
Ethan bilang, jika Zoya sedang memiliki masalah, maka ia harus menemui pria itu. Bercerita, menangis dan bersandar padanya. Nyatanya Ethan bohong, justru pria itu pergi saat Zoya sedang sangat membutuhkannya. Pria itu entah kemana meninggalkannya.
Zoya tidur terlelap setelah dokter menyuntikan obat penenang. Selin hanya menatapnya dengan perasaan iba, ikut menyalahkan dirinya sendiri. Andai dia tidak datang terlambat, andai ia mampu membujuk wanita itu untuk pergi ke dokter sejak beberapa minggu kemarin, mungkin mejadiannya tidak akan seperti ini.
Melihat Zoya yang tampak sakit dan terluka membuat Selin juga merasakan hal yang sama. Orang tuanya yang datang hanya mampu menunggu dan melihat keadaan Zoya dari luar, tidak ingin mengganggu waktu istirahat Zoya di dalam sana.
Sementara di tempat lain, Agyan berusaha menahan Freya yang memaki semua orang di lokasi kejadian. Ia segera meluncur begitu Ethan mengabari jika Zoya masuk Rumah Sakit karena kecelakaan yang dialaminya di lokasi syuting iklan, namun bukan Rumaj Sakit yang Freya tuju, melainkan lokasi di mana menantunya terjatuh sampai harus dilarikan ke Rumah Sakit.
"Apa kalian tidak bisa bekerja? Kalian tidak bisa menjaga satu orang saja?"
"Kalian tidak mengecek apa tangga itu licin atau tidak? Huh?"
"Siapa boss kalian? Saya akan menuntut label produk dari perusahan ini!"
"Siapa yang bertanggung jawab di sini?" Freya emosi, sedangkan orang-orang yang dimarahi hanya diam seribu bahasa. Mereka bukan Tuhan yang tau akan ada kecelakaan yang baru saja dialami Zoya. Sedangkan Freya memikirkan keselamatan menantunya di tempat bekerja.
"Sayang, sudah!" Agyan berusaha membujuk. Arasy hanya memijat pelipis melihat hal itu, ia mencoba menelpon Ethan namun pria itu tidak dapat dihubungi.
Begitu Freya tenang dan puas memaki. Mereka beranjak dari sana, Aryo yang mengurus sisanya untuk mengetaahui kejadian rinci juga sekaligus meminta maaf atas sikap majikannya yang terbawa emosi.
Mereka tak mendapati Ethan saat tiba di Rumah Sakit tepat di ruang VIP di mana Zoya dirawat. Hanya ada Selin dan juga orang tuanya di sana.
"Gimana keadaan Zoya?" tanya Arasy pada Selin yang menyambut kedatangan ia dengan Agyan dan Freya.
"Kondisinya sudah jauh lebih baik. Tapi dia masih shock."
"Ethan di mana?" Freya bertanya dengan tidak sabar. Kali ini Selin diam dan membuat tiga orang yang baru saja datang itu terheran saat Selin benar-benar tidak buka suara, mereka hanya pasrah dan melihat keadaan Zoya melalui dinding kaca.
Agyan baru saja menghubungi Ethan namun hasilnya sama seperti yang didapati Arasy. Nihil, pria itu tidak bisa dihubungi.
Kamar hotel berjenis president suite menjadi pilihan Ethan menenangakan dirinya. Begitu tiba, ia menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur, merasakan jika kepalanya begitu pening setelah menahan tangis dan amarahnya.
Ia mematikan lampu dengan remote yang dipegangnya, membiarkan semua lampu di sana padam dan dirinya berada dalam kegelapan. Satu tangannya berada di atas kening dengan mata yang terpejam.
Ethan tau betul apa yang terjadi adalah sebuah kecelakaan. Tapi mengingat jika Zoya enggan memiliki anak dengannya membuat Ethan berpikir jika wanita itu sengaja melakukan hal tersebut.
Sengaja diet dan membahayakan dirinya sendiri, sampai mereka kehilangan calon anak pertamanya. Ponsel pada saku celana Ethan biarkan terus berdering, tanpa tau siapa yang menghubunginya.
Sampai tak lama, ia merogoh benda canggih tersebut, kemudian membuka salah satu notifikasi pesan dari sang istri yang membawanya pada aplikasi chatting tepat di jendela obrolannya dengan Zoya.
__ADS_1
Emoticon hati tampak berada di layar ponsel membuat perasaan Ethan hampa. Resah. Bimbang dan kecewa menjadi yang paling mendominasi.
**
"Demi apa pun Zoya nggak tau kalau Zoya hamil, Bunda. Tapi Ethan marah sama Zoya, Ethan nyalahin Zoya." Freya hanya mampu mendesah mendengar cerita sang menantu, tangannya mengusap punggung Zoya dengan lembut sementara wanita itu terisak dalam pelukannya.
"Kamu sabar, yah, biar nanti Bunda coba ngomong ke Ethan."
"Dia cuma emosi aja mungkin karena kelelahan, yah, Sayang." bujuk Freya, tapi tetap tidak bisa meredakan isakan Zoya. Arasy menatapnya iba, dalam hati mengutuki Ethan yang tak berperasaan. Agyan sedang mencoba menghubungi Ethan, dan putranya itu tetap tak menghiraukan.
"Gimana, Yah?" tanya Arasy, berharap Agyan dapat menghubungi sang kakak. Tapi Ethan menggelengkan kepalanya dan membuat Arasy kecewa.
"Si Ethan bener-bener, yah." kesalnya.
"Arasy." Agyan mengingatkan. Arasy berdecak kesal. Ia menghela napas dan melangkah menghampiri Zoya, menatap kakak iparnya penuh iba. Yang bisa dilakukannya hanya menepuk punggung wanita itu yang masih menangis dan menatap raut wajah Freya yang tampak bingung.
**
Zoya menolak dengan halus saat Freya mengajaknya pulang ke rumah keluarga begitu Zoya keluar dari Rumah Sakit. Ethan tidak memunculkan batang hidungnya selama wanita itu menjalani pemulihan.
Sekarang, Zoya pulang ke rumah dengan perasaan hampa. Ia mengedar melihat seluruh penjuru rumah, rasanya sepi saat tidak ada yang menyambut kedatangannya. Tanpa sadar air mata Zoya menetes, ia mengusap perutnya yang datar. Kemudian mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Ethan untuk yang kesekian kali, namun hasilnya masih sama seperti beberapa hari kemarin..Pria itu tidak bisa dihubungi. Lebih tepatnya enggan dihubungi, membuat perasaan Zoya kian terluka karena pria itu tidak memercayainya.
Zoya membuka aplikasi chatting, menekan nama Pak Boss di sana dan melihat rangkaian pesan ia dengan Ethan. Pria itu tidak membalas pesan-pesan yang Zoya kirimkan selama beberapa hari ini. Ia tidak menyerah, Zoya kembali mengetikan pesan pada pria itu. Menekan ikon send dan kemudian merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Sementara itu, di kamar hotelnya Ethan tampak hanya terdiam saat Arasy datang bertamu untuknya. Wanita itu menatap sang kakak penuh intimidasi, sementara Ethan sama sekali tak menghiraukan, pria itu tau apa maksud kedatangan sang adik ke hotelnya.
Denting pesan masuk membuat Ethan melihat layar ponsel dalam genggamannya. Satu notifikasi dari Zoya membuatnya hanya terdiam menatap layar.
...Wife...
...Ethan, aku minta maaf....
...Sekarang kamu pulang, yah....
"Jadi kapan kamu mau mikir?" serobot Arasy, ia sempat mengintip layar ponsel sang kakak dan melihat pesan yang dikirimkan Zoya. Selain itu, tujuannya mendatangi Ethan juga untuk membicarakan hal tersebut.
Ethan tak menyahut, ia diam seribu bahasa dan membuat Arasy mendesah kesal melihatnya.
"Kaya anak kecil banget, sih, Than!"
__ADS_1
Kali ini Ethan menoleh, tatapan tajamnya mengarah pada Arasy namun tak membuat wanita itu gentar.
"Kaya anak kecil?" satu sudut bibir Ethan terangkat. Arasy masih setia menatapnya.
"Kamu bilang gitu karena kamu gak ngerasain gimana diposisi aku!"
"Sakit?" tanya Arasy dengan cepat, Ethan tak menyahut.
"Gimana sama Zoya, Than?" tanyanya lagi.
"Kamu mikirin dia? Fisiknya yang terluka karena jatuh. Hati sama psikisnya yang baru aja kehilangan calon anak kalian?"
"Zoya lebih, terluka, Than." Arasy mencoba mengingatkan jika baranglali Ethan melupakan hal tersebut.
"Kamu bayangin gimana perasaan Zoya yang nggak bisa jaga calon bayinya. Kamu bayangin gimana perasaan Zoya yang ngalamin kegagalan untuk pertamakalinya."
"Dia calon Ibu, Than. Tapi dia gagal!"
"Harusnya kamu ada sana buat nguatin dia. Tapi apa yang kamu lakuin?" Ethan masih tidak bersuara, ia hanya diam dengan pandangan tak tentu arah.
"Kamu bahkan gak nemenin dia di Rumah Sakit. Kamu ngerasa, gak, sih, kalau kamu itu adalah suami yang paling gagal di dunia ini?" Arasy merasa emosi. Ethan terdiam, Arasy mengalihkan perhatiannya ke arah lain, napasnya berantakan merasa kesal dengan Ethan.
Tak lama, ia bangkit. "Apa pun itu terserah kamu. Asal jangan ambil keputusan yang bakal bikin kamu nyesel udah jauhin Zoya!"
TBC
-
-
-
Bonus cuci mata, cuci baju cuci piring.
**
Zeinn Agyan
__ADS_1
Zoya Hardiswara