut Devid tau kalau dia habis menangis.


"Syifa mana ma ?" Tanya Devid. Airin yang ditanya hanya diam. Karena Devid memanggilnya dengan panggilan Mama.


"Ma,, Syfa mana ?" Tanya Devid lagi.


"Oh,, eh,,, itu,,, Syfa dibawa Bunda. Diajak tidur sama Bunda katanya." Jawab Airin.


"Oooooo...." Kemudian Devid pun berjalan ke kamar mandi untuk bersih bersih sebwlum istirahat.


Sementara Devid di kamar mandi, Airin segera naik ke atas ranjang. Jantungnya semakin berdebar kencang. Dia masih memakai Hijabnya. Meski sebenarnya dia tidak nyaman tidur dengan pakaian seperti itu tapi dia juga belum siap untuk melepas Hijabnya didepan Devid. Airin pun merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia menutup matanya seakan berpura pura untuk tidur.


Sementara itu Dikamar mandi, Devid pun juga merasakan yang sama. Jantungnya berdebar kencang. Bundanya membawa Syfa tidur bersamanya Sudah pasti karena ini adalah malam pertama mereka. Apakah malam ini akan terjadi penyatuan ? Devid benar benar bingung. Bila melihat sikap Airin yang masih saja berhijab lengkap meskipun berada dikamar berdua saja dengannya, bisa di anggap kalau Airin masih belum siap menerimanya. Tapi kalau dia tak menyentuh Airin nanti dikira dia tak mau menjalani tugasnya sebagai seorang suami...


"Arrggghhhh.. Gimana iniiiiiii..." Devid pusing sendiri memikirkannya. Nggak mungkin juga dia berlama lama di kamar mandi ini. Akhirnya Devid pun keluar dari kama mandi. Dia akan melihat sikap Airin dulu sebelum menyentuhnya.Begitulah fikir Devid.


Mendengar suara pintu kamar mandi telah terbuka. Airin semakin berdebar debar. Dia pura pura tertidur dengan memeluk guling. Devid pun melangkah ke ranjang. Dia melihat ke arah Airin. Melihat sikap Airin Devid mengerti, Airin pasti belum siap. Devid memutuskan untuk tidak menyentuhnya, apa lagi memaksanya. Dia tak ingin Airin melakukannya karena terpaksa. Dia ingin mereka melakukan penyatuan karena di dasari cinta bukan hanya sekedar status dan kewajiban.


Devid pun merebahkan tubuhnya disamping Airin. Sekali lagi Devid memandang Airin. Dia tau Airin pura pura tidur. Devid tersenyum, kemudian memiringkan tubuhnya menghadap Airin. Ini kesempatannya untuk puas menatap wajah ayu istrinya itu.

__ADS_1


"MasyaAllah, sungguh cantik sekali makhluk Allah ini, pantas saja Syahdan jatuh hati padanya. Cantik, anggun dan Lemah lembut. Nggak banyak menuntut." Memikirkan Syahdan, Devid teringat lagi masalahnya dengan Syahdan. Devid pun bangun dan duduk sambil bersender di ranjang.


"Aku tau kamu pura pura tidur, kita memang sudah resmi sebagai suami istri. Dan kita sama sama tau apa kewajiban suami dan istri. Karena kita sama sama sudah pernah meikah sebelumnya." Devidpun bersuara. Dia yakin Airin mendengarkannya.


"Tapi aku berjanji, aku tidak akan meminta hak ku sebagai suami Jika kamu sendiri tidak ridho untuk ku sentuh. Aku ingin kita melakukannya atas dasar saling Ridho. Dan Saling cinta. Karena aku yakin, masih ada dia yang bersemayam dalam hatimu." Ujar Devid kemudian.


Kemudian Devid kembali merebahkan tubuhnya, sekali lagi dia menatap wajah Airin. Sebagai lelaki normal, dan sudah sah seperti ini. Bohong kalau Devid tak berhasrat. Tapi dia sudah berjanji dihatinya. Agar bisa tertidur, Devidpun tidur membelakangi Airin. Dia tak mau kalau nanti lepas control. Walau bagaimanapun juga dia adalah lelaki normal.


Perlahan Airin membuka matanya. Sebenarnya dia merasa bersalah telah menghindar seperti ini. Semua bukan hanya karena dihatinya masih ada Syahdan. Tapi lebih dari rasa traumanya. Airmatanya menetes kembali.


"Maafkan saya..." Hanya itu yang mampu terucapkan dari bibirnya.


Seperti biasa, Airin bangun dipenghujung malam. Meskipun sekarang dia telah menikah. Dia ingin tetap melakukan kebiasaannya untuk tahajud. Airin menatap Devid yang masih tertidur. Devid tidak lagi tidur memunggunginya. Dia bisa memandang wajah Devid dengan puas. Airin akui, Devid sangat tampan. Matanya yang indah dengan tatapan yang tajam. Hidung nya mancung dan bibirnya sensual.


"MasyaAllah, sungguh tiada cacat wajah suami ku ya Allah,,, sangat sempurna ciptaanMU ini.." Ucap Airin di dalam hati.


Kemudian Airin ke kamar mandi, bersuci dan berwudhu. Airin pun menunaikan sholat Tahajudnya. Selesai sholat, Airin melanjutkan dengan membaca Alqur'an. Karena sebentar lagi masuk waktu Subuh. Dia takut kalau rebahan lagi malah jadi tertidur.


Airin tidak menyadari kalau Devid jadi terbangun karena mendengar suaranya mengaji. Padahal dia sudah berusaha bersuara pelan. Tapi tetap saja membangunkan Devid. Devid tak bergerak dari posisinya. Dia memperhatikan Airin yan tengah mengaji. Dia pun menyimak suara Airin. Hati menjadi damai mendengarkan lantunan ayat ayat Allah.

__ADS_1


Semakin bertambah ke kaguman Devid pada Airin. Dia merasa beruntung menikahi Airin kini. Meskipun dia harus mengorbankan persahabatannya dengan Syahdan. "Ya Allah, berdosakah aku jika sekarang aku bersyukur memilikinya. Meskipun aku telah mematahkan hati sahabatku." Ucap Devid dalam hatinya. walau bagaimana pun juga, dia masih merasa bersalah dengan Syahdan.


Devid tak lagi tidur, dia masih mendengarkan Airin mengaji. Suara itu begitu lembut. Ingin sekali Devid mendekatinya dan beribadah bersama. Sudah lama rasanya Devid tak sholat tahajud dan membaca Alqur'an.


Tak terasa Subuh pun datang, sayup sayup terdengar suara adzan dari mesjid mesjid. Devid masih belum bergerak dari posisinya. Dia masih asik memperhatikan Airin. Dilihatnya Airin bangun dari sajadahnya dan membuka mukenah sholatnya. Devid makin tersihir, ternyata Airin tak memakai hijabnya. Rambut Airin tergerai indah. meskipun tak terlalu panjang, tapi sungguh Airin sangat cantik tanpa hijabnya. Leher putih jenjang itu terliihat jelas, saat Airin mengikat rambutnya.


Devid masih memperhatikan gerak gerik Airin, Airin masih belum menyadari kalau dia telah bangun. Karena saat Airin menatap ke arahnya. Devid langsung memejamkan matanya pura pura masih tertidur. Ternyata Airin ke kamar mandi. Mungkin berwudhu lagi.


Setelah Airin keluar dari kamar mandi. Dia memakai mukenahnya kembali. Sepertinya akan menunaikan sholat subuh. Airin tiba tiba melihat ke arah Devid, dengan cepat Devid kembali memejamkan matanya.


"Mas,, mas,, bangun... Sudah subuh."Tiba tiba Devid merasakan bahunya disentuh. Airin membangunkannya. Berpura pura seperti orang bangun tidur, Devid memandang Airin.


"Sudah subuh, mau sholat subuh berjama'ah nggak." Tanya Airin lembut..


Devid langsung saja menganggukkan kepalanya tersenyum. Tanpa menunggu lama Devid bangun dari ranjang dan ke kamar mandi untuk bersuci dan wudhu.


Sementara Devid di kamar mandi, Airin menyiapkan peralatan sholat untuk Devid. Sebenarnya tadi Airin hanya ingin mencoba saja mengajak Devid sholat bersama. Dia ingin melihat reaksi Devid saat dibangunkan untuk sholat. Alhamdulillah reaksinya positif. Devid tidak marah dibangunkan.


Mereka pun sholat berjama'ah. Selesai sholat dan berdzikir, Devid membalikkan badannya menghadap Airin. Dan Airin mencium tangan Devid takzim. Tak terkirakan bahagianya hati Devid. Dibangunkan dengan lembut oleh istri dengan panggilan Mas, bukan panggil pak Dokter lagi. Dan sholat bersama. Sungguh suatu awal yang sangat baik...

__ADS_1


__ADS_2