
"Bagaimana? Informasi dari saya sangat menguntungkan bukan?" seorang wanita dengan rambut dark moonlightnya tampak sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telpon.
"Artikelmu mengagumkan, aku tau bagaimana jari-jari tanganmu itu bekerja. Bos dan agensimu pasti sangat bangga." sambungnya dengan devilish smile yang terbit di bibirnya.
"Alexa, take!" salah satu kru film berteriak sambil menunjuk arloji di pergelangan tangannya. Alexa mengangguk, terpaksa mengakhiri panggilan dengan lawan bicaranya.
"Terimakasih atas kerjasamanya."
Alexa tersenyum dengan tangan yang terlipat di dada. Selama satu bulan ia banyak mencari informasi mengenai Zoya Hardiswara, wanita yang terjebak skandal dengan Ethan dan tiba-tiba saja menikah dengan pria yang dikaguminya itu.
Ia mengotak-atik ponsel, kembali melihat siaran konferensi pers Ethan satu bulan lalu saat menyatakan jika ia akan menikah dengan Zoya Hardiswara.
"Saya di sini untuk memberikan klarifikasi mengenai foto kami yang tersebar di berbagai media."
"Mungkin hal itu sangat tidak wajar, membawa Zoya Hardiswara ke tempat tinggal saya."
"Saya tidak perduli apapun asumsi kalian. Saya merasa hal yang saya lakukan sangat wajar mengingat status kami sebagai calon suami istri."
"Benar."
"Saya dengan Zoya Hardiswara sudah berpacaran selama dua tahun. Secepatnya kami akan segera menikah."
Kecewa? Tentu saja Alexa merasa kecewa, sehingga ia berusaha mengorek informasi sebanyak-banyaknya mengenai Zoya disela- sela kesibukan syutingnya. Sampai ia menemukan fakta, jika Ethan dengan Zoya tidak memiliki hubungan apa pun sebelumnya. Justru Zoya menjalin hubungan dengan orang lain.
Sehari setelah Alexa mengetahui jika Ethan akan ke luar negri. Alexa menghubungi Ethan untuk menanyakan kabarnya, tapi telponnya tidak diangkat dan pesan yang dikirimnya tidak mendapat balasan. Sampai setelah pria itu pulang dari luar negri justru Alexa mendengar kabar jika Ethan mengajak Zoya ke vila yang berada di puncak. Membuat Alexa semakin membulatkam tekad untuk mengambil langkah.
"Bagaimana?"
"Pria itu bernama Fahry Bu, beliau bekerja di perusahaan fashion. Keduanya sudah menjalin hubungan sekitar satu tahun. Dan ...,"
"Dan apa?"
"Dia memiliki seorang istri dan anak."
Satu sudut bibir Alexa terangkat. Ia merasa jika permainan akan sangat menyenangkan setelah mendengar fakta ini. "Sekarang dia juga sedang liburan dengan keluarga kecilnya di kawasan puncak."
"Sepertinya vila yang ditinggalinya tidak jauh dari vila Pak Ethan." sambungnya dengan penuh keyakinan.
Alexa tersenyum, menepuk bahu orang kepercayaannya tersebut. "Kerja bagus. Tidak sia-sia aku membayar kamu dengan harga mahal."
Pria itu membalas ucapan Alexa dengan tersenyum. "Saya akan sangat senang jika Ibu Alexa merasa puas."
"Baiklah," Alexa beranjak dan mengambil sesuatu dari tasnya, sebuah amplop berwarna cokelat dengan ukuran tebal yang langsung ia serahkan pada informan suruhannya.
Begitu pria itu berlalu, Alexa menggapai ponsel. Menghubungi salah satu reporter yang dekat dengannya. "Saya punya bahan artikel yang bagus untuk kamu tulis."
Alexa lagi-lagi tersenyum. Ia sudah bekerja dengan sangat sempurna setelah membaca artikel yang diinginkannya sudah terbit.
Ia sudah dapat memperkirakan jika Zoya dengan Fahry akan bertemu di sana. Semuanya akan kacau dan hal tersebut akan semakin mempermudah Alexa untuk menjalankan misinya. Setidaknya Ethan dengan Zoya harus merasakan akibat dari kebohongan mereka sendiri ciptakan.
Alexa beranjak dari duduk dan menuju lokasi take, hari ini adalah syuting terakhirnya. Besok ia akan kembali ke Ibu Kota dan melihat langkah apa yang selanjutnya akan Ethan ambil untuk menangani masalah ini.
**
Artikel tentang Zoya berikut fotonya dengan Fahry di kawasan puncak menyebar dengan sangat cepat di berbagai media. Perusahaan sedang kalang kabut karena para wartawan menyerbu agensi dan meminta klarifikasi dari Zoya Hardiswara dan juga Zeinn Ethan Maheswari.
__ADS_1
Identitas pria di dalam foto dipertanyakan sampai akhirnya berhasil ditemukan. Yang lebih parah lagi, media tau jika pria tersebut adalah suami dari Anggun, membuat banyak spekulasi bermunculan. Salah satunya menuduh Zoya sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Anggun dan suaminya. Aktris senior yang memiliki jabatan penting di AE RCH. Adanya hubungan gelap antara Zoya dengan suami Anggun diperkuat dengan beberapa foto kebersamaan pria tersebut dan Zoya yang beberapa kali terekam kamera dashboard mobil.
"Berapa lama Ethan mengambil cuti?" tanya Rachel yang sudah panik sejak tadi. Randy diam sebentar.
"Pak Ethan bilang satu minggu, Bu." sahutnya. Mengingat Ethan belum menghubungi untuk mengubah jadwalnya.
Rachel mendesah, menggigit ujung kukunya dan kemudian menghela napas. "Kita temui media." Randy membulatkan matanya, tidak yakin dengan keputusan Rachel. Terlebih mengingat mereka tidak ada hal apa pun yang akan dikatakan. Juga tidak mungkin sembarangan berbicara tanpa persetujuan Ethan.
"Ibu Rachel yakin?" Randy memastikan.
"Mereka tidak akan pergi sebelum mendapatkan sesuatu."
Randy diam sebentar. Kemudian akhirnya mengangguk dan berjalan menuju pintu keluar mengikuti Rachel dan juga Skretarisnya.
Para awak media yang melihat pintu kaca gedung terbuka lantas bersiap, berkerumun dan menggunakan peralatan yang sudah disiapkannya sejak tadi.
Mereka bertanya tanya mengenai keberadaan Zoya Hardiswara saat melihat jika Direktur Utama AE RCH yang keluar.
"Hi everyone, attention please."
"Please shut up and listen to me." perlahan keriuhan yang sempat terjadi terasa lebih tenang dan hening. Para awak media fokus pada apa yang akan Rachel katakan.
"Saya tidak akan berbicara dua kali." sambungnya.
"Zoya Hardiswara dengan Zeinn Ethan tidak ada. Mereka berdua sedang berlibur untuk berbulan madu." Rachel mengawali statementnya.
"Bukankah artikel yang baru saja keluar terjadi di lokasi bulan madu mereka?"
"Anda yakin mereka akan tetap berbulan madu?"
Rachel sangat takut terhadap pertanyaan yang menyudutkan. Ia menghela napas. "Yap, benar. Tapi kami belum mendengar kabar apa pun dari mereka berdua dan kami tidak bisa memberikan pernyataan apa pun atas berita tersebut." Rachel mencoba tenang dan menjawab setelah berpikir secara rasional.
"Sesungguhnya dia tidak menjalin hubungan dengan Zoya selama dua tahun. Keduanya hanya terpaksa menjalankan pernikahan untuk menjaga reputasi perusahaan. Benar begitu Bu?" perlu diketahui, jika reporter berita yang baru saja bertanya dengan aksen mendesak adalah penulis artikel antara Zoya dengan Fahry berikut orang yang menguntit liburan Ethan dengan Zoya di puncak.
Ia kembali ke Jakarta secepatnya setelah mendapat apa yang ia incar. Ia tau Zoya belum kembali dari puncak, tapi setidaknya ia ingin mendengar tanggapan Direktur Agensi yang menaungi Zoya Hardiswara.
"Lalu bagaimana tanggapan Anggun mengenai hal ini? Dia sudah menjadi korban perselingkuhan suami dan juniornya yang bernaung di AE RCH."
"Selain itu, CEO AE RCH juga membantu Zoya dan menikahinya."
"Atau barangkali Zeinn Ethan tertipu oleh Zoya Hardiswara?"
"Apa setelah kejadian ini Ibu akan mengeluarkan Zoya Hardiswara dari agensi dan memecat Zeinn Ethan dari jabatan CEO-nya?" reporter lain kembali bertanya. Rachel sudah memegangi kepalanya. Tidak tau harus menjawab apa.
"Saya belum mengambil keputusan apapun sebelum mendengar pernyataan Zeinn Ethan dan Zoya Hardiswara. Terimakasih," Rachel kembali masuk, membuat para awak media mengejarnya karena masih banyak yang akan mereka tanyakan.
Randy dengan Skretaris Rachel begitu juga beberapa bodyguard AE RCH menahan mereka agar tidak menerobos masuk ke dalam gedung Agensi.
Sementara di kawasan puncak dengan udara sejuk. Pada salah satu vila, Anggun tampak sedang membereskan barang-barangnya. Air matanya terus mengalir mengingat sang suami yang tega karena sudah menduakannya selama lebih dari satu tahun. Artikel yang baru saja terbit mengenai pemberitaan Fahry dan Zoya semakin membuat rasa sakit di hati Anggun bertambah parah.
Fahry yang duduk pada salah sath sofa di ruang utama vila tampak bangkit melihat wanita itu yang keluar dari kamar membawa kopernya. Begitu juga Anye yang sedari tadi duduk tidak mengrrti atas situasi yang terjadi.
"Anye, kita pulang sekarang Sayang." ajak Anggun, menarik tangan gadis kecil itu. Fahry tidak berusaha mencegah.
"Mama kenapa nangis?" Anye memperhatikan mata wajah sang mama.
__ADS_1
"Enggak papa, Sayang. Mama nggak papa, kita pulang, yah." bujuk Anggun lagi dengan lembut. Anye menoleh pada sang ayah yang hanya berdiri di tempatnya, kemudian kembali mengalihkan tatapannya pada Anggun.
"Ayah nggak pulang bareng kita?" Anggun mencoba tersenyum, menyeka air mata dan berjongkok di hadapan Anye.
"Anye pulang sama Mama, yah."
Anye menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dalam waktu seperkian detik respon sang putri memembuat perasaan Anggun semakin terluka. "Sayang–"
"Anye mau sama Ayah."
"Anye."
"Pulang sama Mama, yah." Anggun berusaha membujuk dengan air mata yang kian deras. Tapi melihat Anye yang kembali menggelengkan kepalanya Anggun hanya menduduk dengan perasaan yang begitu sangat terluka. Seolah tidak ada yang berdiri di belakangnya, seolh tidak ada yang memihak padanya, bahkan anaknya sendiri lebih memilih untuk bersama dengan seorang ayah yang sudah mengkhianati mereka.
Fahry yang melihat hal itu lantas ikut berjongkok di hadapan Anye. Gadis kecil itu menatap sang ayah. "Anye, kamu pulang sama Mama yah, Sayang." sahutnya sambil mengusap puncak kepala Anye, berusaha membuat Anye mengerti agar mau menurutinya.
Fahry tau dirinya sudah sangat membuat Anggun terluka. Membiarkan wanita itu pulang sendiri tanpa putri mereka akan sangat menyiksa, Fahry tidak ingin terlalu jauh memperbesar dosanya.
"Anye mau sama Ayah, Anye nggak mau pulang sama Mama." Anye mulai merengek dan memeluk leher Fahry.
"Kalian lagi berantem? Kenapa kita nggak pulang bareng?"
"Kenapa Mama nangis?"
"Kenapa Ayah nggak cegah Mama buat pergi?"
Tangis Anye pecah, suaranya menggema memenuhi setiap sudut ruangan. Membuat Fahry tidak berdaya karena sudah menjadi penyebab kesedihan anak dan istrinya.
"Kalian udah janji–nggak akan berantem– dan buat Anye sedih. Kenapa– kalian bohong?" suara Anye tersendat-sendat. Ia memeluk leher Fahry erat, menenggelamkan wajah pada pundak sang ayah.
Anggun menyeka air mata melihat hal itu. Seharusnya ia yang mendapat pelukan dari Anye. Seharusnya Anye ada dipihaknya, seharusnya Anye tidak menolak untuk pulang dengannya.
Menghela napas, Anggun mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Sampai ia menyadari satu hal, jika selama ini ia terlalu lalai mengurus Anye. Ia tidak merawat Anye dengan baik. Perhatiannya sangat kurang untuk putri kecilnya. Mungkin itulah alasan kenapa Anye lebih nyaman pada Fahry daripada dirinya. Anggun memejamkan mata sekilas, ternyata ia sudah menjadi ibu yang sangat buruk bagi Anye.
Dalam beberapa waktu, Anggun sudah mengambil sebuah keputusan. Ia menatap Fahry begitu dirasa jika keputusannya sudah sangat matang "Fahry, mari bercerai." ungkapnya dengan pilu.
"Aku mengampuni hal apapun yang kamu lakukan kecuali perselingkuhan. Aku nggak bisa menerima hal itu." Anggun mengatakannya dengan mantap. "Mari berpisah." sambunya, Anggun bangkit.
"Kita bisa mengurus Anye meski tidak bersama." Anggun sudah secara matang memikirkannya. Tidak ada yang bisa dipertahankan lagi antara dirinya dengan Fahry. Semua akan percuma meski dipertahankan.
"Anye Sayang."
Anye berbalik menatap sang Mama, Anggun kembali berbongkok dan meraih tubuh mungil itu, memeluknya erat. Tangisnya tidak terbendung, hatinya perih teriris dan batinnya tersiksa oleh kenyataan ini.
"Mama sayang Anye, Mama sayang sekali sama Anye."
"Maafin Mama yah, Sayang. Maaf."
Setelah mengatakan itu, Anggun bangkit. Beranjak dengan cepat, sadar akan sang Mama akan pergi, Anye mengejar. Setidaknya ia ingin melihat senyum Anggun sebelum meninggalkannya.
"Mama."
Anggun menghentikan langkah, Anye memeluk kaki sang mama dan kian membuat perasaan Anggun semakin resah. Fahry menyeka air matanya, pilu. Mungkin sangat terlambat, tapi ia sungguh menyesal.
TBC
__ADS_1
Asli mewek pas nulis ini😭😭
Sakit aja ngebayangin ada di posisi Anggun, terutama Anye.