Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Hal yang Seharusnya Disembunyikan


__ADS_3

Gimana, nunggu up nggak? Yaudah, yaudah, nih. Crazy up loh, hmm. Masih suasana lebaran, baca BCB harusnya jadi pilihan terbaik, wkwk.


Happy reading ....


**


"Jadi karna sekarang udah bisa masak, sering dong masakin buat Ethan." sahut Grrycia saat melihat Zoya dengan cekatan memasak salah satu menu makanan kesukaaan Ethan.


"Iya, Mam. Kadang - kadang," wanita itu menyahut dengan diakhiri senyuman tersipu.


"Kok kadang - kadang," heran Grrycia, menatap Zoya kemudian beralih pada Freya dan saling melempar senyum.


"Zoya belum terlalu mahir, Mi, kasian kalo Ethan maksain makan makanan Zoya yang kurang enak tiap hari." jujurnya. Karena dirinya pun sadar, masakannya belum seenak buatan Freya atau pun Naina. Sehingga hanya sesekali dirinya memasak untuk sang suami.


"Ethan nggak pernah komplain rasa masakannya, yah?" kali ini Freya yang bertanya. Hapal bagaimana karakter sang putra. Jika enak maka akan dimakannya, tapi jika tidak, Ethan tetap akan memakannya meski sedikit demi menghargai orang yang sudah memasakannya. Berbanding terbalik dengan Arasy yang kerap kali komplain jika memakan makanan yang tidak enak, kurang garam, gurih atau pun keasinan.


"Hampir enggak pernah Bunda." sahut Zoya setelahbterdiam beberapa saat guna berpikir kapan sekiranya Ethan pernah komplain apalagi memarahinya jika masakannya tidak enak. Tidak pernah barang sekali pun.


Bahkan pernah suatu ketika saat pertamakali Zoya memasakan pria itu setelah belajar memasak dengan Naina. Sekali pun rasa masakannya asin, Ethan justru memuji masakannya dan menghabiskannya.


Saat itu Zoya kecewa begitu tau jika Ethan bohong akan rasa masakannya yang enak. Namun yang Ethan katakan justru menohok hati dan membuatnya kian semangat belajar memasak.


"Saya bilang enak karena kamu masaknya penuh cinta dan harapan saya akan suka."


"Tapi percuma kalau kemampuan masak aku jelek gitu, nanti gak ningkat - ningkat!" Zoya sewot sendiri.


"Enggaklah. Saat saya puji masakan kamu enak, kamu justru makin semangat belajar, ya, 'kan?"


"Kalau sudah sering, nanti kamu terbiasa dan bisa nyesuaikan rasa masakan kamu."


Mengingatnya membuat Zoya tersenyum sendiri. Bagaimana bisa ia menikah dengan pria istimewa seperti Ethan?


Dari sekian banyak wanita cantik di dunia ini, justru ia yang paling beruntung mendapatkan pria tampan itu.


"Bagus itu, berarti Ethan menghargai usaha kamu." suara Grrycia menariknya dari lamunan. Zoya hanya menanggapinya dengan tersenyum.


**


Bersamaan dengan makanan yang sudah tersaji di meja makan. Arasy tiba di rumah, seperti biasa hal yang ia ucapkan behitu pulang. "Bunda, Arasy pulang." suara wanita itu menggema mengisi setiap sudut rumah.


Wanita itu tampak semringah saat mendapati jika ternyata Andreas dan Grrycia berada di sana. Dengan manja, ia memeluk dua orang itu bergantian. Balasan yang didapat adalah kecupan di kening dari Andreas. "Mami Grryc sama Papi Andre ke sininya dijemput apa gimana? Arasy gak lihat mobil lain di luar." sahutnya setelah mengurai pelukan dan menatap oma dan opanya itu.


"Diantar sopir. Abis itu sopirnya pulang dulu, karena Mami sama Papi lama di sini,"


"Kalau nanti mau pulang, baru suruh ke sini lagi."


"Ngerepotin." cibirnya pada Andreas yang pastinya menolak menyetir.


"Mau sampe sore?" tanyanya kemudian dengan cepat.


"Habis makan siang juga pulang." kali ini Andreas yang menyahut seraya mengusap puncak kepala Arasy.


"Loh, kok, gitu."


"Udah sejak pagi di sini." sahut Grrycia dengan tersenyum.


"Kalai gitu ya nginep aja," usul Arasy, tidak kehabisan akal untuk menahan Andreas dan Grrycia di rumah. Pasalnya, mereka sangat jarang bertemu dan mengobrol.


Selain itu, Arasy juga sangat sibuk dan jarang mengunjungi dua orang tersebut. Sekalinya bertemu, justru waktunya tidaklah banyak.


"Tidak bisa, Papi tidak betah kalau menginap." Andreas lagi yang menyahut dan membuat Arasy mengerucutkan bibir. Freya, Agyan begitu juga dengan Zoya dan Ethan hanya tersenyum melihat hal tersebut. Terutama saat Andreas menekan pundak Arasy yang masih mengerucutkan bibir untuk duduk di salah satu kursi meja makan.


Wanita itu masih menggerutu, namun tak ada yang menghiraukan. Padahal tadinya, jika Grrycia akan tinggal sedikit lebih lama ia ingin banyak bercerita. Namun sepertinya semua harus sirna.


"Ehh, ada Zoya?" ia baru sadar saat mendapati sang kakak ipar di sana karena tadi sibuk hanya dengan Andreas dan Grrycia. Zoya yang sudah duduk di samping Ethan hanya tersenyum pada Arasy.


"Lama nggak, di sini?" tanyanya penuh antusias. Jika Grrycia tidak bisa, maka Zoya pun jadi. Begitu pikirnya.


Sebelum menjawab, Zoya lebih dulu menoleh pada suaminya. Ethan terdiam. Tak ingin membuat sang adik yang sudah berharap - harap cemas kecewa, akhirnya Ethan mengangguk. Membuat Arasy mengepalkan tangan seraya berseru. "Yes," saat melihat Zoya juga menganggukan kepala tak lama setelahnya.


Makam siang berlangsung setelahnya karena Agyan yang sudah mengangkat jari telunjuk, melarang Arasy banyak berbicara dan bertanya.


"Ethan, makanan kesukaan kamu." sahut Grrycia seraya menyodorkan semangkuk sambal goreng ati ampela pada Ethan. "Zoya yang bikin." sambungnya dengan bangga serayan menunjuk wanita yang tengah tersipu itu dengan dagu.


Ethan menoleh sebentar pada istrinya, kemudian tersenyum. "Aku gak yakin sama rasanya," wanita itu berbisik saat Ethan menyendokan hasil masakannya tersebut ke piringnya yang sudah diisi beberapa lauk oleh Zoya.

__ADS_1


"Wah, mau dong." tangan Arasy sudah hendak meraih mangkuk berisi sambal goreng ati ampela tersebut tapi Ethan menahan.


"Sebentar," katanya. Membuat Arasy mengernyit saat Ethan menyuapkan makanan lebih dulu ke mulutnya. Freya yang sudah tau dengan apa yang putranya lakukan hanya memerhatikan. Begitu juga Agyan yang tau pasti karakter dua anaknya.


Begitu juga Zoya, yang takut rasa masakan buatannya hancur. "Gimana?" tanyanya pada Ethan dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya.


"Kelamaan." Arasy yang duduk di kursi samping pria itu dengan paksa mengambil mangkuk yang Ethan tahan. Ethan tampak terdiam, ia tau karakter sang adik, sehingga hanya menatap reaksi wanita itu begitu satu suapan berhasil masuk ke mulutnya.


Arasy mengangguk anggukan kepala. "Wah, Zoya jago masak sekarang?" serunya yang membuat Ethan tersrnyum. Ekspresi Zoya tampak meringis ia sudah mati - matian menahan debaran dijangltungnya, takut Arasy komplain pada rasa masakannya. Kemudian ia akan malu pada keluarga Ethan.


"Rasanya enak?" Zoya bertanya, masih dengan berbisik pada sang suami. Ethan menoleh dan mengangguk. "Coba kamu cicip," suruh Ethan hendak menyuapi wanita itu namun Zoya memundurkan wajah, menolak suapan suaminya, lantas melirik pada orang - orang di meja makan, "malu." bibir wanita itu berucap pelan. Namun masih dapat didengar.


"Kenapa malu ? 'Kan disuapi sama suami sendiri." komentar Andreas setelah menelan makanan di mulutnya. Nada bicara pria itu terdengar bercanda.


"Kecuali disuapin sama suami orang, baru malu. Oh, dan gak boleh juga, tuh," Agyan juga ikut - ikutan menggodanya. Membuat Ethan kian menyodorkan sendok ke arahnya, memaksa Zoya membuka mulut menerima suapan dari suami terci ta dengan pipi yang bersemu merah.


Disadari Ethan atau tidak. Pria itu sedang bersikap romantis pada Zoya di hadapan keluarganya. Rasamya hati Zoya meleleh saat itu juga.


"Uhh, so sweet banget." Arasy berdecak gaum dengan nada yang terdengar sangat jelas jika dibuat - buat. Ethan memilih acuh dan melanjutkan makan dengan tenang, sama halnya dengan yang lain yang juga melakukan hal sama dengan senyum tipis di bibir mereka.


"Jadinya gimana, nih, aku udah punya calon keponakan lagi belum?" Arasy bertanya randon dan membuat Zoya menghentikan kunyahan beberapa detik.


Again? Batin Zoya mendesah.


Freya dengan yang lain kompak menatap wanita itu, Zoya hanya tersenyum tipis. Bingung bereaksi seperti apa dengan pertanyaan sama yang sudah dua kali ia dengar hari ini dari dua orang berbeda.


"Zoya masih syuting?" tanya Grrycia saat wanita itu hanya diam. Zoya tak lunjung menyahut, sehingga akhirnya Ethan yang buka suara. "Enggak Mam, Ethan sudah larang."


"Kenapa dilarang - larang?" tanya Andreas.


"Ethan gak mau kalau Zoya lebih banyak ngabisin waktu di lokasi syuting daripada di rumah sama Ethan."


"Hmm, harusnya ngambek Zoy. Apaan, sih, Ethan."


"Ngebet banget pengen punya anak?" tanyanya dengan tampang usil yang membuat Ethan ingin menghajarnya. "Dipikir hamil nggak ribet, apa, yah." sambungnya dengan wajah santai tanpa dosa.


Ethan hanya mendengkus, Zoya mengusap lengan suaminya agar tidak marah. Meski ia tau suaminya memang tidak akan marah pada Arasy.


"Nikmatin dulu masa muda, lah, Zoy. Lagian kamu tiga tahun lebih muda, 'kan dari aku sama Ethan. Nah, masih panjang waktunya buat –" Arasy menyuapkan makanan ke mulut yang otomatis membut kalimatnya terhenti. Wanita itu mengalihkan perhatiannya ke arah lain saat tatapan tajam Ethan sudah mengarah padanya, siap membunuh..


"Waktu Mami sama Papi menikah, Mami baru aja lulus SMA." terang Grrycia, mengingat kembali bagaimana ia dengan Andreas menjalani proses sakral tersebut.


"Wah, masih muda banget. Mi?" Arasy yang paling heboh menanyai. Yang lain mendengar dan memperhatikan kelanjutan cerita Grrycia.


"Iya," Grrycia menoleh pada suaminya.


"Nah, karena saat itu Mami kuliah, Mami nunda punya anak."


"Kenapa?" Ethan bertanya dengan nada heran. Ia menatap sang istri. Kenapa ia takut Zoya terpengaruh dan mengikuti apa yang Grrycia lakukan? Menunda memiliki anak.


"Karena Mami ingin fokus kuliah. Setelah itu. baru fokus ngurus baby sama Papi Andre."


"Untungnya, nih ..., Papi Andre tuh sabar meski dalem hatinya pengen banget cepet punya anak." terang Grrycia sambil menepuk bahu sang suami yang tersenyum menanggapi penjelasannya. Membuatnya bernostalgia mengingat kisah mereka dahulu.


"Papi nunggu selama empat tahun buat punya anak?" Ethan bertanya dengan nada heran. Grrycia dengan Andreas kompak mengangguk.


"Kelamaan, yah, Than?" tanya Agyan yang hampir tertawa memperhatikan raut wajah putranya.


"Makannya, usaha yang keras." sambungnya, tawanya pecah dan segera mendapat cubitan dari sang istri. Kemudian ditertawakan oleh yang lain, kecuali Ethan yang kesal, Zoya yang tersipu dan Arasy yang tidak mengerti urusan rumah tangga.


Begitu makan siang usai dan Grrycia dengan Andreas pulang setelah menikmati coffee time. Arasy yang ingin bercerita pada Zoya mendapat panggilan dari temannya untuk pergi keluar. Meninggalkan ia sendirian. Sedangkan Ethan sedang main catur dengan Agyan di gazebo belakang.


Zoya yang sedang duduk sendiri di ruang utama hanya menonton tv yang tengah menayangkan film legendaris jaman tahun delapan puluhan. Sampai Freya duduk di sampingnya dengan buah apel yang baru saja ia kupas.


"Nih," menyodorkan piring buah pada pangkuan Zoya yang memangku bantal sofa. Zoya tersenyum menerimanya.


"Makasih, Bunda."


Freya tersenyum dan mengangguk, kemudian duduk di samping menantunya dan ikut menonton apa yang sedang Zoya tonton.


Zoya mengunyah entah keberapa potongan anggur. Ia menggigit garpu buahnya dan menatap Freya yang tengah mengunyah dengan tatapan ke depan. Ada hal yang ingin ia tanyakan sejak di meja makan, namun berhasil ia tahan "Bunda," panggilnya. Freya menoleh. "Ada apa?"


"Mmm,"


"Ada yang ingin kamu tanyakan?" tebak Freya. Menantunya terlalu mudah ditebak. Freya tersenyum saat wanita itu mengangguk.

__ADS_1


"Kamu mau tanya apa?"


"Mm, kalau cerita pas Bunda punya Ethan sama Arasy, gimana?" tanya wanita itu dengan ragu.


"Bunda sama kaya Mami Grrycia, nunda punya anak dulu?" tanyanya lagi. Jelas ia merasa heran, karena Freya tak bercerita saat Grrycia banyak berbicara saat di meja makan.


Freya terdiam. Raut wajahnya berubah begitu mengenang kembali apa yang sudah ia dan Agyan lewati hingga ada Ethan dan Arasy di tengah - tengah mereka.


Tapi, haruskah Freya mengatakan pada menantunya jika bahkan ia menikah dengan Agyan ketika sudah terlanjur mengandung dua anakanya tersebut?


Kenangan pahit, yang sekeras apa pun Freya melupakannya, maka ia tidak akan bisa. Karena begitulah love journey -nya yang manis pahit dengan Ethan.


"Bunda," tegur Zoya saat justru Freya hanya diam dengan tatapan mata yang kosong.


"Kalau Bunda nggak bisa cerita, nggak papa." beritahunya karena merasa tidak enak, barangkali pertanyaanya sudah mengubah suasana hati mertuanya.


Freya tersenyum dan menatap Zoya, satu tangannya mengusap satu sisi wajah wanita yang sangat putranya cintai itu.


"Kalau Bunda cerita, kamu mau janji satu hal sama Bunda?"


"Janji?" Dahi Zoya berkerut mendengarnya.


"Iya. Kamu janji nggak akan ninggaln Ethan,"


Meninggalkan Ethan? Zoya kian heran dan penasaran meski bingung dengan apa yang akan Freya katakan. Sehingga yang ia lakukan adalah menganggukan kepala dengan cepat, menyanggupi perjanjian yang Freya ajukan.


"Hubungan Bunda dengan Ayah Ethan dulu tidak semulus bagaimana hubungan kamu dengan Ethan terjalin." Freya mengawali ceritanya, bibirnya tetap tersenyum. Namun Zoya dapat membaca mata wanita itu menyiratkan kesakitan entah apa pun alasannya.


Sedangkan bagi Freya, kenangan pahit itu tetap menjadi hal paling menyakitkan baginya ketika ia dengan Agyan dipisahkan. Dibentangkan jarak dan komunkasi di antara mereka diputuskan.


Meski Freya tau, tersirat makna mendalam dari apa yang dilewatinya dengan Agyan. Jika cinta tanpa pengorbanan hanyalah bohong belaka.


Tapi Freya tetap bersyukur, pada akhirnya Tuhan benar - benar memberikankisah menakjubkan dalam percintaannya. Sekali pun adanya Ethan dengan Arasy, tidak seutuhanya adalah bisa dibenarkan mengingat bagaimana mereka tumbuh dalam rahimnya di luar pernikahan.


"Kamu terkejut?" tanya Freya begitu ia selesai bercerita dan melihat reaksi menantunya. Freya masih tersenyum bahkan ketika wanita di hadapannya menggeleng samar seolah tidak yakin.


Ethan? Anak di luar pernikahan?


"Kamu nggak akan ninggalin Ethan hanya karena masalah ini, 'kan?" tanya Freya, menyentuh tangan menantunya. Sampai suara pecahan yang nyaring membuat dua wanita itu menoleh ke sumber suara.


"Ethan," lirih Freya saat melihat pria itu penuh aura kekesalan.


"Bunda cerita ke Zoya?" tanyanya dengan sorot wajah putus asa. Zoya hanya membeku, tidak tau apa yang harus dilakukan. Ia tidak sadar jika barangkali sejak tadi Ethan sudah berada di sana. Sama seperti Freya yang hanya mampu terdiam.


"Bunda cerita ke Zoya?" tanya pria itu sekali lagi. Freya yang tak kunjung menyahut membuat Ethan akhirnya beranjak menuju pintu keluar dengan perasaan gamang dan langkah kaki yang begitu cepat.


"Ethan," Freya panik, hendak mengejar tapi Zoya dengan cepat menahan.


"Biar Zoya aja Bunda."


"Hah, kamu ..., hati - hati." pesan Freya dengan raut cemas dan bingung dengan apa yang harus dilakukan.


Zoya mengangguk, beranjak namun ia terlambat saat mobil Ethan sudah meninggalkan pelataran rumah.


"Aduuh," keluhnya, bingung.


"Ethan mana?" Agyan keluar dari dalam rumah setengah berlari. Freya menyusul di belakangnya.


"Udah berangkat, Ayah."


"Zoya boleh pinjem mobil Ayah?" pinta Zoya saat melihat kunci mobik di tangan Agyan.


"Ayah sama Bunda ikut." usul Freya yang ingin menyusul Ethan.


"Bunda tetep di rumah sama Ayah. Biar Zoya yang ngejar Ethan." sahut Zoya penuh keyakinan.


"Kamu bisa nyetir?" tanya Agyan begitu mengulurkan kunci mobil pada Zoya, wanita itu mengangguk. Lantas buru - buru menuju mobil sang papa mertua yang terparkir di pelataran rumah. Kemudian buru - buru menghidupkan mesin mobil dan menyusul sang suami.


"Kenapa kita nggak ikut aja, sih, Gyan?" tanya Freya yang sudah menangis. Takut terjadi hal - hal yang tak diinginkan pada anaknya. Agyan menggandeng bahu Freya dan mengelusnya lembut.


"Semua bakal baik - baik aja." Agyan menenangkan, dengan harapan menantunya mampu meluluhkan Ethan.


TBC


Maybe Mine besok up, yah. InsyaAllah🤗

__ADS_1


__ADS_2